NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -112-


__ADS_3

Sejak sore, semua keluarga Selenia sudah berkumpul di rumah mereka. Masing-masing sibuk mempersiapkan acara untuk nanti malam. Pak Fendi dan Pak Edwin yang kebetulan memiliki hobi yang sama--karaoke--bernyanyi di ruang tengah.


Sementara itu Bu Lisa dan Bi Iyah sibuk sendiri dengan urusan konsumsi di dapur. Dengan tegas Bu Lisa melarang Selenia untuk ikutan sibuk karena takut dia kelelahan. Jadilah Selenia mengurung diri di kamar nonton YouTube. Adam sendiri sedang berkutat dengan laptop dan berkas guna melengkapi surat pengunduran dirinya dari kantor Pak Anton yang akan dia serahkan lusa. Beberapa hari yang lalu saat dia kontrol ke rumah sakit, dokter sudah mengizinkannya untuk sedikit demi sedikit memulai aktivitas.


Saat petang menjelang, dan Selenia keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi dan wangi, Adam langsung mengergapnya dengan gemas karena dia juga sama-sama baru keluar kamar.


"I miss you so bad!" ucap Adam karena sesorean ini merasa telah mengabaikan istrinya.


Selenia mencubit pinggang Adam, pura-pura ngambek. Tapi Adam justru membalas cemberutan itu dengan kecupan singkat di bibir Selenia.


"Eehhh.. nanti dilihat mama lhoh...." protes Selenia lirih. Meski begitu, dia selalu menyukai perlakuan-perlakuan manis Adam.


Adam malah terkekeh dan tidak peduli. Dia merangkul pinggang Selenia mengajaknya turun ke lantai bawah.


Di lantai bawah, mereka mendapati para Papa sedang serius bermain catur. Adam menahan senyum memandang papan catur yang mulai usang itu. Benda itu sudah lama dia lasakkan ke dalam lemari di bawah televisi kan? Siapa tadi yang menemukannya? Dan sepertinya posisi Pak Fendi sedang terancam karena beberapa anak caturnya telah termakan anak catur milik Pak Edwin.


"Hei, Dam. Sini gabung!" Pak Fendi melambaikan tangan. "Tolong bantu mertuamu ini atur strategi dengan anak catur yang tinggal seberapa ini, sepertinya Papamu sedang berambisi sekali untuk mengalahkan Papa," guraunya sembari melirik Pak Edwin yang malah tergelak.


Adam dan Selenia tertawa lalu menghampiri keduanya. Namun setibanya di ruang tengah, dan Adam malah ikut-ikutan serius atur strategi membantu Pak Fendi, Selenia memutuskan untuk menemui Bu Lisa dan Bi Iyah di dapur.


"Mama," sapa Selenia seperti anak kecil.


"Hei, sore sayang," Bu Lisa berbalik dari kesibukannya di depan meja kabinet. Dia sedang membuat sesuatu dari tepung. "Adam mana?"


"Di ruang tengah, sama Papa-Papa," Selenia duduk di kursi makan. Matanya menatap meja makan yang penuh dengan berbagai macam makanan. Wow, banyak banget makanannya. Sejak kapan Mama persiapin ini semua?


"Dia baru keluar dari kamarnya juga?"


"Iya, Ma."


"Hmmmh... Anak itu. Tutup tahun masiiih aja sibuk sama pekerjaan," Bu Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


Selenia cuma tersenyum. Dia tidak heran dengan karakter Adam soal pekerjaan. Dari awal dia mengenalnya, Adam adalah seorang pekerja keras. Nggak heran kalau Pak Anton begitu menyayangi dia dan menganak emaskan posisinya. Ah, Selenia jadi berpikir soal rencana pengunduran diri itu. Bagaimana ya reaksi Pak Anton nanti.


"Mama mau buat apa lagi itu?" Selenia berputar di atas kursinya. "Ini kan makanan udah banyak banget, siapa memangnya yang mau makan makanan sebanyak ini Mama??"


"Kamu nggak usah khawatir. Kalau soal menghabiskan makanan, Adam sama Papanya itu paling jago. Oh ya, kamu sudah minum susu?"


"Udah tadi pagi, pas mau berangkat sekolah."


"Ya ampun sayang, kamu harus rutin sehari tiga kali dong," Bu Lisa berputar dan mengambil susu dari dalam lemari kabinet. "Mama buatin ya."


Selenia mengangguk. "Boleh deh..." bahagia hatinya berada di sekitar orang-orang yang menyayanginya.


Di ruang tengah terdengar tawa membahana dari Adam dan para Papa itu. Mereka sedang menertawakan apa sih?


Selenia bangkit hendak menuju ruang tengah tepat saat Bu Lisa menghidangkan susunya.


"Kamu mau kemana sayang? Minum dulu susunya," Bu Lisa menahan bahu Selenia.


"Aku penasaran deh ma, mereka kayanya asyik banget. Pengen lihat..."


"Udah kamu di sini aja temenin mama," tahan Bu Lisa. "Para lelaki, biasalah kalau lagi kumpul. Jarang-jarang kan mereka seperti itu."


Selenia mengurungkan niatnya. Dia kembali duduk dan meneguk susu buatan mertuanya.


Sesaat ponsel Selenia berdering. Ternyata panggilan video dari Cia.

__ADS_1


Anak itu tengah memamerkan kebersamaan dengan Marvin di rumahnya sendiri. Tapi untuk merayakan pergantian tahun malam nanti, mereka sudah berencana untuk pergi ke satu tempat. Selenia tidak tahu pasti dimana. Tadi di sekolah, Cia juga tidak memberitahu pada Selenia. Tapi yang jelas dia percaya Cia aman bersama Marvin.


"Halo Cia... apa nih acara kamu?" Bu Lisa ikut nimbrung di belakang Selenia.


"Halo tante...." balas Cia centil. Selenia cuma terkikik. "Biasa tante... jalan-jalan... makan.... happy lah pokoknya..."


"Wah... iya deh. Nggak pengen gabung sama Selenia di sini?"


"Hehehe, enggak tante... takut ganggu," Cia terkikik.


Selenia memutar bola matanya. "Yeee... alasan aja lo."


Cia tergelak. Begitu juga dengan Bu Lisa.


"Yang penting tetap jaga diri ya Cia," pesan Bu Lisa.


"Siaaap tante."


Setelah itu, Bu Lisa kembali ke meja kabinet dan sibuk dengan adonannya. Sementara Selenia melanjutkan obrolan VC-nya dengan Cia.


...🌺🌺🌺...


Malam semakin beranjak dan suasana di rumah semakin hangat. Pak Fendi dan Pak Edwin berkaraoke menyanyikan lagu-lagu lawas yang tidak diketahui baik oleh Adam ataupun Selenia. Karena itu pasti lagu jaman mereka muda dulu. Adam dan Selenia mendengarkan sambil ngemil di ruang tamu. Sesekali mereka tergelak saat salah satu diantara para Papa itu ada yang nggak hafal lirik.


Oh ya, acara makan-makan dipindah ke halaman belakang oleh Bu Lisa dan Bi Iyah. Jadi kedua perempuan beda usia itu juga sedang sibuk sendiri di sana, mengabaikan para lelaki yang asyik beradu nada. Pak Tono cukup memiliki waktu santai hari ini. Dia asyik tiduran di gazebo tua di sudut halaman sambil mendengarkan radio.


Saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih, Pak Fendi dan Pak Edwin menghentikan sesi karaoke mereka. Selenia bahkan sudah ketiduran di sofa ruang tamu sejak jam sembilan tadi karena ngantuk berat. Padahal biasanya dia selalu tidur di atas jam 10 malam. Hormon bumil memang naik turun.


"Sayang bangun," Adam menepuk-nepuk pipi Selenia yang tertidur pulas dengan kepala berada di pangkuannya.


"Mmmhhh..." Selenia bergeming lirih. Dia mengucek-ucek matanya karena silau dari cahaya lampu ruang tamu yang berada tepat di atas kepalanya. "Jam berapa ini Dam?" suaranya serak khas bangun tidur.


Selenia bangkit. Kepalanya sedikit terhuyung, jadi dia kembali menyandarkan diri di bahu Adam sebentar. Setelah beberapa menit, baru kemudian mereka pergi ke halaman belakang.


Semua orang sedang berpesta menikmati makanan yang sedari sore sudah disiapkan oleh Bu Lisa dan Bi Iyah. Ada jagung bakar, sosis bakar, kebab, buah dan lainnya.


"Sini sini sini.... jangan pacaran terus," Bu Lisa menggoda.


Mereka duduk melingkar di atas karpet yang digelar di teras belakang.


...🌺🌺🌺...


Di rumahnya yang besar dan luas, Tony duduk merenung di balkon kamarnya. Di luar sana, dia melihat beberapa anak kompleks bersuka cita menyambut pergantian tahun dengan melakukan berbagai kegiatan. Aroma makanan yang dibakar menguar dari segala penjuru. Semua orang benar-benar bersuka cita malam ini, kecuali dirinya. Sebenarnya teman mabar Tony juga memiliki acara di basecamp, tapi Tony sedang tidak ingin kumpul-kumpul.


Seharusnya dia juga bersuka cita malam ini. Menikmati momen pergantian tahun bersama kedua orang tuanya. Hhhh... tapi ternyata Tuhan justru memiliki rencana lain. Atau memang Tuhan menghancurkan rencananya?


Sungguh, di awal Mamanya muncul kembali di hadapannya, Tony memang sangat marah dan membenci dia. Tapi saat dia mulai mencoba membuka hati--dengan menemui Bu Riska di kontrakannya kala itu--dan menemukan fakta bahwa kehidupan mamanya sangat memprihatinkan, nalurinya sebagai seorang anak membuatnya melupakan kebencian itu.


Tony membolak-balik amplop berwarna putih di tangannya. Beberapa hari kemarin, kira-kira dua hari setelah kematian Bu Riska, Tony dan Pak Anton kembali mendatangi rumah sakit untuk mengurus administrasi yang belum sempat di selesaikan di malam meninggalnya Bu Riska. Sementara Pak Anton mengurus administrasi, Tony mengemasi beberapa barang milik mamanya di bekas kamar rawatnya dulu. Seorang suster yang baru saja mengganti sprei memberinya sepucuk surat yang katanya dia temukan di bawah bantal Bu Riska.


Surat itu sama sekali belum dibuka oleh Tony. Dia belum sanggup. Tapi malam ini, dia mencoba menguatkan diri untuk tahu apa isinya. Menunda membaca berarti menunda rasa sedihnya juga bukan?


...Dear my beloved Son...


...Maaf, karena Mama telah gagal menjadi Ibu yang baik untukmu....


...Maaf untuk waktu dan kasih sayang yang sempat hilang....

__ADS_1


...Maaf untuk segala kesedihan dan luka yang Mama timbulkan karena kehadiran Mama kembali....


...Mengertilah nak, ketika Mama memutuskan untuk pergi, bukan berarti Mama membenci kamu dan keluarga kita. Saat itu kamu masih terlalu kecil untuk mencerna semua dan mendengar penjelasan yang sebenarnya. Tapi Mama tahu, suatu saat kamu akan tahu alasan itu. Dan Mama juga tahu, ini adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak terjadi di dalam keluarga kita....


...Maaf, seharusnya Mama tidak muncul lagi....


...Tapi maaf karena Mama tidak bisa menahan rindu....


...Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi pelita hati Mama, sayang....


...Maaf kalau kehadiran Mama kembali telah membuat luka di hatimu....


...Maaf kalau kehadiran Mama hanya membuat waktumu terbuang hanya untuk mengurusi Mama yang tak lagi punya daya....


...Terimakasih untuk usaha yang kamu dan Papa kamu lakukan untuk Mama....


...Terimakasih untuk kegigihan dan perjuangan kalian demi Mama....


...Selamat Tahun Baru sayang....


...Tetaplah menjadi pribadimu yang luar biasa....


...With love...


...Your Mom ♡...


Tony sudah terisak bahkan sebelum dia menyelesaikan membaca surat itu. Dia berjongkok di tepi balkon dan bersandar di sana.


"HAPPY NEW YEAAAAAAAAAR!!"


"SELAMAT TAHUN BARUUUUU!!!"


TREEEEEETTTT TREEEETTT..... DOOORRR!! DOOORRR!!


Terdengar teriakan anak-anak kompleks di bawah yang kemudian disusul suara terompet bersahutan dan pijaran kembang api di langit. Kemeriahan yang sama sekali tidak bisa dirasakan oleh Tony yang sedang berlinang air mata.


"Selamat Tahun Baru, ma..." bisik Tony pada dirinya sendiri dengan bibir bergetar.


Hal itu di saksikan oleh Pak Anton yang sejak beberapa menit yang lalu masuk ke kamar Tony. Awalnya dia ingin mengajak Tony keluar, menikmati suasana malam supaya Tony tidak terus menerus murung dan bersedih. Namun saat dia melihat tubuh Tony yang merosot di tepian balkon dengan memegang surat di tangannya, langkah Pak Anton terhenti. Hatinya begitu pilu melihat kesedihan anak semata wayangnya.


...🌺🌺🌺...


Berbeda dengan suasana di rumah Adam yang semakin menghangat. Saat jam besar di ruang tamu berdentang sebanyak 12 kali, mereka semua bersorak.


"HAPPY NEW YEAAAAAR!!"


"Selamat tahun baru sayang!" Bu Lisa paling heboh memeluk Adam dan Selenia bergantian. "Selamat tahun baru semua!"


Pak Tono mendapat tugas menyalakan kembang api yang diarahkan ke langit. Adam dan Selenia saling memeluk dengan perasaan bahagia. Pijaran kembang api di atas mereka seolah menjadi aurora yang melengkapi kebahagiaan mereka.


Lalu tanpa sepengetahuan yang lain yang sedang bereuforia menikmati pergantian tahun, Adam dan Selenia menyelinap masuk ke dalam rumah. Adam menarik tangan Selenia membawa ke kamarnya. Dia belum berani menggendong Selenia, karena masih terlalu beresiko dengan luka bekas jahitan di perutnya.


"Happy new year, sayang," bisik Adam dengan kedua tangan menangkup mesra pipi Selenia.


"Hap...." belum sempat Selenia menyelesaikan kalimatnya, bibirnya telah dikunci dengan lembut oleh kecupan bibir sensual suaminya.


Rasanya hangat dan menenangkan.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2