
"Hah?! Yang bener Ci?" Tony kaget mendengar cerita Cia tentang paket misterius yang diterima Selenia kemarin. "Terus ketahuan nggak siapa pelakunya?"
Pagi itu, mereka ngobrol di kelas saat Selenia belum datang. Cia sengaja tidak menunggu Selenia seperti biasa karena di luar sedang hujan.
Cia menggeleng dan menceritakan kalau paket itu diantar oleh kurir yang dititipkan melalui satpam.
"Jam setengah tujuh? Mana ada jasa ekspedisi ngirim barang sepagi itu?" Tony menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu dia aku juga bingung. Terus herannya lagi, kenapa ke Selenia dan apa motivnya."
"Terus setelah kejadian itu, ada hal lain yang aneh nggak sama Selenia?"
Cia kembali menggeleng. "Kayaknya sih enggak. Soalnya Selenia juga nggak ngabarin apa-apa lagi sejak kemarin. Semalam WA-nan sama aku juga nggak bahas itu."
"Tapi ini tetep nggak bisa dibiarin Ci. Itu orang pasti punya maksud kenapa dia ngelakuin itu sama Selenia."
"Aku juga mikirnya gitu Ton. Cuman yang aku bingung, Selenia tu selama ini nggak pernah buat masalah lho sama orang. Aku tahu banget dia kaya gimana."
"Oh ya gimana tadi ciri-ciri orangnya Ci? Maksudku kurir yang nganter paket."
"Pakaian dia serba hitam deh pokoknya," Cia mencoba mengingat potongan video di cctv yang dia lihat di ruang BK kemarin. "Dan pakek motor khas kurir juga. Yang ada keranjang buat naro barang-barang pelanggan di bagian belakang motor."
Hitam? Ingatan Tony melayang pada sosok orang yang pernah menubruk Selenia di depan gerbang sekolah siang itu. Orang itu juga memakai pakaian serba hitam. Tony juga sempat melihat orang itu berdiri beberapa saat setelah menubruk Selenia dan hanya memandangi Selenia yang tersungkur tanpa niatan untuk menolong.
Siapa dia? Apa dia orang yang sama dengan pengirim paket itu? Kalau saja kemarin dia masuk sekolah.... duh kenapa kejadiannya pas kebetulan gue lagi nggak masuk sih?!
"Duh, ni Selenia kok juga tumben banget sih jam segini belum dateng?" Cia melirik jam tangannya. "Mana hujannya makin deras lagi," dia mengambil ponselnya dari dalam saku dan menghubungi nomor Selenia.
...🌺🌺🌺...
Mobil Selenia mogok di tepi jalan dan hujan semakin deras. Selenia gelisah melihat jarum jam di tangannya yang terus bergerak. Bel masuk kelas tinggal beberapa menit lagi. Dia yakin kalau hari ini dia bakalan telat sampai di sekolah. Beberapakali dia beringsut dari duduknya, melongok keluar memperhatikan Pak Tono yang sedang mengecek mesin di balik kap depan. Sopirnya itu sedang sibuk mengutak-atik penyebab mogoknya si mobil. Untung saja dia memakai jas hujan.
Ponsel Selenia berdering dan ternyata dari Cia.
"Halo Ci. Mobil gue mogok nih. Kayaknya gue bakalan telat deh. Duuuh...." oceh Selenia to the point karena merasa kesal.
"Hah? Dimana?"
Selenia melihat sekeliling. "Di pinggir jalan ini. 100 meter dari Baby Shop," dia melirik toko Baby Shop di belakangnya dari kaca spion.
"Duh, trus gimana? Sopir lo bisa beresin nggak?"
"Itu juga baru diutak-atik sama Pak Tono. Nggak tahu deh, udah ketemu apa belum masalahnya."
"Ya udah gimana kalo lo di jemput Tony aja? Daripada bolos."
Selenia kaget mendengar usulan Cia. Dia tidak mau. "Nggak usah Ci. Biar gue cari taxi aja," tolaknya. "Lagian ini hujan deres banget. Percuma juga kalo Tony yang jemput orang dia pake motor, masa iya gue basah-basahan."
"Ya udah deh, gue tunggu ya."
Selenia segera mematikan telfon. Dia tahu memang sudah tidak mungkin bisa sampai sekolah tepat waktu. Tapi daripada tidak masuk dan nggak dapat nilai, bukankah lebih baik telat daripada tidak sama sekali?
Selenia celingukan menatap sekeliling mobil, mencari-cari kalau saja ada payung terselip di sana. Dan benar saja, di belakang jok kursi dia menemukan benda itu. Selenia lalu keluar dengan menggunakan payung tersebut.
"Lhoh, Mbak Selenia mau kemana?" teriak Pak Tono dari depan. Dia belum menemukan masalah yang menyebabkan mobil mereka mogok.
"Pak, bantuin aku nyari taxi ya. Kalau nungguin mobilnya kelar, nanti aku bisa-bisa nggak berangkat sekolah."
"Oh iya Mbak baik," Pak Tono segera menghentikan aktivitasnya dan kemudian berdiri di tepi jalan.
Tak selang berapa lama, sebuah taxi meluncur dari belakang mobil mereka dan Pak Tono melambaikan tangan. Taxi yang sudah terlanjur melaju dengan cepat itu berhasil berhenti tak jauh di depan mobil mereka.
"Pak Tono maaf ya aku tinggal dulu," pamit Selenia.
"Iya mbak, nggak pa-pa. Nanti biar bapak panggil montir kalau memang nggak bisa bapak tangani sendiri." jawab Pak Tono.
"Oke, Pak. Assalamualaikum," Selenia segera berlari menghampiri taxi yang sudah berhenti di depan mobil mereka.
"Wa'alaikumussalam."
Namun naas, saat langkah Selenia hampir saja sampai ke taxi tersebut, sebuah motor yang melaju kencang dari arah belakang, menyerempet Selenia hingga membuatnya terjengkang dan terseret hingga ke tepi jalan.
"Astaghfirullah, Mbak Selenia!!!" teriak Pak Tono kaget.
__ADS_1
"Aaaaahhh... aduuuh...!!" Selenia juga berteriak sambil memegangi kakinya.
"Mbak!! Woey berhenti woey!!!" Pak Tono meneriaki pemotor yang menyerempet Selenia. Pemotor itu sempat berhenti di depan mobil taxi, tapi hanya menoleh ke belakang sebentar sambil membleyer-bleyer motornya kemudian kembali tancap gas.
"Kurang ajar tuh orang!" maki Pak Tono. Dia lalu menghampiri Selenia yang menangis di tepi jalan sambil terus memegangi kakinya. Begitu juga dengan si sopir taxi yang langsung keluar dari mobilnya.
"Sakit banget pak kakiku... auuuhhh!!"
"Sabar ya Mbak Sel,.... aduh... ini gimana nih... ehh mas mas..." Pak Tono gugup dan melambai-lambai ke sopir taxi yang memang akan menghampiri mereka. "Mas tolong bantu ya. Mbak Sel tahan ya, ayo Bapak anter ke klinik sekarang ya mbak," dia membantu Selenia berdiri. Nampak darah merembes di kaus kaki Selenia.
"Di lepas aja sepatunya Mbak. Itu sepertinya tumit Mbak yang kena," saran si sopir taxi sebelum membawa Selenia masuk mobil.
Selenia cuma bisa nurut. Dia sudah tidak tahan lagi menahan nyeri di kakinya. Apalagi melihat rembesan darah yang seketika membuat kepalanya berkunang-kunang. Dengan hati-hati Pak Tono melepaskan sepatu kanan Selenia. Dan benar, terdapat luka robek di dekat tumit, lutut dan betis yang baret-baret karena kegesek di atas aspal.
Setelah menutup kap mesin dan mengunci mobilnya, Pak Tono segera membawa Selenia ke klinik menggunakan taxi tersebut.
Di kantor, Adam baru saja menerima telfon dari client saat ponselnya berbunyi. Dia sempat heran melihat nomor Pak Tono tertera di layar dan bertanya-tanya, ada apa dia nelfon pagi-pagi begini? Namun baru saja dia menyapa 'Halo' di ujung telfon Pak Tono sudah langsung mengabarkan padanya apa yang pagi ini menimpa Selenia. Sontak saja hal itu membuat Adam kaget. Tanpa mempedulikan Pak Tono yang masih berusaha menjelaskan kronologinya, Adam langsung mematikan telfon dan bergegas meninggalkan kantor. Padahal saat itu Maya baru saja mau ke ruangannya dan mereka hampir bertubrukan, tapi dia acuhkan karena pikirannya sudah kalut tidak karuan.
"Pak Adam kenapa ya? Kaya orang ngejar maling gitu," gumam Maya sambil terbengong-bengong.
Adam sudah seperti orang kebingungan saat masuk ke klinik. Dia bahkan harus menubruk beberapa orang lewat yang dirasa menghalangi langkahnya. Setelah mendapatkan informasi dari suster jaga dimana letak Selenia mendapat penanganan, Adam langsung bergegas menuju ke tempat itu. UGD.
Di depan ruang UGD, Pak Tono sedang mondar-mandir dengan wajah cemas. Saat melihat Adam datang, dia langsung menunduk dan mengucapkan maaf berkali-kali karena merasa telah lalai menjaga Selenia. Baginya, Selenia adalah tanggung jawab dia selama di perjalanan berangkat sampai pulang sekolah.
"Gimana Pak? Selenia gimana keadaannya?" tanya Adam tak kalah cemas.
"Mbak Selenia masih di dalam Pak," Pak Tono menunjuk ruang UGD yang tertutup rapat.
Adam gelisah. Dia mendekati pintu mencoba mengintip dari celah kaca di pintu tersebut. Tapi yang dia lihat hanya seorang dokter yang tampak sedang memegang peralatan medis. Adam tidak sabar menunggu dokter itu keluar.
Di dalam ruangan UGD, dokter memeriksa semua kondisi Selenia termasuk detak jantung dan tensi darahnya. Selenia hanya bisa menahan nyeri dengan menggigit bibir dan memegang pinggiran ranjang kuat-kuat saat seorang perawat menjahit beberapa luka di kakinya. Sementara itu, sang dokter sedikit menatap Selenia heran setelah selesai memeriksa bagian perutnya. Dia hanya menghela nafas dan geleng-geleng kepala.
Anak jaman sekarang. Pikirnya sembari menatap seragam sekolah setengah basah yang dikenakan oleh Selenia.
"Sudah dok," si perawat telah menyelesaikan tugasnya menjahit luka di kaki Selenia.
"Baiklah Sus," jawab si Dokter. "Mbak tunggu di sini ya. Saya mau menemui keluarga Mbak di luar," kata si dokter pada Selenia, dan Selenia hanya mengangguk pelan.
Sang Dokter keluar dari ruang UGD yang langsung disambut oleh Adam dan Pak Tono yang tidak sabar untuk tahu kondisi Selenia.
Dokter itu tidak segera menjawab melainkan hanya menatap Adam dari atas sampai bawah. Dia setengah tidak percaya bahwa seorang gadis SMA berpacaran dengan laki-laki yang menurutnya lebih cocok menjadi Oomnya.
"Dok kenapa diam? Saya nanya gimana keadaan pacar saya?!" bentak Adam karena merasa tidak direspon.
"Ee... i-iya... kondisinya baik, Pak. Hanya saja tensi darah saudari Selenia cukup rendah, jadi dia sedikit lemah. Luka-lukanya juga sudah dijahit oleh suster..."
"Luka-lukanya?" Adam membelalak. Separah itu kah?
"Iya. Di kaki sebelah kanan. Kalau nanti saudari Selenia sudah merasa baikan bisa langsung pulang kok. Jadi tidak perlu di opname. Tapi dua hari lagi pacar anda harus kontrol kembali ke sini untuk di cek jahitannya," tutur si Dokter. "Dan untuk saat ini, biarkan dia memulihkan traumanya dulu. Karena saat dibawa ke sini tadi, dia sangat syok dan hampir tidak sadarkan diri."
"Oh, begitu. Baik dok. Terimakasih."
Dokter itu kemudian berlalu sementara Adam langsung masuk ke ruang UGD, dimana Selenia sedang berbaring dengan beberapa bekas jahitan di kaki kanannya.
"Permisi Pak," izin si suster saat Adam masuk karena telah selesai menangani Selenia dan keluar.
"Makasih sus," ucap Adam lirih.
"Adam...." sapa Selenia lemah. "... kok kamu tahu kalau..."
"Sssst... udah sayang kamu jangan banyak ngomong dulu ya," Adam membelai rambut Selenia dan menggenggam tangannya. Sesak sekali dadanya melihat keadaan Selenia yang penuh luka.
Selenia melihat Pak Tono yang berdiri di belakang Adam dengan wajah yang terlihat sedih.
"Mbak... B-bapak minta maaf ya," ucap Pak Tono terbata.
Selenia tersenyum kecil. "Kenapa Pak Tono minta maaf? Pak Tono nggak salah kok. Emang nasib aku aja lagi apes pagi ini pak."
"Selenia benar. Pak Tono jangan nyalahin diri sendiri terus," sahut Adam. "Bapak sekarang lebih baik ke bengkel. Nyari montir yang bisa ngederek mobil Selenia buat dibawa ke bengkel," dia berdiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet lalu diberikan ke Pak Tono. "Ini untuk ongkos taxi sama service mobilnya, nanti kalau kurang bapak telfon aja."
Selenia tersenyum melihat sikap bersahaja suaminya pada Pak Tono.
"Baik Pak," Pak Tono menunduk lalu keluar dari ruang UGD.
__ADS_1
Selenia sudah mau membuka mulutnya untuk menceritakan kronologi yang membuat keadaannya jadi seperti ini pada Adam, tapi Adam menahan. Dia menempelkan jari telunjuknya ke bibir Selenia.
"Udah, nanti aja di rumah ya sayang. Sekarang kamu fokus pulih aja dulu. Karena tadi dokter bilang, katanya kamu nggak perlu di opname," ujar Adam lembut. Dia tak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Selenia.
"Dam, aku minta kamu jangan pernah pernah kasih tahu Mama Lisa soal kecelakaan ini ya."
"Kenapa memangnya?"
"Aku nggak mau bikin Mama khawatir. Pokoknya jangan... ya ya ya.... please...." Selenia memohon. "Kasian kan lagi jauh. Kamu kaya nggak tahu Mama aja."
"Ya udah iya," Adam mengangguk. "Kalau begitu sekarang kamu istirahat, jangan banyak gerak."
Selenia tersenyum dan mengangguk. Meski sekujur tubuhnya terasa sakit, tapi dia merasa tenang karena ada Adam di sampingnya.
"Kalau gitu aku mau kasih kabar ke Cia aja boleh? Kayanya dari tadi hp aku bunyi terus Dam di tas," Selenia menunjuk tasnya yang tergeletak di kursi di ujung ruangan.
Adam mengangguk dan mengambilkan ponsel Selenia. Dan saat itu juga, ponsel itu tengah berdering. Kening Adam mengerut manakala melihat siapa yang menelfon.
"Siapa Dam?" tanya Selenia.
"Tony nelfon kamu sayang," Adam memperlihatkan layar ponsel ke Selenia.
"Oh. Coba sini," Selenia mengulurkan tangannya.
Adam merasa keberatan jadi dia tidak memberikan ponsel itu pada Selenia.
"Jangan diangkat ya sayang please," Adam memohon. "Aku cemburu...." katanya berterus terang.
Selenia terkikik mendengar alasan itu. Dengan lemah, dia tetap berusaha meraih ponselnya dari tangan Adam.
"Ya ampun Dam, aku tuh nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Kok kamu ngomongnya gitu sih?" Selenia baru saja akan menekan tombol hijau saat panggilan itu berakhir. "Tuh kan keburu di matiin sama Tony."
"Memangnya salah kalau aku cemburu?"
"Ya enggak salah juga. Tapi kan emang bener aku nggak ada apa-apa sama Tony," Selenia mencubit lengan Adam pelan. "Ya udah aku kasih kabar Cia aja. Ini dia dari tadi WA aku banyak banget nanyain kenapa aku nggak nyampe-nyampe ke sekolah."
Dan Adam cuma bisa mengangguk pasrah.
...🌺🌺🌺...
Cia hampir saja memekik saat membaca balasan pesannya dari Selenia. Untung saja dia segera sadar kalah masih berada di dalam kelas dan langsung membekap mulutnya sendiri.
Selenia: [(mengirimkan foto beberapa bekas jahitan di kakinya dan ruangan UGD sebuah klinik). Gue apes Cia. sorry baru sempet baca pesan lo.]
Melihat gambar yang dikirim Selenia, dia sudah membayangkan bagaimana kecelakaan itu terjadi.
Ya ampun Sel, coba aja lo tadi mau dijemput Tony, pasti kejadiannya nggak bakal kaya gini. Paling cuma basah doang. Batinnya.
Jadi begitu bel istirahat berbunyi, Cia langsung menghambur keluar dan mencari Tony di kelasnya. Tapi anak itu nggak ada di kelas. Kata salah satu temannya, dia sudah keluar sebelum bel istirahat. Katanya mau ke toilet, tapi nggak pernah balik lagi ke kelas sampai jam pelajaran pertama berakhir.
Cia segera mencari Tony ke ruangan lain. Satu tempat yang dirasa bakal langsung nemuin anak itu adalah studio musik.
Dan benar, Tony ada di sana. Anak itu sedang duduk di tepi jendela, memandang keluar saat Cia masuk. Ruangan begitu sepi karena tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua.
"Temen kamu bilang katanya kamu ke toilet?"
Suara itu menyentakkan Tony dari lamunannya. "Cia?" dia tersenyum simpul. "Iya tadi emang ke toilet, tapi mau balik ke kelas lagi nanggung."
Cia mencibir. Dia sudah mulai hafal perangai Tony sekarang. Apalagi Marvin kadang suka menceritakan tabiat anak ini padanya. "Ton kamu tahu nggak?" kata Cia kemudian dengan wajah serius.
"Apa? Oh ya, gimana Selenia? Aku lihat dia belum dateng ke sekolah."
"Itu dia Ton. Dia tadi kecelakaan dan sekarang lagi di UGD."
"Hah?!!" Tony melompat dari duduknya. Pantes saja ditelfon nggak diangkat-angkat. "Terus keadaan dia sekarang gimana?!" tanya Tony cemas.
Cia memperlihatkan foto yang dikirim Selenia dan seketika membuat mimik kekagetan di wajah Tony berubah. Tubuh Tony melunglai melihat ada separuh badan yang nampak di gambar itu yang dia yakini adalah tubuh Adam.
Hhhh! Terang saja dia ada di sana. Dia kan suaminya. Tony hanya mampu tersenyum getir.
"Entar pulang sekolah mampir yuk," ajak Cia kemudian. Pikir Cia, nggak ada salahnya sekarang ngajak Tony ke rumah Adam. Toh anak ini sudah tahu juga kan tentang pernikahan itu.
"Liat nanti ya Ci," jawab Tony lesu.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...