
Gara-gara pulang dari nganterin Cia ke rumah--sekembalinya dari rumah Selenia dan kehujanan--Tony jadi flue berat. Dia bahkan tidak turun untuk makan malam dan hanya meringkuk di kamar. Tubuhnya menggigil dan dia merasakan kepalanya seperti ditusuk ribuan jarum. Kalau sedang seperti ini dia suka terbayang-bayang sosok Ibunya yang membuatnya merindu. Andai saja orang tuanya masih bersatu. Dalam keadaan seperti ini pasti akan lebih nyaman bila dirawat seorang ibu.
Keringat dingin membasahi tubuh Tony saat dia merangkak untuk mengambil ponsel di atas nakas. Matanya berkunang-kunang. Dia bermaksud untuk menelfon Ayahnya karena merasa tidak punya daya jika harus berteriak memanggil beliau dari sini.
Tok tok tok!
Samar-samar terdengar pintu kamarnya diketuk. Tony hanya menoleh dan menatap ke arah pintu yang dilihatnya seperti berputar. Jarak dari tempat tidur ke pintu pun seolah jauh sekali dijangkau. Sampai akhirnya, karena tidak mendapat respon, pintu yang sedari tadi digedor itu terbuka dari luar.
"Tony?!!" terdengar suara Pak Anton memekik. Saat dia tergopoh-gopoh menghampiri anaknya, Tony sudah tidak ingat apa-apa lagi.
...🌺🌺🌺...
Sikap Selenia malam ini sukses membuat Adam tidak bisa tidur. Bibirnya tidak bisa berhenti menahan senyum. Kesabarannya selama ini ternyata berbuah manis. Dia merasa Selenia sudah mulai membuka hatinya.
Adam berguling di atas ranjang dan memeluk gulingnya gemas. Membayangkan benda itu adalah tubuh mungil Selenia. Jadi dia menciumi benda tersebut berkali-kali. Suatu saat, masa itu pasti akan tiba. Aku yakin!
Ddrrrrttt!! Drrrttr!!
Ponsel Adam yang berada di atas meja kerja bergetar, membuatnya tersentak. Dengan langkah gontai dia berjalan menghampiri meja tempat ponselnya berada.
"Pak Anton?" kening Adam mengernyit melihat siapa yang menelfon. "Tumben malem-malem nelfon," gumamnya. "Iya halo Pak..." sapa Adam. "Apa??? Oh iya-iya saya segera kesana. Di rumah sakit mana Pak? Oke baik."
Pak Anton mengabarkan pada Adam kalau anaknya masuk rumah sakit dan dia ingin Adam ke sana. Dengan cekatan Adam langsung mengganti pakaian dan keluar kamar. Saat melihat pintu kamar Selenia yang tertutup, dia sebenarnya ingin mengetuk dan minta izin kalau dia mau pergi ke rumah sakit. Tapi kemudian dia urungkan niatnya itu karena khawatir kalau Selenia sudah tidur dan itu justru akan mengganggu. Maka dia pun terus bergegas menuruni tangga.
Sementara di dalam kamarnya, Selenia yang ternyata belum tidur, dia mendengar langkah kaki yang semakin menjauh. Selenia keluar dan tak menemukan siapa-siapa di sana. Lalu tak lama kemudian terdengar suara deru mesin mobil di garasi. Selenia berbalik masuk kamar dan melihat dari jendela kamarnya. Mobil Adam melesat dengan kecepatan lumayan meninggalkan rumah.
"Apa?!" mulut Selenia ternganga lebar. "Adam mau kemana malam-malam gini? Kenapa dia nggak ngomong sama aku dulu??" gumamnya sedikit kesal.
Tring!
Ponsel Selenia berkedip.
Adam: [Sel aku ke rumah sakit. Barusan Bos aku telfon, katanya anaknya pingsan dan masuk rumah sakit. Aku diminta untuk datang ke sana. Maaf aku ga' sempet ngomong sama kamu]
__ADS_1
Selenia bernafas lega. Huffhhh.... syukurlah. Kirain ada apa.
Selenia: [Hati-hati. Jangan pulang malem2 😢]
Balas Selenia dengan membubuhi emoticon khawatir. Dia lalu kembali ke tempat tidurnya.
...🌺🌺🌺...
Adam telah sampai di rumah sakit. Dan ternyata anak Bosnya itu dirawat di rumah sakit yang sama dengan Nola. Saat baru saja sampai di meja resepsionis dia tak sengaja bertemu dengan Renata yang kebetulan lewat.
"Lhoh, Pak Adam? Kenapa malam-malam ke rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Renata heran.
"Tadi Pak Anton telfon aku, katanya anaknya masuk rumah sakit ini, dan aku diminta buat datang ke sini," jawab Adam.
"Oh ya? Bapak sudah tahu di kamar mana?"
Adam menggeleng. "Bu, saya mau nanya. Barusan ada pasien baru masuk ke rumah sakit ini?" Dia bertanya pada resepsionis.
Adam menggigit bibir bawahnya. Tentu saja dia tidak tahu nama anak Bosnya itu. Pak Anton hanya bilang di telfon untuk memintanya ke sini karena anaknya pingsan, tapi dia tidak memberitahu nama anaknya dan juga nomor kamarnya.
"Aduhhh, saya nggak tau namanya Bu," jawab Adam polos.
Si resepsionis menunduk dan menahan senyum. Dia kemudian membuka data di komputer. "Kalau nama orang tuanya, atau orang yang bertanggung jawab dengan pasien, bapak tahu?"
"Oh iya, nama orang tuanya," jawab Adam cepat. "Anton. Anton Adigunawa."
Resepsionis tersebut kembali mengecek data di komputer. "Pasien atas mama Erland Antonio Adigunawa, dirawat di ruang VIP Jasmine nomor 28. Bapak lurus saja dari sini, di ujung sebelah kanan ada tangga. Kamarnya di lantai 2," ucap resepsionis sembari menunjukkan arah.
"Oke terimakasih," Adam segera bergegas mengikuti arah yang telah ditunjukkan oleh resepsionis diikuti Renata di belakangnya.
...🌺🌺🌺...
Pak Anton baru saja keluar dari kamar VIP Jasmine 28 saat Adam dan Renata muncul. Dia bersama seorang dokter yang tengah menjelaskan penyakit yang diderita Tony.
__ADS_1
"Anak Bapak hanya butuh istirahat yang cukup. Dia mungkin terlalu banyak aktivitas ya akhir-akhir ini? Ditambah lagi menghadapi musim pancaroba begini, sistim imun tubuh harus benar-benar fit," kata dokter tersebut.
Pak Anton hanya manggut-manggut. Setidaknya dia merasa lega karena Tony sudah mendapat penanganan.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap sang dokter. "Kalau ada apa-apa, Bapak bisa memanggil saya atau suster jaga."
"Iya, Dok. Terimakasih."
Dokter itu pun pergi meninggalkan Pak Anton. Laki-laki itu tampak kuyu saat mendudukkan tubuhnya ke kursi yang ada di luar kamar rawat Tony.
"Pak," Adam mendekati Pak Anton.
Pak Anton mendongak. "Eh, Adam?" Dia mengalihkan tatapannya pada Renata. "Kok... kalian bisa bareng sih?"
"Anak saya juga dirawat di sini Pak," jawab Renata.
"Oh, terus anak kamu sama siapa?"
"Dia bersama pengasuhnya di kamar. Tadi saya ketemu Pak Adam di ruang resepsionis, ternyata anak Bapak masuk rumah sakit? Kalau boleh tahu, dia sakit apa?"
Pak Anton menghela nafas. Dia menggeser posisi duduknya, memberi ruang untuk mereka berdua supaya ikut duduk. Adam duduk di samping Pak Anton, lalu disusul oleh Renata. Dia menceritakan tentang kondisi Tony yang mendadak pingsan dan penjelasan Dokter tentang penyakitnya.
Malam ini Adam bahkan diminta oleh Pak Anton untuk menemaninya di sini. Saat mengetahui anaknya pingsan, dia bingung harus menelfon siapa dan hanya kepikiran untuk menelfon Adam.
"Kamu besok libur dulu nggak pa-pa Dam. Besok saya baru mau menghubungi Tantenya Tony, supaya ada yang jagain dia kalau saya harus ke kantor."
Adam hanya bisa mengangguk. Dia bimbang karena pikirannya melayang pada pesan Selenia yang memintanya untuk tidak pulang larut malam.
Bagaimana kalau Selenia menunggu kepulanganku?
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1