
Akhirnya Selenia dan Cia bertemu hari itu. Mereka nongkrong di mall sambil menikmati kebab. Tak ayal Cia langsung menodong Selenia dengan pertanyaan yang sempat menggantung di obrolan via telepon pagi tadi. Dengan santai, Selenia mengatakan kalau pagi ini dia mendapat vitamin K yang berarti Kecupan dari Adam sebagai penyambut paginya. Dan... tentu saja, Cia yang dasarnya Miss Heboh, hampir saja memekik seandainya tangan Selenia tidak dengan sigap menutup mulutnya.
"Ya santai aja kali Sel. Ini kan lagi nggak di sekolah. Jadi amaaan..." Cia menghentakkan tangan Selenia dari mulutnya.
"Tapi bukan berarti lo harus heboh juga oneng!" Selenia melotot. "Biasa aja kali..."
"Lo nyuruh gue buat bersikap biasa aja sama hal-hal yang luar biasa? No... no... no... BIG NO!" Cia menggigit kebabnya dan mengunyah dengan semangat.
"Hmmmh... lo selalu gitu. Itulah kenapa gue tuh males banget kalau mau curhat masalah rumah tangga gue sama lo di sekolah. Bisa gempar mendadak gara-gara kehebohan lo yang... errgghhh" Selenia menggeram.
"Eh tapi Sel..." Cia menggeser duduknya lebih dekat ke Selenia. Dia tidak menggubris kalimat protes yang keluar dari mulut sahabatnya itu. "Kalau gue endus, roman-romannya kalian berdua kayaknya mulai ada chemistry deh." dia memainkan bola matanya. "Sejak kapan lo buka hati?"
Selenia menoleh dan menatap Cia sinis. Tangannya menoyor kepala Cia pelan. "Udah kaya anjing pelacak aja lo endas-endus." gerutunya.
Cia tergelak. "Tapi bener kan? Lo suka kan dapat perlakuan itu dari Adam? Lo menikmatinya kan? Hayooo ngakuuu." godanya makin menjadi.
Selenia terdiam. Dia akui, dia memang mulai suka dan nyaman dengan semua perlakuan manis yang Adam berikan. Tapi berada di mall ini sekarang, membuatnya mendadak ingat dengan perempuan yang pernah dia temui di sini malam itu. Perempuan yang pernah terlihat akrab dengan Adam di sekolahnya.
"Ih kok malah bengong sih?" Cia mengibaskan tangannya di depan wajah Selenia. "Lo udah diapain aja selain dikecup, hayoloh..."
"Ci..." kata Selenia kemudian. Dia memutar tubuhnya menghadap ke arah Cia. "Lo masih inget nggak sama cewek yang pernah kita liat di sekolah? Yang dia jalan sama Adam?"
"Mmm...." Cia menggumam lama. Matanya menerawang ke atas tanda sedang mengingat sesuatu. "Kapan ya?"
"Itu yang pas kita dari toilet... di deket parkiran.. pas siang-siang..."
"Oooh... ya ya ya gue ingat." Cia mengacungkan telunjuknya. "Emang dia siapa?"
Selenia mengangkat bahu. "Gue juga nggak ngerti. Tapi gue pernah liat dia di mall ini pas tempo hari gue lagi jalan sama Adam."
"Terus? Kenapa?"
"Lo tahu nggak sih, ternyata dia udah punya anak. Anaknya masih kecil. Yah... mungkin sekitar 2 tahun lah umurnya."
__ADS_1
"Serius lo?" Cia melotot. "Dia sama suaminya juga?"
Selenia menggeleng.
"Ooh....." Cia tampak kembali tersenyum jahil. "Jadi maksudnya temen gue ini lagi jealous sama janda??"
"Ehh ssstt..." Selenia menepuk mulut Cia pelan. "Ati-ati kalo ngomong. Dari mana lo tahu dia janda? Sembarangan aja." gerutunya.
"Ya buktinya dia di mall cuma sama anaknya kan? Harusnya kalau dia punya suami, ya sama suaminya juga lah. Mana malem-malem lagi. Bawa anak kecil." sahut Cia tak mau kalah.
"Idih, siapa yang mengharuskan kaya gitu? Ya suka-suka dia lah mau pergi ke mana, sama siapa..."
"Nah terus apa hubungannya sama Adam?" celetuk Cia.
Mendengar celetukan itu, Selenia cuma menatap tajam ke Cia dan mengangkat alis. Ni anak mulus banget kalo ngeintrogasi orang, pikirnya. Tapi jauh di dalam hatinya, rasa khawatir itu ada di sana. Ada rasa takut di hati Selenia kalau Adam terlalu dekat dengan perempuan itu. Apalagi mereka satu rekan kerja. Bisa saja kan?
...🌺🌺🌺...
Adam menepati janjinya untuk makan siang bersama Renata. Renata bahkan sampai bela-belain meminjam dua piring dari Ibu Kantin untuk dirinya dan Adam. Dengan telaten dia menghidangkan nasi dan rendang daging buatannya.
"Udah-udah Ren... cukup..." ucap Adam saat Renata ingin menambahkan nasi di piringnya.
Renata tersenyum. "Dagingnya lagi ya Pak?" Dia menambahkan satu sendok rendang daging ke piring Adam.
"Kamu harusnya nggak perlu repot-repot gini lah Ren. Di kantin itu kan banyak menu makanan. Tinggal pilih." Adam mulai menyuap sesendok nasi dan rendang ke mulutnya.
"Iya... tapi kan nggak ada rendang di sini Pak."
Adam hanya tersenyum sambil menikmati makanannya. Dia sebenarnya risih dengan perlakuan Renata yang menurutnya berlebihan. Tak ayal, momen kebersamaan mereka saat jam makan siang itu menjadi pusat perhatian beberapa staff lain yang juga sedang makan di sana. Jadi sebisa mungkin Adam menghindari untuk tidak menatap ke arah mereka atau Renata lama-lama. Dia lebih memilih untuk menatap makanannya di atas piring. Mau bagaimana lagi? pengennya sih Adam menolak ajakan Renata itu, tapi dia tidak tega mengingat sekretarisnya itu sudah susah payah bela-belain bawain makanan untuknya.
Drrrtttt!
__ADS_1
Ponsel Adam bergetar di atas meja. Sebuah pop up pesan muncul dari layar. Adam melirik ponsel tersebut dan seketika tersenyum begitu tahu itu adalah pesan WhatsApp dari Selenia.
Renata mengernyitkan kening melihat ekspresi Adam yang tampak bahagia ketika membuka pesan tersebut.
Pesan itu berisi foto wefie Selenia dan Cia di mall yang dibubuhi tulisan...
Selenia: [Dam, ma'af ya aku jalan-jalan dulu sama Cia. Bosen banget di rumah.]
Adam: [Iya oke. Jangan pulang telat ya. Hati-hati 😘]
Selenia: [🙈🙈🙈. Okey]
Adam tidak bisa menahan senyum membaca pesan-pesan singkat tersebut. Sesuatu seperti membuncah di dadanya. Sementara itu Renata yang terus memperhatikan ekspresi bahagia itu hanya bisa penasaran tanpa berani menanyakan.
Pak Adam dapat pesan dari siapa ya? Kok kayaknya bahagia banget. Pertanyaan itu dia simpan sendiri di dalam hati.
...🌺🌺🌺...
"Hoaaaammmhhh....!! Mmmmmhhhhh...." Tony menguap, menggeliat dan berguling di atas tempat tidur. Dia membuka matanya perlahan dan mendapati kamarnya yang masih gelap. Kelambu dan jendela kamarnya sama sekali belum dibuka sepagian ini.
Dengan malas dia menyeret tubuhnya mendekati nakas dan mengambil ponsel. Sudah jam 1 siang? Gila. Kaya orang mati aja gue tidur hari ini, pikirnya.
Tony menegakkan tubuh dan mengecek isi ponsel. Pesan yang masuk kebanyakan dari teman mabarnya semalam yang pada nanya kenapa dia tiba-tiba out. Membaca pesan itu dia hanya tersenyum simpul dan memilih untuk tidak membalas. Jempolnya terus men-scroll kontak yang ada di ponselnya dan seketika berhenti di kontak nomor dengan nama Selenia. Dia mengklik display picture kontak tersebut dan menatap foto profilnya lama sekali.
Selenia yang sederhana tapi mampu mencuri tempat paling istimewa di hatinya. Ya, Tony menyukai Selenia. Tapi dia belum punya keberanian untuk mengutarakan perasaannya itu. Belum ataukah sama sekali tidak berani, dia tidak tahu. Tapi yang jelas, pemandangan kebersamaan Selenia dengan seseorang yang dia lihat di restoran beberapa malam lalu, membuatnya tidak yakin Selenia akan membalas perasaannya.
Tony mendengus pelan dan melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Dia benci setiap kali pikiran ini mulai merasuki otaknya.
"Arrghh!!" tubuh Tony kembali merosot dengan malas di atas tempat tidur. Dia kembali memejamkan mata dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Hari ini dia tidak ingin kemana-mana.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1