
Dua hari kemudian
"Kamu jadi ngantor hari ini?" tanya Selenia begitu Adam muncul dari kamarnya.
Sudah hampir 15 menitan Selenia berdiri di ambang pintu kamarnya menunggui suaminya itu keluar. Semalam dia tidak tahu kapan Adam masuk dan tidur di sebelahnya, dan juga kapan dia bangun lalu meninggalkan dirinya. Tapi Selenia tahu kalau semalam Adam tidur bersamanya saat tengah malam dia bangun karena ingin minum. Suaminya itu tidur sangat pulas di sebelahnya.
"Kamu tadi bangun jam berapa sih Dam? Kok nggak bangunin aku?" protes Selenia.
"Iya sayang. Nggak enak udah terlalu lama nggak ngantor," jawab Adam. "Maaf, tadi aku bangun pagi banget, dan kamu kayaknya juga masih pules, jadi aku nggak enak mau bangunin."
Selenia memberengut. "Ck, alesan aja. Katanya mau resign tapi yang ada malah tambah sibuk," dia menyilangkan kedua tangannya.
"Ya ampun sayang, kamu jangan gitu dong ngomongnya, aku cuma melengkapi berkas aja kok, udah nggak sibuk sama kerjaan lagi."
Selenia tidak bergeming dan terus memberengut.
"Hmmm, pagi-pagi jangan cembetut. Nanti rezekinya nggak mau mampir," Adam mentowel pipi Selenia gemas. "Yuk sarapan, nanti kamu kesiangan lho."
Selenia buru-buru menarik senyum dan memeluk tubuh suaminya dengan manja. Mereka menuju ruang makan untuk sarapan.
Selesai sarapan, mereka berangkat dan berada dalam satu mobil. Dokter masih belum mengizinkan Adam untuk menyetir sendiri dalam dua bulan ke depan.
"Hati-hati di sekolah," Adam mengelus perut Selenia sebelum istrinya itu keluar dari mobil. Di luar, Cia sudah menunggu seperti biasa. "Belajar yang bener ya," dia mendaratkan kecupan di kening Selenia.
Pak Tono yang melihat adegan itu dari spion depan langsung pura-pura melihat ke arah lain karena salting sendiri.
Begitu Selenia keluar, mobil langsung kembali melaju membawa Adam ke CV. Perkasa Adigunawa.
...🌺🌺🌺...
Seperti biasa, suasana kantor masih sepi karena kali ini Adam berangkat terlalu pagi. Iyalah, dia harus mengalah dan ikut jam berangkat Selenia karena tidak mau Pak Tono bolak-balik. Seorang satpam menunduk hormat saat Adam memasuki lobby.
"Selamat pagi Pak Adam. Bapak sudah sehat?" sapa si Satpam.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat," jawab Adam. "Pak Anton sudah ada?"
Satpam itu menggeleng. "Semenjak mantan istrinya meninggal, beliau selalu tiba di kantor di atas pukul sepuluh Pak. Sopirnya bilang, beliau mampir dulu ke makam."
"Ooh..." Adam tersenyum getir. Jawaban itu membuat perasaa ragunya untuk menyerahkan surat resign muncul. Pak Anton bahkan masih berkabung, dan aku justru akan mengundurkan diri? Tapi bagaimana lagi? Ini sudah menjadi pilihanku. Hhh... semoga saja Pak Anton bisa mengerti.
"Ya sudah, saya ke ruangan saya dulu," Adam berlalu.
Di depan ruang personalia, Adam berpapasan dengan Irham.
"Weh, bro? Gimana? Udah sehat?" Irham menepuk bahu Adam dan memeluknya sebentar.
__ADS_1
"Yah beginilah," Adam mengangkat bahu. "Gimana proyek? Gue denger banyak tender yang ditolak apa itu bener?"
Irham menunduk lesu. "Ada beberapa sih, karena gue ngerasa belum sanggup. Takutnya nggak maksimal dan malah ngerugiin perusahaan," dia mengangkat wajah dan kembali menepuk-nepuk bahu Adam.
"Tapi syukurlah lo udah kembali, gue seneng banget."
Adam lagi-lagi tersenyum getir. Sepengaruh itu kah keberadaannya di sini. Aduh, kenapa jadi terasa begitu berat. Padahal aku sudah memikirkannya matang-matang.
"Ham, kita bisa ngomong bentar nggak? Lo nggak sibuk kan?"
"Sekarang sih enggak, cuman sejam lagi gue ada urusan di luar."
"Oh, oke. Gue pengen ngomong sama lo. Nggak lama kok."
Irham menatap heran ke arah Adam. "Kayaknya serius nih?"
"Ke ruangan gue yuk," ajak Adam.
Mau tak mau Irham pun mengikuti Adam ke ruangannya.
...🌺🌺🌺...
Wali kelas Selenia mengumumkan tentang ujian praktek yang sebentar lagi akan dimulai sebelum Ujian Nasional tulis berlangsung. Semua murid diminta untuk mempersiapkan diri karena nilai ujian praktek juga mempengaruhi kelulusan. Dia juga mengajukan pertanyaan kepada para murid akan melanjutkan ke universitas mana setelah lulus nanti.
Beberapa anak saling berbisik dan berdiskusi. Mereka kebanyakan sudah memiliki planning akan ke universitas mana, kecuali Selenia. Seperti yang telah dia utarakan pada Adam, dia akan menunda mendaftar kuliahnya karena ingin fokus dengan kehamilannya dulu. Tapi itu tidak mungkin dikatakan di sini kan? Jadi pada saat Wali kelas menanyakan ke setiap murid--sebagai referensi--Selenia menjawab seperti yang pernah menjadi keinginannya saat dia baru masuk SMA dulu, yaitu Universitas Indonesia.
"Yah, berarti nanti lo bakalan jadi adek tingkat gue dong," ucap Cia lesu setelah akhirnya Selenia menceritakan keinginannya untuk menunda kuliah.
Mereka ngobrol di kantin sambil menikmati makan siang.
"Cuma itu yang bisa gue lakuin Cia, gue nggak mau cuti di tengah-tengah. Saat ini gue harus fokus dulu sama yang lebih penting."
Cia memiringkan kepala dan menopangnya menggunakan tangan. Matanya lurus memandang ke arah perut Selenia yang sama sekali belum terlihat menonjol. Mungkin karena seragam sekolahnya yang longgar kali ya.
"Elo bener...." Cia mengulurkan tangan mengelus perut itu. "Duh... kenapa jadi gue yang nggak sabar nunggu dia keluar sih... hihihi..."
"Auh... geli Cia..." Selenia menepis tangan Cia. "Jangan gitu ah, kalau ada yang liatin bisa curiga," bisiknya.
Di saat yang bersamaan, Lala muncul dan berdiri tepat di tepi meja mereka. Dia bahkan sudah melihat adegan dimana Cia mengelus-elus perut Selenia. Sesuatu yang semakin menguatkan kecurigaannya.
"Ehm..." Lala berdehem menyebalkan.
Cia dan Selenia sama-sama beringsut. Cia mendongak menatap Lala yang masih berdiri di tempatnya sambil sesekali menyedot bobamilk di tangannya.
"Kenapa La?" tanya Selenia datar.
__ADS_1
"Nggak pa-pa kok," jawab Lala singkat. Tapi tatapan matanya tak luput dari perut Selenia yang barusan dielus oleh Cia. "Ya udah sok atuh lanjut ngobrolnya," katanya kemudian dan langsung pergi.
Selenia dan Cia saling berpandangan.
"Kok perasaan gue nggak enak ya Ci."
"Kenapa?"
"Dia kayanya bener-bener naruh curiga deh sama gue. Barusan dia ngelihatin perut gue."
Cia memandang Lala yang sudah menghilang dari kantin. Dia pun merasa begitu. Tapi memang dari sekian banyak anak di kelas, cuma dia yang tiba-tiba sibuk mengawasi Selenia.
"Ck... udah lah, nggak usah dipikirin. Dia emang anaknya makin kesini makin julid banget."
...🌺🌺🌺...
Irham menceritakan apa yang telah dia dengar dari Adam--tentang pengunduran diri itu--kepada Renata. Dan Renata cukup kaget tapi tidak bisa berkomentar apapun. Seharian ini Renata sama sekali belum bertemu atasannya karena sibuk membuat laporan.
Sementara itu di ruangan Pak Anton, sama halnya dengan reaksi Irham, dia pun sama kagetnya saat mendengar Adam yang mengatakan keputusannya. Dengan seksama Pak Anton membaca isi surat pengunduran diri milik Adam lalu merenung sebentar, menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Kenapa Dam?" tanya Pak Anton lirih.
"Sebelumnya saya minta maaf, kalau keputusan saya mengecewakan hati bapak. Tapi.... saya melakukan ini juga bukan tanpa alasan. Bapak sudah cukup memberikan banyak waktu dan kesempatan untuk saya bekerja dan menjadi bagian dari keluarga di perusahaan ini..." tutur Adam.
"Empat tahun bukan waktu yang singkat pak, dan dari sini pula saya mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman. Sekarang saatnya saya mundur dan memberikan kesempatan untuk yang lain."
"Tapi kamu tidak harus keluar dari perusahaan ini kan Dam?" potong Pak Anton. "Kamu tahu saya masih sangat butuh kamu."
"Tapi Pak, saya benar-benar minta maaf karena keputusan ini sudah bulat," meski berat mendengar nada bicara Pak Anton, Adam berusaha tidak goyah dan tetap kekeuh dengan keputusannya. "Saat ini, Papa sedang membutuhkan saya untuk mengelola perusahaannya. Seperti yang Bapak tahu, saya adalah anak satu-satunya di keluarga saya. Jadi siapa lagi yang akan menjadi penerus Papa kalau bukan saya? Bahkan... saat ini saja perusahaan Papa saya malah diurus oleh orang lain."
Pak Anton manggut-manggut. Tidak ada lagi alasan untuk tetap menahan Adam setelah dia mendengar penuturannya.
"Baiklah Dam, kalau memang ini sudah menjadi keputusan dan keinginan kamu, saya bisa apa?" Pak Anton mengangkat kedua bahuhya. "Tapi saya minta tolong sama kamu, untuk dua atau tiga hari ke depan, kamu masih bisa kan datang ke kantor seperti biasanya. Ada beberapa meeting yang saya sangat membutuhkan kamu ada di dalamnya."
Adam mengangguk. "Bapak tidak perlu khawatir. Saya akan usahakan untuk bisa datang."
"Oke..... baiklah kalau begitu. Kamu bisa kembali ke ruangan kamu."
Adam bangkit dan menjabat tangan Pak Anton.
"Permisi," ucapnya dan kemudian keluar dari ruangan Pak Anton.
Pak Anton menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Baru saja dia merasa senang karena Adam telah sehat dan bisa kembali lagi ke kantor, tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa staff kesayangannya itu ternyata datang sekaligus untuk mengatakan pengunduran dirinya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...