
Pak Anton menyusuri lorong menuju ruang ICU dengan langkah terburu-buru. Seketika pikirannya menjadi kacau karena besok adalah meeting penting untuk membahas proyek baru yang akan bekerja sama dengan client dari Australia. Dia berhenti sejenak, dan menelfon Irham, tapi tidak di angkat. Terang saja, ini kan sudah hampir tengah malam. Waktunya orang-orang pada tidur. Begitu juga saat menghubungi Renata.
Tidak ingin proyek itu batal, dia pun mengirimkan pesan masing-masing kepada Irham dan Renata supaya mereka bisa menghandle tugas Adam.
Setibanya di depan ruang ICU, seorang suster terlihat baru saja keluar dari sana. Suasana hening dan sangat sunyi. Pak Anton perlahan melangkahkan kaki mendekati pintu dan seketika mukanya menegang manakala melihat Adam yang terbaring tak berdaya di dalam sana. Beberapa alat medis terhubung dengan tubuh staff kesayangannya itu. Mulai dari selang oxygen, selang infus, transfusi darah dan bedside monitor di sebelah tempat tidur rawat Adam.
Adam ditusuk? Pak Anton tidak habis pikir. Siapa yang melakukannya?
"Selamat malam Pak," seorang perawat laki-laki menyentakkan Pak Anton yang sedang mengamati Adam dari balik kaca pintu ruang ICU.
"Oh.. iya, selamat malam," Pak Anton menoleh. Perawat itu melemparkan senyum padanya. Wajahnya terlihat sayu karena menahan kantuk. Mungkin karena malam ini adalah jadwal jaganya, makanya dia ada di sini.
"Ee... Mas, saya mau tanya, pasien yang ada di dalam sana itu, tadi ke sini diantar siapa?" tanya Pak Anton. Karena yang dia tahu, kedua orang tua Adam sedang berada di New York.
"Keluarganya, Pak," jawab perawat tersebut. "Apakah Bapak saudara pasien?"
Keluarga? Kening Pak Anton mengerut, lalu dia buru-buru mengangguk untuk menjawab pertanyaan perawat itu. "Iya, saya... saudara jauh... kalau boleh tahu, keluarga yang mengantar dia ke sini yang mana ya? Kok... nggak ada di sini?" Pak Anton celingukan.
"Istrinya yang membawa dia ke sini Pak. Dan sekarang istrinya sedang berada di ruang perawatan karena tadi sempat pingsan."
Istri? Pak Anton semakin kebingungan. Adam kan masih lajang.
"Istri? Tunggu..." Pak Anton menoleh ke ruang ICU dan kembali menatap ke perawat. "Pasien yang di dalam itu namanya Adam kan? Adam Lucas Prawira?"
Perawat itu mengangguk. "Iya betul."
"Mas, berarti mas salah orang, karena setahu saya, Adam itu masih lajang. Dia belum menikah."
"Kalau soal itu saya tidak tahu Pak. Tapi memang kenyataannya yang membawa dia ke sini adalah istrinya."
Pak Anton terdiam. Belum terpecah dari pikirannya tentang musibah yang menimpa Adam--kenapa dia bisa sampai ditusuk orang--kini dia harus berpikir lagi tentang status staff kesayangannya itu yang ternyata sudah menikah. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau Adam sudah menikah? Kenapa Adam menyembunyikan statusnya?
"Oh, ya udah kalau gitu Mas, terimakasih untuk informasinya."
Perawat itu menggeleng-geleng pelan. Katanya saudara, kok nggak tahu kalau saudaranya menikah. Batinnya sebelum berlalu.
...🌺🌺🌺...
Pak Anton: [Ren, tolong meeting hari ini kamu handle dengan Irham. Jangan sampai dibatalkan. Karena Adam tidak mungkin bisa datang. Dia sedang mendapat musibah. Malam ini dia ditusuk orang, dan sekarang berada di ICU.]
Renata sangat syok saat pagi itu menerima pesan dari Pak Anton. Dia membekap mulutnya sendiri. Pak Adam ditusuk orang? Bukankah semalam dia dan Selenia merayakan ulang tahunnya yang ke 31? Ya Tuhan, ada apa ini?
Bahkan ketika dia bertemu dengan Irham di kantor pun, anak itu juga sama kagetnya karena dia juga mendapat pesan yang sama dari Pak Anton. Perasaan Renata tidak karuan selama jam kerja hari ini. Bukan hanya Adam yang ada di pikirannya, tapi juga Selenia. Apalagi semalan adalah hari bahagia mereka. Renata masih ingat, betapa excitednya Adam kemarin saat menceritakan padanya kalau istrinya sudah menyiapkan kejutan istimewa di Carlos kafe untuk acara ulang tahunnya.
Itulah sebabnya, sore hari sepulang dari kantor, Renata langsung bergegas menuju rumah sakit. Dia langsung mendatangi ruang ICU dan mendapati Selenia dan Cia di sana. Dua ABG itu sedang duduk berdekatan di salah satu kursi yang berada di luar ruang ICU.
Saat melihat kedatangan Renata, Cia hanya melirik sekilas dan kemudian menggeser posisi duduknya, bermaksud memberi ruang untuk Renata.
"Selenia...." sampai di situ, mata Renata sudah berkaca-kaca. Tidak tega rasanya melihat Selenia yang tampak sangat terpukul. Ditambah lagi melihat pakaian yang dikenakan Selenia, pasti dia belum pulang ke rumah dari semalam. Mana mungkin dia ke rumah sakit mengenakan gaun seperti ini?
__ADS_1
Pagi tadi, karena merasa sudah sedikit kuat, Selenia tidak mau terus-terusan berada di ruang perawatan. Dia ingin selalu berada di dekat suaminya, meskipun hanya bisa menunggu di luar ruangan. Sakit sekali hatinya saat melihat Adam yang terbaring lemah di dalam ruang ICU.
Selenia menatap Renata lemah. Saat Renata mendekat dan memeluk tubuhnya, dia tidak lagi bisa menahan air matanya.
"Kamu yang kuat ya Sel...." Renata turut menangis. "Siapa yang tega melakukan ini sama Pak Adam?"
Selenia menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu... kenapa dia jahat banget sama suamiku... dia salah apa...?"
Renata melepas pelukannya, menangkup wajah Selenia dan menghapus air matanya. Dia sudah menganggap Selenia seperti adiknya sendiri.
"Semoga saja pelakunya segera ditemukan ya. Yang penting kamu harus selalu berdoa. Pak Adam itu orang yang kuat kok, dia pasti bisa melalui semua ini," Renata memberikan support untuk Selenia.
...🌺🌺🌺...
Renata tiba di rumah selepas maghrib. Dia kaget saat melihat mobil Devan sudah terparkir di halaman rumahnya. Ngapain dia di sini? Kenapa nggak kirim pesan atau telfon dulu kalau dia mau datang? Dengan langkah cepat setengah berlari, dia masuk rumah dan terperangah saat mendapati Nola yang sedang tertawa riang bermain dengan Devan di ruang tengah.
"Mamaaaa...!" pekik Nola melihat kehadiran Renata di ambang pintu.
Dengan gerakan cepat, Renata menyambut Nola dengan pelukan dan menggendongnya. Syukurlah, Nola baik-baik saja. Batinnya.
Devan berdiri dan menyunggingkan senyum. "Hei Ren," sapanya.
"Kamu.... ngapain ke sini?" Renata merasa cukup aneh saja dengan kedatangan Devan kali ini. Karena semenjak hari ulang tahun Nola waktu itu, dia tidak pernah muncul lagi.
"Lhoh..." Devan terkekeh sebentar. "Memangnya salah kalau aku pengen ketemu sama anakku?"
"Bukan begitu maksudku. Cuma... kamu bisa kan kalau mau ke sini kirim pesan atau telfon dulu ke aku."
Memang ada kesepakatan seperti itu. Tapi entah kenapa, berat rasanya bagi Renata jika Devan datang menemui Nola saat dirinya sedang tidak di rumah. Apalagi jika menilik ke belakang, saat dimana Devan rela meninggalkan dia dan Nola demi perempuan lain. Dan sejak saat itu lah Devan tidak pernah muncul lagi--hanya sekali saat ulang tahun Nola yang pertama. Setelahnya, dia menghilang bak di telan bumi. Kemudian dia datang lagi dengan membawa surat gugatan supaya hak asuh Nola diberikan padanya. Yang setelah ditelusuri, ternyata dia melakukan itu karena istri keduanya tidak bisa memberikan keturunan. Bayang-bayang Devan membawa lari Nola selalu menghantui pikiran Renata. Devan itu orangnya terkenal nekat.
"Mbak Ami....!" Renata memanggil pengasuh Nola. Dia tidak ingin anaknya mendengar perdebatannya dengan Devan.
Mbak Ami muncul dari ruang belakang dan Renata langsung memberikan Nola padanya. Melihat sikap Renata itu, wajah Devan yang tadinya biasa-biasa saja berubah sedikit menegang.
"Ini nggak rumit kok Van," jawab Renata setelah Mbak Ami dan Nola menjauh. "Aku cuma nggak suka aja kamu datang ke sini tanpa meminta izin dulu sama aku. Maaf ya Van, tapi ini rumahku, aku punya aturan di dalamnya."
"Aku cuma mau ketemu Nola, main sama dia, itu aja Ren. Salah?"
"Memangnya siapa yang ngelarang kamu ketemu Nola? Aku nggak ada ngelarang kamu, cuma aku minta bilang dulu sama aku. Itu aja kok."
"Aku Papanya dia Ren!"
"Kenapa sekarang kamu bawa-bawa kata itu sih Van? Dulu waktu kamu ninggalin aku sama Nola, kamu inget nggak kalau kamu sudah punya anak?!"
"Kok kamu jadi ungkit masa lalu Ren? It's over kan? Kamu udah memenangkan sidang, kamu tetep dapat hak asuh, dan kita udah sepakat kalau aku bisa jenguk Nola kapanpun yang aku mau. Kenapa kamu justru berbelit-belit sekarang? Kamu sengaja mau jauhin aku sama Nola?"
Renata memejamkan mata sebentar dan menghela nafas. "Nggak ada sama sekali aku punya pikiran kaya gitu. Aku cuma mau, kalau kamu mau ketemu Nola, seharusnya kamu ngomong dulu sama aku, dah itu aja."
Devan menatap Renata lurus. Dia melihat banyak sekali perbedaan pada diri Renata. Saat masih menjadi istrinya dulu, dia tidak sekeras kepala ini. Tapi secepatnya dia sadar kalau posisi Renata dulu dan sekarang memang jauh berbeda. Jadi wajar kalau sikapnya pun berubah. Wajar kalau dia menjadi overprotective pada Nola.
__ADS_1
"Ya udah okey...." ucap Devan kemudian. "Oke aku minta maaf kalau.... sikapku membuat kamu nggak nyaman. Lain kali kalau aku pengen ketemu Nola, aku bakal ngomong dulu sama kamu."
Renata mengangguk. "Makasih buat pengertiannya," dia kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa, dan kembali memanggil Mbak Ami supaya Nola diajak ke ruang tengah.
"Sini sama Papa sayang," Devan mengambil Nola dari gendongan Mbak Ami. Anak kecil itu menyambut dengan riang dan gemas. "Mama kan capek...." dia mendudukkan Nola di pangkuannya.
Renata tersenyum memaksa. Bibirnya tersenyum tapi tidak dengan matanya.
"Memangnya, setiap hari kamu pulang jam segini ya Ren?" tanya Devan.
Renata menggeleng. "Tadi aku mampir ke rumah sakit dulu, jadi aku pulang telat."
Kening Devan mengerut. "Memangnya siapa yang sakit?"
Tubuh Renata menegak. "Adam. GM-ku, semalem katanya ditusuk orang."
Mission completed! Tujuan utama Devan ke sini sebenarnya adalah untuk mencari tahu gimana kondisi laki-laki itu sekarang. Secara dia kan orang yang sekantor sama Adam, sekretarisnya juga, jadi dia pasti tahu apa yang terjadi padanya. Oh, ternyata dia masih selamat dan berada di rumah sakit?
"Apa?!" wajah Devan pura-pura kaget. "Terus, keadaannya sekarang gimana Ren? Di rumah sakit mana?"
"Dia masih koma di ruang ICU. Di rumah sakit International."
Bagus! Semoga aja lo nggak bakal selamat.
"Van..." ucap Renata kemudian dengan nada penuh selidik disertai tatapan intimidasi pada Devan. Tiba-tiba saja terlintas pikiran aneh di otaknya.
"Kamu.... kenapa ngelihatin aku kaya gitu?"
Renata berpikir, selama dia mengenal Adam, Adam tidak pernah mendapat masalah serius apalagi ribut sama orang. Tapi semenjak dia dan Devan pernah baku hantam waktu itu di depan rumah ini, masalah demi masalah menghampirinya secara beruntun. Mulai dari terror, hingga kecelakaan yang dialami Selenia, yang ternyata adalah perbuatan Devan karena dia masih menaruh dendam. Lalu, apakah hal yang terjadi pada Adam kali ini juga ada hubungannya dengan Devan?
"Kamu... yakin nggak tahu apa-apa tentang musibah yang dialami Adam?"
Kening Devan mengerut. "Maksudnya? Kamu nuduh aku yang melakukannya gitu?"
Renata terdiam. Semoga saja memang bukan Devan pelakunya. Tapi siapa lagi? Selama ini Adam tidak pernah punya masalah sama orang.
"Kok rasanya aku buruk banget ya Ren di mata kamu," ucap Devan dramatis.
"Eee.... maaf... sorry Van," sahut Renata terbata. Dia dibuat bingung dengan pikirannya sendiri. Kenapa harus mikir sejauh itu.
"Iya nggak pa-pa," jawab Devan ketus.
Renata berdiri. "Ya udah kalau gitu aku mau mandi dulu. Nola, Mama mandi dulu ya sayang," ucapnya sembari mentowel pipi gembul Nola.
Begitu Renata berlalu, Devan bernafas lega namun juga kesal.
Sial, ternyata lo masih hidup? Sepertinya memang gue yang harus menghabisi lo dengan tangan gue sendiri.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...