NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -61-


__ADS_3

Perang dingin antara Adam dan Selenia telah terjadi selama beberapa hari, tanpa sedikitpun bisa Adam ketahui apa penyebab istrinya tiba-tiba berubah sikap. Dia sudah mencoba merayu Selenia dengan mengajaknya nonton, ngemall, jalan, shopping tapi selalu ditolak. Kehidupan mereka di rumah itu kembali seperti saat awal-awal mereka menikah. Tak ada saling sapa, terutama Selenia yang begitu enggan menyapa Adam. Setiap kali Adam berusaha mendekat dan mengajak ngobrol, Selenia selalu menghindar. Selenia sendiri sebenarnya juga tidak tahan dengan keadaan ini. Tapi dia tetap bersikukuh untuk tetap diam sampai Adam menyadari kesalahannya. Tipikal marahnya ABG banget ya? (Hihihi).


Hal yang bisa membuat Selenia tersenyum adalah kabar jadiannya Cia dan Marvin.


"Akhirnya..... sahabatku ini melepas status jomblonya juga," ujar Selenia saat mendengar kabar itu di sekolah.


Cia tak henti-hentinya menceritakan kebersamaannya dengan Marvin yang selalu membuatnya berbunga-bunga.


Tapi sayangnya semenjak Cia jadian sama Marvin, Selenia merasa kalau Cia jadi jarang punya waktu untuk sekedar mendengar keluh kesahnya. But it's okay, Selenia tidak akan menjadikan ini sebuah tuntutan. Selama ini bukankah Cia sudah menjadi sahabat yang baik dan selalu ada untuknya?


Tony. Ya, semenjak hubungannya merenggang dengan Adam, Tony lah orang yang sedikit banyak selalu mendengar curcolnya. Meski mereka jarang bertemu, But at least, keberadaan Tony tidak membuat Selenia merasa sendiri dan kesepian atas prahara yang sedang terjadi dalam rumah tangganya.


"Kalung baru ya?" celetuk Tony suatu hari saat mereka sedang nongkrong di kafe. Saat itu Selenia harus berbohong dan mencari alasan pada Bi Iyah saat pamit keluar rumah sepulang sekolah. Untung saja Bi Iyah percaya saat Selenia bilang kalau dia mau belajar kelompok.


"Dari Ayahku," jawab Selenia sembari memainkan liontinnya. "Bagus ya?"


"Itu kayaknya liontin yang bisa dibuka-tutup deh," Tony menunjuk.


"Memang," dengan sukarela Selenia membuka liontinnya dan memperlihatkan foto Mamanya pada Tony.


"Cantik," Tony memuji. "Aku tebak, itu pasti Mama kamu."


Selenia mengangguk dan terseyum sembari memandangi foto itu.


"Mirip banget soalnya. Kelihatan masih muda banget."


"Ini foto udah lama banget kok."


Tony manggut-manggut. "Sekarang? Pasti masih cantik juga."


Senyum Selenia sedikit memudar. Dia kembali menutup liontinnya. "Mamaku udah meninggal," ucapnya lirih.


"Ohhhpss," reflek Tony menutup mulutnya. "Maaf Sel, aku nggak tahu. Sorry banget."


"Iya nggak pa-pa kok," Selenia mengangkat bahu. "It's okay."


"Oh iya, kita jadi ke bukit bintang hari ini kan? Kamu udah janji lho," Tony menghabiskan minumannya.


Pergi ke bukit bintang sebenarnya sudah mereka rencanakan sejak jauh-jauh hari. Tapi selalu ketunda karena berbagai macam alasan.


Selenia melirik jam tangannya. Sekarang sudah pukul tiga sore, waktunya Adam pulang. Ah, mendadak Selenia merindukan suaminya. Tapi nggak boleh. Tahan dirimu Sel, Adam harus diberi pelajaran. Pokoknya kamu jangan nyerah! Sebuah suara dalam hatinya berseru.


"Boleh. Yuk," Selenia turut menghabiskan minumannya lalu berdiri.


Setelah membayar pesanan, mereka kemudian meninggalkan cafe.


...🌺🌺🌺...


Adam sedang mengeprint file di ruangannya tapi beberapa kali melakukan kesalahan. Maka tak heran kalau di atas mejanya berserakan beberapa remasan kertas. Alhasil dia harus kembali memeriksa ulang file di komputernya dan memulai ngeprint lagi. Tapi lagi-lagi ada beberapa kesalahan yang akhirnya membuat dia menggebrak mejanya sendiri. Dengan kasar, dia meraup remasan kertas yang berserakan dan melemparnya ke tempat sampah.


Pikirannya kacau. Kacau banget. Bagaimana tidak? Selain harus mengurus pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya, dia juga harus berpikir keras tentang penyebab sikap aneh Selenia akhir-akhir ini.


Tok tok tok...! Terdengar pintu ruangannya diketuk. Dari siluet kaca pintu, dia bisa tahu siapa yang datang.


"Masuk Ren," perintah Adam datar.


Renata masuk dan mendapati pemandangan yang tidak seperti biasanya. Ruangan Pak Adam kenapa jadi berantakan gini? Pikirnya. Dia melihat tempat sampah yang penuh dengan remasan kertas, tinta printer yang berceceran di lantai dan di meja, ditambah gelas pulpen yang dibiarkan roboh dan isinya berserakan.

__ADS_1


"B-Bapak???" Renata ragu-ragu melangkah. Tapi kemudian Adam segera mempersilahkannya duduk.


"Sudah selesai?" tangan Adam menengadah meminta berkas yang dibawa Renata.


Tanpa berucap sepatah kata pun, Adam langsung memeriksa berkas dari Renata, dan membubuhkan tanda tangan pada beberapa lembar yang membutuhkan tandatangannya. Namun lagi-lagi kesalahan terjadi karena Adam memberikan tanda tangan di tempat yang tidak seharusnya.


"Maaf Pak, tapi bapak salah membubuhkan tanda tangan. Bagian yang itu seharusnya ditandatangani oleh Pak Anton," Renata mengoreksi.


"Ohhhh SHIT!!" Adam memijit keningnya sendiri. Sementara Renata cuma bisa nyengir mendengar umpatan itu. "Maaf Ren, maaf."


"Ya sudah nggak pa-pa Pak, biar nanti saya buat lagi yang baru pada bagian itu."


"Ini," Adam menyerahkan lembaran yang salah itu pada Renata. "Maaf ya, gara-gara keteledoran saya, kamu harus mengulangi pekerjaan kamu."


"Nggak pa-pa kok Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."


Renata berlalu meninggalkan Adam yang merasa semakin kacau.


Untuk beberapa menit dia melamun, berusaha mencari ketenangan dari kekacauan hati dan pikirannya, tapi nihil. Sehingga kemudian terlintas di benaknya untuk segera pulang.


"Lho Dam? Mau kemana?" tanya Pak Anton saat Adam baru saja keluar dari ruangannya.


"Saya sedikit nggak enak badan, Pak. Mau izin pulang lebih awal."


"Oh, ya sudah. Lagipula memang sebentar lagi waktunya pulang kok," ujar Pak Anton. "Hati-ati di jalan ya," beliau menepuk-nepuk pundak Adam.


"Permisi Pak, selamat sore."


Renata masih ada di ruangan Maya saat melihat Adam melintas. Dia bermaksud ingin mengejar, tapi sayangnya urusannya dengan Maya belum selesai. Dia sedang memperbaharui berkas yang salah ditandatangani oleh Adam di ruangan Maya.


...🌺🌺🌺...


Konyolnya lagi, Adam bahkan sempat menduga kalau mungkin saja sikap Selenia itu karena dia sedang ngeprank dirinya untuk menyambut ultah (sekarang kan lagi jaman tuh maen preng-prengan), tapi saat dia sadar kalau ulang tahunnya masih beberapa bulan lagi, rasanya tidak mungkin Selenia sedang bermain prank. Ya kali Selenia bakal ngediemin dia sampai berbulan-bulan. Ini baru beberapa hari saja udah bikin kepala Adam serasa mau pecah.


Lampu merah traffic light menyala dan Adam perlahan menginjak rem mobilnya. Tangannya mengetuk-ngetuk setir tidak sabar menunggu lampu berubah menjadi hijau. Dia memperhatikan jalanan yang ramai di depannya, dan seketika matanya mendapati sebuah pemandangan yang membuatnya menelan ludah. Sekitar 200 meter di depannya dia melihat sepasang pemuda-pemudi keluar dari minimarket di pinggir jalan. Si perempuan tampak membawa kantong plastik berwarna putih, lalu mereka berdua pergi meninggalkan minimarket menaiki motor Ducati berwarna merah. Seketika jantung Adam berdebar begitu menyadari siapa perempuan itu karena merasa familiar dengan baju yang dikenakannya. Tidak salah lagi, itu Selenia! Mau kemana dia? Sama siapa?


Saat nyala traffic light berubah hijau, Adam tidak mau buang-buang waktu lagi. Dia segera memacu mobilnya, membuntuti motor Ducati yang sudah jauh sekali berada di depan. Emosi Adam melesat naik melihat Selenia yang tampak begitu mesra berada di boncengan motor tersebut. Ducati? Kini Adam pun tahu siapa laki-laki yang sedang bersama istrinya. Tony. Adam masih ingat, motor itu juga yang dulu dipakai untuk mengantar Selenia pulang dari malam puncak ultah SMA Bhakti Nusa.


Tapi sayang, saat berada di jalur perempatan, beberapa mobil tiba-tiba melintas sehingga membuat Adam terpaksa menghentikan laju mobilnya. Hal itu menyebabkan dia harus kehilangan jejak Selenia dan Tony.


ARRGGHH!!! Adam memukul-mukul setir mobil dengan emosi. Dia tidak lagi melihat Selenia dan Tony. Tapi Adam tidak ingin menyerah begitu saja. Dia kembali melajukan mobilnya perlahan sambil mencari peruntungan dengan mencoba menghubungi ponsel Selenia. Tapi nihil, panggilannya tidak dijawab. Tentu saja, dia kan lagi asyik sama Tony. Sebuah suara seolah meledek dirinya. Adam melempar ponsel ke jok samping dan terus membawa mobilnya menyusuri jalanan. Sekalipun tidak lagi dia temukan jejak keduanya, Adam tetap bertekad mencari Selenia sampai ketemu dan membawanya pulang. Darahnya seperti mendidih melihat kebersamaan mereka. Bisa-bisanya Selenia melakukan itu? Jadi ini yang membuat sikapnya berubah?!


Errgghhh..! Adam menggertakkan gigi menahan emosi yang hampir meledak.


...🌺🌺🌺...


"Wow...!!" Selenia memadang takjub ke sekelilingnya. "Ini yang namanya bukit bintang?" dia berdiri di tepian pagar pembatas, memejamkan mata dan mencoba menikmati keheningan alam yang menenangkan. Mereka sampai di tempat ini di saat yang tepat. Saat matahari hampir terbenam dan suasana mulai menggelap.


"Keren gak?" Tony berdiri di sisihnya.


Selenia membuka mata. "Keren banget. Gue beneran baru liat masih ada tempat senatural ini di sini," dia menunjuk kerlap-kerlip lampu di bawah yang berasal dari lampu jalan, rumah, kantor, dan tempat lain yang membuat pemandangan jadi bercahaya. "City lightnya baguuussss banget."


"Di tempat ini memang tidak diizinkan untuk mendirikan bangunan apapun," Tony menunjuk ke satu papan di seberang jalan yang berisi tulisan larangan untuk mendirikan bangunan.


Tony berjalan ke motornya, mengambil kantong plastik dan kembali menghampiri Selenia. Dia mengeluarkan dua kaleng soft drink dan beberapa cemilan yang mereka beli di minimarket sebelum pergi ke sini. Dia membuka kaleng soft drink tersebut dan memberikannya satu untuk Selenia.


"Makasih," ucap Selenia sembari tersenyum. Dia meneguk minumannya dan membalikkan tubuh, menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas. "Kamu sering ke sini ya Ton?"

__ADS_1


"Dulu iya," Tony turut meneguk minumannya. "Sampai aku liat lagi tempat ini di album foto Cia waktu itu."


"Berarti sebelum liat foto itu, kamu udah jarang ke sini?"


Tony mengangguk. "Tempat ini menyimpan banyak kenangan Sel buat aku."


"Tentang?"


"Mama."


"Memangnya... Mama... kamu sekarang di mana?" tanya Selenia hati-hati karena melihat raut wajah Tony yang berubah muram saat menyebut kata Mama.


"Aku juga nggak tahu," Tony mengangkat bahu. "Udah bahagia kali sama keluarga barunya," jawabannya terdengar lirih tapi ketus.


"Ouuffhh..." Selenia mendesis. Dia merasa tidak enak hati telah menanyakan hal itu. Kesimpulannya, Tony adalah anak broken home.


Kemudian dia mendengar Tony terkekeh. "Ya udahlah, nggak usah bahas itu. Nggak penting juga," Dia menenggak minumannya sampai habis.


"Sorry," ucap Selenia lirih.


"Untuk apa?" Tony menoleh.


"Yang barusan..."


"Nggak perlu bilang sorry juga kali Sel," Tony tersenyum kecil, memutar tubuhnya menghadap pagar pembatas dan melemparkan kaleng bekas minumannya ke bawah.


"Ehhh nggak boleh buang sampah sembarangan!" teriak Selenia spontan. Dia turut memutar tubuh dan melebarkan matanya melihat kaleng yang menggelinding ke semak-semak di bawah.


"Ups! Nggak sengaja," jawab Tony enteng dan Selenia mencibir. "Jadi gimana? Kamu masih mau cerita kan? Kenapa kamu sudah menikah?"


Selenia menghela nafas berat mendengar pertanyaan Tony. Enggan rasanya untuk membuka setiap detil rahasia besar itu padanya karena takut akan semakin banyak orang yang tahu. Nggak ada jaminannya juga kan Tony bakalan tutup mulut setelah tahu semuanya?


"Kenapa diem?" Tony menoleh, menunggu Selenia yang tak kunjung berbicara. "Kamu nggak percaya sama aku ya Sel?"


"Bukan gitu sih Ton. Cuman...."


"Kamu udah janji lho sama aku," Tony bergeser hingga lengannya dan lengan Selenia bersentuhan. Dia sempat melihat Selenia menoleh sekilas yang kemudian bergeser mencoba menghindari kedekatan yang Tony ciptakan. "Janji kan harus ditepati."


"Tapi kamu juga harus janji, nggak akan ceritain hal ini ke orang-orang."


"Nggak mungkin. Aku kan udah bilang sama kamu, nggak ada untungnya buat aku ngelakuin itu," Tony mengulurkan jari kelingkingnya pada Selenia. "Aku janji,"


Setengah ragu, Selenia membalas uluran itu dengan menautkan kelingkingnya. Tony menyunggingkan senyum dan matanya menyipit karena tiba-tiba sebuah sinar lampu yang sangat terang menyorot ke arah mereka.


Selenia menoleh mencari sumber cahaya dan matanya seketika melebar begitu tahu dari mana asal sorot lampu tersebut. Ya Tuhan! Dia nggak salah lihat kan? Jantung Selenia berdegup kencang.


Sorot lampu itu berasal dari sebuah mobil yang sangat dia kenal.


Saat sorot lampu itu padam, seseorang tampak keluar dari mobil, membanting pintunya dengan keras dan berjalan dengan langkah penuh emosi menghampiri mereka. Selenia secara reflek menjauh dari Tony saat dia tahu siapa yang datang.


Adam?! Dari mana dia tahu kalau aku ada di sini?


Sekalipun dia dan Adam sedang perang dingin, wajah Selenia tetap cemas dan takut dengan posisinya yang seolah-olah seperti kegap sedang berduaan dengan Tony.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1



...❤️...


__ADS_2