
Di kamarnya, perasaan Selenia tidak menentu. Saat lengan Adam menggenggam lengannya tadi, Selenia yakin suhu tubuh suaminya itu sedang tidak normal. Tapi dia malu kalau harus kembali ke kamar itu lagi hanya sekedar untuk menanyakan kondisi suaminya. Dia takut Adam akan menilainya aneh--karena selama ini dia tidak sepeduli itu--dan justru membuat dirinya salah tingkah.
Apa ini yang disebut dengan perasaan-seorang-istri? Kekhawatiran yang tak bisa hilang begitu saja saat tahu sang suami sedang tidak baik-baik saja.
Selenia berdiri di tepi jendela kamar sembari menggigit bibirnya. Kebiasaan yang dia lakukan kalau hatinya tidak tenang. Haruskah dia mengabari orang tua Adam? Tapi bagaimana kalau mereka datang ke sini, dan ternyata Adam malah sudah sembuh? Itu pasti akan membuat dia semakin merasa aneh di depan Adam. Entah kenapa rasanya dia tidak ingin terlihat seperhatian itu pada Adam di depan mertuanya.
Ah sudahlah... Adam pasti cuma kecapekan biasa. Batinnya kemudian, sekedar untuk menenangkan diri sendiri. Lagipula beberapa hari ini kan dia memang selalu pulang telat. Setelah istirahat nanti dia juga pasti bakalan sembuh.
Selenia terduduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap kado pemberian Adam yang belum sempat dibuka pagi tadi karena harus segera ke sekolah. Selenia hanya mendengus pelan. Dia justru memilih membuka kado dari Cia, yang ternyata isinya adalah case ponsel seri ponsel miliknya. Mata Selenia berbinar. Ini case idaman yang dia incar beberapa hari yang lalu waktu mereka jalan-jalan ke mall. Ya ampun... Ini anak tau banget sih apa yang gue pengen... Selenia menciumi case tersebut berkali-kali.
"Makan siangnya sudah siap, Non," Bi Iyah memanggil dari luar kamar.
"Iya bik, bentar lagi aku turun," sahut Selenia.
Setelah mengganti case ponselnya dengan yang baru dan berganti pakaian, Selenia lalu keluar. Saat itulah dia melihat pintu kamar Adam sedikit terbuka.
Kok tumben? Kening Selenia mengernyit. Adam biasanya selalu menutup rapat pintu kamarnya. Tapi ini kok...
Selenia melangkah pelan dan hati-hati mendekati pintu kamar suaminya. Dia mencoba mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Di dalam kamar itu Adam terlihat masih berbaring sambil memijit-mijit kepalanya. Sesekali dia tampak berguling ke kiri dan kanan seperti tidak nyaman. Melihat hal itu, perasaan khawatir Selenia kian menjadi. Dia yakin ada yang tidak beres dengan kesehatan suaminya. Namun saat Selenia baru saja berjalan beberapa langkah hendak menuju kamar itu, tiba-tiba dia dikejutkan okeht kedatangan Bibik dari belakang yang membawa nampan berisi makanan.
"Bik," ucap Selenia gugup.
"Non," Bi Iyah menyunggingkan senyum. "Makan siang Non Selenia sudah siap di bawah."
"Itu..." Selenia menunjuk semua yang dibawa Bi Iyah.
"Iya Non. Pak Adam minta supaya makan siangnya di bawa ke kamar gitu katanya."
"Pak Adam baik-baik aja kan bik?" tanya Selenia cemas. Keningnya mengerut dalam-dalam.
"Mmm... anu Non... Iya, Pak Adam bilang dia cuma kecapekan dan butuh istirahat," jawab Bi Iyah terbata. Dia terpaksa berbohong karena tadi majikan laki-lakinya itu berpesan supaya dia tidak mengatakan apapun tentang kondisinya pada Selenia. Adam sebenarnya mengeluh kalau seluruh tubuhnya sakit semua. Dia juga merasa sangat lemas dan pusing.
Adam tidak ingin Selenia khawatir berlebihan dan malah mengganggu konsentrasi belajarnya. Meskipun selama ini istrinya itu jarang bahkan tidak pernah memperhatikan dirinya, tapi hari ini dia melihat pancaran kecemasan dari mata Selenia saat mengetahui dirinya sakit.
Selenia tidak puas mendengar jawaban Bi Iyah. Entah kenapa dia terus khawatir. Namun belum sempat bertanya lebih lanjut, Bi Iyah sudah keburu masuk ke kamar Adam. Selenia ingin menyusul ke dalam, tapi kemudian berhenti. Dia malu. Bagaimana kalau Adam malah bertanya 'kenapa, ada apa, dll'. Akhirnya Selenia pun memilih untuk berbalik arah dan langsung pergi ke ruang makan.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Kekhawatiran Selenia menjadi kenyataan. Selepas solat Isya' saat dia baru saja akan membuka kado dari Adam, terdengar teriakan Bi Iyan yang memanggil-manggil Selenia dari kamar Adam. Dengan tergesa Selenia segera mendatangi kamar Adam. Selenia syok dan kaget banget. Dia panik banget saat melihat Adam tidak berdaya dengan kondisi suhu tubuh suaminya yang tak biasa. Selenia mencoba menghubungi mertuanya tapi tidak kunjung mendapat jawaban. Maka tanpa pikir panjang dia langsung meminta Pak Tono untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Kata Dokter, Adam menderita demam tifoid. Jadi dia harus di rawat sampai keadaannya benar-benar pulih. Tekanan darah Adam sangat rendah, suhu tubuhya tinggi, dan dia sempat muntah satu kali saat baru tiba di rumah sakit tadi. Selenia memandangi tubuh adam yang terbaring lemah dengan selang infus yang terhubung di tubuhnya. Kekhawatiran Selenia semakin menjadi. Dia takut Adam kenapa-kenapa. Sudah dua jam lebih Adam ada di sini, tapi matanya masih terus terpejam.
Dokter juga mengatakan, penyebab kondisi Adam menjadi drop adalah karena faktor kelelahan. Selenia percaya itu karena Adam memang hardworker. Tapi di sisi lain, Dokter juga mengatakan penyebab selain itu.
"Pak Adam bukan hanya kelelahan secara fisik, tapi pikirannya juga lelah," kalimat yang diucapkan dokter tadi terngiang-ngiang di kepala Selenia.
Lelah fikiran? Apa yang membuatnya seperti itu?
Apa ada hal lain yang Adam pikir selain pekerjaannya? Tentang kehidupan yang mereka jalani sekarang ini? Atau.... apa?
Pertanyaan demi pertanyaan bersliweran di kepala Selenia. Ada perasaan bersalah menyerang dirinya. Dia merasa selama ini terlalu egois. Sebagai seorang istri, bukankah seharusnya dia bisa menjadi tempat untuk bertukar pikiran, tempat untuk mencurahkan segala keluh kesah, sehingga suaminya itu tidak harus memikirkan semuanya sendirian--begitu juga sebaliknya. Paling tidak kalaupun dia belum bisa 'melayani' suaminya, dia bisa sedikit saja mengerti tentang keberadaannya. Tidak peduli bagaimana status pernikahan mereka, suami istri tetaplah suami istri. Bukankah seharusnya begitu?
Kejadian ini membuat Selenia benar-benar sadar betapa selama ini dia tidak pernah memperhatikan suaminya. Adam lah yang selama ini lebih banyak mengalah dan peduli padanya. Dia lah yang paling menghargai Selenia melalui hal-hal kecil yang menurut Selenia biasa saja--meminta izin sebelum berangkat kerja, memberikan kejutan di hari ulang tahun. Bahkan saat waktu luang, dia selalu menanyakan kabar Selenia di sekolah. Tapi Selenia selalu menanggapinya dengan dingin. Membalas pesan-pesan Adam dengan jawaban singkat tanpa pernah mau tahu kembali keadaan suaminya.
Air mata Selenia menitik. Dia berharap Adam segera membuka matanya kembali.
"Bangun, Dam..." Selenia menggenggam tangan Adam erat. Belum pernah dia merasa setakut ini melihat kondisi Adam.
...Edwin Prawira (Ayah Adam)...
...Lisa Prawira (Mama Adam)...
Selenia langsung menghambur ke pelukan Bu Lisa, begitu kedua orang tua itu masuk ke kamar tempat Adam dirawat.
"Adam belum bangun Ma dari tadi," Selenia terisak.
"Sabar ya sayang. Adam pasti bisa melewati semua ini," Bu Lisa mencoba menenangkan menantunya. Dia meraba kening anak semata wayangnya itu yang ternyata masih panas.
__ADS_1
Di tengah rasa sedih itu terselip sekeping kebahagiaan di hati Bu Lisa demi melihat perhatian Selenia pada putranya yang selama ini tidak pernah dia lihat. Dia melihat kekhawatiran yang tulus dari mata Selenia. Khawatir dengan keadaan suaminya yang selama 4 bulan lebih menjadi suaminya itu tidak pernah dia pedulikan keberadaannya.
Sebenarnya baik Pak Edwin--Ayah Adam--maupun Bu Lisa tidak tahan melihat pernikahan yang terjadi pada keduanya. Tidak ada yang berubah dari awal mereka menikah sampai sekarang. Adam dan Selenia seperti orang yang tidak saling mengenal. Tapi jika ingat wasiat Kalila sebelum meninggal, dia dan suaminya tidak berani membuat keputusan untuk memisahkan mereka. Apalagi selama ini Adam tidak pernah mengeluhkan hal ini pada mereka.
Hanya saja sebagai seorang Ibu, Bu Lisa kasihan melihat keduanya. Kasihan melihat anaknya, mempunyai istri tapi seperti tidak mempunyai istri. Kasihan melihat Selenia. Menjadi istri sekaligus remaja SMA dalam waktu yang bersamaan. Biar bagaimanapun Bu Lisa tetap berpikir bahwa posisi Adam lebih aman daripada Selenia. Jika suatu hari nanti ada orang lain yang tahu bahwa ternyata Adam sudah menikah, itu tidak akan menjadi masalah serius. Orang-orang akan memaklumi dan mengatakan itu wajar. Tapi tidak bagi Selenia. Jika suatu saat hal ini terbongkar pada saat Selenia belum lulus. Sekolah pasti langsung mengeluarkan dirinya jika tahu siswinya itu sudah bersuami. Masa depan Selenia taruhannya.
Itulah kenapa orang tua Adam tidak pernah menuntut apapun dari Selenia. Melihat Selenia memberikan perhatian pada Adam, saat ini sudah lebih dari cukup.
...🌺🌺🌺...
Adam terbangun menjelang jam 4 pagi. Sebenarnya dia sudah siuman tengah malam tadi. Tapi saat melihat kedua orang tuanya dan juga Selenia yang tertidur pulas sambil duduk di sofa, dia tidak sampai hati untuk membangunkan mereka.
"Kamu hari ini sekolah kan Sel? Kamu pulang aja nggak pa-pa. Biar Mama sama Papa temenin aku di sini," kata Adam pagi itu saat Selenia baru keluar dari toilet.
Selenia melihat Bu Lisa dan Pak Edwin bergantian. Kemudian dia menatap Adam dan tersenyum simpul.
"Aku udah nitip surat izin ke Cia. Hari ini aku nggak masuk sekolah."
"Lhoh, kenapa?" tanya Pak Edwin dan Bu Lisa hampir bersamaan.
Adam menahan senyum mendengar keduanya. Kemudian dia mengirimkan isyarat dengan kedipan mata supaya kedua orang tuanya tidak terus bertanya pada Selenia. Dia tahu istrinya itu bingung harus memberi jawaban apa.
"Ya sudah, kalau begitu biar Papa sama Mama aja yang pulang ya," sahut Bu Lisa sembari beranjak. "Sekalian Mama mau bawain baju ganti untuk kalian."
Saat Pak Edwin dan Bu Lisa meninggalkan kamar rawat Adam, Selenia cuma bisa menatap kepergian mereka tanpa ngomong apapun.
"Makasih ya Sel," kata Adam saat Selenia masih bengong menatap pintu.
"Eh.. a-apa?" Selenia tergagap.
"Hmmmpffhh..." Adam terkekeh. "Terimakasih, karena sudah mau nemenin aku di sini," Dia menggenggam tangan Selenia dan mengusapnya lembut.
Ada getaran sekaligus perasaan aneh di hati Selenia saat kedua tangan itu saling bersentuhan. Selenia hanya tersenyum dan menunduk. Dia tidak mampu membalas tatapan Adam yang memandangnya dengan pandangan yang tidak bisa dia deskripsikan.
Dari genggaman tangan itu Selenia bisa merasakan suhu tubuh Adam yang sudah menurun dari semalam. Ini lebih normal. Dia merasa lega karena Adam sudah sehat dan baik-baik saja.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...