NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -49-


__ADS_3

Marvin menghentikan laju motornya di tepi jalan. Mata Cia berbinar melihat pemandangan di sekelilingnya. Dengan antusias, dia turun dari motor dan berlari kecil mendekati pagar pembatas diikuti Marvin di belakangnya. Tempat ini terletak tidak jauh dari komplek perumahan mereka. Perjalanan ke sini hanya butuh waktu tidak sampai 20 menit. Tempatnya menyerupai bukit karena datarannya yang lebih tinggi daripada letak kota. Itulah sebabnya saat berada di sana pada malam hari dan cuaca sedang cerah, mata akan dimanjakan dengan pemandangan city light yang sempurna.


"Waaaaaaah..... ini bagus banget Vin! Aku belum pernah ke sini," Cia menyuarakan kekagumannya. Hembusan angin yang sejuk membuatnya reflek membentangkan tangan dan memejamkan mata. Suasana di sini tenang banget.


Marvin yang berdiri di sebelah Cia, tersenyum melihat ekspresi itu. Aura bahagia terpancar jelas di wajah Cia.


"Serius? Padahal tempat ini lokasinya nggak jauh dari komplek rumah kita lho," ucap Marvin.


"Iya sih memang. Tapi serius deh, ini pertama kali aku datang ke sini," Cia membuka mata dan menoleh ke arah Marvin. "Kok kamu bisa tahu tempat seindah ini sih Vin?"


"Makanya kalau jalan-jalan jangan cuma ke mall sama bioskop aja," balas Marvin sembari tersenyum setengah meledek.


"Ih apaan sih," Cia tersipu.


Marvin mengeluarkan kamera DSLR dari dalam tas dan mulai memotret pemandangan di hadapannya. Sementara itu Cia mulai sibuk membuat Instastory. Dia bahkan mengabaikan notifikasi panggilan tak terjawab yang berasal dari nomor Selenia.


It's my time Sel, lo gue skip dulu yaak. Batinnya geli.


"Hai gaaaaaiiss, gue lagi di tempat yang keren banget nih," Cia memulai aksinya. Dia mengarahkan kamera ke dirinya sendiri sembari berjalan dan sesekali berputar untuk memperlihatkan suasana di sekitarnya. "Kalian pasti ada yang belum pernah ke sini khaaaaan???" ucapnya penuh dengan nada kecentilan.


Marvin hanya geleng-geleng kepala. Diam-diam dia mulai mengarahkan lensa kameranya pada Cia yang masih sibuk membuat Instastory dan mulai memotretnya.


...🌺🌺🌺...


Beberapa hari kemudian,


"Ayah yakin mau pulang sekarang?" tanya Selenia sore itu saat Pak Fendi mulai berkemas. Setelah selama tiga hari menginap di rumah anak dan menantunya, dia memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya sendiri.


"Iya dong sayang," Pak Fendi membelai rambut Selenia. "Ayah kan nggak mungkin di sini terus sampai waktunya balik ke London."


Adam mengiringi langkah Bapak-Anak itu keluar dari rumah sembari menarik koper milik Pak Fendi. Pak Tono yang akan mengantarkan mertuanya itu pulang ke rumahnya.


"Ada banyak hal yang harus Ayah urus juga di sini sebelum kembali ke London."

__ADS_1


Selenia menatap laki-laki paruh baya itu dengan tatapan sayu. Semenjak menikah dan pindah ke rumah Adam, dia juga belum pernah mengunjungi rumahnya sendiri. Bukan apa-apa, hanya saja rasanya dia belum sanggup kembali ke sana dan melihat segala sudut rumah yang penuh dengan kenangan. Lagipula di sana sudah ada orang kepercayaan Ayahnya yang selalu menjaga rumah. Namanya Mang Komar. Dia ditugasi untuk menjaga dan merawat rumah itu selama Pak Fendi berada di London.


"Nanti kamu juga maen ke sana ya," pesan Pak Fendi sebelum masuk mobil. Dia menatap Adam dan dibalas dengan anggukan.


"Ayah hati-hati. Kalau ada apa-apa telfon Selenia aja," ujar Selenia.


Pak Fendi mengangguk dari dalam mobil. "Kalian jaga diri baik-baik, inget pesen Ayah ya," pesannya lagi sebelum mobil melaju.


Adam dan Selenia paham dengan pesan itu. Mereka saling tatap sekilas, tersenyum dan mengangguk. Pesan itu seketika menjadi berat untuk benar-benar diiyakan.


...🌺🌺🌺...


"Nih buat kamu," Marvin menyerahkan amplop berwarna coklat pada Cia.


Kening Cia mengerut. Dia tidak langsung menerima amplop tersebut dan hanya menatapnya.


"Ini buat kamu Cia, kok malah bengong sih?" Marvin terkekeh.


Marvin memang sering sekali berkunjung ke rumah Cia. Bu Hilma pun begitu welcome dengan kehadirannya. Menurutnya, Marvin membawa pengaruh baik untuk Cia. Karena semenjak mengenal Marvin, Cia jadi lebih sering di rumah. Kalaupun keluar, dia selalu bersama Marvin dan itupun selalu dalam batas waktu yang wajar.


"Kalau mau lihat bukan begitu caranya Ci, buka dong."


Obrolan mereka terjeda saat Bibik muncul dengan membawa dua cangkir coklat hangat dan pisang coklat krispi buatannya.


"Waaaah... makasih ya Bik," ucap Marvin pada Bibik. "Repot-repot segala sih Bibik, saya cuma bentar kok."


"Enggak kok Mas. Wong cuma minum saja," ucapnya dengan medok.


"Kok cuma sebentar? Memangnya mau kemana Vin?" Bu Hilma muncul dari dalam, menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu.


"Eh... tante," Marvin tersentak. "Itu... saya ada janji sama temen," ujarnya.


"Ooowwhw..." bibir Bu Hilma mengerucut. "Ya sudah kalau begitu, dilanjut ngobrolnya. Tante tinggal masuk dulu ya."

__ADS_1


"Buka dong Ci, masa kamu nggak pengen liat isinya?" bujuk Marvin begitu Bu Hilma menghilang.


Cia membuka amplop itu hati-hati dan kemudian menumpahkan isinya ke meja. Seketika matanya membelalak. What?! Dia hampir saja tidak percaya saat menatap lembaran-lembaran di depannya.


"Marvin? Ini.... hasil bidikan siapa?" Cia kagum dengan isi amplop yang ternyata berisi beberapa lembar fotonya saat di atas bukit beberapa malam yang lalu.


"Memangnya ada orang lain selain kita malam itu?" sahut Marvin.


Senyum Cia terus mengembang. Tangannya membuka lembaran demi lembaran potret dirinya. Hasil bidikan kamera Marvin benar-benar sempurna banget. Di situ Cia terlihat jelas walaupun foto itu diambil pada waktu malam hari. Dan itu benar-benar foto candid, yang semakin menunjukkan betapa polosnya dia kalau nggak sadar kamera. Dia ingat banget kalau malam itu dia sibuk mengabadikan momentnya melalui Instastory ketimbang memperhatikan Marvin yang tengah bermain dengan kameranya.


"Ya ampun makasih banget Viiin...!" Cia menciumi foto itu berkali-kali.


"Sama-sama. Aku juga makasih karena kamu selalu ada waktu kalau aku ajak kemana aja."


Cia tersenyum kalem. "Duuuh kok ngomongnya gitu sih, aku jadi GR loh."


"Beneran, memangnya aku harus ngomong yang kaya gimana? Orang kenyataannya begitu kan?" Marvin terkekeh.


Tapi memang benar sih apa yang dikatakan Marvin. Apalagi Cia juga merasa kalau sekarang susah banget buat ngajak Selenia nongkrong--karena memang dasarnya Selenia juga nggak hobby nongkrong. Kehadiran Marvin seolah memberikan angin segar untuk Cia yang dasarnya seneng jalan-jalan.


"Aku yang banyak-banyak makasih sama kamu. Berkat kamu aku tu jadi tahu banyak spot bagus buat nambah-nambah feeds di IG akuu... hihihihi," jawab Cia. Mulutnya sedang tidak singkron dengan hatinya. Padahal aslinya dia senang banget mendengar Marvin ngomong begitu.


"Hmmmm," Marvin mencibir. "Jadi cuma untuk itu?"


"Ya enggak sih. Ah pokoknya aku seneng kalau kamu ngajak kemana-mana. Ini foto-fotonya buat aku kan?" ujarnya riang.


"Kan aku udah bilang, itu memang buat kamu Cia... hmmm,"


Marvin tidak bisa berlama-lama di rumah Cia. Saat ponselnya terus menerus berdering karena mendapat panggilan dari temannya dia pun segera pamit pulang.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


...HAPPY READING READERS KESAYANGAN....


...LOS AMO ♥️😘...


__ADS_2