NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -122-


__ADS_3

Tak terasa waktu semakin berlalu. Selenia pun telah mendengar kabar tentang Lala yang sekarang agak dijauhi anak-anak di kelas karena sikapnya. Dan juga tentang anak-anak yang tidak lagi berpikir aneh-aneh pada Cia--yang dianggap juga menjadi simpanan Om-om gara-gara kehamilan Selenia yang terbongkar. Malah karena perbuatannya yang secara terang-terangan mempermalukan Selenia di depan kelas waktu itu justru membuat Lala kini menjadi sulit bergaul. Setiap kali dia ingin nimbrung buat bergosip, anak-anak langsung menghindar satu per satu. Dan itu benar-bener membuat Cia merasa sangat puas.


"Tau rasa deh Sel, puas banget gue sumpah!" seru Cia pada Selenia saat dia kembali mengunjungi sahabatnya itu di rumahnya.


Hari demi hari dilalui Selenia dengan penuh semangat mengikuti home schooling. Bu Fani, tidak lagi hanya menjadi sosok guru bagi Selenia. Tapi juga kakak sekaligus teman curcol. Usia keduanya yang hanya terpaut 8 tahun, membuat mereka terlihat seperti kakak-adik. Bu Fani juga menjadi tempat yang tepat untuk Selenia membagikan cerita kehamilannya. Meskipun, status Bu Fani sendiri masih belum menikah, tapi dia nyambung kalau diajak ngobrol. Selain menjadi pembimbing home schooling, tak jarang Selenia mengajak Bu Fani untuk menemaninya makan atau sekedar jalan-jalan keluar rumah untuk melepas penat. Selenia tidak pernah menyangka, akan menemukan partner sebaik dan sepengertian Bu Fani.


Cia sendiri masih suka datang ke rumah Selenia, meski hanya seminggu sekali. Waktu yang semakin dekat dengan hari ujian nasional, membuat mamanya melarang untuk sering-sering bepergian. Bahkan, disaat biasanya Bu Hilma--Mama Cia--tidak pernah ambil pusing jika Cia bepergian dan hang out bareng Marvin, kali ini aturannya diperketat. Cia dan Marvin hanya boleh jalan keluar setiap malam minggu saja. Beruntung Marvin bukan cowok yang over posessif, jadi dia bisa mengerti kondisi itu, dan lebih mengurangi jadwal apelnya ke rumah Cia.


Alhasil, Cia justru menumpahkan kekesalan itu pada Selenia. Dia merengek dan curhat kalau katanya sehari saja tidak melihat batang hidung pacarnya rasanya sudah kaya setahun.


"Dasar bucin!" ledek Selenia malam itu saat mereka ngobrol via telfon.


"Serius Sel.... gue rasanya kaya pengen cepet-cepet aja itu ujian nasionalnya dilaksanain, biar gue bisa bebas maen lagi sama dia," rengek Cia diujung telfon. "Kangen nikmati suasana malam sambil jalan-jalaaaaan....."


"Ye... emangnya lo udah persiapan?" Selenia mencibir. "Kalem aja kenapa sih, santaaaaii."


"Elo bisa kalem, enak... secara tiap hari ketemu, ngapain aja bisa bareng... nah gue??"


Selenia tergelak. "Jadi lo pengen kaya gue? Ya udah nikah sono."


"Ih ya nggak gitu juga kali. Duh, gue jadi badmood deh lama-lama kalau kaya gini terus. Errrgghhhh...!"


"Ya ampun Cia, ya udahlah nggak usah emosi. Nyokap lo ngelakuin itu juga demi siapa sih kalau bukan demi lo? Bukannya lo pengen masuk universitas keren itu? Syaratnya ya nilai lo harus bagus, dan buat dapat nilai bagus, syaratnya juga harus belajar sayang.... jangan pacaran teruuuss..." ujar Selenia panjang.


"Aahhh, lo lama-lama ngomongnya kaya Nyokap gue deh," Cia menggerutu. "Eh.. udahan dulu Sel, ini si Marvin nelfon gue, bye!"


Dan sambungan telfon langsung terputus. Selenia cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar kehebohan Cia barusan.


Dan memang begitulah kehebohan Cia yang hampir setiap malam menelfon hanya untuk menceritakan keluh kesahnya yang merasa hubungan pacarannya jadi kaya orang LDR. Dekat tapi nggak pernah bertemu.


Sementara Tony, semenjak pertemuan mereka di kafe beberapa waktu yang lalu, Selenia tidak tahu lagi kabar tentang anak itu. Terakhir kali chatting sekitar seminggu yang lalu, sekedar menanyakan kabar dan ngobrol biasa. Cia bilang, dia juga jarang bertemu Tony di sekolah. Karena memang hampir tidak ada waktu untuk bertemu. Setiap kelas memiliki kepadatan jadwal yang berbeda. Apalagi di masa-masa yang semakin mendekati hari ujian nasional, semua anak kelas 12 tidak memiliki waktu untuk bermain dan bersenang-senang di sekolah. Mereka semua memiliki kesibukan yang sama untuk mempersiapkan ujian nasional yang setiap tahun standar nilainya semakin naik.


...🌺🌺🌺...


Waktu yang dinanti pun tiba. Besok adalah hari pertama ujian nasional yang akan dihadapi Selenia di rumah. Tentunya dalam pengawasan Bu Fani juga. Adam bahkan sudah menyiapkan satu tempat khusus. Dia menyulap ruangan kosong di lantai bawah yang memang sebelumnya tidak pernah terpakai sama sekali, menjadi tempat yang nyaman untuk Selenia menjalani ujian nasional.


"Diminum dulu sayang," Adam membawakan segelas susu ke kamar Selenia. Selepas makan malam tadi, istrinya itu langsung ke kamar dan tidak keluar lagi sampai sekarang waktu menunjukkan hampir pukul 10 malam.


Selenia masih fokus dengan beberapa buku di mejanya, meski wajahnya sudah terlihat lelah.


"Ya ampun sayang, makasih ya," ucap Selenia dan langsung meneguk susu tersebut sampai setengah gelas.


Adam menarik kursi kosong dan menjajarkannya di sebelah Selenia. Dia mengamati buku-buku yang terbuka di atas meja belajar istrinya itu. Terdapat beberapa coretan menggunakan stabilo untuk menandai materi. Adam salut melihat kegigihan istrinya.


"Sayang, ini udah malem lho. Kamu nggak tidur?" Adam membelai rambut Selenia lembut.


"Bentar sayang, dikiiiit lagi," jawab Selenia tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari buku-buku.


"Tapi ini udah jam 10, dan kamu belajar udah dari jam setengah 8 tadi. Jangan dipaksain sayang, kamu lupa ada yang minta istirahat juga?" kini tangan Adam bergerak turun mengelus perut Selenia.


Selenia menoleh dan tersenyum sayu. "Iya ya, aku udah belajar 2 jam lebih," dia meregangkan kedua tangannya. "Capeeeek...."


"Sekarang istirahat ya," Adam membantu mengemasi buku-buku Selenia.


"Eh sayang bentar," tangan Selenia menahan tangan Adam yang mulai menumpuk beberapa bukunya. "Yang ini jangan dijadiin satu," dia menarik satu buku dan menyendirikannya di sudut meja.


Setelah semua buku selesai di kemas, dan Selenia menghabiskan susunya, dia segera menghempaskan tubuh ke tempat tidur, sementara Adam pergi ke dapur untuk mengembalikan gelas. Baik pikiran dan badannya terasa begitu letih. Efek perut yang semakin membesar kali ya, jadi untuk duduk terlalu lama, bawaannya pegel di tulang punggung.


Ya, kandungan Selenia sekarang sudah memasuki bulan ke 6. Dan tentunya dia tidak bisa lagi dengan leluasa mengenakan T-shirt atau baju yang pas body seperti yang biasa dia kenakan dulu. Kini dia lebih sering mengenakan piama atau baju-baju yang ukurannya lebih longgar.


"Sayang kamu tidur di sini ya," rengek Selenia manja saat Adam muncul lagi.


Beberapa malam ini mereka tidur terpisah karena Adam selalu lembur sampai hampir tengah malam. Kerjasamanya dengan client dari Kalimantan membuahkan hasil yang luar biasa dan berdampak dengan kenaikan traffic penjualan di perusahaannya.


"Iya sayang, aku tidur di sini," Adam tidak tega menolak permintaan Selenia, apalagi ditambah dengan geliat wajah yang menggemaskan seperti itu. "Tapi bentar ya, aku mau beresin surel dulu di laptop, 10 menit lagi aku ke sini," dia memutuskan untuk tidak lembur malam ini. Ada seseorang yang lebih membutuhkan keberadaannya yang tanpa sadar telah dia abaikan karena kesibukannya beberapa malam terakhir.


"Jangan lama-lama," celetuk Selenia manja saat Adam melangkah keluar kamar.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Paginya, Selenia baru saja selesai ngobrol dengan Bu Lisa melalui sambungan video call saat Adam menghampiri ke kamarnya. Mertuanya itu memberi semangat dan mendoakan agar ujian nasionalnya diberikan kelancaran. Setelah menyimpan ponselnya ke dalam laci nakas--meskipun ujian di rumah, Selenia dianjurkan untuk tetap mematuhi peraturan--dia mengikuti langkah suaminya yang akan membawanya ke satu ruangan.


"Aduh, aku deg-degan banget," ucap Selenia saat memasuki ruangan khusus yang sengaja dibuat Adam untuk tempat ujian.


"Gimana? Kamu suka sama ruangannya?" Adam memperhatikan sekeliling. "Maaf kalau belum perfect, karena harusnya aku cat ulang juga. Tapi..."


"Ini udah bagus kok Dam," sahut Selenia sembari tangannya meraba dinding. "Kok kamu bisa kepikiran sih buat ginian untuk aku?"


Adam tersenyum dan merangkul bahu Selenia. Mereka sama-sama mengamati ruangan berukuran 4x4 meter tersebut. Ruangan yang masih tampak luas karena hanya berisi satu set meja belajar dan satu almari berukuran besar di sudutnya.


"Apa sih yang enggak buat kamu sayang?" Adam mengecup kepala Selenia. "Dan nanti, kalau anak kita udah lahir, aku ada hadiah spesial banget buat kamu," dia mengelus perut Selenia.


"Wah... apa itu Dam?" mendengar kata hadiah membuat mata Selenia berbinar.


"Kejutan dong. Kalau aku bilang sekarang, nggak asyik lah."


Selenia menggembungkan pipi sekaligus mengerucutkan bibir.


"Ya udah, aku mau berangkat kerja dulu, kamu yang fokus kerjain ujiannya," Adam mentowel hidung Selenia.


Selenia memutar tubuh menghadap ke Adam dan merapatkan tubuhnya.


"Siap bos!" tegas Selenia sembari tersenyum centil.


Senyuman centil yang membuat hati Adam jadi tak karuan. Dia menunduk menatap lurus mata istrinya yang memancarkan tatapan bahagia. Ah, semoga saja Selenia memang bahagia menjadi istrinya.


"Gak ada morning kisses ya," bisik Adam. "Takut bikin kamu gak fokus nanti," godanya nakal.


Selenia mencubit pinggang Adam gemas. "Iiihh... pelit..." bibirnya memberengut.


"Auuhh..." Adam berjingkat mundur. "Malah ngatain pelit," dia mendekatkan wajahnya ke wajah Selenia tapi tidak menciumnya.


Jarak wajah mereka hanya berkisar satu senti. Kening Selenia mengerut karena Adam tak melakukan apapun kecuali hanya menatapnya dengan jarak sedekat itu. Hanya hembusan nafas segar dari mulut mereka yang beradu.


"Makasiiiiiiihhhh...." ucap Selenia manja.


Tak lama kemudian terdengar deru mesin motor memasuki halaman rumah mereka.


"Nah, itu Bu Fani udah datang," Adam merapihkan jasnya. "Good luck sayang," dia mengecup kening Selenia lalu keluar ruangan.


"Thaaathaaaa..." Selenia melambaikan tangannya dengan centil.


...🌺🌺🌺...


HARI PERTAMA UJIAN NASIONAL, DONE!


Selenia mampu menggerjakan seluruh soal tepat waktu, tanpa kendala apapun.


HARI KEDUA UJIAN NASIONAL, DONE!


Masih dengan semangat yang sama, Selenia bisa menyelesaikan seluruh soal dengan tepat waktu.


HARI KETIGA UJIAN NASIONAL, DONE!


Ada sedikit kendala. Di tengah-tengah dia mengerjakan soal. Selenia tiba-tiba merasa kepalanya pusing. Jadi Bu Fani harus menjeda waktunya sejenak. Namun Selenia tetap berhasil menyelesaikan ujiannya meski harus menambah waktu 20 menit.


HARI KEEMPAT UJIAN NASIONAL, DONE!


HARI KELIMA UJIAN NASIONAL, DONE!


Selenia yang selama beberapa hari bekerja keras untuk mendapatkan nilai bagus--belajar sampai larut malam, membuat kondisi fisiknya sedikit lemah. Apalagi dia sedang dalam keadaan hamil. Mulai terjadi pembengkakan di area kaki dan itu membuat Adam khawatir. Namun saat diperiksakan di klinik, Dokter Indari mengatakan kalau itu adalah hal wajar yang terjadi pada Ibu hamil, apalagi di usia kandungan yang semakin tua. Beliau hanya menyarankan supaya Selenia istirahat cukup, makan teratur, dan tidak boleh stress.


Sampai akhirnya ujian nasional pun berakhir di hari ke 6, yang langsung membuat Selenia menarik nafas lega setelah berhasil menyelesaikan semua soal-soal.


"Makasih ya Bu Fani..... selama ini udah bimbing aku, telaten dan sabar ngajarin aku," Selenia memeluk hangat guru pembimbing home schoolingnya itu dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak mengira kebersamaannya dengan Bu Fani secepat itu akan segera berlalu.

__ADS_1


"Pokoknya meskipun aku nanti udah nggak home schooling lagi, Ibu jangan pernah sungkan untuk datang ke sini lagi ya."


"Iya Sel," Bu Fani mengusap-usap punggung Selenia penuh kasih. "Ibu seneng banget, punya murid yang memiliki semangat membara seperti kamu ini." dia melepas pelukan Selenia dan mengelus perutnya pelan


"Jaga kesehatan, usia kandungan kamu kan semakin bertambah, jangan terlalu capek. Sekarang kan kamu udah bebas. Jangan belajar sampai larut malam lagi... harus cukup istirahat demi dia... ya..."


Selenia mengangguk. Dia tersenyum haru dan mengusap air matanya. Dia sangat bersyukur mendapat guru pembimbing sebaik Bu Fani. Sosok yang bisa membuat hari-harinya menjadi mudah, selain Adam.


...🌺🌺🌺...


Selenia selonjor cantik sambil menikmati sekaleng keripik, sementara Adam duduk di depan ujung kakinya, memijiti kaki itu dengan sabar. Malam ini akhirnya dia bisa menghirup udara kebebasan tanpa harus berhadapan dengan buku dan mengkhawatirkan materi besok bagaimana.


"Auh...!!" Selenia melonjak kaget saat Adam menggoda dengan menggelitiki telapak kakinya. "Geli... Dam..."


Adam terkikik. Dia menahan kaki yang coba Selenia tarik dari genggamannya.


"Ih awas!" Selenia melotot menunjuk Adam. "Jangan gelitikin... aku tu nggak bisa diginiin..." rengeknya.


"Iya sayang enggak lho... iya ini aku pijitin lagi..." Adam kembali memijiti kaki Selenia meski sesekali masih menggelitiki kaki itu.


"Iiihh Adaaaam..." Selenia melempar sekeping keripik ke Adam tapi berhasil dihindari.


"Eh nggak boleh buang-buang makanan. Mubazir, dosa."


"Ya makanya jangan gelitikin kaki aku."


Mereka menikmati kebersamaan itu sambil ngobrolin banyak hal.


"Sambil nunggu pengumuman, kamu pengen kita jalan kemana sayang?"


"Mmmm..." Selenia menggumam. Dia sama sekali belum punya planning untuk bepergian. "Kemana ya?"


"Kamu nggak pengen belanja barang-barangnya si baby?"


Mendengar pertanyaan itu, mata Selenia berbinar dan dia reflek menarik kakinya yang masih dipijit oleh Adam.


"Nahh!! Ide bagus!!" jawabnya antusias. "Aaa mauuuuu... kapaaaan??" beberapa kali Selenia memang pernah melihat-lihat barang kebutuhan bayi di aplikasi online shopping. Tapi dia sama sekali belum punya pikiran untuk membelinya saat itu.


Adam tertawa geli melihat ekspresi Selenia.


"Terserah kamu kapan. Aku sih nurut aja."


"Gimana kalau besok?"


"Boleh. Sore tapi ya, sepulang aku dari kantor."


Selenia mencibir. "Hmmm... katanya terserah aku... katanya mau nuruuuuttt..."


"Ya... maksudnya... ya jangan pagi juga dong sayang. Enakan sore waktunya lebih longgar."


Selenia menatap Adam dengan tampang pura-pura kesal. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Jangan marah dong sayang," kata Adam memohon. Dia khawatir Selenia kecewa. "Iya deh iya... aku nurut kamu aja. Mau pagi? siang? sore? malem atau tengah malem sekalian, iya ayo aja."


Melihat wajah Adam yang memelas disertai kalimat-kalimat bernada pasrah itu, membuat Selenia tak kuasa menahan tawa.


"Hahaha... ya kali aku mau ngajakin belanja tengah malam..." Selenia terbahak. "Sore aja, sepulangnya kamu dari kantor."


Kini giliran Adam yang menatap Selenia dengan tatapan gemas. Dengan sigap, dia langsung menerkam tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya dan menciumi wajahnya berkali-kali.


"Ihhh gemesss gemesss gemesss gemessss....! Anak siapa sihhh??!!" serbu Adam, membuat Selenia tergelak dan meronta.


"Adam, au... iiih... nan...ti... ada bi..bik..." ucap Selenia kwalahan menerima ciuman bertubi-tubi itu. "Lep...phaaas..."


Yang tanpa mereka berdua sadari, kebersamaan itu telah disaksikan Bi Iyah dari ambang pintu ruang makan dengan senyum bahagia.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2