NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -68-


__ADS_3

Adam sudah merasa seperti melambung begitu tinggi saat membaca pesan dari Selenia. Namun kesenangan itu hanya sekejap dan mendadak lenyap. Saat dia membalas pesan tersebut justru tak pernah terkirim. Inikah rasanya, setelah diangkat begitu tinggi dan kemudian dihempaskan sekeras mungkin ke tanah. Selenia memblokir nomornya lagi. Saat dia mencoba menghubungi melalui alternatif lain--tidak melalui aplikasi WhatsApp--justru tidak diangkat.


Ya ampun Sel. Sampai kapan kita seperti ini terus? batinnya geram sembari tangannya meremas-remas bantal.


Sepertinya Adam memang harus menambah stok kesabarannya. Dia percaya, Selenia tidak akan pernah mau mengakhiri pernikahan ini. Semua hanya soal waktu. Waktu yang entah sampai kapan dia harus menunggu.


...🌺🌺🌺...


BEBERAPA HARI KEMUDIAN


Setelah terakhir kali berkomunikasi dengan Adam siang itu di kantin, Renata kembali menemui Adam untuk menyampaikan kabar bahagianya. Sidang gugatan hak asuh Nola akhirnya dimenangkan olehnya. Dia mendatangi Adam di ruangannya, sembari membawa sebuah bingkisan


"Oh ya?" Adam tersenyum lebar. "Syukurlah kalau begitu, Ren. Dari awal saya memang sudah yakin kalau hak asuh Nola pasti akan tetap ada di tangan kamu."


"Pengacara yang bapak tunjukkan ke saya memang handal banget," Renata mengacungkan jempolnya. "Dan ini, sebagai bentuk ucapan terimakasih saya pada Bapak," dia menyodorkan bingkisan tersebut.


"Saya turut seneng dengernya," Adam menerima bingkisan itu ragu-ragu. "Tapi... apa ini Ren?"


Renata tersenyum kecil. "Bukan apa-apa kok, Pak. Tolong jangan ditolak ya. Ini tidak sebanding dengan apa yang sudah Bapak lakukan untuk saya dan Nola."


Adam menerima bingkisan tersebut meski sebenarnya enggan. Selama ini dia membantu Renata karena sukarela, tidak mengharapkan apapun.


"Oke," Adam memasukkan bingkisan tersebut ke dalam laci mejanya. "Saya juga terimakasih."


"Lalu... bagaimana dengan Bapak dan Selenia?" Renata mendadak mengalihkan pembicaraan. Hari ini tepat sepuluh hari setelah peristiwa malam itu.


Adam menggeleng pelan. Wajahnya kembali terlihat murung. Tidak ada yang berubah. Dia menceritakan tentang Selenia yang sempat mengirim pesan padanya namun kemudian kembali memblokir nomornya. Mendengar cerita itu, Renata merasa sangat bersalah. Di saat masalahnya telah selesai dan berakhir sesuai harapan, masalah orang yang membantunya justru kian rumit. Dia merasa turut andil dalam masalah yang sedang dihadapi Adam. Bagaimana tidak? Selenia kabur dari rumah setelah kejadian malam itu.


Sebagai sesama perempuan, dia tahu apa yang tengah dirasakan Selenia. Perempuan mana yang tidak marah saat suaminya diam-diam menolong perempuan lain. Dia sadar, Adam memang tidak menggunakan perasaannya. Tapi semua itu telah membuat Selenia cemburu hingga akhirnya masalah ini terjadi. Apa yang bisa dia lakukan sebagai bentuk balas budinya pada Adam?


...🌺🌺🌺...


"Selenia!"


Selenia dan Cia baru saja keluar dari gerbang sekolah saat mendengar seseorang memanggil namanya. Saat itu jam pulang sekolah--sekitar pukul 02.00 pm. Mereka sama-sama celingukan, sampai akhirnya pandangan Selenia berhenti pada seorang perempuan yang berada di dalam taxi. Perempuan itu tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Renata. Untuk apa dia datang kemari?


Selenia dan Cia saling tatap.


"Ngapain dia ke sini?" bisik Cia. Selenia cuma menggeleng.


Saat hiruk pikuk anak-anak yang menghambur dari dalam halaman sekolah mulai menyusut, Renata keluar dari taxi yang ditumpanginya dan berjalan menghampiri mereka.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Selenia dengan wajah masam. Sakit hatinya kembali muncul begitu melihat sosok Renata berdiri tepat di hadapannya.


"Bisa kita bicara?" Renata tetap bersikap ramah meski Selenia membalas dengan dingin. Tidak ada alasan untuknya membalas sikap dingin Selenia, karena sikap itu juga disebabkan olehnya. "Aku pengen ngomong sama kamu."


Selenia bingung dan juga heran. Ada apa nih?


Bersamaan dengan itu, Marvin datang dari arah lain dan menghentikan motornya tepat di belakang taxi yang membawa Renata ke sini. Semenjak jadian, Marvin memang lebih sering antar jemput Cia sekolah.


"Jemputan lo udah dateng tuh," Selenia menyodok lengan Cia.


Cia melihat ke arah Marvin dan Selenia bergantian. Dia juga sempat memberikan tatapan sinis pada Renata yang justru dibalas dengan senyuman. Sejak mengetahui Selenia kabur ke rumah Ayahnya dan penyebab dari semua itu, Cia memang menjadi lebih sensitif terhadap Adam dan Renata.


"Lo nggak pa-pa gue pulang duluan?" Cia meminta pendapat. Dia sedikit khawatir membiarkan Selenia hanya bersama Renata. Takut Renata bakalan berbuat jahat pada Selenia.


Selenia hanya mengangguk sambil mendorong tubuh Cia pelan. "Iya nggak pa-pa kok."


Sepeninggal Marvin dan Cia, suasana jadi lebih sepi karena hampir semua murid sudah meninggalkan sekolah. Hanya ada beberapa anak saja yang tersisa dan sedang berada di halte.


"Mau ngomong apa?" tanya Selenia datar.


"Jangan di sini ya," Renata meraih lengan Selenia. "Yuk ikut aku."


Selenia hanya bisa nurut. Apalagi dia melihat sikap Renata yang terkesan friendly. Mereka berdua masuk ke dalam taxi yang kemudian membawa mereka ke satu tempat yang disebutkan Renata.


Tony yang saat itu baru saja keluar saat melihat Selenia dan Renata memasuki taxi, langsung berinisiatif untuk mengikuti kemana mereka pergi.

__ADS_1


Selama berada di dalam taxi, Selenia sama sekali tidak berbicara. Tapi dia juga tak berhenti berpikir, apa yang sebenarnya akan dibicarakan Renata dengannya? Kenapa dia tiba-tiba menemuinya di sekolah?


Begitu juga dengan Renata. Dia yang melihat sikap dingin Selenia, hanya bisa terdiam karena tidak tahu harus membuka obrolan dengan topik macam apa--hanya untuk sekedar mencairkan suasana. Apalagi Selenia justru mulai sibuk dengan ponselnya.


Mereka sampai di sebuah tempat yang membuat Selenia merasakan aliran darahnya melesat ke ubun-ubun. Greenosh. Apa-apaan nih?! Jadi saat Renata sudah melangkah sampai pintu masuk, Selenia justru menahan langkah dan berhenti. Menyadari Selenia masih tertinggal di belakang, Renata menoleh dan berbalik menghampiri.


"Ayo masuk. Panas lho di luar."


"Ngapain kamu ngajak aku ke sini?" tanya Selenia sinis. "Mau kasih tahu kalau kamu pernah ke sini sama Adam?"


Kening Renata mengerut. Selenia pernah melihat dia dan Adam berada di sini? Sabar Renata, sabar.... batin Renata pada diri sendiri.


Selenia mendengus dan berbalik. Namun Renata cepat-cepat menahan lengannya.


"Please Sel. Kalau kamu nggak mau kasih waktu Pak Adam untuk berbicara sama kamu, biar aku yang akan menjelaskan semuanya."


Wow! Selenia mengangkat sebelah bibirnya, membentuk senyum yang sangat sinis. Jadi mereka udah sekongkol atau bagimana?


"Adam yang nyuruh kamu?!"


Renata menggeleng. "Ini atas kemauan aku sendiri. Dan Pak Adam nggak tahu ini semua. Please, Sel... ayok."


Setelah dibujuk, akhirnya Selenia pun mau mengikuti Renata masuk ke dalam Greenosh. Suasana Greenosh yang dingin karena full AC, tetap dirasa panas oleh Selenia. Apalagi saat melihat satu sudut yang sangat dia kenali, karena tempat itu pernah di tempati Adam dan Renata makan bareng tanpa sepengetahuannya, dan berhasil diabadikan dalam bentuk video oleh Cia. Rasanya percuma banget Selenia menghapus video itu dari ponselnya kalau akhirnya dia akan dihadapkan secara langsung dengan tempat itu.


Renata memesan dua porsi makanan dan minuman. Satu untuknya, satu untuk Selenia.


"Makan dulu ya," Renata melirik jam tangannya. "Sudah waktunya makan siang," meski sebenarnya dia sudah makan siang tadi kantor bersama Maya.


Selenia menyeruput minumannya dengan malas. Tapi baru saja menyuap beberapa sendok makanan ke mulutnya, tiba-tiba dia merasakan perutnya mual dan ingin muntah. Reflek dia meletakkan sendok dan menutup mulutnya.


"Kenapa Sel? Kamu sakit?" Renata menghentikan makannya.


Selenia menggeleng. "Enggak kok," dia baru ingat kalau seharian ini dia memang belum makan sama sekali. Tadi pagi dia cuma sarapan selembar roti, dan itupun tidak dia habiskan. Sedangkan saat jam istirahat di sekolah tadi, dia cuma minum teh botol di kantin. Memang, beberapa hari ini dia merasa tidak begitu memiliki nafsu makan.


"Mau aku pesenin minuman panas?" Renata menawarkan.


Rasa mual yang dirasakan Selenia sedikit mereda. Mereka kemudian melanjutkan makan siang.


"Sel, maksud aku ngajak kamu ke sini, pertama, aku mau minta maaf..." Renata mengawali topik pembicaraan setelah mereka menyelesaikan makan siang. "...karena sudah membuat hubungan kamu dan Pak Adam berantakan.


Selenia tidak bergeming dan hanya menatap Renata datar--lucu juga mendengar Renata menyebut suaminya dengan sebutan 'Pak'. Perasaannya kembali bergejolak. Sedih dan marah bercampur jadi satu.


Kendalikan dirimu Sel. Bukankah Renata sudah bersikap baik? Sebuah suara menggema di hatinya.


"Pak Adam sudah menceritakan semuanya ke saya," Renata menghela nafas. "Kalau saja saya tahu Pak Adam sudah mempunyai.... istri, saya mungkin tidak akan melangkah sampai sejauh ini."


"Kamu menyukai suamiku?!" potong Selenia cepat. Tatapannya tajam ke arah Renata.


"Aku pernah mempunyai perasaan itu dan...." ujar Renata dan Selenia melengos. "... dengerin dulu penjelasanku Sel," dia harus sedikit bersabar untuk menjelaskan semuanya pada ABG ini. Setidaknya dia sudah pernah berada si posisi seumuran Selenia. Dimana usia yang masih labil dan sedikit frontal kalau sedang menghadapi masalah.


"Apa lagi? Udah deh to the point aja. Nggak usah muter-muter."


Setelah mengatur nafas agar sedikit lebih rileks, Renata kemudian menceritakan tentang kedekatannya dengan Adam yang sebenarnya tidak lebih daripada teman. Tidak lebih daripada seorang atasan dan sekretaris. Dia juga bercerita tentang Adam yang membantunya mengatasi masalah saat dia mendapat tuntutan dari mantan suaminya. Juga tentang sebab musabab perkelahian yang telah terjadi malam itu di rumah Renata. Sepanjang Renata ngomong, Selenia sama sekali tidak pernah menyela. Dia hanya mendengarkan sambil sesekali menyesap minumannya. Dan itu semua mampu membuat hati Selenia sedikit terbuka. Ternyata Adam tidak seburuk yang dia pikir. Dan Renata adalah perempuan yang begitu berbesar hati untuk menerima kenyataan.


Tanpa sadar, air mata Selenia sudah menitik.


"Aku juga seorang perempuan Sel, dan aku tahu bagaimana rasanya dikhianati. Aku pernah merasakan itu. Jadi aku tidak akan mungkin melakukan itu sama kamu. Aku tidak akan pernah menjemput kebahagiaanku dengan cara menyakiti perempuan lain. Seperti yang kamu tahu, aku punya anak perempuan, dan aku percaya sama yang namanya karma. Mungkin bisa jadi karma itu tidak menimpaku, tapi bagaimana kalau justru datang ke anakku padahal dia tidak tahu apa-apa," tutur Renata panjang sambil menangis.


"Sel.... Pak Adam tidak pernah mengkhianati kamu," dia meraih tangan Selenia dan menggenggamnya. Mencoba menguatkan sebagai sesama wanita. "Dia itu laki-laki yang setia, baik, peduli, sempurna. Kamu beruntung banget bisa memiliki dia. Jadi aku mohon, buka hati kamu lagi untuk Pak Adam ya? Kamu kembali ke rumah."


Air mata Selenia sudah mengalir deras tak tertahankan. Dia terisak membayangkan bagaimana keadaan Adam selama dia tinggalkan. Semua kata-kata Renata ternyata mampu membuat keras hatinya menjadi luluh.


Tony yang tanpa sepengetahuan Selenia telah masuk ke Greenosh dan duduk tepat di belakang kursi mereka, mendengar semua obrolan itu. Dia tidak tahu harus sedih atau bahagia ketika mendengarnya. Pasalnya selama Selenia dan Adam tidak saling komunikasi, Tonylah orang yang selalu mengisi kekosongan hati Selenia. Dia meremas tissue di tangannya. Harinya seketika menjadi kelabu. Selenianya akan kembali sulit diraih.


...🌺🌺🌺...


Dua hari setelah pertemuannya dengan Renata, sekaligus setelah meminta pendapat pada Cia tentang rencananya kembali ke rumah, malam itu Selenia berkemas di kamar. Dia memasukkan beberapa barang yang pernah diambilkan Ayahnya dari rumah Adam ke dalam koper. Meski belum sepenuhnya tahu apa yang tiba-tiba membuat pikiran Selenia berubah, dia merasa lega. Akhirnya anaknya itu mau kembali pada suaminya.

__ADS_1


Selenia ingin pulang malam ini juga ke rumah Adam, sendiri. Dia bahkan menolak ketika Pak Fendi ingin mengantarkan.


"Aku bisa sendiri kok Yah," kata Selenia saat berpamitan di teras. "Nanti kalau udah sampai rumah, aku telfon Ayah."


Taxi online yang di pesan Selenia datang dan dia segera masuk.


"Jaga diri baik-baik ya," pesan Pak Fendi sebelum akhirnya taxi itu melaju membawa Selenia ke rumah Adam.


...🌺🌺🌺...


Adam mondar-mandir di kamarnya seperti orang bingung. Dia baru saja mendapat kabar dari Pak Anton kalau urusan sengketa tanah untuk pembangunan rukan di luar kota sudah clear, dan rencana pembangunannya akan dimulai sekitar 4-5 hari lagi. Bagaimana bisa dia bekerja dengan keadaan yang lagi nggak jelas kaya gini?


Adam duduk di tepi tempat dengan gusar, lalu berdiri lagi dan berjalan menuju balkon kamarnya. Dia ingin menghubungi Renata untuk menanyakan teknis yang sebenarnya. Manatahu dia masih punya waktu untuk memperbaiki hubungannya terlebih dahulu dengan Selenia sebelum berangkat ke luar kota. Tapi hanya dalam waktu 4-5 hari? Mana mungkin? Sedangkan sampai sekarang Selenia sama sekali masih belum mau berbicara dengannya. Nomornya pun masih di blokir. Arrrghhh!!! Adam mengacak-acak rambutnya dan kembali masuk kamar.


Sempat terlintas di pikirannya untuk nekat mendatangi Selenia ke rumah mertuanya, tapi...... Errrggghhh! Itu makin nggak mungkin lagi. Masa iya dalam situasi yang masih panas kaya gini tiba-tiba dia ngomong ke Selenia kalau dia mau ke luar kota. Apalagi perginya sama Renata juga. Nggak... nggak... nggak... jangan cari mati Adam!


Ting tong!! tok tok tok!!


Terdengar suara bel disusul ketukan pintu di lantai bawah. Siapa lagi malam-malam begini? Adam menoleh dengan malas ke pintu kamarnya. Selang beberapa saat terdengar suara Bi Iyah berteriak memanggil-manggil namanya dari bawah.


"PAK ADAAAM...!! PAAAK....!!"


Suara histeris Bi Iyah membuat Adam langsung bergegas keluar kamar dan berlari ke lantai bawah. Takut kalau-kalau ada rampok atau maling. Tapi begitu sampai di ruang tamu, Adam seketika menghentikan larinya dan menatap ke arah pintu dengan mata melebar. Bi Iyah sedang menangis bahagia sambil merangkul dan menciumi Selenia, seperti seorang Ibu yang menyambut anaknya pulang dari perantauan.


Adam masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya malam ini. Selenia berdiri tegak dengan koper di sampingnya. Selenia pulang? Istrinya pulang?


Selenia tahu Adam pasti kaget melihat kedatangannya. Jadi dia meminta Bi Iyah membawakan kopernya ke kamar, dan dia langsung berlari menghambur ke pelukan Adam.


"Aku kangen banget sama kamu Dam," Selenia terisak di dalam pelukan Adam.


"Ini beneran kamu?" Adam membalas pelukan Selenia. "Kamu beneran pulang sayang? Aku nggak mimpi kan?"


"Kamu nggak mimpi kok," Selenia mengendurkan pelukannya. "Maafin aku ya udah ninggalin kamu beberapa hari ini. Maafin aku karena nggak pernah ngasih kesempatan kamu buat...."


"Sssstttt..... udah udah udah..." Adam memotong ucapan Selenia dam membimbingnya ke ruang tengah.


Mereka duduk di kursi, saling berhadapan. Adam mencubit pipinya sendiri untuk memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi. Dan ternyata dia merasakan sakit akibat cubitan itu. Itu artinya, Selenia benar-benar telah kembali.


"Kamu jangan ngomong gitu. Aku yang salah karena aku udah bohongin kamu. Aku yang harusnya minta maaf. Bukan kamu sayang," Adam membelai pipi Selenia.


Selenia menatap wajah Adam yang masih menampakkan sedikit bekas luka akibat perkelahian malam itu. Wajah yang juga terlihat begitu berantakan karena kumis dan jenggot yang seakan dibiarkan tumbuh tak terurus. Ya Tuhan, sebegitu berantakannya Adam selama beberapa hari ini.


Selenia membelai wajah itu dan kembali menangis. Dia menenggelamkan diri ke pelukan Adam. Pelukan yang membuatnya begitu nyaman. Tidak ada yang berubah karena memang semua hanya salah paham.


Bi Iyah yang baru saja turun dari lantai atas, tersenyum bahagia melihat keduanya kembali bersama.


...🌺🌺🌺...


Renata tersenyum dan membaca pesan dari Selenia berulang kali. Mereka berdua telah bertukar nomor ponsel dari pertemuan siang itu. Dia senang karena malam ini akhirnya Selenia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Adam.


Selenia: [Aku pulang ke rumah Adam kak. Makasih, karena kakak sudah menjadi jembatan untuk kami berdua. Semoga kakak juga terus berbahagia sama anak kakak 😊]


Terselip kebahagiaan tersendiri di hati Renata atas semua yang telah terjadi. Selenia sekarang bahkan bisa menerima kehadirannya dan bersikap lebih baik. Tuhan memang adil. Dia sudah membesarkan hatinya dan mencegahnya agar tidak terus mencintai yang bukan menjadi takdirnya. Terlebih, Nola akan tetap menjadi miliknya sampai kapanpun.


Dari hasil sidang itu, ditemukan blacklist perbuatan Devan yang membuatnya tidak bisa mengambil hak asuh Nola dari tangan Renata. Dan dari peristiwa itu juga, Renata jadi tahu, kalau alasan Devan meminta Nola darinya adalah karena istri barunya dinyatakan sulit memiliki keturunan. Hukum alam memang adil. Dulu Devan rela meninggalkan dia hanya demi wanita lain yang menurutnya lebih sempurna. Tapi sekarang? Tuhan benar-benar adil. Dan manusia memang tidak ada yang sempurna bukan?


Seperti kata pepatah, semakin kamu mengejar kesempurnaan, kamu tidak akan pernah mendapatkan apa-apa.


Renata: [Hati2 sayang. Amiin, terimakasih untuk doanya. Stay happy ya.... 🥰]


Renata berbaring di samping Nola yang tengah tertidur pulas. Dia memeluk dan menciumi anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Memang cuma kamu milik Mama yang paling berharga sayang."


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2