
Tony dan teman-temannya telah berada di basecamp, menikmati kopi espresso yang mereka beli di jalan sepulang dari kantor polisi. Mereka duduk berkumpul di lantai di ruang mabar, mendengarkan Tony bercerita pengalaman busuknya mendekam di sel selama 24 jam.
♡♡♡
Siang itu, Tony yang dari pagi sengaja bolos sekolah, melipir ke taman sekedar untuk menenangkan diri. Dia yang masih belum bisa menerima kembalinya Ibu yang telah meninggalkannya dari kecil, merasa bingung saat melihat kehadirannya di rumah sore itu. Tony heran melihat sikap Papanya yang terkesan begitu welcome pada mantan istrinya. Dia tidak habis pikir, jadi sebenarnya penyebab perpisahan mereka itu apa? Kalau memang karena orang ketiga, kenapa dia tidak melihat sorot terkhianati dari mata Papanya saat berhadapan dengan Ibunya?
Saat sedang merenung itulah, tiba-tiba Dia mendengar seseorang berbicara di telfon tak jauh dari posisinya. Tadinya Tony tidak begitu peduli, sampai akhirnya dia mendengar nama Selenia disebut-sebut oleh orang tersebut. Bahkan penuh dengan nada ancaman yang seketika membuat Tony yang hatinya sedang diliputi kekalutan oleh masalahnya sendiri menjadi tersulut emosi. Apalagi setelah dia lihat dengan jeli dari atas sampai bawah, Tony merasa begitu familiar dengan orang tersebut. Pakaian yang dia kenakan, sama persis dengan saat kejadian Selenia ditubruk orang aneh di depan sekolah. Puncaknya dia tidak bisa lagi menahan emosi saat mendengar orang itu dengan jelas mengatakan...
"Sampai lo libatin orang lain atau polisi, lo bakalan kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup lo. Selenia."
Mendengar rentetan kalimat itu membuat Tony kalap dan seketika menghajar orang tersebut dengan membabi buta. Sebenarnya saat memukuli orang itu, dia sempat menyadari bahwa yang dia lakukan itu tidak benar. Tapi luapan emosi dari berbagai masalah dan membuncah yang dia hadapi, membuatnya seolah menemukan pelampiasan yang tepat.
♡♡♡
"Jadi kesimpulannya lo bucin apa gimana Ton?" celetuk Yoga asal yang langsung mendapat tatapan tajam dari Petra.
Yoga memang terkenal asal ceplas-ceplos di antara mereka ber-6. Tony sih sudah hafal dengan perangai itu. Jadi dia cuma tersenyum simpul.
Petra yang duduk tepat di sebelah Tony, merangkul bahunya dan menepuk-nepuknya perlahan.
"Ya udah Ton, jadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran buat lo supaya lain kali lo lebih bisa buat ngeredam emosi. Apapun, nggak akan pernah ada benarnya kalau menyelesaikan masalah dengan kekerasan," sebagai senior di antara mereka, Petra memang selalu bisa memberikan petuah bijak dalam setiap masalah yang dihadapi setiap anggota geng mabarnya.
"Memang sih perbuatan tuh orang juga salah, tapi tetep aja kekerasan yang lo lakuin nggak bisa dibenarkan," imbuh Petra lagi.
Tony mengangguk-angguk. "Tapi gue puas udah ngehajar tu orang," ucapnya dan membuat teman-temannya saling tatap dan geleng-geleng kepala. "Cuman gue nyesel aja, gara-gara ini gue jadi tahanan kota. Gue jadi napi 24 jam cuy! Mana kudu laporan seminggu tiga kali ke kantor polisi. Buang-buang waktu nggak sih?"
Teman-temannya terkekeh.
"Ya emang wasting time banget sih," sahut Febian. "Tapi kan itu udah konsekuensi yang harus lo terima. Ketimbang jadi tahanan rutan. Idiihhh..." dia bergidig. "Amit-amit deh Ton."
Febian bisa dibilang anak paling alim di antara mereka ber 6. Tony mencibir mendengar celotehnya.
"Gue temenin deh kalo lo takut," Petra menonjok bahu Tony pelan.
"Apa perlu kita temenin rame-rame?" sahut Gilang.
"Ck, ya nggak gitu juga kali." Tony berdecak. "Ya udahlah nggak usah bahas masalah ini," dia berdiri dan melepas jaket yang sedari kemarin setia membalut tubuhnya. "Gue mau tidur dulu. Capek banget!"
Tony melangkah menuju kamar basecamp dengan gontai. Teman-temannya cuma memandangi kepergiannya sampai dia menutup pintu.
"Kita latihan!" Petra berdiri, dan mulai menyalakan PC. "Turnamen bentar lagi."
...🌺🌺🌺...
Selenia sedang berbicara di telfon dengan Cia, mengabarkan tentang dirinya yang hari ini mendapat telfon dari kepolisian untuk dimintai keterangan perihal terror yang dia terima. Juga tentang Tony yang entah kenapa bisa terlibat dengan si peneror yang membuatnya harus mendekam selama 1x24 jam di dalam sel. Polisi itu bilang, Tony ditangkap gara-gara memukuli peneror tersebut.
"Syukur deh kalau tuh peneror udah ketangkep. Gue lega dengernya Sel. Plus penasaran juga, pengen tahu kaya apa sih orangnya?" ucap Cia diujung telefon. "Tapi, Adam udah tahu belom?"
Selenia menggeleng. Dia belum ingin menceritakan pada Cia tentang Adam yang kemungkinan tahu soal peneror tersebut karena faktanya belum jelas. Saat itu Adam cuma memberitahu supaya Selenia menutup dan mengunci semua pintu dan jendela saat malam hari selama dia di luar kota dan melarangnya untuk bepergian sendirian.
"Kayanya belom deh. Soalnya dia masih di luar kota. Terus tadi pas gue coba telfon, malah nggak diangkat. Mungkin lagi sibuk," Selenia memang sempat menghubungi Adam setelah menerima telfon dari kepolisian tapi tidak ada jawaban.
Jeglek!
Pintu kamar Selenia tiba-tiba terbuka dari luar. Mata Selenia membulat melihat seseorang yang berdiri di ambang pintu. Adam? Dia pulang kok nggak bilang-bilang? Bukannya jadwalnya di luar kota masih sampai besok?
"Ci, sambung nanti lagi ya. Bye..." Selenia langsung memutuskan obrolannya dengan Cia. Dia baru saja ingin turun dari tempat tidur saat dengan cepat Adam justru bergerak mendekat dan memeluknya erat.
"Aku bener-bener khawatir banget sama kamu. Maafin aku sayang.... maafin aku udah ngebuat kamu ada dalam masalah. Gara-gara aku kamu diteror orang, gara-gara aku kamu jadi celaka... maafin aku sayang...!" suara Adam bergetar di belakang tengkuk Selenia.
Jadi sekembalinya dari kantor polisi, Adam langsung berkemas di hotel tempatnya menginap dan memutuskan check out saat itu juga. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu Selenia dan menumpahkan semua beban perasaan yang menggelayut dalam dirinya. Dia bahkan sengaja tidak mengangkat panggilan Selenia yang beberapa kali menelfon.
"Adam..." Selenia bingung. Dia mencoba melepaskan diri dari pelukan itu, tapi gagal karena Adam tidak ingin melepaskannya. "... auuuh... lepasin dulu... kamu kenapa?"
Selenia merasakan bahunya basah. Adam menangis? Kenapa ini?
"Dam... kamu kenapa?" Selenia mencoba bertanya pelan dan mulai mengusap-usap punggung Adam. Feelingnya berkata ini pasti ada hubungannya dengan peneror itu. Adam ketemu orang itu apa gimana?
Untuk beberapa saat Selenia membiarkan Adam meluapkan semua perasaannya dan membiarkan Adam menangis di dalam pelukannya. Hati Selenia begitu trenyuh mendengar setiap kalimat yang Adam ucapkan. Seperti menyuarakan luka dan penyesalan. Jadi siapa orang yang menerornya selama ini? Ada masalah apa dia dengan Adam?
Perlahan, isakan Adam terdengar mereda. Dia juga mulai mengendurkan dekapannya dan kemudian melepaskan tubuh Selenia.
"Okey.... " Selenia mencoba berbicara sepelan mungkin. "Sekarang kamu tenang... kamu jelasin sama aku pelan-pelan apa yang sebenernya terjadi? Dia siapa? Dan kenapa dia ngelakuin itu sama aku? Sama keluarga kita?"
Adam masih terdiam. Selenia mengusap air mata di kedua pipinya dan membelai wajah itu lembut.
"Dia....." ucap Adam lirih. Berat rasanya untuk mengatakan pada Selenia tentang siapa orang itu. Hati Adam sudah begitu terluka mengingat sikapnya yang sudah membuat istrinya celaka. "Dia mantan suaminya Renata."
Mulut Selenia menganga. Kedua alisnya hampir bertaut mendengar jawaban itu. Mantan suami Renata menyerang dirinya? Selenia menggeleng pelan. Tubuhnya melunglai.
"K-kenapa dia nyerang aku Dam?" bisik Selenia.
Adam menggeleng. "Dia mungkin dendam sama aku.... karena... karena aku sudah bantu Renata soal hak asuh anak itu dan membuatnya kalah dalam persidangan," dia meremas lengan Selenia lembut. "Aku minta maaf sayang.... aku nggak pernah berpikir kalau akhirnya akan jadi begini... aku sakit banget ngeliat kamu jadi sasaran dia... aku salah... please maafin aku..." isaknya
Memang penyesalan selalu ada di belakang. Tapi tidak ada gunanya juga untuk terus mengungkit sesuatu yang telah terjadi. Menurut Selenia, Adam juga tidak salah kok. Dia kan dulu sudah mendengar semuanya dari Renata. Selenia masih ingat bagaimana bahagianya Renata saat menceritakan tentang pemenangannya dalam sidang gugatan hak asuh Nola atas mantan suaminya. Renata justru merasa sangat berhutang budi pada Adam. Makanya waktu itu--saat dirinya sedang berkonflik dengan Adam--dia memberanikan diri menemui dan memohon padanya supaya pulang ke rumah dan kembali pada Adam.
"Sayang..... udah ya. Kamu jangan nyalahin diri kamu kaya gini. Semua ini terjadi karena... ya karena memang udah takdir aku juga," Selenia menatap wajah Adam sendu dan membelainya.
"Kamu udah ngelakuin sesuatu yang bener kok. Mantan suami Renata aja yang saiko, dia nggak bisa nerima kenyataan dan justru nyerang orang lain. Ya mungkin dia berpikir, dia ngelakuin ini ke aku tujuannya untuk ngancem kamu. Tapi tetap saja namanya ngawur. Kamu jangan merasa kaya gini... aku sedih ngeliat kamu datang-datang nangis kaya gini," dia menggamit lengan Adam dan menyandarkan kepalanya di sana.
Adam lega mendengar kata-kata Selenia yang begitu bijaksana. Dia membelai kepala Selenia lembut, menarik lengannya dari gamitan Selenia dan kemudian menangkup wajah manis tersebut.
"Tapi sekarang, kamu nggak perlu khawatir lagi. Karena orang itu udah dapat hukuman yang setimpal," Adam menjelaskan tentang hukuman yang diterima Devan--menjadi tahanan kota selama dua bulan. "Aku yakin itu akan membuatnya jera, dan dia tidak akan berani macam-macam lagi sama kamu. Dan juga....." dia tidak melanjutkan kalimatnya. Entah kenapa berat rasanya untuk memuji kebaikan Tony di hadapan Selenia.
"Dan juga apa?" bisik Selenia lirih.
"Ini semua berkat Tony."
Selenia mendesis. Dia melepaskan tangan Adam dari wajahnya dan melihat ke arah lain di dalam kamarnya. Selenia telah mendengar semua yang terjadi pada Tony saat dia menerima telfon dari kepolisian. Sebelum mengintrogasi dirinya terkait terror tersebut, polisi itu menjelaskan bagaimana Tony bisa sampai terlibat dalam masalah tersebut.
__ADS_1
"Kasian dia," ucap Selenia lirih. Dia kembali menatap wajah Adam. "Terus sekarang keadaan dia gimana?"
Tersirat perasaan cemburu di hati Adam mendengar Selenia mengkhawatirkan Tony. Tapi secepatnya dia segera menepis perasaan itu. Dia tidak mau egois. Apapun dan bagaimanapun, Tony telah menyelamatkan dia dan Selenia dari ancaman teror Devan yang mungkin akan terus berlanjut seandainya dia belum ditangkap.
"Dia udah pulang kok. Tadi pas keluar dari ruang mediasi, dia dijemput sama temen-temennya."
"Syukur deh kalau begitu. Oh ya sayang, lain waktu, aku boleh kan ketemu sama Tony buat ngucapin makasih?" tanya Selenia. Entah kenapa dia merasa bahwa mulai sekarang dia tidak akan seenaknya bertemu atau ngobrol dengan laki-laki lain tanpa seizin Adam.
Adam mengangguk mengiyakan. Tidak ada alasan baginya untuk melarang niat baik Selenia. Adam akhirnya jujur pada Selenia kalau sebenarnya dia sudah pulang dari luar kota sejak kemarin--karena permintaan Devan yang katanya ingin bertemu langsung dengannya. Selenia sempat memprotes kenapa dia nggak langsung pulang ke rumah saja.
"Kalau aku langsung pulang ke rumah waktu itu, aku yakin kamu bakalan khawatir, mikir yang nggak-nggak, dan aku nggak mau juga kamu yang masih dalam keadaan kaya gini dibawa-bawa ke kantor polisi."
Selenia terkikik. Perasaannya sudah berangsur-angsur melega setelah mendengar semua cerita, penjelasan, dan pengakuan Adam hari ini.
"Ya udah," Selenia menarik hidung Adam pelan. "Sekarang kamu buru mandi sana. Terus istirahat."
"Aku boleh istirahat di sini nggak?" Adam menunjuk tempat kosong di sebelah Selenia.
Selenia melirik. "Mmmmm..... boleh.... tapi..... takutnya kalau di sini entar kamu malah nggak jadi istirahat gimana dong?"
"Enggak kok. Aku beneran mau istirahat. Ini badan aku, otak aku, semuuuuuaaanya capek banget," Adam menunjuk seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki.
"Utuutuutuuuu...." Selenia mentowel-towel pipi Adam lucu. "Iyaaaa terserah kamu sayang. Tapi kamu mandi dulu sana... bauk," dia pura-pura menutup hidungnya.
...🌺🌺🌺...
Malam itu, saat Selenia sudah terlelap, Adam pergi ke kamarnya sendiri dan menelfon Renata untuk menanyakan pekerjaan di luar kota. Biar bagaimanapun dia masih memegang tanggung jawabnya di sana.
"Oke bagus lah kalau begitu. Jadi besok kamu sama Irham sudah pulang ya?"
"Iya Pak. Besok kami sudah pulang. Bapak mau nitip sesuatu?"
Adam terkekeh. "Enggak kok. Saya cuma mau bilang, terimakasih banyak karena kamu dan Irham sudah menghandle semuanya dengan baik. Oh ya, kamu lagi sibuk nggak Ren?"
"Nggak juga Pak. Saya cuma lagi kemas-kemas aja buat besok. Memangnya ada apa Pak?"
"Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu."
"A.... apa itu Pak?"
Adam merasa harus memberitahukan tentang perbuatan Devan pada Renata. Meskipun hubungan mereka sudah berakhir, dia ingin Renata tahu bagaimana jahat dan psikopatnya Devan, supaya Renata lebih berhati-hati menghadapi mantan suaminya. Terlebih lagi dengan Nola. Dia bisa melakukan ini pada Selenia, jadi tidak menutup kemungkinan dia juga akan berbuat nekat pada Renata atau Nola kan? Who knows? Bukan bermaksud untuk berprasangka buruk. Tapi memang sejak kejadian itu, Adam sama sekali sudah tidak bisa melihat sisi baik Devan.
Setelah menghela nafas panjang, Adam mulai menceritakan awal teror yang dilakukan Devan pada Selenia sampai kenapa dia akhirnya memutuskan untuk kembali dari luar kota lebih cepat dari jadwal.
Renata kaget banget mendengar semuanya. Dia pun sama sekali tidak pernah menyangka mantan suaminya akan melakukan tindakan senekat itu. Apalagi justru menyeret-nyeret Selenia dan menerornya. Renata merasa sangat bersalah atas itu semua, dan dia berjanji akan menemui Selenia setelah urusannya di luar kota sudah beres.
...🌺🌺🌺...
Singkatnya, Renata benar-benar mendatangi rumah Adam keesokan harinya setibanya dia dari luar kota. Dia hanya mampir rumah sebentar untuk menaruh koper dan kemudian lanjut ke rumah Adam dengan menggunakan taksi. Dengan diantar Bi Iyah, dia menemui Selenia di kamarnya.
Baik Adam maupun Selenia kaget melihat kedatangan Renata. Saat itu Selenia sudah berpakaian rapih karena hari ini dia akan pergi ke klinik untuk melepas jahitan pada lukanya yang sudah mengering. Adam pun tampak bersiap untuk menemani ke klinik.
Adam memang sudah tahu rencana Renata untuk menemui Selenia, tapi dia tidak mengira Renata akan datang hari ini banget.
Selenia kembali duduk di atas tempat tidur, dan mempersilahkan Renata duduk di sebelahnya.
"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Selenia ramah. Dia sudah tidak memiliki perasaan benci, aneh, cemburu atau yang lainnya pada perempuan ini.
Renata tersenyum canggung. "Aku sendirian aja kok. Gimana kabar kamu?"
Selenia mengangkat kedua bahunya. "Yah beginilah," dia tersenyum kecil. "Kamu ada perlu apa datang ke sini Ren? Bukannya kamu juga kemarin ke luar kota sama Adam?" dia melirik Adam.
"Aku baru pulang tadi pagi, dan aku sudah denger semua ceritanya dari Pak Adam. Makanya aku langsung ke sini."
Selenia menegakkan leher dan menoleh ke arah Adam yang masih berdiri tegak di depannya dan Renata. Dia cerita apa aja sama Renata, ya ampun.
Adam tersenyum getir mendapat tatapan penuh tanya dari Selenia.
"Sel, aku... pengen ngomong berdua aja sama kamu, bisa?" tanya Renata kemudian.
Selenia mengangguk setengah ragu. Sementara Adam cukup tahu diri dengan ucapan Renata. Jadi sebelum Selenia memintanya keluar, Adam sudah terlebih dahulu melangkah meninggalkan mereka.
"Kamu mau ngomong apa Ren?" tanya Selenia begitu Adam tidak terlihat lagi.
"Sel, aku udah denger semua ceritanya, semua yang terjadi sama kamu dari Pak Adam," Renata mengawali. "Aku bener-bener minta maaf..." matanya berkaca-kaca.
"Udah dong. Kamu nggak perlu kaya gini. Ini tu bukan..."
"Bagaimanapun, kamu kaya gini juga karena aku," potong Renata. "Kalau saja Pak Adam tidak membantu aku, mungkin kejadiannya nggak akan kaya gini. Aku juga sama sekali nggak pernah nyangka kalau Devan, bakal ngelakuin hal senekat ini dan justru kamu yang jadi sasarannya."
"Udah lupain aja ya Ren," ucap Selenia lirih. Dia sudah tidak mau lagi mengingat-ingat peristiwa itu. "Ini bukan salah kamu, bukan salah Adam juga karena udah bantu kamu. Devan aja yang nggak bisa nerima kenyataan," dia menyunggingkan seulas senyum singkat.
Renata mendesis lirih. Matanya memandang sayu ke arah kaki kanan Selenia yang penuh jahitan.
"Bagaimana kaki kamu?" tangan Renata meraba kaki Selenia pelan.
"Ini udah kering kok lukanya. Hari ini aku mau ke klinik buat lepasin jahitannya."
"Hari ini? Boleh aku ikut anter kamu?"
Kening Selenia mengerut. Dia melirik jam tangannya. Kemarin dia sudah membuat jadwal dengan Dokter Lula untuk bertemu hari ini jam sembilan pagi di klinik.
"Aku tanya Adam dulu ya?" Selenia berdiri dan bersamaan dengan itu Adam masuk kembali ke kamar.
"Sayang ayo berangkat sekarang," Adam melirik jam dinding. "20 menit lagi jadwal kamu lho.."
__ADS_1
"Renata mau ikut anter aku ke klinik boleh?"
Adam sempat terdiam sejenak, memandang Renata dan Selenia bergantian kemudian mengangguk.
"Ya udah ayok," Adam menggenggam tangan Selenia dan mereka bertiga berjalan beriringan.
Sesampainya di klinik, mereka langsung di sambut Dokter Lula dengan gaya khasnya. Dokter muda itu sempat menatap Adam dan Renata bergantian sebelum membawa Selenia masuk ke ruangannya. Mungkin dia berpikir Adam lebih cocok menjadi pacar Renata daripada Selenia. Atau mungkin malah berpikiran lain, seperti Adam mempunyai dua pacar misalnya atau apalah itu.
Renata menunggu di luar ruangan sementara Adam turut masuk untuk mendampingi Selenia. Sebelum jahitannya di lepas, Dokter Lula terlebih dahulu memeriksa tensi darah Selenia dan memintanya untuk berbaring di atas ranjang pasien.
"Pelan-pelan aja ya Dok. Masih perih," rintih Selenia saat Dokter Lula mulai menyentuh salah satu lukanya. Dan dokter itu mengangguk.
Saat Dokter Lula menyentuh perutnya, Selenia baru ingat kalau Adam belum tahu tentang kehamilan itu. Dia sudah khawatir banget Dokter Lula bakal mengatakannya pada Adam sekarang dan otomatis itu akan merusak rencananya. Sebisa mungkin Selenia mencoba mengalihkan perhatian Dokter Lula untuk mencegahnya supaya tidak membahas masalah tersebut. Tapi sepertinya Dokter Lula tidak cukup peka untuk mengerti bahasa isyarat yang Selenia tunjukkan. Dia baru saja selesai membuka jahitan pada satu luka Selenia dan kemudian menghampiri Adam.
"Anda pacarnya..."
Bersamaan dengan itu ponsel Adam berdering nyaring. Adam tersentak dan reflek langsung berdiri untuk mengambil ponsel dari dalam saku celana. Dia tersenyum canggung ke arah Dokter Lula karena lupa mensilent ponselnya.
"Maaf Dok, saya mau terima telfon dulu," Adam buru-buru keluar dari ruangan karena yang menelfon adalah Pak Anton.
Selenia bernafas lega begitu Adam keluar dari ruangan.
Dokter Lula hanya menatap bengong ke arah pintu ruangannya yang perlahan tertutup dari luar. Dia lalu kembali menghampiri Selenia. Lebih baik lepas semua jahitannya ini aja dulu, ngomongnya sama dia nanti. Batin Dokter Lula.
"Dokter," ucap Selenia lirih.
"Ya?" sahut Dokter Lula tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari jahitan di kaki Selenia.
"Saya mohon Dokter jangan bicara apa-apa dulu tentang kehamilan saya sama pacar saya ya?"
Aktivitas Dokter Lula seketika terhenti dan dia menatap ke arah Selenia.
"Jadi kamu belum bicara sama pacar kamu?"
Selenia menggeleng.
"Ya ampun... kenapa?" Dokter Lula geleng-geleng kepala. "Pacar kamu sepertinya orang baik-baik. Dia pasti bisa kok menerima kehamilan ini. Kenapa kamu nggak ngomong aja?"
Tuh kan? Dokter Lula memang kadang sotoynya kebangetan. Jelas aja Adam orang baik-baik. Dalam hati Selenia tertawa geli.
"Bukan begitu Dok. Saya cuma belum siap aja untuk ngomong sekarang. Saya mau nunggu sampai kaki saya bener-bener bisa pulih dulu," kata Selenia beralasan.
Dokter Lula tersenyum dan geleng-geleng kepala. Dia heran dengan sikap ABG satu ini.
"Ini sudah 80% lho pulihnya," Dokter Lula kembali melanjutkan aktivitasnya melepas jahitan di kaki Selenia yang tinggal sedikit lagi. "Kamu jangan mengulur waktu. Ini bukan hal sepele. Bagaimanapun, dia kan anak pacar kamu juga."
"Iya dok. Saya ngerti kok," jawab Selenia yang sudah mulai malas mendengar penuturan Dokter Lula terkesan memojokkan Adam. Iyalah ini anak Adam. "Biar 100% dulu, yang jelas saya bakalan ngomong kok sama dia. Pokoknya saya minta Dokter jangan bahas tentang kehamilan ini ke pacar saya sekarang ya... please...." Selenia mengatupkan kedua tangannya memohon.
"Nah udah," Dokter Lula telah selesai melepas jahitan di kaki Selenia. "Ya udah okey, saya tidak akan ikut campur. Saya cuma mengingatkan aja sama kamu. Ayok bangun," dia membantu Selenia bangkit. "Pokoknya kamu harus secepatnya ngomong sama dia, ya?"
Adam kembali masuk ke ruangan saat Selenia sudah duduk berhadapan dengan Dokter Lula yang sedang menjelaskan langkah selanjutnya. Setelah proses lepas jahitan ini, Selenia tidak perlu lagi datang ke klinik. Dia hanya perlu sering-sering mengoleskan cream yang Dokter Lula tuliskan di resep untuk menyamarkan bekas luka.
"Makasih Dok. Kami permisi," ucap Adam sebelum meninggalkan ruangan bersama Selenia.
"Sama-sama. Kalian hati-hati," jawab Dokter Lula penuh arti.
Sebelum menutup pintu, Selenia sempat melemparkan senyumnya pada Dokter Lula yang dibalas dengan acungan jempol. Di luar ruangan, ternyata Ayah Selenia sudah menunggu. Dia tengah berbincang dengan Renata.
"Nak, udah selesai?" Pak Fendi berdiri. "Maaf ya Ayah baru bisa datang, soalnya beberapa hari ini Ayah sibuk banget."
Selenia tersenyum. "Iya nggak pa-pa kok Yah. Lagian udah ada Adam juga."
"Gimana Sel?" Renata turut berdiri begitu melihat Selenia keluar dari ruangan Dokter Lula.
Selenia mengalihkan pandangannya pada Renata. "Udah dilepas semua jahitannya. Tinggal nebus obat aja di apotek. Antibiotik sama cream."
"Syukur lah kalau gitu."
"Ehm..." Adam menyela percakapan mereka. "Sayang, hari ini aku harus ke kantor lagi. Barusan Pak Anton telfon. Kamu aku anter pulang dulu nggak pa-pa ya?"
"Atau Selenia pulang sama Ayah aja? Biar Adam langsung ke kantor?" Pak Fendi menawarkan.
Selenia mengerucutkan bibirnya. "Nggak mau. Aku mau dianter sama Adam aja," rengeknya manja. Sekaligus dia sempet kecewa juga karena Adam harus ngantor. Padahal dia lagi pengen ditemenin suaminya hari ini.
Pak Fendi dan Renata sama-sama tersenyum melihat sikap Selenia pada Adam.
"Ya udah kalau begitu, Ayah nanti nyusul di belakang. Masih ada urusan dulu bentar," ujar Pak Fendi.
"Maaf sebelumnya," Renata menyela. "Karena saya belum bisa ngantor hari ini, saya juga mau pulang dulu."
"Ya udah sekalian bareng aja," usul Selenia. "Nggak pa-pa ya sayang..." dia mendongak meminta pendapat Adam.
"Oh Renata nggak bawa mobil?" tanya Pak Fendi. "Bagaimana kalau saya antar aja?"
"Oh nggak nggak nggak usah. Saya pesen taksi online aja. Sebelumnya terimakasih banyak Oom untuk tawaran baiknya," Renata menunduk sopan pada Pak Fendi kemudian mendekati Selenia. "Semoga lekas sembuh ya Sel," dia menepuk-nepuk pipi Selenia lembut. "Permisi Pak, Oom saya duluan."
Renata kemudian berlalu meninggalkan mereka bertiga dengan gontai.
"Lucu denger dia sebut kamu 'Pak'," celetuk Selenia.
Adam hanya mengerling dan mencium kepala Selenia sebelum mereka meninggalkan klinik. Hatinya cukup lega melihat pemandangan yang dilihatnya hari ini. Begitu juga dengan Pak Fendi. Tersirat kebahagiaan tersendiri di relung hatinya melihat kebersamaan Selenia dan Adam.
Anak kita sudah menemukan kebahagiaannya, Ma. Batinnya seraya menengadahkan wajahnya ke atas.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
...Like, comment & vote 🙏🏻😊...
__ADS_1