NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -117-


__ADS_3

Berita tentang Selenia tentu cepat menyebar di sekolah. Namun karena Selenia bukan siswi yang menonjol, jadi anak-anak tidak begitu paham dengan sosoknya. Hanya anak-anak yang satu kelas dengannya saja yang tahu betul siapa Selenia. Mereka semua--teman sekelas Selenia--tentu kaget dan tidak percaya dengan kenyataan itu.


Selenia yang di kenal sebagai anak yang pendiam tapi supel di kelasnya, seakan-akan tidak cocok memiliki image seperti itu. Hamil di usia yang masih bocah dan masih dalam posisi sekolah, tentu terdengar aneh kan? Apalagi Lala menyebarkan berita itu dengan gosip-gosip yang diberi bumbu tambahan. Dia bilang Selenia punya hubungan khusus dengan seorang Om-Om, dan itu membuat Cia ikut kena imbasnya. Mereka berpikir Cia juga seperti Selenia--memiliki pacar atau menjadi simpanan Om-Om. Beberapa anak yang mengenal Cia, mulai menatapnya aneh karena gosip itu.


"Lo jangan kurang ajar ya La!" Cia baru saja masuk kelas dan langsung melabrak Lala yang sedang duduk di kursinya, ngerumpi dengan beberapa anak. Panas hati Cia mendengar desas-desus yang tidak mengenakkan yang bersumber dari mulut Lala.


"Lo apa-apaan sih Cia?" Lala berdiri dengan santai sambil menyilangkan kedua tangan. "Baru dateng kok marah-marah. Kaya preman aja!"


"Elo yang apa-apaan! Punya mulut kalau sekolah diajak sekolah juga, biar kalau ngomong nggak asal nyampah! Punya bukti apa lo bikin gosip kalau gue punya pacar Oom-Oom? Lo kalau ngomong jangan asal ngejeplak ya! Bacot!"


"Siapa yang asal jeplak?" Lala masih menanggapi dengan santai. "Sekarang yang jadi bukti temen lo aja, si Selenia itu... yang keliatannya pendiem, alim, nggak punya cowok... eh tiba-tiba ada pria yang udah lumayan berumur nyamperin dia ke sekolah, ngapain coba? Dan sekarang.... dia hamil.... sama siapa? Sama Om-Om itu kan? Dan lo temen deketnya, ibarat kata lo masuk WC aja barengan.... siapa yang nggak berpikir kalau lo itu..."


Cia tidak tahan lagi mendengar ocehan Lala yang semakin ngelantur. Dengan sekuat tenaga dia mendorong Lala sampai anak itu terjengkang. Anak-anak berteriak bersamaan demi melihat semua itu.


"Elo udah kelewatan ya La!!!" Cia hendak menjambak rambut Lala tapi beberapa anak buru-buru menahan kedua tangannya.


Sementara beberapa anak lain membantu Lala berdiri.


"Lo nggak bisa ambil kesimpulan nggak jelas kaya gitu! Gue nggak terima lo bilang gue kaya gitu!!" Cia terus nyerocos meskipun kedua tangannya sedang dicekal anak-anak.


"Udaaah... udah Cia, Lala... nanti kalau ada Pak Nandar lewat, malah berabe kalian!" ucap salah seorang anak yang memegangi Lala.


"Sekarang gue nanya sama lo La, apa untungnya buat lo ngelakuin ini ha? Lo dapat apa?!"


"Ini bukan soal untung atau enggak, lo bisa mikir nggak sih Cia?!! Seandainya ada satu siswi kaya Selenia masih dibiarkan wira-wiri di sekolah dalam keadaan hamil, mau jadi apa sekolah kita?! Hah??!"


"Munafik lo! Nggak usah sok suci lo jadi orang!" Cia mengedarkan pandangan menatap satu per satu anak-anak yang ada di sekeliling mereka. "Kalian semua liat. Kali ini Selenia memang melakukan kesalahan, tapi dia...!" Cia menarik satu tangannya dan menujuk Lala dengan kasar. "Ni anak udah jadi manusia merasa paling suci dan paling benar. Manusia nggak ada yang sempurna, asal lo paham itu! Lo nggak tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa Lala! Kebenaran yang lo ungkap soal kehamilan itu memang benar, tapi dugaan lo tentang Selenia yang pacaran sama Om-Om LO SALAH!!"


"Gue nggak peduli dugaan gue benar atau salah, yang penting kenyataannya Selenia udah hamil di luar nikah, dan itu bukan contoh yang baik. Titik!" bantah Lala tak mau kalah.


"Kata siapa Selenia hamil di luar nikah?!! Selenia itu udah...." Cia membelalak begitu menyadari apa yang akan dia katakan dan langsung berhenti.


Kening Lala mengerut, dan mata anak-anak mulai menatap Cia penuh tanya.


"Ooohhhh..." Lala tersenyum licik. "Jadi maksud lo Selenia itu udah nikah??? Wow....!"


"Bulshit sama semua asumsi lo yang salah kaprah!" sahut Cia secepatnya. "Lo emang licik! Lo bahkan ngebohongin Dokter Lula cuma buat ngorek informasi! Lo ngaku-ngaku temennya Selenia, cuma buat ini? Emang lo tu brengsek La!!" cerocosnya demi membuat pengalihan supaya Lala tidak lagi mengungkit soal pernikahan itu.


Lala memberontak berusaha melepaskan diri dari anak-anak yang masih berusaha menahan tubuhnya.


"Cia lo berhenti bilang gue brengsek!!! Anak SMA nggak boleh hamil lo tahu itu dan lo tutupin semua!!"


Anak-anak yang memegangi Lala maupun Cia kualahan saat keduanya semakin meronta. Cia sepertinya belum puas kalau belum menjambak rambut Lala sampai putus. Jadi begitu berhasil melepaskan diri, dia pun langsung menyerang Lala. Mendorong anak itu hingga terjengkang lagi, kemudian menindih tubuhnya dan menjambak rambut Lala tanpa ampun. Lala berteriak kesakitan.

__ADS_1


Anak-anak menjadi semakin heboh melihat pergulatan mereka dan hal itu otomatis mengundang perhatian anak-anak kelas lain yang sedang berada di luar. Pak Nandar, guru BK yang setiap hari pekerjaannya keliling untuk memantau keadaan sekolah, langsung berlari ke kelas itu saat melihat anak-anak berkerumun di sana.


"Heh!! Apa-apaan kalian ini?!!" teriak Pak Nandar membelah kerumunan anak-anak. "Ini kelas, bukan ring WWE! Cia! Lala! Kalian ngapain kaya gini?!!"


Akhirnya dengan dibantu dua murid laki-laki, Pak Nandar berhasil memisahkan pergulatan antara Cia dan Lala. Keduanya lalu digiring ke ruang BK.


...🌺🌺🌺...


Berita tentang kehamilan Selenia akhirnya terdengar sampai di telinga kepala sekolah. Dengan segera, kepala sekolah mengirimkan surat undangan kepada wali Selenia untuk diminta datang ke sekolah guna mengklarifikasi gosip yang beradar.


Pak Fendi yang menerima surat itu di rumah, kaget dan langsung menghubungi Adam. Dia sedikit merasa kecewa saat Adam menceritakan kebenarannya. Untuk sementara, Adam meminta supaya Pak Fendi tidak memberitahukan hal ini pada kedua orang tuanya. Dia akan mengajak Pak Fendi serta Selenia datang ke sekolah untuk memenuhi panggilan tersebut.


Tepat sehari setelah surat itu diterima oleh Pak Fendi, pagi ini Adam, Pak Fendi dan Selenia mendatangi sekolah. Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor saat jam pelajaran pertama di semua kelas sedang berlangsung. Dan itu cukup melegakan hati Selenia, karena dengan begitu, dia tidak menjadi pusat perhatian.


Selama hampir satu jam Kepala Sekolah dan Wali Kelas Selenia mempertanyakan tentang gosip yang beredar. Selenia menjelaskan dengan gugup dan terbata-bata. Dia tidak berani menatap mereka. Tapi dengan sigap dan tegas, Adam membantu menjelaskan semuanya dengan rinci. Anggapan hamil di luar nikah yang tersemat pada diri Selenia sejak gosip itu beradar kini berhasil dipatahkan oleh Adam. Namun Kepala Sekolah cukup syok dan tetap tidak bisa terima. Apapun alasannya, seharusnya di usia Selenia tidak mengalami kejadian seperti itu--dipaksa menikah.


"Ini bukan pemaksaan Pak," sahut Pak Fendi. "Tolong bapak bisa mengerti bagaimana keadaan keluarga kami saat itu. Ini juga tidak mudah untuk Selenia. Dia melakukan itu, sebagai bakti kepada Ibunya di hari terakhir beliau. Sebagai seorang anak, mendengar permintaan dari seorang Ibu yang dalam keadaan terbaring lemah, apa sanggup menolak?"


Pak Kepala Sekolah dan Waki Kelas terdiam.


"Mereka ini hanya manusia biasa Pak," imbuh Pak Fendi sembari menunjuk Adam dan Selenia bergantian. "Ya... saya tahu, kesalahan Selenia adalah, menikah secara ilegal, dan masih tetap masuk sekolah. Tapi saya mohon, beri anak saya kesempatan. Masa-masa dia di SMA ini tinggal selangkah lagi. Saya mohon supaya anak saya tetap diizinkan untuk mengukuti kegiatan belajar sampai ujian nanti..." dia menatap penuh permohonan kepada Kepala Sekolah dan wali kelas tersebut.


Selenia menggeleng dan melirik Ayahnya demi permohonan itu. Dia menggeleng dan melihat ke Adam dengan tatapan sayu. Walaupun pada akhirnya dia akan diizinkan untuk terus masuk sekolah seperti biasanya, Selenia tidak akan mau. Dia malu. Adam yang seolah mengerti keresahan hati Selenia, menggenggam tangan Selenia dan meremasnya perlahan.


"Baiklah...." ucapnya kemudian. "Namun hanya ada satu pilihan untuk Selenia, supaya tetap bisa mengikuti pembelajaran sampai ujian nanti. Yaitu Home schooling atau daring--dalam jaringan."


Selenia menunduk lesu. Berakhir sudah masa-masa SMAnya yang seharusnya penuh cerita. Tapi apa boleh buat, kalau memang hanya ini satu-satunya pilihan. Sekuat mungkin, Selenia berusaha membesarkan hati dan membuang kekecewaannya.


"Baiklah, Pak. Terimakasih untuk kesempatan yang bapak berikan," Pak Fendi tersenyum lega.


"Nanti gurunya akan saya kirim langsung dari sekolah, khusus untuk Selenia di rumah," ujar Pak Kepala Sekolah. "Tapi... seperti yang kita tahu kalau proses yang akan dijalani Selenia sama halnya seperti les privat, jadi...."


"Bapak tidak perlu khawatir," sahut Adam. Dia tahu kemana arah pembicaraan itu. "Berapapun nominalnya akan saya bayar, yang penting Selenia masih tetap bisa mengikuti sekolah sampai lulus nanti."


"Baiklah," Pak Kepala Sekolah mengangguk.


Setelah akhirnya ditemukan kesepakatan, Pak Fendi, Adam dan Selenia segera undur diri.


Jantung Selenia berdebar cepat saat keluar dari ruang kepala sekolah karena bersamaan dengan jam istirahat. Saat berjalan meninggalkan ruang Kepala Sekolah, Selenia merasa tidak nyaman karena tatapan anak-anak yang sedang berada di luar kelas itu tertuju padanya. Selenia cuma bisa menunduk menghindari tatapan itu dan mengajak Adam untuk berjalan lebih cepat. Dia tidak tahan lagi.


"Sel!!" sebuah suara memanggil saat ketiganya akan berbelok ke tikungan koridor.


Selenia, Pak Fendi dan Adam menoleh bersamaan. Dari jauh tampak Cia berlari ke arah mereka dan langsung memeluk Selenia.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Cia setelah melepaskan pelukannya. Matanya berkaca-kaca. "Lo masih bisa masuk sekolah kan?"


Selenia menggeleng pelan dan tersenyum memaksa. Dia pun turut menangis. Cia memeluk Selenia lagi dan menumpahkan air matanya. Dia tidak menyangka ini akan terjadi. Mulai hari ini dia tidak akan bersama-sama lagi dengan Selenia di sekolah, dan itu rasanya begitu berat.


"Gue cuma dikasih pilihan buat home schooling supaya bisa tetep ikut ujian."


"Siapa lagi temen gue curcol di sekolah Sel?? Gue nggak punya temen ngebanyol lagi... gue nggak ada temen ngerumpi lagi di sini..." isak Cia lirih.


Dada Adam terasa sebak melihat pemandangan itu. Dia membuang muka ke arah lain dan menyeka air matanya diam-diam. Begitu juga dengan Pak Fendi, dia memilih untuk berjalan terlebih dahulu dan menunggu di mobil.


"Jangan ngomong gitu Cia, kita kan masih bisa ketemu," Selenia berusaha menenangkan, padahal hatinya sendiri juga sakit. "Lo bisa ke rumah gue kapanpun... gue kan nggak kemana-mana..." ucapnya dengan bibir bergetar.


Cia melepas pelukannya. "Iya, tapi beda...." apalagi kalau ingat rencana Selenia yang pengen cuti kuliah setelah lulus dan baru akan ikut daftar kuliah tahun depan. Cia benar-benar merasa kebersamaan mereka seperti akan berakhir.


"Kita nggak akan satu angkatan lagi kalau lo nanti nunda kuliah..." Cia semakin terisak.


"Tapi lo tetep sahabat gue kan?" Selenia tersenyum di tengah isakannya.


"Pasti dong Sel... gue kan memang sahabat lo sampai kapanpun..... gue cuman nggak nyangka aja kejadiannya bakalan kaya gini..."


"Ini udah jadi takdir gue," Selenia menghela nafas berat. "Ya udah Ci, gue mau pulang dulu ya,"


Selenia merengkuh kedua bahu Cia. "Lo yang bener belajarnya, jangan ngelamun kalau di kelas..." dia mencoba bergurau tapi tetap tidak terdengar lucu.


"Lo juga jangan stress di rumah, jangan mikir macam-macam,..." Cia mengelus perut Selenia pelan. "Jagain calon ponakan gue ya," balasnya menggurau.


Adam tersenyum mendengar celotehan Cia. Dengan lembut dia membelai rambut Cia.


"Makasih ya Cia, selama ini kamu sudah jadi teman yang baik buat Selenia."


Cia mengangguk dan balas tersenyum.


Setelah memeluk Selenia lagi, Cia melepaskan sahabatnya itu untuk meninggalkan sekolah. Dia tertegun memandangi punggung Adam dan Selenia yang semakin jauh.


Di sudut lain, sepasang mata juga tengah mengawasi dua sejoli yang berjalan meninggalkan sekolah itu. Dia Tony, yang dengan sengaja tadi telah menguping pembicaraan mereka di ruang Kepala Sekolah.


Dia pun tidak pernah menyangka kalau akhirnya akan seperti ini.


Ternyata Lala sangat licik.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2