NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -110-


__ADS_3

Adam duduk di tepi tempat tidur menemani Selenia yang tengah tertidur pulas setelah meminum obat dari Dokter Indari. Tadi, setibanya di rumah, Adam sangat panik saat melihat Selenia yang mengeluh kesakitan di perutnya ditambah dengan wajah pucat dan tubuh yang lemah. Dia langsung membimbing Selenia ke kamar sekaligus menelfon Dokter Indari supaya datang ke rumah. Untung saja saat itu Dokter Indari sedang tidak ada jadwal praktek di klinik, jadi dia bisa langsung datang.


Setelah memeriksa dan memberikan obat pereda rasa sakit yang aman untuk bumil, Dokter Indari mengajak Adam keluar sebentar dari kamar karena ada yang ingin dia sampaikan terkait apa yang hari ini dialami oleh Selenia.


"Saya harap, anda bisa lebih memperhatikan pasangan anda. Karena jika hal ini terjadi secara terus-menerus, dampaknya akan sangat buruk untuk keduanya Pak. Banyak sekali resiko yang akan ditanggung, baik oleh Ibu maupun janinnya. Usahakan, Ibu hamil selalu memiliki pikiran yang rileks, asupan makanan yang cukup dan juga waktu istirahat yang cukup. Apalagi usia kandungannya masih terbilang muda, dan juga...." Dokter Indari melirik ke pintu kamar yang sedikit terbuka. "...usia Selenia juga masih terlalu muda untuk berada dalam posisi ini--hamil."


Terang Dokter Indari pada Adam sebelum akhirnya pamit dari rumah mereka.


Adam masih bingung. Maksudnya, Selenia stress kenapa? Apa dia ada masalah? Kalau iya, kenapa dia tidak bercerita padanya? Karena akhir-akhir ini dia melihat Selenia baik-baik saja. Sama sekali tidak terlihat seperti orang yang menyimpan beban perasaan. Adam meremas-remas rambutnya. Dia takut kalau sebenarnya justru dialah yang tidak peka dengan apa yang dirasakan Selenia. Ah!


"Baik-baik di perut mommy ya sayang. Jangan rewel... kami semua sangat menyayangimu," bisik Adam seraya mengelus perut Selenia.


Sebelumnya Adam sudah berpesan pada Pak Tono dan Bi Iyah supaya tidak perlu menghubungi ketiga orang tua mereka karena masalah ini. Dia tidak mau membuat para orang tua itu khawatir berlebihan. Apalagi saat ini Selenia sudah jauh lebih tenang dari pada saat baru pulang sekolah siang tadi.


...🌺🌺🌺...


Malamnya, kondisi Selenia sudah membaik. Setelah makan malam, Adam meminta Selenia kembali ke kamar dan istirahat.


"Temenin," ucap Selenia manja, sembari menarik pergelangan tangan Adam.


Adam menurut. Sejenak dia melupakan pekerjaan kantornya yang masih terbengkalai karena sejak siang tadi harus menemani Selenia.


"Sayang, aku mau nanya sama kamu," kata Adam saat mereka sudah duduk di atas tempat tidur.


"Apa?" Selenia mendongak, menatap wajah Adam yang tengah menunduk menatapnya.


"Kamu mikir apa sih, kok bisa sampai kesakitan kaya tadi? Dokter Indari bilang, apa yang terjadi sama kamu tadi siang itu karena kamu stress."


Selenia terdiam. Apa yang dikatakan Dokter Indari memang benar. Bahkan saat masih berada di halte tadi, dia sudah berpikir seperti itu. Sakit perut yang tiba-tiba dia rasakin tak lain karena pikirannya terlalu cemas.


"Apa yang dibilang Dokter Indari benar Dam," ucap Selenia lirih.


"Kamu mikir apa sih sayang? Kenapa kamu nggak cerita sama aku? Kamu tahu nggak, aku tu khawatir banget pas ngeliat kamu kaya tadi. Pikiran aku udah kacau banget...."


"Dam..." Selenia menyahut. "Memang ada sesuatu yang mengganggu pikiran aku."


"Apa itu?"


"Kamu inget nggak sama perempuan yang pernah ketemu kita waktu check up tempo hari?"


"Iya, aku ingat. Memangnya kenapa?"


"Kamu tahu nggak sih, dia itu udah menaruh curiga sama aku. Kemarin pas aku sampai di sekolah, dia ngelihatin aku detil banget. Dia kayaknya dia tahu kalau aku lagi hamil. Dan hari ini, aku liat temen sekelas aku kaya ikut-ikutan memperhatikan aku. Aku takut Dam... aku takut kalau rahasia ini lama-lama kebongkar, dan aku bakalan dikeluarin dari sekolah...."


Adam terhenyak. Dia menghela nafas dan menarik tubuh Selenia mendekat ke dadanya. Kekhawatiran yang dirasakan Selenia kini turut dia rasakan juga. Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi. Untuk sesaat Adam merasa menyesal karena telah membuat Selenia berada di posisi seperti sekarang.


Andai saja dia bisa lebih sabar.


Andai saja dia bisa menahan nafsu.

__ADS_1


Andai saja....


Ah tidak! Adam buru-buru menghapus rasa sesal itu. Kehamilan adalah anugrah luar biasa yang diberikan Tuhan pada sepasang suami-istri yang telah menikah. Dan mereka berdua telah menikah kan? Apapun latar belakang pernikahan itu, mereka tetap telah sah menikah. Dia tidak boleh berpikir seperti itu. Dia harus bisa membuat Selenia merasa tenang, bukan malah membuatnya makin gelisah.


"Sayang.... wajar sih kalau teman kamu berpikir seperti itu dan menaruh curiga, karena pertemuan kita terjadi di tempat yang membuat dia berpikir ke arah sana. Kalau saja waktu itu kita ketemunya di mall, atau di tempat lain, dia pasti tidak akan berpikir seperti itu. Lagipula, kamu juga masih inget kan, waktu itu mama langsung ngomong apa ke dia?" terang Adam panjang.


"Iya sih, memang mama ngomong begitu. Tapi dia kaya nggak percaya Dam. Kamu tahu nggak sih, aku tuh nggak pernah ngerasa menjadi pusat perhatian anak-anak satu kelas sebelum ini. Sekarang aku ngerasa, setiap langkah kakiku begitu sangat disorot oleh mereka. Apalagi tadi Cia nggak masuk kan, aku jadi ngerasa sendiri di sana..."


"Lho, memangnya Cia kenapa kok nggak masuk?"


"Dia sakit perut gitu katanya."


Adam tersenyum. Dia mengecup kepala Selenia beberapa kali.


"Sssttt... sayang.... udah dong. Ini nih yang buat kamu sakit. Karena kamu berpikir terlalu banyak, terlalu cemas dan khawatir. Jadinya kamu stress..." Adam mengusap perut Selenia lembut. "Yang tenang sayang, kasian si baby kalau kamu begini. Kata Dokter, apa yang kamu alami tadi, karena baby lagi protes. Kalau saja dia bisa bicara, dia bakal ngomong gini.. Mommy jangan sedih, nanti aku marah lho... aku kan pengen tidur nyenyak di sini, pengen denger Mommy ketawa, ngerasain Mommy senyum... Mommy harus selalu bahagia ya... tunggu aku keluar dan kita akan bahagia bareng sama Daddy juga..." Adam menirukan suara bayi dengan gaya yang lucu.


Selenia tertawa. Ternyata Adam bisa ngelucu juga. Sekarang perasaannya jauh lebih lega setelah mendengar semua penjelasan Adam. Selenia membenamkan wajahnya di dada Adam.


"Ya udah, ini udah malem," Adam melirik jam dinding. "Kamu harus tidur. Besok kan harus sekolah juga."


"Tapi kamu temenin aku kan?" rengek Selenia manja.


"Iya sayang, aku di sini kok."


...🌺🌺🌺...


Tony baru saja kembali dari kantin rumah sakit saat mendengar ribut-ribut di luar kamar rawat Mamanya. Dari ujung lorong kamar itu dia melihat Papa dan tantenya--Bu Fatma--sedang terlibat adu mulut.


"Mbak tolong ngertiin posisi aku. Dia memang bukan istriku lagi, tapi dia tetap Ibu dari Tony, anak kami. Dan saat ini dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi."


"Siapa yang suruh dia ninggalin kamu? Kemana suaminya? Kenapa di saat dia seperti ini baru ingat ke kamu dan Tony? Hah?! Ini nggak masuk akal Anton!"


"Mbak jangan bicara seperti itu," Pak Anton celingukan. "Nanti kalau denger Tony, kasihan dia. Ayolah mbak, aku memang sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi sama dia. Tapi karena dia, kami memiliki Tony... dia Ibunya Tony mbak...."


"Kamu tidak perlu berulang kali mengingatkan saya kalau dia Ibunya Tony. Saya tahu itu, Anton! Tapi apa yang kamu lakukan untuk dia saat ini sudah kelewat batas. Kamu mau menghabiskan berapa milyar lagi untuk menyembuhkan penyakit MANTAN ISTRI kamu itu? Penyakit kanker stadium akhir seperti Riska itu tidak memiliki harapan besar untuk bisa sembuh, kamu harus tahu itu...!"


"CUKUP!!" teriak Tony dari ujung lorong.


Pak Anton dan Bu Riska menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Mereka melihat Tony melangkah cepat ke arah mereka dengan wajah marah penuh emosi yang membara.


"Maksud tante apa ngomong kaya gitu soal mama?" Tony melotot ke Bu Fatma.


Bu Fatma terkesiap melihat sikap keponakannya tersebut. "Tony?" ucapnya pelan. "Kamu berani bentak Tante kamu?"


"Tante yang bikin aku jadi bersikap seperti ini ke tante!" teriak Tony lebih keras. "Aku tahu tante benci sama mama, tapi sampai kapanpun dia itu tetap mamaku. Apa salah kalau kami berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan dia? Dimana hati nurani tante sampai bisa keluar ucapan dari mulut tante kalau penyakit Mama tidak bisa disembuhkan? Apa tante itu Tuhan? Hah?!"


Pak Anton merengkuh bahu Tony dari belakang, bermaksud untuk menenangkan dia.


Bu Fatma geleng-geleng kepala dan menatap tajam ke arah Tony.

__ADS_1


"Tony kamu...."


"Bahkan Tuhan masih bisa memberikan kesempatan untuk orang yang masih mau berusaha, kenapa tante mematahkan semangat kami?! Hah?!"


"Tony... sudah nak, jangan teriak-teriak di sini, nggak enak sama yang lain," bujuk Pak Anton saat beberapa orang yang melintasi mereka ada yang berhenti dan menyaksikan pertengkaran itu.


"Kalian berdua memang sama-sama keras kepala! Kepala batu semua!" sahut Bu Fatma sewot dan langsung pergi dengan langkah menghentak-hentak.


Sepeninggal Bu Fatma, beberapa orang yang menyaksikan pertengkaran mereka bubar satu per satu. Tony mengatur nafas dan menggertakkan gigi menahan geram. Matanya tajam memandang ke arah punggung Bu Fatma yang semakin jauh.


"Ton... udah ya... jangan emosi. Jangan dengerin apa kata tante kamu. Papa akan tetap melakukan yang terbaik untuk mamamu. Kamu nggak perlu khawatir," Pak Anton mengusap-usap bahu Tony dan mengajaknya duduk.


Namun, saat keduanya baru saja menghenyakkan pantat mereka ke kursi, tiba-tiba terdengar suara keras seperti barang terjauh dari kamar rawat Bu Riska.


PRANG!!!


Pak Anton dan Tony kaget. Mereka kembali berdiri dan langsung masuk ke dalam kamar rawat.


...🌺🌺🌺...


Cia sedang asyik chattingan dengan Marvin di dalam kamarnya saat sebuah pesan dari nomor tanpa nama masuk. Seharian ini dia cuma ngendon di kamar karena harus bolak-balik ke kamar mandi. Dan dia baru ngeh kalau yang telah membuatnya sakit perut hari ini adalah karena semalam pesta makan rujak bareng Aldo di rumah, setelah masuk ke kamar mandi yang ke 4 kalinya.


+6281334515xxx: [Cia, sudah tidur?]


Kening Cia mengernyit. Siapa malam-malam gini ngirim pesan terus nanya-nanya udah tidur apa belum? Mana profilenya nggak ada fotonya.


Cia: [Ini siapa?]


+6281334515xxx: [Ini Adam]


Hah? Adam? Ngapain dia WA gue? Cia langsung menyimpan nomor Adam di kontaknya.


Cia: [Oooh, ada apa Dam? Aku belum tidur kok.]


Adam: [Aku boleh minta tolong sama kamu?]


Cia: [Soal apa?]


Adam lalu menceritakan peristiwa yang terjadi pada Selenia hari ini di sekolah. Tentang kekhawatiran Selenia karena merasa dicurigai oleh teman sekelasnya. Hal yang membuat Selenia merasa cemas dan stress hingga mengakibatkan Selenia kesakitan pada perutnya seperti siang tadi. Adam berharap, Cia bisa membantu dan menemani Selenia di sekolah, supaya Selenia tidak terlalu mencemaskan apa yang sudah menganggu pikirannya--kecurigaan Lala.


Cia: [Iya, aku pasti bakal jagain Selenia. Kamu nggak usah khawatir 😊]


Cia meremas bantalnya geram setelah mendengar semua cerita Adam. Emang bener-bener ratu gosip tu anak!


...🌺🌺🌺...


Selenia sudah tertidur pulas. Pelan-pelan Adam membaringkan Selenia dan menyelimuti tubuhnya. Dia menyimpan kembali ponsel Selenia ke dalam laci nakas setelah barusan diam-diam mengambil nomor Cia dari sana. Setidaknya, kini dia bisa sedikit bernafas lega setelah mengatakan semuanya pada Cia. Dia berharap, kecurigaan teman sekelas Selenia itu tidak membuatnya berbuat nekat. Bagaimanapun Adam juga khawatir seandainya rahasia mereka terbongkar di sekolah Selenia.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2