
"Beneran aku boleh ketemu Tony?" tanya Selenia pagi itu tidak yakin. Semudah itu suaminya memberikan izin setelah dia mengutarakan maksudnya. Mereka masih berada di ruang makan, baru saja menyelesaikan sarapan.
Adam mengangguk mantap. Sembari merapikan jasnya, dia berdiri dan mendekati Selenia.
"Nanti malam aja ya, aku antar kamu," ucap Adam menambahkan kesungguhannya.
"Tapi aku belum ngomong sama Tony, Dam," Selenia berputar di kursinya, menghadap Adam yang masih berdiri di belakangnya.
"Kan tinggal telfon atau kirim pesan ke dia sayang. Atur waktuny," ucap Adam ringan, benar-benar tanpa beban.
Selenia semakin bingung melihat ekspresi itu. Maksudnya, barusan dia meminta izin pada Adam untuk bertemu dengan laki-laki lain lho, dan dia mengiyakan dengan jawaban seringan itu? Malah nyuruh atur waktu segala.
"Ee... o.. oke deh nanti aku ngomong sama dia. Makasih ya Dam udah izinin aku buat..."
"Tapi aku boleh nanya nggak sama kamu?" potong Adam cepat.
"Apa?"
"Pertemuan kalian, cuma untuk membahas perihal pamitnya Tony kan?"
Baru setelah mendengar pertanyaan itu Selenia bisa tersenyum. Ternyata di balik ekspresi biasa-biasa yang ditunjukkan Adam, tetap ada perasaan khawatir di hatinya. Selenia berdiri dan mengelus dada Adam lembut.
"Kamu percaya atau nggak sama aku?" Selenia mendongak menatap lurus ke wajah Adam yang juga sedang menunduk membalas tatapannya.
Adam menyunggingkan seulas senyum. Tidak ada alasan baginya untuk tidak mempercayai Selenia. Mereka saling mencintai bukan? Sorot mata Selenia menggambarkan cinta yang tulus dari hatinya.
"I trust you, sayang," ucap Adam lirih.
Selenia tersenyum manis. Dia berjinjit dan menempelkan bibirnya ke bibir Adam sekilas sebagai jawaban.
"Ya udah, kamu berangkat gih. Keburu siang nanti," Selenia meraih tangan Adam dan menciumnya.
Adam merasa seperti melambung ke atas awan dengan perlakuan-perlakuan manis Selenia. Kian hari, istrinya itu semakin berani menunjukkan kemesraannya tanpa rasa canggung seperti dulu.
Adam membungkuk dan menempelkan kepalanya ke perut Selenia.
"Sayang, Daddy berangkat kerja dulu ya. Kamu sama Mommy baik-baik di rumah," ucapnya dan menciumi perut yang mulai tampak membuncit itu beberapa kali.
...🌺🌺🌺...
Bu Fani: [Selenia, maaf ya, hari ini sepertinya ibu datang ke rumah kamu agak telat. Ibu ada urusan sebentar di sekolah. Nanti kalau sudah beres, Ibu akan langsung ke rumah. Kamu belajar dulu aja sama buku-buku yang ada 😊]
"Yaaaah...." Selenia mendesis lesu setelah membaca pesan dari Bu Fani. "Padahal aku udah siapin semuanya dari pagi-pagiiiiii banget," matanya menatap buku-buku yang sudah tertata rapi di atas meja ruang tengah.
Tapi mau bagaimana lagi? Selenia mengetik pesan balasan ke Bu Fani.
Selenia: [Baik bu. Saya tunggu sedatangnya Ibu saja 🙏🏻]
Untuk mengusir bosan karena harus menunggu kedatangan Bu Fani ke rumah, Selenia membuka laptop dan mencari-cari film untuk menemani kesendiriannya.
...🌺🌺🌺...
Suasana kelas 12 IPA C yang tak lain adalah kelas Selenia begitu ramai. Seperti biasa, walaupun bel masuk sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu, tapi kalau belum ada guru yang masuk kelas, anak-anak bakalan heboh dengan keramaiannya masing-masing.
Namun ditengah keramaian itu, Cia justru merasa kesepian. Di bangku yang biasanya dia duduki dengan Selenia, kini hanya dia duduki sendiri. Cia melirik bangku kosong di sebelahnya dan tersenyum getir. Semenjak Selenia dinonaktifkan dari sekolah, tak ada satu pun anak di kelas ini yang berkenan duduk di sana. Beberapa dari mereka masih memandang sebelah mata pada Cia dan beranggapan kalau nasib Cia pasti bakalan sama seperti Selenia. Bedanya, Cia tidak mau terlalu memikirkan apa yang mereka asumsikan dan memilih untuk cuek. Sampai hari ini, Selenia masih menjadi topik hangat yang dibicarakan para biang gosip di kelas ini. Apalagi Lala.... hhhhrrggghhh.... kalau bukan karena peringatan Pak Nandar waktu dia dan Lala dibawa ke BP waktu itu, Cia rasanya masih ingin baku hantam saja dengan anak itu.
Cia mengeluarkan earphone dengan sewot dari dalam tasnya saat mendengar Lala mulai menyebut-nyebut namanya, dan langsung menyumpalkan biji earphone ke kedua telinganya. Mending dengerin musik ketimbang culametnya Lala.
Hiruk pikuk suasana di dalam kelas mendadak senyap saat seorang guru memasuki kelas. Cia buru-buru mencabut earphone dari telinganya dan menyimpan benda itu ke dalam laci.
Bu Fani? Bukankah dia seharusnya ngajar home schooling di rumah Selenia? batin Cia heran.
__ADS_1
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Bu Fani lantang dari podium kelas.
"PAGIIII BUUUUUU...!!" jawaban serempak dari 27 murid menggema di kelas 12 IPA C.
"Bu Fani ngajar di sini lagi?" celetuk salah seorang siswa dari bangku paling belakang.
"Pagi ini bukannya jadwalnya Pak Hardi ya?" sambung siswa lainnya.
Bu Fani menyunggingkan senyum mendengar tanggapan mereka.
"Iya anak-anak. Pagi ini memang jadwal Pak Hardi, tapi saya meminta waktunya sedikit karena ada yang akan saya bicarakan di sini."
Suasana kembali hening. Anak-anak saling tatap dan penasaran dengan apa yang akan dibahas oleh Bu Fani di depan kelas.
Tak mau mengulur waktu, Bu Fani pun bersiap memulai pembicaraannya.
"Sebelumnya, saya mau tanya sama kalian semua. Sebagai teman sekelas dari siswi yang bernama Selenia Effendi, apa tanggapan kalian tentang dia setelah mendengar gosip yang beredar?"
Hah?! Mata Cia membulat mendengar pertanyaan Bu Fani. Maksudnya apa nih? Bu Fani mau mempermalukan Selenia juga?
Cia melirik ke Lala yang berada tak jauh dari bangkunya. Anak itu tampak menunjukkan tampang girang karena pertanyaan Bu Fani.
"Nggak nyangka aja kalau gadis sekalem dan sependiam Selenia ternyata menjadi simpanan sugar daddy!" celetuk Lala lantang yang langsung disambut tawa oleh anak-anak sekelas kecuali Cia.
"Ibarat air, tenang tapi menghanyutkan!" sahut yang lain.
Telinga Cia panas mendengar itu semua. Dia mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Tapi sebisa mungkin dia menahan emosinya yang sebenarnya sudah hampir meledak. Apa maksud Bu Fani terang-terangan membicarakan Selenia di sini?
"Oke... oke cukup..." Bu Fani kembali menenangkan suara riuh di kelas.
Setelah suasana kembali hening, Bu Fani memulai misinya kenapa pagi ini dia masuk ke kelas ini. Secara perlahan dia mulai menjelaskan tentang gosip salah kaprah soal Selenia yang selama ini beredar. Selenia tidak seburuk itu, dan image dia yang katanya menjadi simpanan Om-om tidak pantas disematkan di dirinya. Selenia hanya seorang anak--sama dengan anak-anak ABG pada umumnya-- yang hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai baktinya kepada orang tua. Bu Fani juga mengatakan seandainya posisi Selenia ada pada anak-anak yang lain, belum tentu mereka akan bisa menerimanya.
Terdengar desas-desis anak yang saling berbisik. Kali ini Cia bisa bernafas lega setelah mendengar apa yang dikatakan Bu Fani. Dia menoleh ke arah Lala dan tersenyum sinis padanya saat anak itu juga melihat ke arahnya.
"Lala..." Bu Fani menunjuk Lala. Dia tahu dari mana awal mula gosip itu beredar karena Selenia yang menceritakan padanya.
Lala menatap Bu Fani ragu. "I... iya Bu?"
Bu Fani melemparkan senyum manis pada Lala. "Tindakan kamu mengungkap ini, memang tidak salah. Tapi sebaiknya kamu juga berpikir sebelum bertindak nak," ucapnya lembut.
Kini semua mata tertuju pada Lala.
"Sekarang Ibu tanya sama kamu, apa keuntungan yang kamu dapat dari tindakan ini?" tanya Bu Fani.
Lala terdiam. Dia menunduk dalam-dalam dan itu berhasil membuat Cia tersenyum puas.
"Tidak ada kan?" lanjut Bu Fani lagi. "Kamu melakukan sesuatu yang merugikan orang lain, tapi tidak juga menguntungkan kamu. Padahal kalau untuk mengungkap kebenaran, ada banyak cara yang bisa kamu lakukan selain dengan cara itu--mengumumkannya di depan kelas. Kamu bisa menghubungi pihak BP atau berbicara langsung dengan kepala sekolah, pasti mereka akan bertinda," tuturnya.
"Jangan menjadi jahat hanya untuk memperlihatkan bahwa kamu lebih baik dari dia. Bagaimanapun, mempermalukan seseorang di depan umum itu kan.... sangat tidak etis ya. Apalagi kalau orang itu tidak pernah mengusik hidup kamu sebelumnya."
Mampus lo diceramahin di depan anak-anak! Batin Cia puas.
"Kalau sudah seperti ini? Siapa yang lebih rugi? Selenia tentunya. Digosipkan dengan cerita buruk, yang padahal kenyataannya jauh sekali dengan gosip itu. Malu itu pasti. Tapi... setelah saya melihat bagaimana keadaan Selenia sekarang, saya sangat salut, karena ternyata dia cukup kuat dan masih memiliki semangat untuk melanjutkan sekolahnya, walau..... Oh iya, FYI, dia sekarang home schooling dan saya yang mengajar. Itulah kenapa saya berani berbicara demikian di sini."
Seluruh anak terdiam. Mereka semua mulai mencerna cerita-cerita Bu Fani dan sebagian dari mereka--para siswi-- yang telah berpikir buruk tentang Cia, menatap ke arah Cia dengan tatapan yang seolah berkata 'Maafin kita Ci...'.
"Sekali lagi saya harap, kalian berhenti membiacarakan yang buruk tentang Selenia, karena yang kalian bicarakan itu salah kaprah. Udah stop, berhenti di sini. Kasihan Selenia."
Anak-anak tidak ada yang menjawab dan hanya terdiam.
"Baiklah, saya rasa apa yang saya sampaikan sudah cukup. Sebentar lagi Pak Hardi akan masuk ke kelas kalian. Selamat pagi," pungkas Bu Fani dan langsung berjalan meninggalkan kelas.
__ADS_1
Sepeninggal Bu Fani anak-anak mulai berkasak-kusuk. Memang benar sih, tindakan Selenia tidak bisa dibenarkan, dan tindakan Lala juga salah. Mereka yang awalnya ngobrol bareng Lala, kini mulai mengabaikan anak itu.
...🌺🌺🌺...
Siangnya, saat jam istirahat, Tony baru saja keluar dari kelas bersama dua orang temannya saat ponsel di saku celananya bergetar. Dia menghentikan langkah sementara temannya terus berjalan.
"Selenia?" gumam Tony. Keningnya mengerut melihat nama di layar ponsel. "Ada apa dia nelfon?"
"Ton!" panggil salah seorang teman yang sudah berjalan sekitar 2 meter dari posisi Tony.
"Kalian duluan aja, gue mau terima telfon dulu!" Tony melambaikan ponselnya ke udara dan melipir ke belakang kelas.
Sementara kedua temannya melanjutkan langkah menuju kantin.
"Hallo Sel?" sapa Tony setibanya di belakang kelas. "Apa?... nanti malam? Oh.... hehehe iya, aku ngomong sama Cia waktu itu, soalnya kan.... oh... oke Sel, terimakasih ya sebelumnya... oke. Dimana ketemunya?... Ohh.. oke sip, sampai ketemu nanti. Bye..."
Tony masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Selenia mengajak dia ketemuan karena ingin dia mengatakan keinginannya itu langsung di depannya? Bagaimana bisa? Memangnya Adam nggak marah?
Saking tidak yakinnya dia menanyakan lagi pada Cia apakah ajakan Selenia itu serius.
"Ya kalau dia nelfon kamu dan ngajak ketemu, itu berarti dia bener dong. Memangnya kenapa?" tanya Cia heran.
"Ya nggak pa-pa sih. Tapi, memangnya suaminya nggak marah Ci?"
"Dia udah minta izin sama Adam lah pastinya."
"O... oh... gitu?" nada Tony terdengar kecewa. Tapi sekaligus juga merutuki dirinya sendiri.
Diajak ketemuan bukannya seneng dan dimanfaain sebaik-baiknya tu waktu, malah masih bingung dia minta izin sama suaminya atau enggak. Kalau lo tahu Selenia itu cewek baik-baik, lo nggak perlu bertanya seperti itu Tony! Kalau dia siap ketemu, itu berarti dia sudah meminta izin suaminya. Bisa nggak sih lo berpikir rasional dikit. Ini nih yang bikin lo gagal move on. Orang kok hobbynya nyari penyakit. Sebuah suara bernada marah yang berasal dar hati menggema di telinganya.
"Kenapa emangnya? Kamu nggak mau ketemu dia? Katanya pengen pamit langsung, giliran diiyain malah bingung," cibir Cia.
"Enggak kok nggak bingung. Iya nanti aku bakal ketemu sama dia."
Cia tersenyum geli. Dia tahu, Tony sebenarnya senang dengan ajakan itu.
"Ya udah temuin dong," Cia menepuk-nepuk bahu Tony, memberi semangat.
...🌺🌺🌺...
Malamnya, Selenia baru saja selesai bersiap-siap saat pintu kamarnya diketuk. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, dia segera menyambar tasnya dan berjalan keluar.
Adam yang sudah menunggu di depan pintu menyambutnya dengan kecupan manis di pipi kanan Selenia saat dia baru nongol.
"Aw..." bisik Selenia kaget. "Ih, kamu ngagetin aku aja deh."
"Kamu cantik banget sih?" Adam mengamati penampilan Selenia. "Sengaja disiapin mateng-mateng ya?" godanya.
Istrinya itu mengenakan atasan model peasant top warna coksu yang dipadukan dengan kulot scuba putih bersih. Tak lupa, sepatu model flat menghiasi kaki cantiknya.
"Kamu juga keren," balas Selenia tak mau kalah--tahu sedang digoda. Selenia mengelus dada bidang suaminya yang dibalut T-shirt putih dan kemeja kotak-kotak biru navy yang kancingnya sengaja dibiarkan terbuka. Dia juga menunduk melihat jenjang kaki gagah yang dilapisi jeans hitam dan sepatu sport.
"Kamu kenapa dandan sekeren ini Dam? Kan kamu cuma mau nganterin aku?" lanjut Selenia. "Ehmmm... kayaknya ada...."
"Sssssttt udah udah udah... iya, aku memang cuma mau nganterin kamu, tapi aku nggak mau dong kalau kamu aja dandan kaya gini trus aku cuma pake piyama kaya di rumah? Emangnya kamu nggak malu kalau diliatin orang terus mereka bilang gini 'eh lihat deh, ceweknya dandan cantik, kok cowoknya amburadul banget'." Adam bergidig. "Iiih aku sih nggak mau."
Selenia terkekeh. "Ya udah ayo berangkat, entar keburu malem," dia menggamit lengan Adam manja.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1