
Rumah sepi karena sore tadi Pak Edwin dan Bu Lisa memutuskan untuk pulang. Jadi seperti biasa, hanya ada Adam, Selenia, Bi Iyah dan Pak Tono yang ada di rumah itu.
Malam ini, Selenia sedang sibuk mengerjakan PR di kamarnya, sendirian. Sudah hampir satu jam lebih dia berkutat dengan buku fisika yang berisi soal-soal yang cukup membuat kepalanya berasa kliyengan. Dan akhirnya, dia bisa bernafas lega setelah berhasil menyelesaikan semuanya. Perkara hasilnya banyak yang benar atau salah, itu urusan belakangan. Selenia nggak kurang usaha kok. Untuk mengerjakan sepuluh soal itu saja dia harus mengeluarkan buku-buku panduan yang dia miliki.
Setelah memastikan buku yang akan dibawa besok sudah masuk ke dalam tas, dia pun keluar dari kamar. Dia ingin membuat susu di dapur. Hehehe, sekarang mau minum susu bumil nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi dong.
Selenia menghentikan langkah saat melihat pintu kamar Adam yang tidak tertutup rapat. Dia berdiri di ambang pintu, memperhatikan Adam yang tengah sibuk dengan laptop di meja kerjanya. Saking sibuknya, sampai-sampai tidak sadar kalau ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya. Selenia tersenyum mengamati keseriusan suaminya itu.
"Mau dibuatin kopi?" celetuk Selenia saat melihat tak ada apapun di atas meja Adam kecuali kertas-kertas, map dan seperangkat alat kerja lain.
Adam tersentak. Dia menoleh, mengabaikan laptopnya. "Eh, sayang? Udah selesai belajarnya?"
Selenia mengangguk. "Udah. Kamu masih sibuk?"
"Enggak kok. Ini cuma balas surel aja yang baru masuk."
"Mau dibuatin kopi?" Selenia mengulangi pertanyaannya.
"Boleh deh, jangan terlalu manis ya sayang."
"Okey."
Selenia melangkah ringan menuju dapur, sementara Adam kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di dapur, Selenia mendapati Bi Iyah yang sedang mencuci perkakas di kitchen sink.
"Lho, Non Selenia kok belum tidur?"
"Belum bik. Baru aja selesai ngerjain PR," Selenia membuka kabinet dan mengeluarkan dua buah cangkir dan gelas beserta kopi dan susu.
"Non Selenia mau bikin apa?" Bi Iyah menghentikan aktivitasnya. "Sini biar bibik buatin, Non tunggu di atas aja."
"Nggak usah bik. Cuma bikin kopinya Pak Adam aja aku bisa kok," tolak Selenia pelan. "Sama sekalian aku mau buat susu juga. Bibik selesain tugas bibik aja, terus istirahat."
Bi Iyah menurut. Dia senang melihat perubahan Selenia. Majikan mudanya itu sekarang tampak jauh lebih dewasa.
Selenia selesai membuat minum, bersamaan dengan Bi Iyah yang juga telah menyelesaikan rutinitas beberes dapurnya.
"Selamat istirahat bik," ucap Selenia sembari berlalu meninggalkan dapur.
Dengan hati-hati, dia membawa nampan berisi secangkir kopi dan segelas susu di tangannya. Sesampainya di kamar Adam, Selenia menghidangkan kopi ke atas meja. Adam mengecup pipi istrinya singkat sebagai ucapan terimakasih. Dia masih sangat sibuk dengan layar laptop di hadapannya.
Selenia menarik kursi kosong dan duduk di sebelah Adam. Matanya turut mengamati layar dan membaca tulisan yang sedang di ketik oleh Adam pelan-pelan. Seketika keningnya mengerut. Resign? Adam sedang mengetik surat pengunduran dirinya dari perusahaan Pak Anton.
"Kamu serius mau resign? Kenapa Dam?" Selenia jadi ingat bagaimana kata-kata Tony yang menyebut bahwa posisi Adam ibarat jantung bagi perusahaan Ayahnya itu. Dan sekarang jantung itu mau mengundurkan diri?
Adam mengangguk mantap. "Aku sudah mikir mateng-mateng sayang. Tadi siang aku juga udah ngobrol soal ini sama Papa sama Mama. Papa seneng, karena akhirnya aku mau mengurus perusahaan keluarga."
Siang tadi, saat Selenia di sekolah, Adam membicarakan keinginannya itu pada kedua orang tuanya. Dan tentu ini adalah hal yang sebenarnya sangat dinanti-nanti oleh Pak Edwin. Setelah sekian tahun perusahaannya dihandle oleh orang lain--orang kepercayaan Pak Edwin--sekarang akhirnya, tanpa disuruh dan dipaksa anak semata wayangnya itu mau mengurusnya. Pak Edwin memang telah menyerahkan tugasnya pada orang kepercayaannya sejak 3 tahun yang lalu, tepatnya saat kesehatannya mulai menurun. Dia tidak sanggup lagi kalau harus pergi ke kantor setiap hari seperti saat masih muda dulu.
"Gimana kalau Pak Anton keberatan?" tanya Selenia.
"Mungkin iya, tapi aku kan nggak bisa seperti ini terus sayang. Papa lebih butuh aku. Lagipula, sekarang ada Irham yang sudah bisa menggantikan posisi aku."
"Tapi Tony pernah cerita ke aku, katanya semenjak posisi kamu digantikan sementara oleh orang lain, banyak sekali tender-tender besar yang terpaksa ditolak, karena mereka belum mampu mengurusnya. Kamu nggak kasihan sama Pak Anton?"
Adam tersenyum simpul. Dia menutup laptop dan beringsut menghadap ke Selenia.
"Semua memang butuh proses sayang. Dulu, waktu aku pertama kali bekerja di sana, juga sama aja. Aku nggak ngerti banyak tentang operasional perusahaan itu seperti apa. Sampai akhirnya aku banyak belajar dari orang-orang yang sudah lebih lama ada. Dan sekarang... aku rasa, waktu 4 tahun sudah cukup untuk aku lepas supaya bisa memberikan kesempatan buat yang lain juga."
Selenia manggut-manggut. Walaupun dia sendiri juga tidak tahu seperti apa circle yang ada di perusahaan Ayah Tony, tapi dia berharap Adam telah mengambil keputusan yang tepat.
"Ya udah, apapun itu, semoga nggak memberatkan kamu ya," Selenia meremas bahu Adam pelan. "Di minum gih kopinya, entar keburu dingin," dia juga meraih susu dan meneguknya.
Adam menyeruput kopinya. "Manis, kaya yang buat," godanya.
Selenia mencubit dada Adam gemas. "Iiih gombaaal."
...🌺🌺🌺...
Selenia baru saja membuka ponsel dan membaca pesan dari Cia setelah hampir lima menit menghabiskan waktu berdiri di depan gerbang.
Cia: [Sel, gue gak masuk. Tau nih, perut gue tiba2 mules banget anjir 😖]
Huffttt... Selenia mendengus. Pantes aja ditunggu nggak datang-datang.
Selenia: [Hmmmmh.... oke deh. Get well soon yaaa]
Setelah membalas pesan Cia, Selenia segera bergegas menuju kelas. Dia baru saja melangkahkan kaki sampai di koridor utama saat tiba-tiba seseorang menjajari langkahnya.
__ADS_1
"Tony? Baru berangkat juga?"
"Iya. Kamu kok tumben sendirian aja? Cia mana?"
"Dia nggak masuk. Katanya sakit perut. Oh ya gimana keadaan mama kamu?"
Tony tidak langsung menjawab. Terdengar desisan lirih menyertai langkahnya. Kepalanya menggeleng pelan dengan wajah masam.
"Mama.... baru aja selesai kemo yang ke tiga. Dan... lumayan sih perubahannya," jawab Tony.
Dia terpaksa berbohong. Sebenarnya setelah kemo yang ketiga tidak ada perubahan yang berarti pada mamanya. Dokter justru menyarankan supaya mamanya melakukan cangkok sumsum tulang belakang sebagai opsi terakhir. Dan mereka telah menemukan pendonor yang tepat untuk itu. Tony adalah orang terpilih yang sel-selnya dinyatakan cocok dengan milik Bu Riska. Tapi ternyata Bu Riska justru menolak mentah-mentah jika ternyata pendonor itu adalah anaknya sendiri. Bukannya dia tidak suka, tapi karena dia tahu efek samping yang akan dirasakan pendonor itu seperi apa nantinya. Tony masih muda dan masa depannya masih panjang. Bahkan saat Pak Anton dan Tony terus membujuk, Bu Riska tetap kekeuh tidak mau melakukan transplantasi tersebut. Dia sudah meninggalkan Tony di masa-masa tumbuh kembangnya, dan sekarang dia tidak mau membahayakan masa depan Tony hanya karena dia telah mengambil bagian dari tubuhnya.
Jadi, sekarang tidak ada lagi pilihan bagi Pak Anton dan Tony selain berharap pada keajaiban. Mereka berharap, kesehatan Bu Riska membaik di penghujung tahun nanti. Dan semoga saja ada pendonor lain yang cocok. Tony hanya ingin menikmati euforia pergantian tahun bersama mamanya, yang selama hampir sepuluh tahun ini dia hanya menikmati bersama Papanya.
"Syukur deh... semoga aja mama kamu cepet sembuh ya Ton."
"Amiin."
"Oh iya, ada rencana apa nih buat tahun baruan?" tanya Selenia kemudian.
"Aku cuma ingin menikmati pergantian tahun bersama mama. Udah sepuluh tahun lebih aku melewatkan masa itu tanpa dia."
Selenia tersenyum. Proud of you Ton, akhirnya anak ini bisa menerima kehadiran Mamanya kembali.
Selenia manggut-manggut. Mereka telah berjalan sampai di depan kelas Selenia dan harus berpisah. Tony melambaikan tangan sebelum berlalu.
Saat masuk kelas, Selenia kembali dihadapkan dengan Lala yang terlihat masih penasaran dengan dirinya--kenapa sore itu mereka bisa bertemu di SPOG. Selenia memutuskan untuk tidak menggubris dan langsung pergi ke bangkunya saja. Tapi dia tahu, di belakang punggungnya, Lala dan grupnya mulai berkasak-kusuk.
...🌺🌺🌺...
Saat sekolah usai, Selenia buru-buru meninggalkan kelas dan menunggu Pak Tono di halte. Sopirnya itu baru saja menelfon kalau dia mampir dulu ke bengkel karena ada sedikit masalah dengan mobil Selenia. Dia tidak tahan lagi dengan tingkah Lala yang seperti menghasut anak-anak lain untuk turut mencurigai dirinya. Hal itu membuat Selenia merasa tidak nyaman. Sepanjang hari di sekolah hari ini Selenia merasa sangat diamati oleh anak-anak, terutama teman sekelasnya. Dia takut kecurigaan Lala akan membawanya dalam situasi serius. Bagaimana kalau dia melapor ke pihak sekolah dan kemudian ditelusuri. Lalu jika hal itu terbongkar, kenyataan pahit dikeluarkan dari sekolah sudah menghantui pikiran Selenia. Nggak! Aku nggak mau dikeluarin dari sekolah!
"Kamu masih di sini?" suara itu menyentakkan Selenia. Saat dia menoleh, Tony sudah duduk di sampingnya. Sejak kapan dia ada di sini?
"E... iya Ton, lagi nungguin Pak Tono. Katanya masih mampir bengkel sebentar."
"Ouuhh..." Tony mengerucutkan bibirnya. Dia melihat gelagat aneh dari wajah Selenia. Seperti orang yang merasa gelisah. Sesekali dia melihat kedua tangan Selenia berusaha menutupi bagian perutnya. Deg! Jantung Tony berdegup mengingat hal itu.
"Kamu sendiri kenapa belum pulang? Motor kamu mana?" Selenia mengamati sekeliling.
"Hari ini aku nggak bawa motor. Aku pake taksi online."
"Nggak pa-pa. Lagi males motoran."
Tony memperhatikan Selenia dari ujung kepala sampai ujung kami sementara anak itu sibuk memandang jalanan. Terkadang Tony masih belum bisa sepenuhnya mempercayai bahwa gadis yang ada di dekatnya ini sudah menjadi istri orang. ABG yang sudah menikah, bahkan telah hamil. Selenia berhasil berperan layaknya ABG pada umumnya. Sampai-sampai tak satupun orang di sekolah ini yang tahu tentang pernikahan rahasianya--kecuali dia dan Cia.
Sebuah taksi meluncur dari ujung jalan.
"Itu taksi kamu?" tanya Selenia.
"Bukan. Aku belum memesan kok."
Selenia manggut-manggut. Taksi yang dia pikir pesanan Tony melintas melewati mereka. Selenia sedikit beringsut. Baru kali ini dia merasa tidak nyaman duduk di dekat Tony. Dia merasa Tony terlalu mengamatinya dari tadi, itulah kenapa Selenia memilih untuk memandang ke jalanan daripada membalas tatapannya. Selenia bahkan ingin secepatnya Tony pergi dari sini supaya dia tidak terus merasa cemas. Apa Tony sedang melihat ke perutnya juga? Selenia melirik sedikit, dan ternyata tidak.
"Kamu kenapa sih? Kok aneh gitu?" tanya Tony kemudian.
Selenia tersenyum kecut. "Ee... nggak pa-pa kok," perasaan gelisah itu membuat perutnya tiba-tiba seperti terasa melilit. Selenia menggigit bibir untuk menahan sakitnya.
Berarti benar, kalau ada pernyataan bahwa Ibu hamil tidak boleh stress. Karena itu akan berpengaruh pada kondisi si janin. Dan saat ini Selenia tengah merasakannya. Perasaan itu timbul dari rasa takutnya sendiri atas kecurigaan Lala yang membuatnya berpikir sangat jauh. Dia takut rahasianya terbongkar dan akhirnya membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Bayang-bayang itu sangat mengacaukan pikirannya.
Selenia tidak tahan lagi. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi. Dia bahkan sampai harus membungkuk untuk menahan rasa sakit itu.
"Lhoh, Sel, kamu kenapa? Kamu sakit?!" tanya Tony bingung. Apalagi dia melihat wajah Selenia mulai memucat. Dia menggeser duduknya mendekati Selenia tapi tidak tahu harus berbuat apa.
"Adaaaam..." Selenia merintih dan mendesis lirih.
"Adam?" Tony menggumam. "Kamu mau aku nelfon dia? Mana ponsel kamu biar aku telfonin dia..."
Selenia menggeleng lemah. Dia tidak mungkin meminta Adam menjemputnya ke sini. Dokter masih melarang dia untuk tidak menyetir mobil sendiri.
Tony semakin bingung.
"Ya udah aku pesen taksi ya, aku anter kamu pulang," Tony mengeluarkan ponselnya. "Tunggu sebentar."
Selenia ingin menolak dan menahan supaya Tony tidak memesankan taksi, tapi dia tidak sanggup lagi untuk berbicara saking tidak kuat lagi menahan sakit di perutnya. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan keningnya.
Bersamaan dengan Tony yang baru saja menyelesaikan pemesanan taksi online, sebuah mobil meluncur dari ujung jalan. Dan itu mobil jemputan Selenia. Melihat majikannya kesakitan di kursi halte, Pak Tono pun langsung buru-buru keluar dan menghampiri Selenia.
"Mbak Selenia kenapa?!" tanya Pak Tono cemas.
__ADS_1
"Perut ... aku... sakit banget... P..pak..." jawab Selenia terbata.
Aduh, gawat ni. Jangan-jangan ada masalah sama kandungan Mbak Selenia. Pak Tono membatin.
"Tadi tiba-tiba Selenia mengeluh sakit Pak," Tony menyahut. "Saya juga tidak tahu apa yang terjadi. Lebih baik kita bawa Selenia ke klinik aja sebelum pulang..."
"Nggak... aku mau pulang aja... aku cuma pengen istirahat..." sahut Selenia.
Tony sebenarnya takut ada apa-apa dengan kehamilan Selenia.
"Bener kata mas ini. Kita harus ke klinik mbak. Nanti biar bapak hubungin Pak Adam," Pak Tono ikutan gugup. "Kalau kita langsung pulang, takutnya nanti kandu...."
"Pak Tono...." sahut Selenia cepat tapi tertahan. "Kita pulang aja sekarang..." kecemasannya semakin menjadi manakala Pak Tono hampir keceplosan.
Menyadari keteledorannya, Pak Tono buru-buru membekap mulutnya sendiri. Melihat hal itu Tony hanya bisa tersenyum kecut. Ternyata Selenia tidak ingin dia tahu tentang kehamilannya.
"Ya udah Pak, lebih baik bapak langsung bawa Selenia pulang saja," kata Tony akhirnya. "Ayo Sel, aku bantu kamu ke mobil," dia membantu Selenia berdiri dan memapahnya membawa ke kursi penumpang.
Selenia berjalan tertatih-tatih di dekapan Tony. Jantung Tony berdegup cepat merasakan kedekatan itu. Ahh, andai saja... Tony melirik wajah Selenia. Aroma wangi tercium dari rambut lembut cewek itu.
"Terimakasih ya mas, sudah menemani dan membantu Mbak Selenia," ucap Pak Tono.
Dari dalam mobil, Selenia bisa melihat Tony yang tidak pernah mengalihkan pandangan dari dirinya.
Mobil meluncur membawa Selenia meninggalkan gedung sekolah, sementara Tony masih berdiri di tempat, memandangi mobil itu sampai menghilang di tikungan.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan Selenia.
Tony menghela nafas panjang. Kenapa sulit sekali menjauh dari Selenia? Kenapa aku selalu mengkhawatirkan keberadaannya? Padahal aku tahu dia telah bersama orang yang tepat.
Kamu memang hobby cari penyakit, Ton! Sebuah suara dari sisi hatinya yang lain menggertak.
"Tony!" sebuah suara centil memanggil dan menyentakkan lamunannya.
Tony menoleh. Seorang perempuan dengan pakaian seragam yang sama menghampiri dirinya.
"Ada apa La?"
Lala. Ternyata dia belum pulang dan dari tadi berdiri tak jauh dari posisi Selenia dan Tony hanya untuk memastikan bahwa dugaannya tentang Selenia tidak salah. Dia sendiri tidak tahu kenapa harus susah payah melakukan itu--mengintai dan mencari kebenaran--padahal sebenarnya teman-teman sekelasnya pun tidak begitu peduli.
"Apa lo sama sekali nggak curiga sama sikap Selenia?"
Pertanyaan itu membuat Tony mengernyit. Dia tahu Lala memang terkenal biang gosip di kelasnya.
"Curiga dalam hal apa ya?"
"Lo tahu nggak sih, gue pernah nggak sengaja ketemu dia di klinik di bagian SPOG," kata Lala mulai antusias--khas penggosip. "Dan lo tahu nggak, dia datang ke sana sama siapa?"
"Mana gue tahu," jawab Tony malas sembari mengangkat bahu.
Lala mendengus melihat respon Tony yang tidak begitu antusias. "Dia ke sana sama seorang cowok... eh bukan cowok ding. Tapi sama Om-Om gitu..." kata Lala dengan nada tidak suka.
"Dia juga sama seorang perempuan. Kok gue curiga ya..." nadanya mulai terdengar menghasut. "Apalagi barusan dia kenapa tuh? Sakit perut? Kok gue nggak yakin itu sakit perut biasa."
Tony terkekeh yang justru membuat Lala manatapnya bingung.
"Aduh Lala.... Lala. Sakit perut yang nggak biasa itu yang kaya gimana??? Lo tu aneh banget. Lagian ya, bisa nggak sih lo itu nggak usah terlalu ikut campur dan kepo sama hidup orang lain?" jawab Tony ketus. Itung-itung membalas sikap Lala yang begitu mengintimidasi Selenia kemarin di sekolah.
"Bukannya gue kepo Ton. Lo bayangin aja coba, mau jadi apa sekolah kita kalau beberapa muridnya modelan Selenia gitu."
Kalimat itu membuat wajah Tony memerah menahan emosi. "Modelan seperti apa maksud lo, La?"
"Ya ampun Ton, susah ya jelasin sama lo. Ya lo bayangin aja kalau anak seusia kita, masih belasan tahun, terus pacaran sama Om-Om... apa namanya??? Selenia kaya model sugar baby nggak sih?"
"LALA!!" Tony membentak, membuat anak itu melonjak kaget. "Bisa nggak sih lo kalau ngomong nggak asal gitu? Emangnya lo tahu yang sebenarnya? Hati-hati La, kalau itu nggak bener, jatuhnya bisa jadi pencemaran nama baik. Hukumannya nggak ringan. Lo udah siap masuk bui apa gimna sih?"
Taksi online pesanan Tony datang. Seorang sopir melongokkan kepalanya keluar jendela.
"Mas, maaf ya telat. Tadi di depan ada sedikit masalah," kata si sopir taksi tersebut.
"T-tapi Ton..." Lala masih mau ngeyel.
"Bodo amat lah La. Your truth isn't mine! Lo hati-hati kalau ngomong!" ucap Tony kemudian dan langsung menerobos masuk taksi.
Lala memberengut dan menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Kenapa semua orang di sini masa bodoh? Kenapa nggak pada jeli sama sikap Selenia? Aaarrgghhh!! sebel!!!
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1