
Malam itu seperti biasa Tony sedang berada di kamarnya, mabar game online. Beberapa kali dia berteriak karena tokohnya terus di serang musuh. Pikirannya memang sedang tidak fokus. Obrolan Selenia dan Cia di taman tadi pagi selalu terngiang-ngiang di telinganya. Sulit rasanya mempercayai apa yang dia dengar bahkan oleh telinganya sendiri.
"ARRGGHHH!!!" Tony membanting ponselnya di atas tempat tidur karena akhirnya dia kalah. "Noob banget sih gue malam ini, anjir!" gerutunya.
Dia bangkit dan berjalan keluar kamar, menghampiri Ayahnya yang sedang membaca koran di ruang tengah. Saat Tony menghempaskan tubuhnya, Pak Anton hanya melirik anaknya itu sekilas lalu kembali melanjutkan membaca.
"Kenapa lagi Ton?" tanya Pak Anton dengan pandangan yang masih fokus ke koran. "Dapat kado apa saja kamu?"
Tony tersenyum kecil. Setelah acara pesta semalam, dia begadang sampai hampir subuh hanya untuk membuka kado dari teman-teman sekolahnya. Tidak ada yang istimewa. Kadonya malah kebanyakan terkesan konyol karena isinya yang diluar dugaan, seperti underwear, buku tentang panduan sex setelah menikah--entah itu ide siapa, T-shirt k-pop--padahal dia bukan kpopers, dan beberapa kekonyolan lain. Namun ada juga isi kado yang bersifat normal seperti hoodie, setelan kaos basket, topi, sepatu, dan itu kebanyakan berasal dari teman-teman perempuan termasuk Cia dan Selenia. Seingatnya setelan kaos basket itu kado dari Selenia dan Cia. Tapi tidak masalah untuk semua isi kadonya. Tony tidak terlalu ambil pusing soal kado.
"Pa..." Tony tidak menjawab pertanyaan soal kado.
"Hmm?"
"Kapan aku boleh maen ke kantor Papa?"
Pak Anton terhenyak. Dia nggak salah denger kan? Pak Anton menegakkan tubuh dan menutup korannya. Dia lalu menatap antusias ke arah Tony.
"Kamu? Mau ke kantor Papa?" tanya Pak Anton. Wajahnya sumringah.
Tony mengangguk.
"Ya kapan aja boleh dong Ton," Pak Anton merangkul Tony. "Papa malah seneng kalau kamu sering-sering maen ke sana. Lagian kan kamu tahu sendiri kalau semalam Papa sudah resmi menyerahkan seluruh aset milik Papa jadi atas nama kamu. Ayok lah maen, kapan memangnya kamu mau ke sana? Papa tunggu lho."
Tony manggut-manggut. Dalam hatinya berkata, mungkin dari sana dia bisa mengetahui yang sebenar-benarnya.
...🌺🌺🌺...
Selenia baru saja menyelesaikan PR di kamar saat pintu kamarnya diketuk.
"Ikut aku yuk," ajak Adam begitu pintu dibuka.
Selenia menatap heran ke arah Adam. Dia melihat suaminya itu detil dari atas sampai bawah. Adam hanya mengenakan celana joger dan T-shirt biasa. Tidak tampak seperti orang mau bepergian.
"Kemana?" tanya Selenia bingung.
"Udah ayok ikut aja," Adam meraih lengan Selenia. "Nanti kamu juga tahu sendiri."
"Ih nggak mau!" Selenia menghentakkan tangan Adam.
"Kenapa nggak mau? Aku jamin nanti kamu pasti bakalan seneng."
"Ya tapi kemana dulu? Jelasin dong."
"Oh ya aku belum bilang. It's like a surprise. Kalau aku ngomong sekarang, nggak seru dong," kata Adam seraya memainkan matanya jahil.
__ADS_1
Selenia mencibir. "Apaan sih surprise- surprise? memangnya ini hari ulang tahun aku?"
Adam hanya menyunggingkan senyum kecil. Dia tidak mau berdebat. Saat melirik jam tangan dan dirasa waktunya sudah mepet, Adam langsung menerobos masuk ke kamar Selenia. Dia meraih sweater di gantungan dan membalutkannya ke tubuh Selenia.
"Iih Adam kita mau kemana sih?? Masa aku pake pakaian kYa gini?" Selenia berusaha memberontak.
"Udah nggak pa-pa. Memangnya kenapa orang pakaian bagus gitu kok."
"Ini piyama buat tidur Dam. Ya ampun...!"
"Kita berangkat dulu ya Bik!" teriak Adam dari ruang tengah saat mereka turun.
"Hati-hati Pak Adam!" balas Bibik dari arah dapur.
Akhirnya Selenia hanya bisa pasrah. Dia tidak mampu lagi memberontak dari tubuh Adam yang kekar. Saat mereka keluar, hidung Selenia sempat mencium aroma masakan yang lezat banget di dalam tadi. Bibik jam segini masak?
"Itu Bibik di dapur ngapain jam segini? Kan kita udah makan malam.... kok bau masakan?" tanya Selenia sebelum pintu mobil ditutup oleh Adam dari luar.
"Mungkin Bi Iyah pengen ber-eksperimen Sel. Ya udahlah memang kerjaan Bibik masak juga kan?" jawab Adam asal membuat Selenia mengerucutkan bibirnya.
Adam sama sekali tidak memberitahu kemana mereka akan pergi malam itu. Selenia sampai putus asa karena pertanyaannya tak mendapat jawaban. Jadi dia memilih untuk diam dan bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. Sebenarnya Adam mau ngajak ke mana sih?
Selenia melirik Adam yang terus fokus menyetir. Tanpa sengaja lirikan mereka bertemu dan secara reflek membuat tangan Selenia mencubit lengan Adam.
"Auuhh!" pekik Adam lirih. "Kok nyubit sih? Sakit lho..."
"Memangnya kenapa kalau pakek piyama? Ada larangannya, orang keluar rumah nggak boleh pakek piyama gitu?"
"Bukannya gitu. Kan aku malu..." rengek Selenia. "Liat rambutku... wajahku... dih..." gerutunya sambil bercermin melalui kaca spion tengah.
"Hmmm," tangan kiri Adam membelai rambut Selenia. "Kenapa malu? Kamu cantik kok. Percaya diri aja sayang."
Ucapan Adam itu membuat hati Selenia berbunga-bunga. Sebuah senyuman tersungging dari bibir mungilnya. Tangan kekar itu kemudian turun dan menggenggam tangan Selenia, sementara tangan kanannya tetap memegang kemudi. Selenia merasakan kenyamanan dari genggaman itu.
Selama hampir 20 menit mereka menyusuri suasana malam Ibukota, sampailah keduanya di depan Bandara. Selenia semakin bingung saat Adam menghentikan mobilnya di sana.
"Dam... kok kita ke Bandara? Ngapaiiin? Jangan bilang kamu mau bawa aku ke Luar Negeri sekarang," celetuk Selenia asal. Tiba-tiba dia ingat soal tawaran Adam dari Bosnya soal study di Frankfurt beberapa waktu yang lalu. Apa kabarnya itu?
Adam tergelak mendengar celotehan lucu tersebut. "Kamu ini ngomong apa sih Sel? Perasaan kok sering banget berprasangka buruk sama aku?" dia melepas seat beltnya. "Aku ini suami kamu lhooo. Kalaupun aku bawa kamu ke Luar Negeri sekarang, yang pasti nggak buat bikin kamu menderita, tapi kita mau honeymoon."
Reflek Selenia memukul bahu Adam. "Apaan sih?! Honeymoon-honeymoon. Jangan ngaco deh."
"Aduuh!" Adam mengusap-usap lengannya. "Ya ampun Seleniaaa sayaaang... tadi berprasangka buruk, sekarang mukul, kenapa siiih....?? Errrgghhh...!" dia membalas pukulan itu dengan cubitan gemas di pipi Selenia. "Lagian kalau kita mau honeymoon juga nggak salah, kan kita memang suami istri."
"Udah deh Dam nggak usah muter-muter. Sekarang kamu ngomong aja kita mau kemana?"
__ADS_1
"Lepas dulu dong seat beltnya."
"Nggak," Selenia beringsut. "Jawab dulu pertanyaan aku, baru aku mau lepas."
Adam menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sabaaaar.... Dam.... yang kamu hadapi itu sejenis makhluk perempuan, yang katanya keras kepala dan selalu benar.
"Kan aku udah bilang, ini surprise, makanya ayo kita turun dulu biar kamu tahu," tutur Adam selembut mungkin.
"Ah enggak pokoknya aku nggak mau!" ucap Selenia ketus.
Tidak ada cara lain. Bahkan saat Adam berusaha melepas sear belt tersebut, Selenia justru menahannya. Oke.... Adam akhirnya memutuskan keluar dan berjalan mendekati pintu di samping Selenia. Dia membuka pintu tersebut dan melepas paksa seat belt dari luar. Tubuhnya sengaja dipepetkan ke tubuh Selenia supaya istrinya itu tidak bisa menahan tangannya yang berusaha membuka seat belt.
"Ih, Adam apaan sih... aku nggak mau turun... malu tauuuu pakek piyama kaya gini kamu ajak keluyuran di Bandara," rengek Selenia. Suaranya mengecil karena terhalang tubuh Adam. Selenia menghirup aroma parfum yang menguar dari pakaian suaminya itu. Wangi banget dan pakaian Adam lebih mending buat keluyuran di Bandara ketimbang dirinya.
Begitu seat belt berhasil dilepas, dengan ringan Adam langsung menggendong Selenia dan membawanya keluar dari mobil.
"Ehh ehh.. Adam... apaan sih... lepas... iihhh..." Selenia memukul-mukul punggung Adam dari belakang. "Malu Dam diliatin orang," bisik Selenia tertahan. Dia celingukan dan mendapati beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Tatapan yang bermacam-macam ekspresinya.
Adam tergelak. Setelah beberapa langkah berjalan sambil menggendong Selenia, dia akhirnya menurunkan tubuh Selenia.
Selenia masih bersungut-sungut. Dia malu karena hampir semua orang yang lewat memperhatikan mereka. Tapi Adam tidak peduli. Dia mengecek ponselnya, dan kembali menarik tangan Selenia untuk segera bergegas.
Selenia pasrah saja ditarik-tarik begitu sampai mereka masuk ke terminal 2. Sebelumnya Adam sudah memperhatikan di papan informasi penerbangan di layar besar yang ada di bandara.
"Terminal penerbangan International?" Selenia menggumam.
Belum habis dari kebingungannya, Adam merangkul bahu Selenia dan menunjuk ke satu arah.
"Ayah?!" Ucap Selenia lirih. Dia melihat Adam yang tersenyum padanya, lalu kembali melihat ke depan.
...(Pak Effendi, alias Pak Fendi)...
Seorang laki-laki berperawakan tinggi tegap berjalan penuh antusias ke arahnya. Ya, dia Pak Fendi yang baru saja landing dari penerbangan yang membawanya dari UK. Tampak koper besar ditarik di belakangnya.
Selenia belum bisa mempercayai apa yang dia lihat. Ini benar-benar surprise. Saat langkah Pak Fendi hampir mendekati mereka, Selenia sudah lebih dulu berlari menghampiri Ayahnya dan memeluknya erat. Dia menangis, menumpahkan segala kerinduan yang selama beberapa bulan ini dia tahan.
"Ayaaah... Selenia kangen banget sama Ayah... hiks hiks...!" isaknya di dalam pelukan Pak Fendi.
Adam terharu melihat pemandangan itu. Dia membuang muka, menengadahkan wajah supaya air matanya tidak terjatuh. Senang rasanya melihat Selenia sebahagia itu.
Ya, jadi tadi siang saat di kantor Adam menerima pesan dari Pak Fendi, kalau mertuanya itu sudah dalam perjalanan transit dari London, UK. Pak Fendi sengaja tidak memberitahu Selenia karena dia ingin membuat kejutan. Adam pun setuju dengan rencana mertuanya tersebut. Itulah kenapa dia bersikukuh tidak mau menjawab pertanyaan Selenia sampai dia bertemu dengan Ayahnya.
Adam menyalami dan mencium tangan mertuanya. Acara peluk-pelukan melepas rindu itu berhenti sejenak. Selenia gelendotan manja sekali pada Ayahnya. Dia rindu berat dengan satu-satunya orang tua yang dia miliki tersebut. Adam membantu membawakan koper Pak Fendi. Malam itu mereka pulang ke rumah Adam dan Selenia. Rencanya Pak Fendi ingin menginap di sana beberapa hari sebelum pulang ke rumahnya sendiri.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...