
Semalam Adam tidak menemani Selenia tidur di kamarnya karena dia harus mengerjakan pekerjaan kantor yang terbengkalai sejak siang kemarin di kamarnya sendiri. Dan pagi ini saat dia membuka mata dan membaca pesan mengejutkan dari Renata, dia langsung berlari ke kamar Selenia.
Adam baru saja akan mengetuk pintu saat pintu itu justru tertarik dari dalam. Selenia dengan pakaian seragam lengkap dan sudah rapi siap berangkat terkejut mendapati suaminya yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah cemas.
"Sayang, kamu udah cek ponsel kamu? Kamu nggak denger kabar apa-apa?"
Selenia menggeleng. Bangun tidur tadi dia cuma mematikan alarm dan langsung bersiap. Memang tadi dia sempat melihat ada poo up pesan masuk dari Cia yang sengaja diabaikan. Anak itu kan memang alarm kedua Selenia setiap pagi. Atau paling pesan-pesan konyol yang kadang juga mengingatkan jadwal minum susu bumil lah, vitamin lah. Paling pol berisi Aku tunggu di tempat biasa loh... cepet nggak pake lama! Seperti itu.
"Ada apa sih emangnya?" Selenia merogoh ponsel dari dalam tas dan memeriksnya. Seketika matanya membelalak membaca pesan dari Cia yang tak seperti biasanya. Dia mengabarkan kalau semalam Bu Riska meninggal dunia.
"Innalillahi...." Selenia membekap mulutnya. "Dam, kita harus ke rumah sakit? Atau ke rumah Tony?" Selenia menjadi sangat gugup karenanya.
"Tenang sayang... tenang, kamu jangan gugup. Ini aku tanya dulu sama Renata, apakah jenazahnya masih di rumah sakit atau udah di rumah ya. Tunggu sebentar," Adam menyandarkan tubuh di pinggiran pintu dan mulai menelfon.
Selenia menunggu di ambang pintunya dengan wajah cemas. Matanya berkaca-kaca seolah ikut merasakan kesedihan Tony. Baru kemarin anak itu bilang kalau dia ingin sekali menikmati pergantian tahun bersama Mamanya--setelah 10 tahun lebih tidak pernah melewatinya bersama Bu Riska. Bagaimana keadaan dia sekarang?
Setelah selesai menelfon, Adam kembali menghampiri Selenia. "Kita ke runah Tony sayang, atau kamu mau sekolah?"
"Enggak lah. Aku nggak sekolah. Aku ikut ke rumah Tony. Aku ganti pakaian dulu ya," Selenia kembali berbalik ke kamarnya.
...🌺🌺🌺...
Rumah besar bercat putih bersih itu terlihat mulai ramai didatangi orang. Beberapa kursi ditata rapi untuk tempat duduk orang-orang yang akan melayat di sana. Setelah memarkirkan mobil di halamannya yang luas, berjajar dengan beberapa mobil lain milik para tamu, Adam dan Selenia berjalan mengikuti arus orang-orang yang memasuki rumah besar milik Pak Anton tersebut.
Terdengar lantunan ayat suci yang disuarakan oleh beberapa pelayat yang duduk mengelilingi jenazah Bu Riska di ruang tamu yang luas itu--anak-anak yang biasa berkumpul di basecamp (teman mabar Tony) juga ada di sini. Tampak juga Pak Anton dan Tony duduk berjajar, bersimpuh di samping kanan jenazah.
Adam mengajak Selenia duduk di belakang para pelayat tak jauh dari posisi jenazah. Dari sana, Selenia bisa melihat betapa sedihnya Tony. Anak itu terus menunduk dan sesekali mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Sementara itu Pak Anton tampak berusaha untuk lebih tegar. Sesekali dia merangkul dan mengusap-usap punggung Tony. Benar-benar pemandangan yang menyedihkan di mata Selenia. Selenia menunduk, menyeka air mata yang tiba-tiba menetes.
Tak lama kemudian Selenia melihat Cia dan Marvin masuk, lalu disusul Renata dan beberapa karyawan Pak Anton. Cia melambai sedikit ke arah Selenia, dan dibalas anggukan olehnya.
Setelah disemayamkan selama kurang lebih satu jam, tiba saatnya jenazah akan dikebumikan. Orang-orang yang tadinya berkumpul di ruang tamu mulai berpamitan. Mereka memberikan ucapan, do'a dan support untuk Tony dan Pak Anton.
Sementara itu, sebagian dari pelayat memilih tinggal untuk mengantarkan sampai ke pemakaman--tak terkecuali Adam, Selenia, Cia dan Marvin.
Di luar rumah, saat jenazah mulai dipamitkan oleh tetua kompleks, tatapan Selenia tak sengaja bertemu dengan Lala yang berada di deretan para pelayat dari SMA Bhakti Nusa. Teman sekelas Tony semua hadir, sementara kelas lain hanya diwakilkan oleh dua orang murid--kelas Selenia diwakili oleh Lala dan Fenti.
Lala menatap antusias ke Selenia yang saat itu berdiri tepat di samping Adam yang merangkul pundaknya. Matanya menyipit dan bibirnya tersenyum sinis seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat penting.
Perlahan, Selenia menurunkan tangan Adam dari pundaknya. Namun Adam justru kembali merangkul dan memberikan senyuman manis. Dan saat itu Selenia melihat Lala mulai berbisik-bisik dengan Fenti.
...🌺🌺🌺...
Proses pemakaman selesai. Satu per satu para pelayat pergi meninggalkan Pak Anton dan Tony yang masih ingin berada di sana. Selenia, Adam, Cia, Marvin, Renata dan Bu Fatma juga masih ada di sana.
Tony jongkok di samping pusara Bu Riska sembari tangannya memegang nisan dengan tulisan Riska binti Mahmud. Dia tidak lagi menangis, tapi hatinya tampak sangat terluka.
Masih tergambar jelas bagaimana semalam tiba-tiba kondisi Bu Riska yang collapse hingga akhirnya tidak bisa tertolong lagi. Tidak ada yang salah dalam setiap kematian karena semua adalah takdir Tuhan. Tapi bagi Tony, kedatangan Bu Fatma ke rumah sakit semalam dia anggap menjadi penyebab kematian Mamanya. Mungkin saja Mamanya mendengar suara tantenya yang keras dan itu membuat kondisi Mamanya langsung drop total. Meskipum sebelumnya Dokter telah menyarankan pada Bu Riska untuk melakukan donor sumsum tulang belakang, tapi kondisinya tidak seburuk semalam. Kemarin sore dia bahkan masih bisa berbicara dan makan walau sedikit.
Wajah Tony terangkat dan tatapannya langsung terarah pada Bu Fatma yang berdiri di sebelah Pak Anton.
"Tante Puas?!! hah?!!! Tante puas sudah bikin Mamaku collapse terus meninggal?!!" teriak Tony tanpa ampun.
Hal itu membuat semua orang yang ada di sekitar kaget. Tony mendorong Bu Fatma sampai membuat perempuan paruh baya itu terjengkang ke belakang.
"Tony!!" Pak Anton berteriak dan menahan lengan Tony.
Sementara Selenia, Cia dan Renata dengan cekatan langsung menolong Bu Fatma.
Tony menangis dengan tangan yang masih dicengkeram Papanya. "Kamu orang jahat! Mulut tante jahat!"
"Ton... sabar Tony... tahan emosi kamu..." Adam menghampiri dan turut menenangkan.
"Ini takdir Tony... jangan nilai tante seperti itu..." Bu Fatma terisak.
Tapi Tony langsung melengos demi melihat tangisan itu. Dia menghentakkan tangannya dan segera berlalu meninggalkan pemakaman.
"Tony... tunggu nak...!" teriak Bu Fatma mengejar Tony.
Renata baru saja akan mengikuti Bu Fatma tapi segera ditahan oleh Pak Anton.
__ADS_1
"Jangan Ren, ini masalah keluarga kami. Biarkan kami menyelesaikannya sendiri. Terimakasih karena kalian sudah sudi datang ke pemakaman Mamanya Tony," Pak Anton menatap semuanya satu per satu. "Sekarang lebih baik kita semua pulang."
...🌺🌺🌺...
Malam itu, Selenia berdiri termenung sendirian di balkon kamarnya. Matanya menatap lurus ke arah rintik hujan yang turun. Sejak sore tadi langit memang mendung, menjadikan suasana malam begitu sunyi dan hening. Entah kenapa, malam ini Selenia jadi memikirkan Tony. Bagaimana keadaan dia sekarang? Kenapa di pemakaman tadi dia tampak sangat marah sekali pada Tantenya?
"Serius banget," sebuah dekapan menyergap tubuh mungilnya, membuat Selenia tersentak. Siapa lagi kalau bukan Adam. Tangannya yang kekar membuat siapapun akan merasa nyaman berada di dalam dekapan itu. Tapi tentu saja Selenia tidak akan membiarkan Adam mendekap perempuan lain selain dirinya seperti ini.
Selenia menghela nafas karena dekapan itu terlalu erat. Adam pun merenggangkan dekapannya.
"Kamu mikir apa sayang?" tanya Adam tepat di telinga Selenia.
"Aku kasihan sama Tony, Dam," jawab Selenia datar. Matanya masih menatap lurus ke depan.
Adam memiringkan kepal, berusaha melihat ekspresi wajah Selenia seperti apa. Dia tidak merasa cemburu dengan kalimat itu.
"Kenapa kamu kasihan sama dia?"
"Tony baru saja bertemu kembali dengan mamanya setelah hampir sepuluh tahun berpisah, berusaha bisa kembali menerima keberadaannya, tapi sekarang mereka harus kembali dipisahkan untuk selama-lamanya."
"Sayang... itu namanya takdir. Jodoh, rezeki dan maut itu sudah digariskan oleh Tuhan semenjak kita masih di dalam kandungan kan?"
"Iya, aku ngerti. Tapi tidak semua takdir bisa diterima dengan lapang dada. Aku tahu ini pasti berat banget buat Tony."
"Siapapun akan merasa sedih dan berat jika dia kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya sayang," Adam mempererat dekapannya. "Tapi, itulah yang namanya kehidupan, life must go on with or without them. Aku tahu, menjalaninya tidak semudah membaliklan telapak tangan, itulah kenapa... kamu, Cia, Marvin dan yang lainnya sebagai teman Tony, harus bisa membuat dia kembali seperti sedia kala. Ceria, bahagia."
Selenia memutar tubuhnya menghadap ke Adam.
"Kamu serius, aku boleh ngelakuin itu?"
"Ngelakuin yang mana?"
"Yang seperti kamu bilang barusan. Membuat Tony kembali seperti sedia kala."
Kening Adam mengerut. "Why not?"
"Hmmmpfffhhh..." Adam menggeleng. Tony memang pernah bersitegang dengannya, tapi itu sudah menjadi masa lalu. Bagaimanapun anak itu sudah berjasa pada keselamatan hidupnya karena sudah dengan sukarela mendonorkan darahnya.
Wajah Selenia menegak. Adam nggak cemburu?
"Karena aku tahu, ini...." Adam menunjuk dada Selenia. "...sudah menjadi milikku."
"Masa???" Selenia nyengir jahil. "Gombal ah," godanya.
Adam pura-pura memberengut. "Tuh kan, kamunya malah begitu..."
Selenia terkekeh. "Uuuuwwwww..... maaf...." ucapnya manja. "Iya, kamu benar. I was taken by youuu!" Selenia melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Adam dan mengunci dengan jari jemarinya. "Aku sayang banget sama kamu. Bangett... bangett!!"
Bahagia rasanya hati Adam mendengar pengakuan itu. Dia membalas pelukan Selenia lebih erat lagi.
Nyaman sekali rasanya berada di pelukan Adam. Tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Selenia kalau dia akan memiliki laki-laki sesempurna ini sebagai suaminya.
Terimakasih Mama, terimakasih Tuhan.
...🌺🌺🌺...
Beberapa hari kemudian....
Ini adalah hari penutup tahun. Semua orang bersuka cita menyambut pergantian tahun malam nanti. Semua sibuk dan heboh membicarakan rencananya masing-masing. Tak terkecuali di kelas Selenia. Khusus untuk hari ini, pelajaran ditiadakan.
"Entar malem kemana kita?"
"Gue sih ada acara sama keluarga, biasa bbq-an."
"Mabar sampai pagi...!"
"Nongkrong lah..."
"Yang hari ini masih jomblo, apa nggak ada planning tuh tahun baru punya pasangan gitu?"
__ADS_1
"Hahahaha...!!"
Begitulah kehebohan percakapan di kelas.
Lala yang biasanya sibuk memperhatikan Selenia, sejenak melupakan aktivitasnya yang itu dan turut berisik dengan topik lain. Dengan heboh dia membicarakan rencana menyambut pergantian tahun dengan gangnya.
Cia dan Selenia hanya saling pandang menatap kecentilan teman sekelas mereka itu. Lala terkesan menonjolkan diri seolah-olah dia adalah orang yang memiliki rencana paling matang untuk menyambut pergantian tahun nanti malam.
"Kantin yuk Sel," ajak Cia karena tidak tahan dengan suasan bising di kelas. Biasa lah, kelakuan anak-anak di saat jam pelajaran kosong--sudah mirip seperti di pasar.
Selenia setuju, dan mereka berdua pergi ke kantin. Saat melewati ruang musik, tak sengaja mereka melihat seseorang tengah duduk merenung di tepi jendela. Dia Tony. Semenjak kematian mamanya, anak itu terlihat jauh lebih murung. Dia juga tidak pernah lagi bergabung main basket dengan teman-temannya atau bahkan nongkrong di basecamp. Waktunya lebih sering dia habiskan di dalam kamar di rumahnya dan di ruang musik ini ketika di sekolah.
Selenia dan Cia sama-sama menghentikan langkah. Mereka memiliki pikiran yang sama untuk menghampiri Tony, tapi...
"Nggak ah," Cia menggeleng. "Dia kayaknya emang lagi nggak mau diganggu Sel."
Tapi Selenia kemudian ingat pesan Adam, yang meminta supaya dia bisa membuat keadaan Tony seperti dulu--yang selalu ceria dan bahagia. Meskipun Selenia juga tidak yakin apakah dia bisa, tapi nggak ada salahnya kan mencoba?
"Ayolah Ci, kasihan... kali aja kalau kita ajakin ngobrol suasana hatinya bisa jauh lebih baik."
Cia memandang Tony dan Selenia bergantian. Kemudian tanpa berpikir lama lagi, Cia menyetujui dan mereka masuk ke ruang musik.
"Hei Ton," sapa Selenia.
Tony menoleh dan beringsut. "Oh, kalian... hei..."
"Kamu sendirian aja?" tanya Cia basa-basi.
Tony mengangkat bahu. "Seperti yang kalian lihat."
"Ke kantin yuk," ajak Selenia kemudian.
"Hhh... enggak Sel. Aku pengen di sini aja kok," Tony kembali beringsut menatap keluar jendela.
Selenia dan Cia berpandangan.
"Aku tahu kamu masih berduka, tapi kamu nggak bisa seperti ini terus Ton," Selenia berbicara dengan hati-hati.
"Iya Ton. Kehidupan kamu harus tetap berjalan seperti biasanya," sambung Cia. "Percaya deh, mama kamu pasti udah bahagia di sana. Setidaknya, di hari terakhir beliau, kamu, anak yang sangat dia sayangi selalu berada di sisinya."
Selenia tersenyum bangga mendengar kalimat Cia. Anak ini kadang bisa jadi sangat bijak dibalik tingkahnya yang kocak.
Tony tersenyum getir. "Makasih ya buat support kalian. Tapi maaf, aku masih pengen sendiri aja."
Selenia dan Cia kembali saling tatap. Baru sekarang mereka melihat Tony seputus asa ini. Tapi Selenia bisa memakluminya. Dia pernah berada di posisi itu--ditinggal pergi oleh seorang Ibu untuk selama-lamanya. Dan itu adalah patah hati terbesar yang dia rasakan dalam hidupnya. Jangankan Tony yang belum ada seminggu merasakan kehilangan itu. Selenia yang sudah melewatinya hampir setahun saja masih suka bersedih.
Ditambah lagi, malam nanti adalah malam pergantian tahun yang sangat-sangat dinanti oleh Tony--yang seharusnya bisa dia rayakan bersama mamanya. Itulah kenapa Selenia tidak mau menyinggung soal rencana malam nanti di depan Tony.
Selenia menepuk bahu Tony dan meremasnya pelan.
"It's okay kalau kamu masih pengen sendiri. Tapi aku harap, kamu jangan terlalu larut dengan kesedihan kamu. Disini banyak yang peduli dan sayang sama kamu Ton. Ada aku, Cia, Marvin dan teman-teman mabar kamu," ujar Selenia. "Kamu nggak sendirian, here we all for you. Iya kan Ci?"
Cia mengangguk cepat. "Bener banget. Kamu nggak sendirian Ton."
"Thank you so much ya."
"Kalau gitu, kita ke kantin dulu ya," kata Selenia. Tony mengangguk.
Saat Selenia dan Cia berjalan keluar, Tony hanya memandangi langkah itu sampai mereka menghilang di balik pintu.
Di sini banyak yang sayang sama kamu.... ada aku....
Here we all for you...
Andai saja kata-kata itu terucap dengan ungkapan dan makna yang lain. Tony menggeleng-gelengkan kepalanya. Mikir apa lagi sih kamu?
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1