
Dengan berat hati malam itu akhirnya Adam mengizinkan Selenia pergi ke rumah sakit karena Cia terlanjur datang menjemput. Dia datang bersama seorang cowok--Marvin--yang secara heboh langsung dikenalkan pada Selenia.
"Dia Marvin. Penghuni baru di komplek gue," kata Cia di perjalanan. "Dan Marvin, ini temen gue dari jaman SMP, namanya Selenia."
Marvin dan Selenia saling bertukar senyum melalui spion tengah. Melihat cara Cia yang begitu santai dan ringan saat berhadapan dengan orang baru, kadang Selenia pengen bersikap seperti itu juga di kehidupan sehari-harinya. Cia yang ceplas-ceplos, yang meski kalau ngomong asal nyablak tapi terdengar enjoy. Tapi ternyata susah. Mungkin memang sudah karakter setiap orang kali ya? Pembawaan setiap orang berbeda.
Perjalanan mereka ke rumah sakit hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Setelah memarkir mobil, mereka bertiga keluar dan berjalan beriringan memasuki rumah sakit.
"Kita tanya resepsionis aja ya," usul Cia begitu tiba di pintu masuk rumah sakit.
"Boleh deh," sahut Selenia.
Mereka berjalan menghampiri meja resepsionis. Namun baru beberapa langkah hampir mendekati meja, tiba-tiba seorang perempuan yang baru saja melintas, menubruk Selenia.
"Aduuhh!" mereka berdua sama-sama berteriak. Bahkan ponsel dalam genggaman Selenia sampai jatuh ke lantai.
"Sel..." pekik Cia reflek menarik lengan Selenia yang hampir terjengkang.
Sementara barang yang dibawa perempuan itu juga berhamburan ke lantai. Sepertinya dia sedang terburu-buru jadi tidak memperhatikan jalan. Ada pampers, botol susu dan tisu basah. Marvin dengan cekatan membantu memunguti barang-barang milik perempuan tersebut.
"Eh sorry... sorry... sorry," kata perempuan itu. Dia turut menahan lengan Selenia.
Selenia mendongak dan matanya beradu dengan perempuan tersebut. Renata? Selenia membatin.
"Iya nggak pa-pa kok," Selenia berdiri.
"Sel ponsel lo?" Cia menggamit lengan Selenia sembari menunjuk ponsel yang tergeletak di lantai. Ponsel itu menyala memperlihatkan pop up sebuah pesan yang otomatis juga menampilkan wallpapernya.
Renata mengambil ponsel tersebut dan seketika wajahnya sedikit kaget saat melihat gambar wallpaper di ponsel Selenia. Tapi kemudian dia langsung memberikan ponsel itu pada Selenia.
"Makasih," ucap Selenia lirih.
"Ini punya Kakak," Marvin menyerahkan barang-barang milik Renata.
"Oh iya. Makasih, dan sorry banget tadi aku buru-buru. Ponsel kamu nggak eror kan?" Renata menunjuk Selenia.
Selenia menggeleng. "Nggak pa-pa ko,." dia memutar ponsel tersebut.
Setelah itu mereka bertiga melanjutkan langkah menuju meja resepsionis, meninggalkan Renata yang masih mematung di tempat. Dia yakin matanya tadi tidak salah lihat. Wallpaper yang dia lihat di ponsel cewek itu adalah fotonya Adam. Dan cewek itu, juga cewek yang pernah dia lihat di mall sekaligus di rumah sakit ini kemarin pagi.
__ADS_1
Kenapa cewek itu menggunakan foto Adam untuk wallpaper ponselnya? Ada hubungan apa keduanya?
...🌺🌺🌺...
Kondisi Tony sudah jauh lebih baik. Malah saat Selenia, Cia dan Marvin datang, dia sedang asyik bermain game online sembari duduk di atas tempat tidur. Tantenya yang dia anggap rempong masih setia menemaninya di sana. Perempuan itu sedang menonton acara televisi sambil menikmati puding.
Dan ternyata Tony dan Marvin sudah saling kenal. Marvin adalah kakak senior Tony di SMA Tony yang lama. Mereka pernah satu klub basket dan musik. Jadi pertemuan tak terduga malam itu membuat mereka terlibat obrolan yang akrab banget.
"Wah berarti nggak salah dong malam ini aku bawa Marvin ke sini," celetuk Cia ke-PD-an. Dia dan Bu Fatma, tantenya Tony ternyata juga sama hebohnya. Mereka seperti belanga bertemu tutup. Klop banget.
"Dunia memang sempit," ujar Marvin. "Kita terakhir ketemu kapan ya Ton?"
"Setelah lo lulus kalau nggak salah. Habis itu kan lo lanjut kuliah," jawab Tony. "Terus nggak pernah dateng lagi ke SMA."
"Pengennya sih maen ke sana. Tapi ternyata masuk kuliah nggak seindah yang gue bayangin. Tugaaaas mulu tiap hari," Marvin mendengus lirih. "By the way kenapa lo pindah sih? Sekolah tinggal nunggu lulus juga?"
Tony cuma mengangkat bahu. "Gue juga nggak tahu. Waktu itu kepikiran aja tiba-tiba pengen pindah."
Marvin mencibir. Dia tidak kaget lagi dengan sikap Tony. Untung saja dia anak orang yang lumayan punya andil di SMAnya yang lama. Jadi sepertinya soal pindah-pindah sekolah bukan sesuatu yang ribet untuk seorang Tony.
"Enak ya, pengen pindah tinggal pindah aja," sahut Selenia.
"Alasannya?" Cia menyahut.
"Ya nggak ada alasannya. Cuma pengen pindah aja," jawab Tony enteng.
"Bukannya kalau di sekolah swasta itu lebih enak ya, Ton?" tanya Selenia.
"Ahhh yang namanya sekolah sama aja Sel," Tony terkekeh. "Emang menurut kamu enaknya gimana?"
Selenia mengangkat bahu. "Nggak tahu juga. Aku nggak pernah pindah-pindah sekolah."
Marvin mengambil satu buah jeruk dan mengupasnya. Dia lalu membagi jeruk tersebut menjadi dua bagian dan memberikan setengahnya untuk Cia. Tanpa mereka sadari, ternyata Tony sedang memperhatikan hal itu.
"Kalian udah jadian apa gimana sih?" celetuk Tony. "Kayaknya akur banget. Makan jeruk aja harus satu buat berdua. Kan masih banyak tuh jeruknya," godanya.
Spontan Cia dan Marvin menoleh dan saling pandang. Cia menggeleng. Iya-iya, jeruknya kan banyak. Batin Cia sambil melihat setengah bagian buah jeruk di tangannya.
Marvin sebenarnya memang menaruh hati pada Cia. Entahlah, sejak pertama kali ngobrol sama Cia, dia menilai kalau Cia itu anaknya asyik dan nggak ngebosenin. Dia apa adanya. Tapi sepertinya Cia kurang peka dengan perasaannya. Jadi saat melihat gelengan itu, Marvin hanya tersenyum getir.
__ADS_1
"Kenapa nggak jadian aja sih? Kalian berdua tuh cocok tau," Selenia mengompori.
Alhasil Cia jadi menghadiahi pelototan tajam padanya. Tapi Selenia bodo amat. Dia tahu, dari cara Cia melihat Marvin, anak itu sebenarnya suka sama tu cowok.
"Ah udah lah. Malah pada ngomongin apa sih?" sahut Cia tersipu. Dia melahap jeruk pemberian Marvin untuk menetralisir perasaannya yang tiba-tiba jadi dag dig dug. Tatapan Marvin barusan manis bangeeettt!!
"Nah gitu dong dimakan, jangan dianggurin aja," ujar Bu Fatma. "Ton tadi apa suster sudah kesini? Ngecek selang infus?" dia berjalan mengampiri Tony dan berlagak mengamati botol infus yang menggantung. "Ini kamu udah habis berapa botol sih Ton?"
Mendengar celotehan itu Tony cuma bisa mendengus pelan. Mereka yang ada disitu juga saling menahan senyum melihat sikap Bu Fatma.
"Suster yang bekerja di sini juga pasti udah tahu lah Tan," jawab Tony. "Lagian nggak perlu nambah infus aku juga udah sehat kok. Hmmmhh..." dia menunjukkan otot lengannya.
"Ya tapi kan biasanya mereka ngecek beberapa jam sekali gitu," bantah Bu Fatma tak mah kalah.
"Udah, Tante nggak usah ngurusin yang bukan urusan tante," Tony menunjuk acara televisi. "Tuh, acara kesenengan tante udah mau mulai. Sama pudingnya juga masih banyak tuh," dia mendorong tubuh Bu Fatma pelan supaya kembali ke sofanya.
Selenia, Cia dan Marvin cekikikan. Bu Fatma mencibir dan meremas pipi Tony gemas. Dia lalu kembali ke sofa dan memangku pudingnya.
"Ya udah, tante mau enakin nonton dulu. Kalian ngobrol aja. Sama makanannya di makan, jangan dianggurin. Kasian," pesannya berulang-ulang.
"Iyaaaa tanteeee," jawab mereka serempak, lalu disusul tawa renyah yang membuat suasana kamar rawat itu jadi sedikit nampak lebih ceria.
...🌺🌺🌺...
Dokter sudah mengizinkan Nola untuk dibawa pulang. Dan Renata memilih untuk check out besok pagi. Itulah kenapa tadi dia belanja beberapa kebutuhan Nola di minimarket rumah sakit supaya besok bisa langsung pulang dan gak perlu mampir-mampir.
Nola sedang tertidur lelap setelah tadi suster memeriksa kondisinya. Sedangkan Mbak Ami tampak sibuk mengemas barang-barang mereka.
"Baju-baju kotor cuma dikit kan Mbak?" tanya Renata.
Mbak Ami mengangguk. "Iya, Buk. Kan sebagian sudah saya bawa pulang kemaren.
"Oh, oke deh."
Renata berjalan mendekati jendela lalu berdiri mematung di sana. Kamar VIP khusus anak itu ada di lantai 3. Jadi dari sini dia bisa melihat suasana di luar yang tampak sibuk. Renata melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dari kamar ini Renata juga bisa melihat kamar rawat lain, karena memang denah rumah sakit ini melingkar. Mata Renata tertuju pada sebuah kamar di seberang kamarnya, deretan lantai 2 yang tirai jendelanya tampak terbuka. Dari sini terlihat suasana kamar yang begitu hangat. Ya, itu kamar tempat Tony di rawat. Terlihat beberapa orang duduk di lantai sambil bercengkerama. Renata mengamati salah satunya--Selenia. Dia belum mengenal dia secara pribadi, bahkan dia juga belum tahu namanya. Tapi pertemuannya pagi itu, saat dia bersama Adam ke rumah sakit ini, dan juga kilasan wallpaper ponsel Selenia yang sempat dia lihat, membuatnya semakin penasaran.
Haruskah dia mencari tahu?
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...