
Keadaan Nola semakin membaik. Dia sudah bisa duduk, diajak bercanda dan tertawa riang layaknya anak seusianya. Renata bahagia bukan main. Apalagi saat Dokter mengatakan kalau lusa Nola sudah bisa pulang.
Sore itu Renata sedang menyuapi Nola dengan bubur. Anak itu makan dengan lahap sembari memainkan boneka teddy kesayangannya. Sementara di sudut ruangan, Mbak Ami, pengasuhnya Nola sibuk memberesi beberapa pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam totebag besar. Renata meminta supaya semua itu dibawa pulang untuk kemudian dicuci.
"Mamaaah..." celetuk Nola sesekali dengan nada manja.
"Iyah sayang, ada apa??" sahut Renata penuh kasih.
Anak itu kembali tertawa sambil menyodorkan bonekanya, meminta Renata mencium boneka tersebut. Renata mencium teddybear dengan gemas lanjut kemudia mencium kening Nola berkali-kali, membuat anak itu semakin terkekeh kegirangan.
"Wow, anak pinter maemnya udah hampir habis tuh," Renata memperlihatkan isi mangkuk ke arah Nola. "Yuk habisin yuk... a.... a...." Dia memperagakan seolah suapan terakhir itu adalah pesawat terbang yang ingin masuk ke dalam hanggar.
"Pinternya adek," Mbak Ami berjalan ke arah mereka.
"Iya dong Mbak. Kan Nola pengen sehat supaya bisa cepet pu..." Renata membelai rambut Nola.
"Yaaaang...." sahut Nola melanjutkan kalimat Mamanya. Maksudnya, Pulang.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya Buk, mau beresin baju-baju yang kotor," Pamit Mbak Ami.
"Oh iya Mbak. Terus jangan lupa nanti kalau kembali ke sini bawain jaket atau hoodie aku yang ada di gantungan kamar ya," Pesan Renata sebelum Mbak Ami meninggalkan ruangan. "Dingin banget di sini."
"Baik Buk," Mbak Ami mengangkat totebag yang sudah dia kemas. "Adeek... Mbak pulang dulu ya, nanti Mbak balik lagi kesini," pamitnya pada Nola.
Nola mengangguk. Dia juga memberikan kissbye dengan lucu ke Mbak Ami. "Dadaahh..." ucapnya dengan gaya yang masih cadel.
Setelah Mbak Ami keluar, seketika suasana menjadi hening. Renata mengecek ponsel. Bibirnya mengerut saat mendapati tak ada pesan yang dia harapkan masuk di sana. Ekspektasinya terlalu tinggi pada orang yang akhir-akhir ini mampu membuatnya begitu semangat pergi ke kantor. Siapa lagi kalau bukan Adam. Laki-laki yang sejak pertama kali dia kenal itu bisa membuat dia memikirkannya sepanjang waktu.
JEGLEK!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, membuat Renata dan Nola spontan mengarahkan pandangannya ke sana.
"Aaaa..." Nola memekik girang sembari mengangkat kedua tangannya.
"Usss ussshh usshhhh.... sayang, tangannya nggak boleh gitu ah. Nanti jarumnya lepas," Renata menahan tangan Nola dengan lembut.
Ternyata yang membuat Nola bertingkah sebahagia itu adalah Adam. Dia datang dengan menutupi wajahnya menggunakan boneka Winnie The Pooh berukuran sedang. Dia berjalan menghampiri ranjang Nola kemudian memberikan boneka itu padanya.
"Eh, Pak Adam," sahut Renata canggung. Dia berdiri dan mempersilahkan Adam duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Udah, kamu duduk aja. Kenapa mesti berdiri?" tanya Adam.
Renata kembali duduk. Dia harus bisa menahan nafas untuk mengendalikan hatinya yang mendadak terasa begitu bahagia karena kedatangan sang pujaan hati. Harapannya pada sebuah pesan, kini dibayar lebih dengan kehadiran Adam di sini. Apalagi ditambah dengan sikap Nola yang begitu riang saat menerima boneka dari Adam. Anak kecil itu jadi melupakan boneka Teddynya dan memeluk si Winnie erat.
"Yeee, bonekanya bagus ya sayang?" Renata berbicara pada Nola dan anak itu mengangguk. "Kalau begitu bilang apa sama Oom?"
"Maaciihhh Oom," ucap Nola dengan ekspresi lucu mengucapkan terimakasih dengan gaya bicara yang belum sempurna.
Adam tersenyum dan membelai pipi Nola dengan sayang. "Sama-sama anak pinter," pujinya.
"Sebelumnya, terimakasih atas kedatangan Bapak kesini untuk menjenguk Nola," ucap Renata pada Adam.
"Sama-sama Ren," jawab Adam tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari Nola. "Bagaimana? Kelihatannya anak kamu sudah mendingan ya?"
__ADS_1
"Alhamdulillah Pak. Kata dokter seandainya keadaannya terus membaik, lusa dia sudah bisa pulang."
"Syukurlah kalau begitu. "
"Oh ya, bagaimana dengan pekerjaan saya di kantor Pak? Apa ada yang menghandle selama saya tidak masuk?"
Adam menggeleng. "Saya kerjakan sendiri sedikit demi sedikit Ren. Karena Maya yang biasanya membantu saya juga sedang sibuk."
"Aduh, saya minta maaf Pak," Renata merasa tidak enak hati. "Seandainya Nola sudah diperbolehkan pulang..."
"Sudah, kamu nggak perlu memikirkan itu. Untuk saat ini kesehatan Nola yang terpenting. Kamu fokus urusin dia dulu," potong Adam. "Pak Anton juga tidak masalah kok dengan hal ini. Dia mengerti posisi kamu."
Renata tersenyum lega. Atasannya itu tidak cuma tampan dan gagah. Tapi juga baik hati. Ah, seandainya....
Untuk sementara waktu Renata membiarkan Nola bercengkerama dengan Adam. Anak itu begitu welcome dengan kehadirannya. Mungkinkah karena dia merindukan sosok seorang Ayah?
Ah... Renata tersenyum getir. Nola tidak kenal sosok itu dari kecil. Bahkan saat ulang tahunnya yang pertama, saat Devan menghadiri acara pesta itu, sambutan Nola kepada Ayah kandungnya tidak sebahagia saat dia bertemu Adam hari ini. Kadang Renata juga heran. Bagaimana mungkin Devan bisa benar-benar melupakan darah dagingnya sendiri?
Tapi ya sudahlah. Tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang telah terjadi. Peristiwa itu cukup pahit untuk sekedar diingat. Bukankah dia sudah memutuskan untuk mengubur masa lalunya dalam-dalam? Bukankah dia sudah berjanji pada Nola untuk bisa menjadi Ibu sekaligus Ayah untuknya?
Wajah Nola tampak begitu sumringah selama bercengkerama dan bercanda dengan Adam. Adam yang duduk di tepi ranjang, memeluk anak kecil itu penuh kasih sayang.
Ya Tuhan... melihatnya saja sudah bahagia, batin Renata.
...🌺🌺🌺...
Waktu menunjukkan pukul 17.45 menit saat Selenia pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Dia mengerutkan kening dalam-dalam dan bertanya pada dirinya sendiri.
Selenia bermaksud untuk menghubungi nomor suaminya, tapi kemudian berhenti. Mendadak ingatannya melayang pada peristiwa pagi tadi di rumah sakit saat mereka bertemu dengan... Ren? Adam memanggil 'Ren' ke perempuan itu. Siapa namanya? Apa mungkin Adam... ah nggak mungkin. Ya tapi siapa tahu? Bukankah Adam terlihat begitu akrab dengan anak kecil itu? Apa dia....
Terdengar deru mesin mobil memasuki halaman rumah, saat hati Selenia sedang berdebat dengan dugaan-dugaannya. Reflek dia melompat dari tempat tidur dan berjalan menghampiri jendela kamar. Dari sini dia bisa melihat Adam yang baru keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah. Lalu tak lama setelah itu terdengar langkah kaki yang kian mendekat. Tanpa pikir panjang, Selenia pun bergegas menghampiri pintu kamarnya.
Tok tok tok!
Ketukan itu terdengar bersamaan dengan tangan Selenia yang hendak memutar gagang pintu. Sebuah senyum lebar menyambut Selenia begitu pintu dibuka.
"Sudah makan?"
"Kok baru pulang?"
Kedua pertanyaan itu terlontar dari mulut mereka masing-masing hampir dalam waktu yang bersamaan, membuat mereka sama-sama menahan senyum.
"Maaf tadi aku lupa nggak kasih kabar kamu, kalau aku mampir dulu ke rumah sakit. Aku jenguk Nola, anak kecil yang tadi pagi ketemu kita di RS sama Mamanya. Inget?" tanya Adam sembari mengendurkan dasinya.
Tuh kan bener? Dugaanku nggak salah. Batin Selenia. Ada perasaan kecewa di hati Selenia mendengar hal itu. Tapi dia memilih untuk tidak menunjukkan kekecewaannya di depan Adam. Entahlah, dia hanya merasa tidak suka kalau Adam terlalu dekat dengan perempuan itu.
"Kamu udah makan?" Adam mengulangi pertanyaannya.
Selenia menggeleng pelan. Adam menyentuh keningnya lembut.
"Sudah minum obat?" tanya Adam lagi.
"Nanti pas mau tidur," jawab Selenia datar.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu aku mau mandi, ganti baju terus kita makan ya?"
"Boleh deh," Selenia mengangguk.
Adam bergegas masuk ke kamar sementara Selenia pergi ke ruang makan. Di sana Bibik sedang mempersiapkan makan malamnya. Selenia menarik kursi dengan malas dan duduk.
"Non Selenia udah mendingan kan?" tanya Bi Iyah sembari menuangkan teh hangat ke gelas di depan Selenia.
"Udah kok Bik," Selenia tersenyum. "Bibik masak apa nih? Kayaknya mantep," dia mengamati semua hidangan yang tersaji di atas meja.
"Bibik masak orek tempe sama wortel, trus ini ada sayur asem juga, mana tahu pengen dimakan tanpa nasi."
"Wah, oke-oke. Mantap..." Selenia mengacungkan jempolnya.
"Oh ya, tadi siapa sih Non yang ke sini sama Mbak Cia?" tanya Bi Iyah.
"Dia temen aku juga Bik, cuman kami nggak sekelas."
Bi Iyah manggut-manggut. Tak lama kemudian Adam muncul dengan penampilan yang begitu fresh. Rambutnya yang tampak sedikit basah membuatnya terlihat keren di mata Selenia.
Damage juga suami gue, batin Selenia.
Mereka menikmati makan malam bersama tanpa obrolan. Memang sudah menjadi kebiasaan. Tidak boleh makan sambil ngobrol.
Selama beberapa menit sibuk dengan piring masing-masing, akhirnya acara makan malam itu selesai. Adam meneguk minumannya kemudian mengelap bibirnya menggunakan tisu. Begitu juga dengan Selenia. Dia mencomot satu buah jeruk untuk pencuci mulut.
"Sel kamu tahu nggak..." celetuk Adam tiba-tiba membuat Selenia menghentikan aktivitasnya mengupas kulit jeruk. "...Nola itu lucu banget loh anaknya."
Deg! Selenia menatap Adam sekilas lalu melanjutkan mengupas jeruk. "Hmmm," dia hanya menggumam singkat.
"Iya, dia itu welcome banget sama aku," Adam tersenyum jahil tanpa sepengetahuan Selenia. "Andai aja aku punya anak ya..." katanya kemudian.
Reflek Selenia meletakkan jeruknya ke atas meja lalu menatap Adam dan tersenyum getir. Adam sadar nggak sih sama yang dia omongin barusan?
"Sel... aku bercanda lho," sahut Adam begitu mendapati ekspresi Selenia mulai berubah.
Selenia mengangkat bahunya pelan. "It's okay. Wajar kok Dam kamu ngomong gitu. Yang namanya orang 'sudah menikah' pasti menginginkan sesuatu yang bisa melengkapi pernikahannya."
"Iya maksud aku..." Adam tak melanjutkan kalimatnya. Dia merasa ucapannya telah menyinggung perasaan Selenia. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri, kenapa harus bercanda dengan cara seperti itu.
"Kalau kamu suka, aku nggak pernah ngelarang kamu buat ketemu Nola kok," Imbuh Selenia. Saat dia mengatakan itu, hatinya sebenarnya sakit, karena semakin sering Adam bertemu dengan Nola, itu artinya akan semakin sering juga dia bertemu 'Ren' entah siapa itu nama Ibunya.
Adam tak menjawab. Dia menyesal tapi juga merasa senang melihat tanggapan Selenia. Jawaban yang seperti sebuah ungkapan tidak rela. Ekspresi cemburu. Istrinya itu sedang dilanda cemburu. Kalau benar dia cemburu, berarti ada kemungkinan dia sudah mulai membuka hati untukku.
Perlahan, Adam bangkit dan berjalan mendekati Selenia. Dia menggeser tempat duduk supaya bisa lebih dekat dengan Selenia. "Kamu tahu aku suka anak kecil, dan kebetulan aku bertemu Nola. Aku minta maaf kalau candaku kelewatan. Tapi aku janji, suatu saat nanti kalau aku pengen ketemu Nola, aku akan ajak kamu," Adam mengulurkan kelingkingnya pada Selenia bermaksud membuat perjanjian. "Aku yakin kamu juga pasti bakalan suka sama dia," Dia mengedipkan sebelah matanya.
Selenia melirik Adam dengan ekor matanya. Jahil banget itu mata. Namun meski itu belum terjadi, setidaknya dia merasa lega mendengar janji yang diucapkan Adam. Dia pun menautkan kelingkingnya pada kelingking Adam.
"Nah, gitu dong," Adam tersenyum. Tapi jauh di dalam hatinya lebih dari itu. Dia bahagia dan berharap dugaannya itu--Selenia sedang dilanda cemburu--nyata.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1