NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -29-


__ADS_3

"Selenia udah berangkat Bik?" tanya Adam pagi itu saat mendapati meja makan yang masih rapi. Dia melirik jam tangannya, jam 7.45 AM.


"Non Selenia memang belum turun dari tadi Pak." jawab Bi Iyah sambil menuangkan minuman di gelas. "Tadi saya ketuk pintunya sekitar jam setengah 6, tapi nggak dibuka. Mungkin masih tidur."


Adam mengangkat alis. Apa Selenia libur sekolah? Kayanya enggak deh. Adam memeriksa ponsel untuk memastikan kalau-kalau Selenia mengirimkan pesan untuknya, tapi ternyata tidak ada. Yang ada hanya pesan dari Renata yang memberitahukan kalau dia belum bisa masuk karena anaknya belum sembuh. Setelah menyeruput minumannya, Adam kembali ke lantai atas, ke kamar selenia.


Tok tok tok!


Adam mengetuk pintu kamar Selenia lirih. Selama beberapa detik tidak ada respon apapun. Jadi dengan hati-hati dia memutar gagang pintu kamar tersebut dan.... pintu itu tidak di kunci.


"Sel...?" panggil Adam. Dia berjalan mendekati tempat tidur istrinya.


"Mmmh..." sahut Selenia lirih dari balik selimutnya.


"Kamu nggak sekolah?" Adam duduk di tepi tempat tidur.


Perlahan Selenia membuka selimut dan sedikit terkejut mendapati Adam yang sudah duduk di tepi ranjangnya. Posisi mereka sangat dekat. Sebuah senyuman tersungging di bibir Adam.


Selenia cantik banget kalo baru bangun tidur, batin Adam. Tangannya lembut membelai dahi Selenia. Namun seketika senyuman itu lenyap tatkala tangannya merasakan suhu yang tidak normal dari dahi tersebut.


"Sel?? Kamu sakit??" tanya Adam khawatir. Raut wajahnya berubah cemas.


Selenia hanya terdiam. Tubuhnya memang merasa begitu lemas pagi ini. Itulah kenapa dia tidak bangun pagi seperti biasanya. Gara-gara hujan deras plus petir semalam dia jadi insomnia sampai hampir menjelang pagi. Dia takut tapi tidak tahu harus berbuat apa. Kalau saja ada Ayah, Selenia pasti akan meminta Ayahnya untuk menemaninya tidur. Tadinya dia pengen mengetuk pintu kamar Adam dan numpang tidur di kamarnya--walaupun harus tidur di sofa juga tidak masalah--, tapi kemudian dia mengurungkan niatnya itu. Dia malu. Akhirnya dia memilih untuk tetap di dalam kamar sampai jadilah seperti ini. Rasa takut, cemas, dan sulit tidur membuat tubuhnya demam.


"Ayo aku anter kamu ke rumah sakit." dengan perlahan Adam menopang tubuh Selenia untuk bangkit. "Kenapa kamu nggak ngomong sama aku sih kalau kamu sakit Sel? Ya ampun..." dia benar-benar khawatir melihat keadaan Selenia.


Selenia hanya bisa pasrah saat Adam mengambilkan jaket yang menggantung di kapstok dan memakaikan ke tubuhnya. Tanpa banyak pikir lagi dia segera membawa Selenia ke rumah sakit.


"Hati-hati ya Pak... Non..." pesan Bik Iyah sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.


Dalam hati, Bi Iyah menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa dia tidak peka saat Selenia belum turun sampai saatnya jam sarapan? Kenapa dia tidak mencoba mengecek ke dalam kamarnya?

__ADS_1


Tapi mau bagaimana lagi? Dengan perasaan cemas dan khawatir dia berharap majikan perempuannya itu cepat mendapat pengobatan.


...🌺🌺🌺...


Cia duduk dengan gelisah di bangkunya. Sesekali dia melirik bangku kosong di sebelahnya. Dia bingung kenapa Selenia tidak masuk dan tidak memberinya kabar. Bahkan pesan WhatsApp yang dia kirim pun sama sekali tidak dibaca. Tidak biasanya Selenia bersikap seperti itu.


"Soulmate lo mana?" celetuk Lala tiba-tiba. Anak itu duduk menyilangkan kaki di bangkunya sendiri sembari memainkan rambut.


Cia mendengus lirih dan menatap malas ke arah Lala. Tanpa mempedulikan pertanyaan Lala, Cia kembali mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan kembali menghubungi Selenia. Tapi sampai sekian menit meninggalkan bunyi 'tut' panggilannya tidak terjawab.


"Kok ditanya malah diem sih?" sahut Lala lagi.


"Bukan urusan lo kali." jawab Cia sinis.


Lala mencibir dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Ditanya baik-baik juga. Nyebelin!" Lala beranjak dan berjalan keluar kelas. Namun baru saja langkahnya sampai di ambang pintu, bel masuk kelas berbunyi.


Cia masih bingung kenapa Selenia tidak masuk tapi tidak mengabari dirinya terlebih dahulu. Alhasil di sepanjang jam pelajaran pertama pagi itu Cia tidak begitu konsentrasi. Beruntung tempat duduknya tidak berada di deretan depan. Jadi tidak begitu mendapat perhatian khusus dari guru karena dia sedang tidak fokus memperhatikan pelajaran pertama pagi itu.


...🌺🌺🌺...


Selenia bangkit dari tempat tidur di ruang pemeriksaan dokter dibantu oleh Adam. Dokter baru saja selesai memeriksa kondisinya.


"Selenia...." sang Dokter membaca lembaran kertas formulir kunjungan pengobatan milik Selenia. "Anda kakak atau... kalau Ayahnya nggak mungkin ya? Terlalu muda..." dia mengalihkan pertanyaan pada Adam sembari tersenyum.


Adam dan Selenia hanya saling pandang. Dengan lembut, Adam menggenggam tangan Selenia berusaha mengirimkan isyarat bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Toh sang Dokter juga tidak begitu detail mengintrogasi keduanya.


"Nak Selenia ini hanya demam biasa. Faktor kelelahan dan efek kurang tidur sepertinya. Jadi untuk sementara waktu jangan dulu banyak beraktifitas ya..." ujar sang Dokter. "Atau mungkin mau opname untuk beberapa hari saja, supaya istirahatnya bisa optimal?" dia menawarkan.


Mendengar kata Opname Selenia langsung menggeleng.

__ADS_1


Dokter tersenyum melihat gelengan itu. "Kalau begitu saya buatkan resep obatnya saja ya, sekaligus surat keterangan tidak masuk untuk disampaikan ke sekolah."


Setelah menerima resep obat, Mereka pun keluar dari ruangan tersebut dan menuju apotek.


"Kenapa kamu nggak mau di opname?" tanya Adam.


"Enggak ah!" Selenia menggeleng cepat. "Aku mau istirahat di rumah aja Dam..." rengeknya.


Adam terkekeh. Dia merangkul Selenia hangat. Saat mereka hampir tiba di apotek, tidak sengaja mereka berpapasan dengan Renata bersama pengasuhnya. Renata menggendong Nola yang tampak tidak memiliki gairah.


"Lhoh, Ren? Nola kenapa?" Adam melepaskan rangkulan tangannya dari Selenia.


Ternyata Adam akrab banget ya sama rekan kerjanya satu ini. Sampai-sampai dia mengenal nama anaknya. Selenia sedikit beringsut dan melihat ke sudut lain.


"Eh, Pak Adam..." Renata mengangguk hormat. "Mmm ini...sudah dua hari demamnya Nola nggak turun dan hari ini dokter menyarankan supaya di opname untuk beberapa hari."


Mendengar kalimat itu hati Selenia menjadi trenyuh. Dia aja disarankan untuk opname menolak, dan sekarang dia melihat anak sekecil ini harus diopname, disuntik untuk diberi selang infus. Selenia bergidig ngeri.


"Ya ampun kasian sekali kamu Nola..." Adam membelai rambut Nola penuh kasih. "Ya sudah Ren, kamu fokus dulu aja ngurusin anak kamu, biar nanti saya yang bicara sama Pak Anton."


"Terimakasih banyak Pak sebelumnya. Kalau begitu saya permisi dulu, mau ke kamar rawat inap." pamit Renata.


"Oke, jaga diri dan jaga Nola baik-baik." pesan Adam.


Kalimat itu membuat suasana hati Renata menjadi sedikit lebih baik. Setidaknya masih ada seseorang yang peduli dengan dia dan anaknya. Entah kenapa dia merasa kalau atasannya itu begitu peduli terhadap dirinya.


Sebelum menaiki lift menuju lantai 3 dimana kamar rawat inap Nola berada, Renata sempat berbalik dan memperhatikan Adam yang berjalan semakin menjauh. Dia merangkul perempuan yang sedang bersamanya.


Perempuan itu siapanya Pak Adam ya?


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2