NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -97-


__ADS_3

"Kamu sudah siap sayang?" ucap Adam menyapa Selenia yang baru saja keluar dari kamar sembari mengulurkan tangan. Dia sengaja menunggu di luar dan tidak mengetuk pintu karena tahu istrinya itu pasti sedang merias diri di dalam sana.


Dan benar saja, saat keluar Selenia terlihat cantik dan anggun dengan balutan dress model A-line berwarna maroon yang dilengkapi belt coklat susu untuk mempertegas bentuk pinggangnya.


"Kamu?" Selenia menyambut uluran tangan Adam yang langsung digenggam erat olehnya. Dia terkesiap melihat penampilan Adam malam ini.


Adam terlihat sangat menawan dan elegant dengan setelan celana formal berwarna hitam dan kemeja yang berwarna senada dengan gaun milik Selenia, yang kemudian diaplikasikan dengan blazer berwarna hitam sebagai outer.


"Siap!" ujar Adam mantap. "Yuk," ajaknya.


Mereka kemudian berjalan beriringan menuruni tangga. Di bawah, Bi Iyah sudah menunggu dengan wajah ceria dan hati berbunga-bunga.


"Ya ampun, Non Selenia cantik banget. Ayuuuu banget," puji Bi Iyah dengan pandangan takjub ke arah Selenia.


"Terimakasih Bik," balas Selenia lembut. "Ya udah, kita berangkat dulu ya Bik. Bibik nggak usah nunggu kita, karena kita mungkin pulangnya malam. Iya kan sayang?" dia mendongak menatap Adam.


Wajah Adam seolah merekah demi mendengar panggilan sayang dari Selenia. Jarang-jarang istrinya itu memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Iya sayang," dia melempar senyum manisnya ke arah Selenia. "Kita bawa kunci duplikat bik, jadi nanti kalau kita pulang kemaleman, kita bisa buka pintu sendiri."


Bi Iyah manggut-manggut. "Ya sudah, Bibik cuma bisa mengucapkan selamat ulang tahun untuk Pak Adam. Semoga dengan bertambahnya usia bapak ini, apa yang bapak harapkan dan cita-citakan dapat terwujud semuanya."


Adam dan Selenia sama-sama tersenyum.


"Terimakasih untuk ucapannya Bik. Doa baik, kembali ke Bi Iyah juga ya. Terimakasih karena selalu ada untuk keluarga kita."


"Ya udah yuk berangkat sayang. Keburu malam." ajak Selenia lembut. "Daaa bibik... met malem..." dia melambai sembari melangkah keluar dengan menggandeng tangan Adam.


...🌺🌺🌺...


Cia: [have a good dinner ya sayangkuh. i hope surprisenya lancarrrr kaya jalan tol. Promise me, kamu will ceritain ke aku besok. Okay.... love you... 😘]


Selenia tersenyum membaca pesan dari Cia. Dia dan Adam masih berada di dalam mobil, menyusuri jalanan Ibu Kota di malam hari menuju Carlos DS cafe. Alunan lagu romantis mengiringi perjalanan mereka, membuat suasana semakin syahdu.


"Ponselnya di simpan dulu dong sayang," komentar Adam sembari fokus mengemudi.


"Ini Cia sayang. Dia kan yang bantuin aku nyiapin semuanya. Jadi dia penasaran dan nggak sabar buat nunggu ceritanya besok di sekolah."


"Oh ya?" Adam menoleh sekilas. "Wah, berarti aku juga harus ngucapin terimakasih ke dia nih?"


"Uhhhhmmm.... maybe..."


Adam menggenggam tangan Selenia dan meremasnya lembut. Mereka saling lirik dan kemudian sama-sama tersenyum. Jantung Selenia sudah berdebar nggak karuan menanti momen itu tiba. Dia lalu melonggarkan seat beltnya, menggamit lengan kekar itu dan menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Adam. Khusus untuk malam ini, dia memperbolehkan suaminya itu memakai parfum lamanya, meski dia harus menahan diri untuk tidak merasa mual dengan aromanya. Karena nggak lucu kan, di momen romantis seperti ini tetap memaksa dia memakai parfum bayi?


Setibanya di Carlos, Adam tidak langsung mengajak Selenia keluar. Dia hanya melonggarkan seat beltnya dan beringsut menghadap ke Selenia.


"Sayang...." Adam menggenggam kedua tangan Selenia dan menciumnya beberapa kali. "Kamu mau kasih aku surprise apa sih? Aku udah penasaran loh."


"Hmmmm.... ya nggak bisa gitu dong. Kita harus dinner dulu. Nanti, kamu bakalan lihat surprisenya apa."


"Nggak bisa minta bocoran dikit aja?" Adam menggoda.


"Ihhh ya nggak boleh dong. Ya udah yuk kita masuk," ajak Selenia tak sabar.


Suasana Carlos kafe lumayan ramai oleh pengunjung. Tapi Selenia tidak khawatir karena tempat yang sudah dia booking pasti tidak akan seramai ini. Di dalam tempat VIP itu hanya ada dua kursi dan satu meja, khusus untuk dirinya dan Adam.


Alunan musik romantis menyambut mereka saat baru saja melangkahkan kaki memasuki pintu. Baik Adam maupun Selenia memandang takjub ke sekeliling ruangan yang sudah diatur begitu cantik dan menguarkan nuansa romantis. Di pikiran Adam, dia sama sekali tidak menyangka istrinya yang masih ABG itu akan mempersiapkan semua ini khusus untuknya di hari ulang tahun kali ini. Sementara di pikiran Selenia, dia sangat puas dengan tatanan dan dekorasi ruangan VIP yang sangat jauh dari ekspektasinya. Luar biasa!


Adam merangkul pinggang Selenia erat dan mencium pipinya lembut sebelum duduk. Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan menghidangkan satu per satu makanan dan minuman yang juga telah dipesan Selenia di hari dia membooking ruangan ini. Tak lupa juga terhidang kue ulang tahun dengan desain cantik dan lilin angka nomor 31 di atasnya.


Saat melihat angka di atas kue ulang tahun tersebut, Adam mengatupkan bibir menahan senyum sembari menatap wajah Selenia.


"Kenapa?" tanya Selenia.


Adam menunjuk angka 31 itu dan menutup mulutnya.

__ADS_1


Selenia tahu apa maksud Adam. Dia merasa dirinya semakin tua, dan menyadari istrinya masih sangat muda. Begitu kan? Hihihi. Jadi Selenia cuma merespon dengan gaya menggigit bibir centil.


Selenia meminta seorang pelayan untuk menyalakan lilin di atas kue ulang tahun. Setelah semua siap, dan beberapa pelayan meninggalkan ruangan, Selenia meraih tangan Adam dan menggenggamnya lembut.


"Sayang, selamat ulang tahun ya. Semoga kamu selalu beruntung dalam segala hal, selalu diberikan kesehatan, panjang umur, kamu bisa selalu ada buat aku, dan kita akan membangun keluarga kecil kita bersama-sama," mata Selenia tampak mulai berkaca-kaca. "Maafin aku ya, kalau selama ini aku belum bisa jadi seperti yang kamu inginkan. Tapi aku akan selalu berusaha...."


"Ssshhhhh...." Adam menyeka air mata yang menitik di pipi Selenia menggunakan jempolnya. "Sayang... udah. Kita ke sini mau happy, enjoy.... jangan nangis dong. Perlu kamu tahu, aku nggak pernah nuntut kamu lebih. Cukup kamu tetap jadi diri kamu sendiri dan.... don't ever leave me...." bisik Adam lembut. "Kamu itu separuh jiwaku, kamu berarti banget buatku, and I feel so blessed to have you. You are my everything," ucapnya penuh makna.


Kalimat itu justru semakin membuat hati Selenia bergetar haru. Dia tidak bisa membendung air mata bahagianya sampai Adam menyodorkan tissue padanya. Selenia mengambil tissue tersebut dan menyeka air matanya.


"I'll never leave you alone. We will be together forever," balas Selenia di sela-sela isakan tangis bahagianya. "Aku juga beruntung memiliki suami seperti kamu, yang bisa ngertiin aku banyak hal."


Adam tersenyum manis. "Terimakasih untuk semua yang istimewa ini ya sayang. I was surprised.... kamu benar-benar keren," dia menatap sekeliling ruangan dengan senyum lebar.


"No," Selenia menggeleng. "Aku masih ada surprise lagi buat kamu. Tapi....." dia menggantung kalimatnya dan menatap Adam lama.


"Tapi??"


"Kamu make a wish dulu sebelum tiup lilin," Selenia mendekatkan kue ulang tahun ke Adam. "Dan kita makan dulu.... aku udah laper," bisiknya lucu sembari memegangi perutnya.


"Hmmmppfffhhhhh..., oke sayang," Adam memejamkan mata dan menyatukan kedua tangan untuk berdoa. Kemudian setelah selesai, dia langsung meniup lilin di hadapannya hingga padam.


Selenia bertepuk tangan kecil. "Yeeee... Happy Birthday my beloved husband!"


...🌺🌺🌺...


Bu Riska baru saja keluar dari ruang kemotrapi menggunakan kursi roda, di dorong oleh Tony menuju ruang rawat inap. Sementara Pak Anton berjalan di belakang mereka. Kondisi Bu Riska tampak masih lemah. Kemotrapi pertama ini terpaksa dilakukan pada sore menjelang petang hari karena permintaan Bu Riska sendiri. Dia ingin didampingi anak semata wayangnya. Sedangkan kalau pagi Tony harus pergi ke sekolah. Tony sebenarnya sudah bilang, kalau dia bisa absen dari sekolahnya saat mamanya kemo. Tapi Bu Riska melarang, karena dia tahu akhir-akhir ini Tony sudah sering bolos.


Sesampainya di ruang rawat, dengan sabar dan telaten, Tony mengangkat tubuh Bu Riska dan membaringkannya di atas tempat tidur. Pak Anton yang merasa terharu melihat pemandangan itu dan tak bisa membendung air matanya, memilih untuk keluar sebentar. Dia menangis antara sedih dan bahagia dengan yang terjadi saat ini. Tony yang pada awalnya dianggap sangat keras kepala karena tidak bisa menerima kehadiran Mamanya kembali, kini semua itu justru berubah 180 derajat.


"Kamu istirahat dulu aja nak. Kamu pasti capek karena udah nungguin Mama dari tadi," kata Bu Riska lemah.


"Iya Ma. Aku duduk di sana ya," Tony menunjuk sofa di ujung kamar rawat.


Bu Riska mengangguk. "Kamu pasti juga belum makan kan? Kamu makan dulu gih, jangan telat makan nak."


"Aku belum laper kok Ma," Tony merasa kehilangan nafsu makan pasca melihat perjuangan Mama menjalani kemo pertamanya sore ini. Bu Riska terlihat sangat kesakitan.


"Jangan ngomong begitu. Kamu kan pulang sekolah langsung ke sini, dan Mama belum lihat kamu makan sama sekali."


"Mama nggak usah khawatir," Tony menggenggam lengan Bu Riska. "Nanti kalau laper, aku pasti cari makan. Sekarang aku pengen istirahat dulu. Mama juga istirahat ya," ucapnya dan kemudian berjalan menghampiri sofa di sudut ruangan.


Meskipun kondisinya seperti sekarang, tapi Bu Riska tetap bisa merasakan bahagia di dalam hatinya karena Tony sudah bisa menerimanya kembali. Tak henti-hentinya dia menatap Tony yang mulai membaringkan tubuh di sofa. Dia tahu, anaknya itu sangat lelah.


...🌺🌺🌺...


Selenia dan Adam telah selesai menikmati birthday dinner mereka. Dengan hati-hati, Selenia mengeluarkan kotak kecil yang telah dia bungkus dengan rapih dari dalam clutch dan meletakkannya di atas meja. Sebelumnya, dia telah memanggil pelayan untuk membereskan sisa makan malam mereka supaya meja tidak penuh.


Cincin? batin Adam. Keningnya mengerut menatap kotak itu.


"Ini buat kamu. Very spesial," Selenia menyurukkan kotak itu ke Adam perlahan.


"Buat aku?"


"Iya dong. Ayo cepetan buka," Selenia semakin tidak sabar.


"Okeeey," Adam mengangkat kotak itu dan mulai membukanya.


Begitu kotak terbuka, mata Adam terkesiap dan nafasnya tertahan melihat isi di dalamnya. Dia mengeluarkan satu per satu isi di dalam kotak, diantaranya, surat keterangan dari dokter yang menyatakan kalau Selenia positif hamil, tespek dengan dua garis, dan foto USG yang sedikit lecek gara-gara sempat ketindih Selenia waktu itu.


"Oohh..." nafas Adam tertahan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. "Sayang, ini.... maksudnya kamu.... kamu...hamil?"


Selenia mengangguk dan tersenyum bahagia.


Adam langsung beranjak dan mendekati Selenia. Dengan lembut tangannya meraba perut Selenia.

__ADS_1


"Sayang, aku nggak mimpi kan?" Adam masih belum bisa percaya sepenuhnya. Tapi saat Selenia mencubit pipinya lembut dan dia merasakan sakit, dia pun langsung mendekap erat tubuh Selenia yang masih duduk.


"Aku hamil Dam. Maaf kalau aku menyembunyikan ini dari kamu, karena ini yang aku ingin. Kasih tahu kamu, di hari spesial kamu."


Pikiran Adam langsung berkelana pada hal-hal aneh yang sempat membuatnya bingung beberapa hari belakangan. Tapi yang paling dia ingat, adalah saat dia pernah membawakan makanan kesukaan Selenia sepulang dari kantor, yaitu donat mini yang langsung ditolak mentah-mentah karena menurutnya makanan itu bikin eneg. Terus sikapnya yang labil, gampang ngambek, minta makan tengah malam, parfum bayi. Ternyata itu semua karena dia sedang hamil?


"Jadi..." Adam melepaskan dekapannya. "Selama ini sikap aneh kamu itu karena ngidam?"


Selenia tersipu. Yang jelas itu pengaruh hormon. "Mungkin...."


Dan satu lagi....


"Dan kamu suka sama hidung Tony, itu juga bawaan si baby?" Adam mengelus perut Selenia.


Selenia mendongak dan tersenyum dengan bibir terkatup. "Maybe...."


Adam kembali mendekap tubuh Selenia dan mencium keningnya berkali-kali.


"Kenapa harus hidung dia sayang....? Kan aku Ayahnya..." protes Adam.


"Aku juga nggak tahuuuu... kan itu bukan keinginan aku.... tapi ini..." Selenia merapatkan tangan Adam dan tangannya ke perutnya.


"Okeeeey... termaklumi," Adam masih tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. "Jadi maunya apa?"


"Dulu aku tiba-tiba suka aja ngelihat hidung dia, kaya candu banget. Dan aku pengen pencet hidung dia juga, tapi belum kesampaian sampe sekarang."


Adam memberengut. Ada perasaan sedikit tidak rela kalau sampai Selenia menyentuh-nyentuh anggota tubuh Tony.


"Memangnya harus banget ya sayang? Nggak bisa pencet hidung aku aja?"


"Mungkin bisa. Sekarang udah nggak terlalu kok. Udah biasa aja kalau liat hidung itu."


"Oh syukurlah," wajah Adam menengadah ke atas. Dia lalu berjongkok dan menghadapkan wajahnya ke perut Selenia. "Sayang, ini Daddy. Ternyata selama ini kamu sudah ada di perut Mommy? Kamu baik-baik ya di sana. Jangan nakal.... dan jangan bawel kaya Mommy juga..."


Selenia memukul pundak Adam gemas.


"Daddy bener-bener bahagia dengan kejutan yang mommy berikan malam ini. Daddy janji bakalan jagain kamu dan mommy sampai kapanpun. Duh... daddy jadi nggak sabar pengen cepet-cepet lihat kamu," ucap Adam menggebu-gebu saking bahagianya.


"Kan dia udah melakukan foto pertamanya sayang," Selenia menyela dan memperlihatkan kembali foto USGnya pada Adam. "Nih..."


Adam terkikik demi memandangi foto hitam putih yang sama sekali tidak dia pahami tersebut.


"Ini kan belum jelas sayang...., tapi tetep... daddy Love you so much..." ucap Adam, berbicara dengan perut Selenia dan menciumnya.


Atmosfer malam yang indah, syahdu dan romantis berhasil mereka ciptakan malam itu. Mereka bercengkerama dan membicarakan banyak hal sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang ketika jam yang melingkar di tangan Adam menunjukkan pukul 10 malam.


Selenia tidak pernah melepaskan gamitan tangannya dari lengan Adam sejak mereka keluar dari Carlos Cafe menuju lapangan parkir. Dia sangat bahagia malam ini, karena merasa beban yang selama ini dia tahan telah dilepaskan. Menyembunyikan kehamilannya dari Adam bukan hal yang mudah. Apalagi dengan posisi mereka yang tinggal serumah. Minum susu bumil aja harus sembunyi-sembunyi. Muntah akibat morning sickness pun harus diam-diam. Tapi sekarang itu tidak akan terjadi lagi. Dia akan lebih leluasa menikmati masa hamil muda dengan Adam yang akan selalu ada di sisinya. Dan lagi, Selenia tidak pernah memusingkan soal statusnya yang masih sekolah. Hal itu seolah menguap begitu saja ditelan kebahagiaan. Mean, dia akan tetap bersekolah seperti biasa. Dia yakin, perutnya pasti belum tampak menonjol sampai hari kelulusan tiba.


Adam membukakan pintu mobil untuk Selenia, dan mempersilahkan masuk layaknya mempersilahkan seorang putri. Dan itu membuat Selenia memukul dada Adam gemas. Dan CUP! Bibir mungilnya mendarat singkat di pipi Adam sebelum dia masuk ke dalam mobil.


Selenia menyandarkan punggungnya di jok dan menatap keluar, ke arah Adam yang mulai berjalan menghampiri pintu sebelah. Aura kebahagiaan terlihat begitu terpancar dari wajahnya.


Namun baru saja Selenia akan memasang sabuk pengaman, tiba-tiba saja dia mendengar teriakan tertahan yang begitu keras. Selenia kaget dan terpekik di dalam mobil saat melihat tubuh Adam yang merosot lemah di balik pintu.


"ADAM!!!!!!" Selenia memekik dan langsung membuka pintu lalu berlali menghampiri Adam yang sudah tergeletak di tanah dengan perut yang terus mengeluarkan darah. Blazer hitamnya semakin berwarna pekat akibat rembesan darah. Selenia sempat melihat seseorang berlari menjauh dan terburu-buru dari mobil mereka setelah kejadian itu.


Tangan Adam bergerak perlahan menyentuh perutnya yang terus mengeluarkan darah. Nafasnya pun mulai tersengal-sengal.


"TOLOOOOONGG....!!!! Adam... bangun...!!" Selenia menangis, menjerit sembari memangku kepala Adam yang hanya bisa menatapnya dengan tatapan lemah. "Adam kamu bertahan ya... aku... aku bakal bawa kamu ke rumah sakit."


"TOLOOOOONG...!!" teriak Selenia sekeras mungkin.


Dan beberapa orang mulai berbondong-bondong menghampiri.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2