NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -22-


__ADS_3

Suasana malam puncak peringatan ulang tahun SMA Bhakti Nusa berlangsung begitu meriah. Stand bazaar resmi ditutup dan tempat itu disulap menjadi tempat untuk tamu yang diisi dengan kursi-kursi yang berjajar rapi. Malam ini juga akan diumumkan siapa saja pemenang dari beberapa perlombaan yang berlangsung beberapa hari kemarin.


Selenia dan Cia duduk di deretan kursi tengah bersama para siswa lain. Karena tema dress codenya bebas, malam ini mereka mengenakan pakaian casual santai. Mereka sama-sama memakai celana jeans panjang, hoodie berwarna abu dan sepatu sneaker putih--sudah hampir menyerupai anak kembar. Malam ini Selenia berangkat ke sekolah di antar oleh Adam sekalian dia mau ketemu teman-teman kerjanya di suatu tempat. Katanya ada perayaan kecil atas kemenangan tender perusahaan.


Adam pasti akan ketemu dia lagi, pikiran itu yang pertama kali terlintas di benak Selenia saat mereka berangkat. Kalau ingat bagaimana sosok perempuan yang dia temui di mall kemarin malam, Selenia lantas merasa insecure. Perempuan itu memang cantik dan terlihat sangat keibuan. Kalau disandingkan dengan Adam, secara umur jelas cocok banget. Tapi Selenia segera menepis pikiran-pikiran itu. Dia tidak mau suasana hatinya malam ini jadi nggak jelas hanya karena memikirkan hal yang tidak penting.


Kepala sekolah, ketua osis, dan beberapa perwakilan dari masing-masing kelas memberikan sambutan sekaligus harapan terbaik untuk sekolah mereka. Tony menjadi salah satu perwakilan kelas dari kelasnya. Dia berpidato dengan tegas dan lugas. Tak di sangka, dibalik sikapnya yang terkesa badboy, ternyata dia memiliki kemampuan public speaking yang bagus.


"Calon pemimpin perusahaan dia." Cia menyikut lengan Selenia.


Selenia mengangguk. "Iya bener, *p*ublic speakingnya keren."


Sekitar 10 menit kemudian, Tony mengakhiri pidatonya. Tepuk tangan bergemuruh mengiringi langkahnya menuruni panggung.


Lalu di akhir acara, panitia mengumumkan hasil perlombaan kemarin. Moment yang tentu saja ditunggu-tunggu para peserta lomba. Saat panitia mulai menyebutkan nama-nama pemenang, anak-anak saling berteriak dan bertepuk tangan pada si pemenang. Dan tentu saja, Tony menjadi salah satu dari beberapa siswa yang saat ini berjajar di atas panggung sebagai pemenang lomba dance yang dia ikuti. Dia mendapatkan juara pertama, mengalahkan 15 dancer lain.


"YEEYYY!! TONY.... SELAMAAAT!!" teriak Cia dari tempat duduknya.


Spontan Selenia memukul bahu sahabatnya itu.


"Aduuhhhh apaan sih Sel..." Cia bersungut-sungut sembari mengusap-usap bahunya. "Sakkittt tauk!" gerutunya.


"TONY.... AKU PADAMUUUU....!!" teriak Lala tak kalah nyaring dari Cia. Dia berdiri tak jauh dari Selenia dan Cia.


Selenia dan Cia saling tatap kemudian terbahak.


"Ya jangan heboh gitu kali, tuh saingan lo nggak mau kalah." ledek Selenia.


"Hiiiiiyyy geliii..." Cia bergidig. Meskipun sekelas, Cia memang anti banget sama Lala. Dia benci banget dengan sikap lenjeh dan sok kecakepan yang selalu Lala tebarkan.


Di acara paling akhir, adalah penutupan yang dimeriahkan oleh penampilan FLEXY band. Semua anak berdiri, bersorak, berjoget, mengikuti irama lagu yang dinyanyikan band kebanggaan sekolah tersebut. Kursi-kursi yang tadinya tertata rapi pun sudah tidak tampak kerapiaannya karena penghuninya sudah pada berdiri dan berpesta. Tak terkecuali Cia dan Selenia. Mereka berdiri paling depan dan ber-euforia menikmati suasana meriah malam itu.


...🌺🌺🌺...


"Nggak kerasa ya udah malem aja." Cia melirik jam tangannya. Dia dan Selenia berjalan beriringan keluar dari halaman sekolah.


Malam itu sudah hampir jam setengah dua belas malam. Dan untuk besok, pihak sekolah memberikan kebijakan pada murid dengan memberikan libur satu hari.


"Hoaaammhh.... gue ngantuk banget." Selenia menguap.

__ADS_1


Mereka berdua berdiri di depan halte sekolah. Hiruk pikuk anak-anak yang baru keluar dari area sekolah semakin menyusut. Satu per satu mereka meninggalkan gedung dan pulang. Suasana pun mulai tampak sepi. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan mereka. Ternyata jemputan Cia yang datang.


"Adam belum dateng, lo pulang bareng gue aja yuk." Cia menawarkan.


"Bentar lagi juga pasti dateng kok. Tadi dia udah janji soalnya." kata Selenia seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. "Gak pa-pa lo duluan aja."


Cia memandang Selenia beberapa saat. "Yakin lo gak pa-pa kalau gue duluan?"


"Iya Ci... gak pa-pa. Lagian rumah kita aja beda arah jauh banget. Kasian kan sopir lo kalo harus bolak-balik." Selenia tersenyum. "Ya udah pulang sana, sopir lo kayaknya udah ngantuk juga."


Sebelum beranjak, Cia mengedipkan matanya jahil ke arah Selenia. Lalu dengan nakal dia menyeletuk. "Udah hampir tengah malam, sampek rumah langsung tidur... jangan... 'macem-macem'." Godanya sembari memperagakan adegan ciuman menggunakan kedua tangannya.


Selenia melotot. "Ciaaa..." Geramnya. Dia mencoba mencubit pinggang sahabatnya itu, tapi tidak berhasil karena Cia keburu lari dan masuk ke dalam mobil.


"Daaagh Sel..." Cia melambaikan tangannya dengan girang.


Sedetik kemudian mobil itu melesat meninggalkan Selenia di halte sendirian. Selenia duduk dan mulai menghubungi Adam. Sebenarnya dia sendiri mulai gusar karena Adam tak kunjung datang. Saat melihat ke ujung jalan, tidak ada tanda-tanda mobil yang bergerak pelan ke arahnya. Semua mobil yang lewat di situ melaju dengan kecepatan tinggi. Maklum, malam memang semakin larut. Jadi mereka pasti ingin segera sampai rumah atau tujuan dan beristirahat.


The number you are calling is not active, please try again later...


Jawaban dari operator itu membuat Selenia membelalak. Nomornya Adam nggak aktif? Dan dia sama sekali nggak mengirim pesan apapun malam ini. Selenia menggigit bibirnya. Dia memperhatikan sekeliling yang nampak sepi. Selenia kembali mencoba menghubungi nomor Adam, tapi jawabannya tetap sama.


Oke, tidak ada pilihan lain. Selenia memutuskan untuk mencari Taxi online. Dia tidak mungkin menunggu kedatangan Adam sementara nomornya tidak bisa dihubungi. Mau nelfon Pak Tono, dia nggak tega. Orang rumah juga pasti sudah pada tidur. Namun baru saja dia membuka aplikasi untuk memesan Taxi, sebuah motor dengan deru yang khas mendekat dan berhenti tepat di sampingnya.


"Tony?" Selenia mengernyitkan kening. "Kamu belum pulang?"


Tony membuka helmnya dan tersenyum lesu.


"Kok kamu masih di sini? Nungguin siapa?"


"Ee.... itu... aku nunggu... jemputan." jawab Selenia.


"Siapa? Sopir kamu?"


Selenia menggeleng. "Bukan..." Ups! Setelahnya dia menyesal sudah menjawab begitu.


Tony memiringkan kepalanya. "Terus? Siapa?"


"Kakakku." jawab Selenia spontan.

__ADS_1


Pikiran Tony berkelana pada peristiwa di resto malam itu. Apa Kakak itu yang dimaksud Selenia?


"Tapi ini udah malem, Kakak kamu paling ketiduran. Aku anter aja yuk." kata Tony kemudian menawarkan.


Selenia celingukan. Dia bingung antara menolak atau menerima tawaran tersebut. Tapi malam kan semakin larut. Setelah kembali menghubungi nomor Adam untuk yang ke sekian kalinya dan ternyata masih tetap tidak aktif, Selenia pun memutuskan untuk menerima tawaran Tony.


"Tapi rumahku jauh dari sini." ucap Selenia.


"Ya nggak pa-pa kan pakek motor." Tony tertawa kecil.


"Tapi helmnya cuma satu."


"Kita cari jalan tikus."


Tak mau pikir panjang, sekaligus karena sudah ngantuk dan capek, Selenia naik dengan hati-hati ke atas boncengan Ducati merah tersebut.


"Pegangan lho... nanti kamu jatuh." kata Tony sebelum mereka berlalu.


Selenia mengangkat alisnya. Pegangan? Maksudnya memeluk Tony dari belakang gitu?


"Sel? Mau pulang apa enggak?" tanya Tony mendapati Selenia masih bengong.


"E... i-iya..." dengan canggung, Selenia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Tony. "Pelan-pelan aja ya Ton, jangan ngebut." pesannya.


"Nggak usah khawatir." jawab Tony.


Setelah mengoper gigi, Tony langsung membawa Ducatinya melesat meninggalkan sekolah bersama Selenia.


Tanpa mereka sadari, dari ujung gang sekolah, Lala yang saat itu jemputannya juga baru datang, melihat pemandangan kebersamaan itu dengan wajah masam. Dia lalu masuk mobilnya dan membanting pintu dengan keras, sampai membuat sopirnya tersentak.


"Waduh, maaf ya mbak kalau saya telat jemputnya." ujar si sopir yang mengira Lala sebal karena dia terlambat datang.


"Udah buruan jalan Pak." jawabnya ketus.


Sekitar sepuluh menit sepeninggal Tony dan Selenia, Adam muncul dengan kecepatan mobil yang maksimal dari arah berlawanan dan berhenti tepat di depan gedung sekolah. Dia menurunkan kaca mobilnya, melihat keluar tapi tidak mendapati siapa-siapa di sana. Pikirannya cemas bukan main. Dia merutuki dirinya sendiri karena ponselnya yang tiba-tiba drop kehabisan baterai, sekaligus lupa membawa charger. Dia memang telat pulang dari acaranya, tapi seandainya ponselnya masih menyala setidaknya dia bisa mengirim pesan pada Selenia supaya dia pulang terlebih dahulu menggunakan Taxi online.


"Hffhhhh... semoga aja Selenia sudah pulang sama temannya." gumamnya sembari menutup kaca mobil. Tapi tetap saja harapannya itu tidak bisa menghilangkan kecemasan yang sudah menyelimuti perasaannya. Dengan sekali hentakan, dia membawa mobilnya melesat meninggalkan gedung sekolah.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2