NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -74-


__ADS_3

Pak Fendi tidak bisa berlama-lama di rumah Adam karena mendapat telfon dari rekan bisnisnya di UK yang katanya malam ini telah tiba di Jakarta. Beliau sudah berada di rumah Adam sejak sore tadi setelah mendapat kabar tentang kecelakaan yang dialami Selenia.


"Ayah pulang dulu ya nak," Pak Fendi mencium kening Selenia. "Besok kalau nggak sibuk Ayah datang lagi."


Meski berat, Selenia tetap mengizinkan ayahnya pulang. Sebenarnya dia ingin supaya ayahnya itu menginap. Tapi saat mendengar ayahnya ngobrol di telfon dengan seseorang menggunakan bahasa Inggris, dia tahu itu pasti tentang pekerjaan dan tidak bisa ditunda. Jadi Selenia cukup tahu diri untuk tidak memaksa beliau supaya tetap berada di sini.


"Hati-hati Yah," Adam mengantarkan mertuanya sampai di ujung tangga.


"Oh ya, kapan kamu ke luar kotanya?" tanya Pak Fendi sebelum melangkahkan kakinya menuruni tangga.


"Lusa, Yah. Itu juga sebenarnya yang buat aku bingung. Aku nggak mungkin nggak berangkat. Tapi.... keadaan Selenia sedang...."


"Kamu tenang aja," potong Pak Fendi. Dia menyadari kekhawatiran menantunya. "Selama kamu di luar kota, Ayah akan sering-sering datang buat jaga Selenia."


"Terimakasih Yah," setidaknya kata-kata mertuanya itu bisa membuatnya merasa sedikit tenang.


"Ya sudah, kalau begitu Ayah pergi dulu. Jaga Selenia baik-baik ya Dam," pesan Pak Fendi. Dia menepuk-nepuk lengan Adam sebelum kemudian melangkah menuruni tangga.


"Pasti Ayah," jawab Adam setengah berbisik.


Setelah Pak Fendi keluar, Adam kembali ke kamar Selenia. Sejak pulang dari UGD, istrinya itu hanya bisa berbaring di atas tempat tidur karena kakinya masih sakit untuk berjalan. Bahkan malam ini, mereka makan malam di kamar Selenia--bersama Pak Fendi juga.


"Aku jadi nggak tega deh buat pergi ke luar kota kalau keadaan kamu kaya gini sayang," ujar Adam. "Mana lusa aku udah berangkat lagi."


Sebenarnya, menurut jadwal harusnya hari ini Adam sudah berangkat ke luar kota. Tapi entah kenapa Pak Anton memintanya untuk berangkat lusa.


Selenia tersenyum dan membelai kepala Adam.


"Ya udah berangkat aja Dam. Kan aku di rumah ada Bibik, Pak Tono, ada Ayah juga, ada Cia, ada....." dia tidak melanjutkan kata-katanya yang hampir menyebut nama Tony saat mata Adam mendadak menatap lurus ke arahnya. Selenia segera merapatkan bibir mendapat tatapan itu. Adam memang sentimen banget dengan Tony, sesentimen dirinya dulu saat mendengar nama Renata.


Oh ya, apa kabar Renata ya? tanya Selenia dalam hati. Dia tidak lagi berkomunikasi dengannya sejak malam itu.


Melihat Adam yang terus menatapnya tajam, Selenia langsung menepuk-nepuk bibirnya senidiri. "...maksudku, banyak yang temenin aku selama kamu pergi, jadi kamu nggak usah khawatir."


Adam cuma mendengus lirih mendengar jawaban Selenia yang sengaja dialihkan untuk sekedar menghindari ketidaksukaannya mendengar nama Tony.


Sore tadi saat Cia dan Tony datang ke rumah untuk menjenguk Selenia, Adam terpaksa mengunci diri di kamar karena tidak tahan melihat keakraban mereka. Selenia, Cia dan Tony merupakan kelompok anak-anak ABG yang nyambung ketika ngobrol. Mereka dengan leluasa membahas fashion, olahraga, musik kesukaan, dan beberapa topik lain yang jarang Selenia bicarakan saat dia bersamanya.


"Jangan mikir yang aneh-aneh kenapa sih?" ucap Selenia menambahkan.


"Bukannya aku mikir aneh sayang. Ya....." Adam melirik Selenia dengan ekor matanya. "...aku tuh... maaf bukannya mau bersikap posesif atau ngekang kamu. Cuman... aku ngerasa kurang nyaman aja kalau kamu terlalu dekat sama Tony."


"Dam, harus berapa kali aku bilang kalau aku sama dia itu cuma..."


"Teman?" sahut Adam memotong ucapan Selenia yang langsung dibalas dengan anggukan. "Iya aku ngerti. Tapi wajar kan kalau aku ngerasa begitu? Aku cemburu Sel, karena aku ngerasa.... dia kaya lebih cocok aja sama kamu."


Selenia mengangkat kepalanya. "Maksud kamu lebih cocok?"


"Secara umur. Apalagi kalian berdua kayanya nyambung banget kalau ngobrol."


Kini giliran Selenia yang mendengus. Kenapa sih Adam harus bawa-bawa umur dan menyudutkan dirinya sendiri?


"Berhenti banding-bandingun umur kenapa sih Dam?"


"Itu cuma pendapat aku sayang, aku ngerasanya gitu. Dan... aku suka ngerasa insecure aja sama diri aku kalau udah ngelihat kalian berdua seakrab itu."


Selenia tertegun mendengar pernyataan tersebut. Dia tidak pernah menyangka kalau Adam akan merasa seperti itu pada dirinya sendiri. Apa dia nggak pernah sadar kalau dirinya itu keren dan pernah membuatnya cemburu setengah mati karena kedekatannya dengan Renata?


"Ya udah sekarang nggak usah mikir macam-macam. Intinya aku sama Tony itu pure murni asli cuma temen," kata Selenia kemudian menandaskan.


Kalimat itu cukup lega juga didengar oleh telinga Adam. Tapi tetap saja tidak bisa membuat kekhawatirannya hilang. Belum lagi kekhawatiran lain yang menganggu pikirannya karena kedekatan mereka--karena Tony sudah mengetahui rahasia mereka. Bagaimana kalau dia kelepasan ngomong dan akhirnya membongkar rahasia itu di saat yang belum tepat.


"Ya ampun Adam. Kamu kenapa jadi overthinking gini sih? Enggak akan dia ngelakuin itu, percaya sama aku."

__ADS_1


Adam menghela nafas panjang. Memang tidak ada gunanya berdebat. Semoga ini hanya kekhawatirannya saja, pikirnya. Dia lalu memeluk tubuh Selenia dari samping, membuat Selenia berjingkat saat kaki kanannya tersentuh kaki Adam.


"Auh.. sakit Dam," rintih Selenia. "Kamu agak geseran sana gih."


Adam reflek langsung bergerak sedikit menjauh. Kasihan juga melihat istrinya dengan kaki penuh jahitan seperti itu. Siapa sih yang sudah tega melakukan tabrak lari padanya? Adam tidak habis pikir. Dia kaget banget saat tadi mendengar Pak Tono dan Selenia yang bercerita kronologi kecelakaan yang menimpa Selenia. Kalau saja dia ada di sana, itu orang pasti sudah dia habisi. Batinnya geram.


"Aduh iya maaf-maaf," Adam mengusap-usap kaki Selenia pelan. "Oh ya sayang, berarti nanti kamu kontrolnya di anter bibik ya."


"Udah kamu tenang aja. Di anter Pak Tono aja juga nggak pa-pa kok."


"Tapi sayang...."


"Udah dong Dam, kamu jangan terlalu khawatir begitu. Aku kan nggak pa-pa."


"Nggak pa-pa gimana sih sayang? Liat dong kaki kanan kamu penuh jahitan kaya gini kok bilang nggak pa-pa," Adam menunjuk satu per satu jahitan di kaki Selenia.


"Iya tapi kan aku masih bisa jalaaaan.... Daaam. Asal Pak Tono anter aku sampai klinik, aku bisa temuin dokternya sendiri. Udah deh, aku tu pengen belajar mandiri, biar nggak terlalu bergantung sama orang lain."


"Sayang, bibik tu bukan orang lain. Kata kamu dia udah kaya keluarga kita sendiri? Dan maksud kamu, aku orang lain juga gitu?"


"Ya ampun Dam... enggak gitu," Selenia menyikut pinggang Adam lirih. "Ya udah deh, pokoknya aku minta kamu nggak usah terlalu pikirin soal kontrol itu. Kamu fokus aja sama pekerjaan kamu di luar kota dan nggak usah mikir yang macem-macem."


Adam hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar bantahan Selenia. Dasar perempuan ya, keras kepalanya ngalahin batu karang. Kondisi lagi kaya gini aja masih bisa aja bales omongan laki-laki. Hmm, untung sayang.


...🌺🌺🌺...


Tony sedang berada di kamarnya, rebahan di atas tempat tidur sambil menonton video dansanya dengan Selenia saat pesta ulang tahunnya yang ke 18 dulu. Video yang sampai saat ini masih dia simpan di ponselnya dan dia putar berulang-ulang. Dia tersenyum setiap kali melihat ekspresi bahagia yang terpancar dari wajah Selenia malam itu. Wajah yang tadinya masam, geram, dan cemburu karena melihat suaminya datang ke acara bersama perempuan lain. Seperti halnya sore tadi saat dia datang ke rumahnya bersama Cia untuk menjenguk keadaannya pasca kecelakaan. Dibalik kondisinya yang banyak luka jahitan, dia selalu terlihat ceria seolah tidak pernah terjadi apa-apa hari ini. Padahal untuk duduk saja dia harus dibantu oleh Cia. Hhhh.... Selenia memang selalu tampak istimewa bagi Tony.


Bukan bermaksud untuk bersikap terlalu percaya diri juga, tapi Tony sadar, bahwa sebenarnya dia selalu bisa membuat Selenia tersenyum. Apapun masalah yang Selenia hadapi, Tony merasa perempuan itu selalu bisa merasa lebih baik setiap kali berada di dekatnya.


Contohnya seperti yang terjadi belum lama ini, saat Selenia berkonflik dengan Adam, perempuan itu jarang sekali menunjukkan wajah masam di hadapannya. Tapi sekarang, semua itu seolah sudah berakhir. Rasanya seperti tidak ada lagi kesempatan untuk bisa memiliki hati Selenia. Baginya, Selenia itu seperti pelangi, indah namun hanya sementara.


Hhhh!! Tony tersenyum getir dan segera menghapus video dansa itu dari ponselnya. Dia tidak mau berlama-lama tenggelam dalam ketidakpastian. Cepat atau lambat, dia harus bisa mengubur atau bahkan membuang perasaannya pada Selenia.


...🌺🌺🌺...


"Udah malem. Bobok ya," Adam mengacak-acak rambut Selenia lembut.


"Dam," Selenia mencoba menahan tangan Adam saat laki-laki itu sudah hampir beranjak.


Adam yang sudah memutar tubuh, kembali berbalik menghadap ke arah Selenia yang wajahnya tampak memohon. Ada apa nih? Nggak biasanya dia memasang wajah seperti ini.


"Jangan ke kamar dulu...." rengek Selenia manja.


Kening Adam mengerut. "Kenapa sayang? Kamu kan harus istirahat, biar cepet sembuh juga itu lukanya."


"Tapi kan aku belum ngantuk. Please temenin aku dulu..." Selenia menahan tangan Adam semakin erat, menggunakan kedua tangannya.


Adam merasa geli sekaligus senang melihat sikap Selenia malam ini. Tentu saja dia tidak merasa keberatan dengan permintaan itu. Justru rengekan itu yang malah membuat Adam merasa gemes banget. Dia suka melihat Selenia yang manja begini.


"Ya udah iya aku temenin," Adam duduk di tepi tempat tidur. "Mau dibacain buku cerita juga? Kancil? Little mermaid? atau kisah Cinderella?" godanya.


"Hmmmppfffhhhhh.....!!" Selenia menahan gelak tawa karena tubuhnya masih terasa sakit kalau untuk tertawa lepas. "Apaan sih kamu nih."


"Hehehe, ya nggak pa-pa sayang. Anggap aja aku lagi belajar buat jadi Ayah yang baik buat anak kita nanti."


"Ha?" Selenia mendongak, menatap wajah Adam yang tersenyum. "Anak kita?"


"Iyaaa... anak kita nanti..."


"Iiihhhh kamu mikirnya kejauhan deh," Selenia tersipu. Entah kenapa tiba-tiba dia juga jadi membayangkan seandainya ada anak kecil di antara mereka. Kayaknya bakalan tambah rame.


"Nanti sayang," Adam mencubit hidung Selenia gemas. "Kalau kamu udah lulus kuliah. Masih lama," sambungnya.

__ADS_1


"Ooooooh... yaaaa yaaa yaaaa...bisaa bisaa," Selenia menggamit lengan Adam dan menyandarkan kepalanya di bahu kekar tersebut. "Dam..." gumamnya.


"Ya?"


"Kita ini lucu ya."


"Maksudnya?" Adam beringsut, mengatur posisi duduknya, melepas gamitan tangan Selenia dan berganti merangkul tubuhnya. "Lucu gimana?"


"Ya lucu aja. Aku kadang masih suka nggak percaya lho kalau aku itu udah ber-su-a-mi."


"Kenapa nggak percaya? Karena suaminya udah tua?"


"Ih Adam!" Selenia reflek melonjak yang justru membuat kakinya nyeri. "Auuh...."


"Tuh kan, ati-ati dong sayang. Mau protes apa sih?" Adam langsung mendekap kedua tangan Selenia yang sudah bersiap akan mencubit dirinya. "Kan memang bener aku sudah tua..."


"Iihhhh Adam jangan ngomong gitu ah! Aku nggak suka," Selenia memberontak tapi Adam justru lebih erat mendekap tangannya.


"Nggak suka karena aku udah tua."


"Adam..!" tidak berhasil melepaskan diri, Selenia hanya melotot. "Jangan ngomong gitu kenapa sih? Ih sebel ih!" bibirnya mengerucut.


Adam tergelak melihat wajah Selenia dan melonggarkan dekapan tangannya. Lucu banget sih ni anak ABG, batinnya dalam hati.


"Jangan marah dong. Masa gitu aja ngambek?" Adam mulai merajuk.


"Bodo amat!" Selenia menyilangkan kedua tangannya.


"Oke... oke... sekarang aku serius nanyanya. Nggak percaya gimana?"


"Udah lah. Nggak mau bahas itu, skip aja."


"Hmmm... oke aku skip," Adam pura menggesek jidat Selenia seolah sedang menskip layar ponsel.


Selenia tidak bergeming. Dalam hati geli juga melihat tingkah Adam yang menyamakan jidatnya dengan layar ponsel. Tapi dia berusaha untuk tidak tertawa dan merapatkan bibirnya.


Gelagat itu justru membuat Adam semakin gemas. Tanpa mempedulikan istrinya yang sedang ngambek, dia langsung memeluk tubuh mungil itu erat dan menggelitiki pinggangnya. Sontak saja hal itu membuat Selenia turut tergelak karena geli. Dia memukul-mukul lengan Adam agar suaminya itu menghentikan tindakannya.


Suasana jadi sedikit gaduh karena candaan mereka berdua. Sampai terdengar suara Bi Iyah batuk-batuk di bawah dan mereka langsung memperkecil volume tawanya.


"Sssttt... udah malem. Nggak boleh berisik," ujar Selenia.


Adam menghela nafas panjang setelah barusan berpesta tawa dengan Selenia sedikit membuat nafasnya tersengal-sengal.


"Ya udah kalau begitu sekarang kamu bobok ya," Adam mencium kening Selenia.


"Adam..." Selenia lagi-lagi menahan tangan Adam.


"Apa sayaaang?"


Selenia menunjuk bibirnya sendiri menggunakan jari telunjuknya. Adam tersenyum karena dia paham dengan maksud isyarat itu. Tanpa basa-basi lagi, dia langsung kembali mendekat dan mencium bibir Selenia lama sekali. Adam bahkan harus rela duduk kembali karena Selenia tidak mau dia menghentikan ciuman itu. Selenia justru mengalungkan kedua tangannya di leher Adam dan meremas rambutnya. Membuat adegan ciuman mereka semakin panas.


Mereka sama-sama dibakar nafsu. Tapi secepatnya sadar bahwa tidak mungkin untuk 'melakukannya' sekarang. Saat tak sengaja lutut Adam menekan kaki Selenia dan membuatnya terjingkat, saat itulah ciuman mereka berhenti.


"Aku sayang kamu," bisik Adam tepat di depan wajah Selenia, sambil menangkup wajah imut itu dengan kedua tangan kekarnya.


Selenia tidak menjawab, dan hanya membalas dengan mengecup singkat bibir Adam, lalu kembali menyandarkan tubuhnya pada bantal.


"Aku ke kamar ya," Adam berdiri.


"Good night sayang," ucap Selenia.


Setelah kembali mengecup kening Selenia, Adam segera bergegas meninggalkan kamar karena merasa sudah tidak tahan lagi berada di sana lama-lama. Pemanasan singkat tadi sudah cukup membuat 'adik bayinya' menegang.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2