NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -87-


__ADS_3

Malam itu setelah makan malam Selenia duduk di sofa ruang tengah sendirian. Adam sedang menerima telfon dari Pak Anton di lantai atas. Sayup-sayup terdengar obrolan mengenai proyek-proyek apalah itu yang sama sekali tidak dimengerti oleh Selenia.


Selenia sendiri asyik menscroll layar ponsel di tangannya. Sesekali dia tersenyum saat melihat gambar yang disuka. Ya, dia sedang melihat-lihat akun Instagram Tony dan mencari gambar-gambar close up anak itu. Selenia tidak tahu kenapa tiba-tiba dia jadi begini. Semenjak melihat Tony di kantin siang tadi, dia jadi amat tertarik dengan hidungnya. Padahal selama ini mereka sering bertemu, tapi biasa-biasa saja. Mungkin yang dibilang Cia tadi benar. Ini ada hubungannya dengan bayi di dalam perutnya.


Ya ampun sayang, masa sih kamu suka sama hidung uncle Tony? batin Selenia sembari mengelus-elus perutnya.


"Bosen yang, keluar yuk cari angin," Adam muncul dari lantai dua dan langsung menghampiri Selenia yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Sel..." Adam mendaratkan tubuhnya di sebelah Selenia dan seketika raut wajahnya berubah saat melihat apa yang sedang ditonton istrinya itu di ponselnya. "Kamu ngapain ngeliatin foto-fotonya Tony?"


Selenia tersenyum. "Dam lihat deh..." dia memperlihatkan layar ponsel ke depan wajah Adam. "...lucu ya... hihihi..."


"Kamu apa-apaan sih sayang?" tanya Adam bernada tidak suka. Ya kali dia suka melihat istrinya kesengsem sama cowok lain? "Lucu apanya sih?"


"Iya Dam, lucu hidungnya Tony tuh. Lihat deh," jemari Selenia meng-zoom lagi salah satu foto Tony dan memperjelas di bagian hidung.


Adam meraba hidungnya sendiri. Apanya yang lucu sih dari hidung Tony? Bagusan juga punyaku! batin Adam kesal. Merasa tidak begitu di perhatikan, dia pun langsung merebut ponsel Selenia dan meletakkannya di atas meja.


Selenia kaget. "Adam apaan sih?" dia ingin mengambil ponsel itu kembali tapi tangannya justru ditahan oleh Adam.


"Kamu yang apa-apaan. Lagi sama suami kok malah sibuk ngelihatin gambar cowok lain di HP!" Adam menggerutu. "Kamu suka sama Tony?"


Selenia melirik genit. "Diiih! Enggak kok," ucapnya tanpa merasa bersalah. "Suka sama hidungnya doang."


Adam beringsut, mengangkat satu kakinya ke atas sofa. "Suka sama hidungnya Tony?" tegasnya dan Selenia mengangguk. "Apa sih yang bikin kamu suka sama.... ya ampun..." Adam melihat Selenia dari ujung kepala sampai ujung kaki dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Siniin HP aku!" Selenia mengulurkan tangan.


"Nggak!" Adam menyembunyikan ponsel Selenia di belakang tubuhnya.


"Iiiihhhh Adam. Itu kan HP aku. Manaaaaa..." Selenia merengek.


"Jangan buat nontonin cowok dong sayang... kamu nggak bisa jaga perasaan aku banget?!"


"Ya ampun, Adam...." Selenia melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Adam untuk mengambil ponselnya sehingga dia tampak seperti dengan sengaja memeluk paksa Adam. "Aku kan cuma liatin hidungnya doang... kamu jangan neting doooong..."


Namun Adam tetap kekeuh mempertahankan ponsel itu dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Membuat Selenia kesulitan untuk meraih.


"Bukannya aku neting. Ya aku cemburu lah. Masa istri aku kesengsem sama cowok lain. Pake alesan suka sama hidung.... hidung.... hidung... apaan? aneh banget, nggak masuk akal."


"Ya emang bener aku nggak suka sama Tony kok!" Selenia juga kekeuh ingin mengambil ponselnya. "Siniiin Daaaaam...."


"Janji jangan buat stalking akun Tony lagi."


Mata Selenia beradu sejenak dengan mata Adam. Bibirnya memberengut karena Adam tak juga memberikan ponselnya.


"Janji dulu, baru aku kasih ke kamu."


"Iyaaaa....." ucap Selenia tepat di depan wajah Adam.


"Apa-apaan ini? Kalian ngapain?" sebuah suara dari ruang depan mengagetkan mereka.


Pak Fendi yang entah sejak kapan, sudah berdiri tegak tak jauh dari tempat mereka duduk. Wajahnya tercengang melihat Selenia yang sedang memeluk Adam.


Seketika Selenia langsung menarik diri dari pelukan Adam. Begitu juga Adam yang langsung bergerak mundur.


"A-ayah?" sapa Adam gugup.


Pak Fendi masih menatap mereka bergantian dan berjalan mendekat.


"Ayah sudah lama? Silahkan duduk Yah..." sila Adam. Dia kemudian berdiri dan duduk di sofa yang satunya.


"A-ayah kok nggak bilang mau ke sini? Ayah dari mana?" tanya Selenia.


"Tadi dari rumah temen Ayah, terus kebetulan lewat. Jadi mampir sekalian," Pak Fendi duduk di dekat Selenia. "Kalian pada ngapain ini? Kayaknya lagi asyik banget? Ayah nggak ganggu kan?" dia menatap Selenia dan Adam bergantian.


"Enggak kok, yah. Kita juga lagi nggak ngapa-ngapain. Lagi bercanda aja," jawab Selenia. Matanya tidak henti melihat ponselnya yang masih digenggam oleh Adam. "Bentar ya Yah, aku buatin minum dulu," dia beranjak ke dapur.


Ternyata di dapur Bi Iyah malah sudah membuatkan tiga cangkir teh hangat. Jadi Selenia tinggal membawanya ke depan.


"Wah makasih ya Bik," Selenia mengangkat nampan. "Bik... sekalian tolong itu kue di kotak taruh sini..." dia menunju kotak berisi kue kering dengan dagunya.


"Okey, makasih bik," ucap Selenia setelah Bi Iyah meletakkan kuenya di atas nampan.


Dia kemudian membawa minuman dan kue itu ke ruang tengah untuk teman ngobrol bersama Ayahnya dan Adam.


...🌺🌺🌺...


Di tempat lain, Cia sedang menemani Marvin mengerjakan tugas kuliahnya di kafe. Kali ini mereka tidak nongkrong di warteg seperti biasa, karena Marvin butuh koneksi WiFi untuk laptopnya. Bukannya Marvin tidak bisa melakukan tugas itu di rumah, hanya saja dia sudah terlanjur janji pada Cia untuk keluar malam ini sejak siang tadi, sebelum dia ingat bahwa ternyata dia masih punya tanggungan tugas yang harus diserahkan besok pada Dosen. Untung saja Cia bisa mengerti dan tidak mempermasalahkan kesibukannya dengan laptop meski mereka sedang dating.

__ADS_1



"Yang habisin dulu dong itu es krimnya. Nanti leleh nggak enak," Cia memperingatkan saat melihat eskrim pesanan Marvin di hadapannya perlahan mulai mencair.


"Iya bentar dikit lagi," ujar Marvin sambil mengetik.


Cia mendengus lirih. Dia kemudian menyendokkan eskrim milik Marvin dan mendekatkan ke mulutnya.


"Ya udah sini aaa dulu..."


Marvin menoleh dan tersenyum pada Cia. "Ya ampun so sweet banget aku disuapin," godanya sebelum melahap sesendok eskrim dari tangan cia.


"Keburu leleh dong kalau kamu nugas terus. Pending dulu kenapa? Ini habisin dulu...."


"Iya iya iya okeee," Marvin menutup laptopnya.


"Lhoh, kenapa ditutup?" Cia menunjuk laptop. "Kan belum selesai."


"Gampang nanti aku selesain di rumah. Tinggal dikit kok."


Cia menyodorkan eskrim ke Marvin. "Ya udah gih dihabisin... tuh kan leleh.. nggak enak pasti."


"Siapa bilang nggak enak? Enak aja lagi yang penting makannya di deket kamu."


Cia mencibir. "Hmmmmmhhhh udah mulai jago ngegombal ya sekarang?" dia menarik hidung Marvin gemas.


"Adudududuh.... sakit yang.... entar kalau lepas gimana?"


Cia terbahak. Dia melepaskan tangannya dari hidung Marvin dan tiba-tiba ingat perihal Selenia yang mendadak menyukai hidung Tony. Cia memperhatikan hidung Marvin dan tersenyum geli. Bagusan juga hidungnya Marvin daripada punya Tony, hmmhhh...


"Yang, habis ini ke bukit bintang yuk. Uda lama banget kita nggak ke sana."


Kening Marvin mengerut. "Malam-malam gini?"


Cia mengangguk mantap. "Iya, pasti viewnya lebih bagus deh."


Marvin melihat jam tangannya. Memang belum terlalu malam sih.


"Ayo lah Yang.... pengen nambah koleksi foto di IG... hehehe..." Cia menggamit lengan Marvin manja.


Sikap manja seperti itu lah yang membuat Marvin tidak pernah bisa menolak permintaan Cia. Jadi setelah menghabiskan makanan, minuman dan membayar ke kasir, mereka segera meninggalkan kafe sebelum malam semakin larut.


...🌺🌺🌺...


"Uuffffhhhh... dingin..." Cia merapatkan jaketnya.


"Lagian kamu sih. Malam-malam begini kok ngajak ke gunung," Marvin melepas helm Cia dan meletakkannya di spion.


"Tapi keren Yang..." sahut Cia. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling bukit bintang yang menampilkan city light kota yang begitu sempurna. "..... sumpaaaaaah... ini lebih keren daripada pas senja kita ke sini waktu itu," matanya berbinar.


"Tapi sebentar aja ya. Nanti kalau kemaleman, aku nggak enak sama Mama kamu."


Cia mengangguk. Mereka baru saja berjalan beberapa langkah menuju pagar pembatas saat mata Marvin melihat sesosok perempuan berdiri mematung di tepi pagar sekitar 200 meter dari posisi mereka. Perempuan itu menatap lurus ke arah kota dengan kedua tangan yang disilangkan di dada.


Kaya familiar. Batin Marvin. "Yang ke sana yuk," dia menarik tangan Cia, mengajaknya menghampiri perempuan tersebut.


Cia menahan langkah. "Enggah ah Yang, takut!" dia bergidig.


"Takut kenapa?"


"Kita ngapain nyamperin dia? Jangan-jangan itu bukan orang."


"Ya ampun Yang, kamu kok masih percaya sama begituan sih?"


"Yang, hidup kita tu berdampingan sama makhluk ghoib. Enggak ah... aku nggak mau ke situ."


"Astaga, Yang lihat deh..." Marvin menunjuk ke bagian bawah sosok peremouan itu. "Kakinya aja napak di tanah... itu orang Yang."


Cia memperhatikan perempuan yang ditunjuk Marvin dari atas sampai bawah. Dan benar, dia sama seperti dirinya, sama-sama menapak di tanah.


"Tapi kita ngapain ke sana? Kenal juga enggak," Cia kekeuh menahan langkah.


"Udah ayok ikut aja."


Cia hanya bisa pasrah saat Marvin menarik tangannya mendekati perempuan itu.


"T-tante Riska?" sapa Marvin setelah mereka dekat dengan perempuan itu.


Sosok perempuan itu seketika menoleh saat mendengar namanya disebut. Marvin tersenyum karena ternyata dia tidak salah orang. Dia Bu Riska, Mamanya Tony.

__ADS_1


"Marvin?" Bu Riska buru-buru menyeka air matanya. "K-kamu ngapain di sini?"


Cia seketika juga langsung ingat dengan Bu Riska. Dia perempuan yang pernah dia temui juga malam itu di jalan kan, pada saat dia dan Marvin lagi jalan-jalan? Yang kata Marvin adalah Ibunya Tony. Ngapain dia malem-malem di sini? Sendirian lagi.


"Kita memang sering ke sini sih, Tan. Tante sendiri ngapain di sini malam-malam begini? Sendirian lagi."


Bu Riska menatap Marvin dan Cia bergantian. Dia tidak lagi bisa membendung air matanya dan kembali menangis.


...🌺🌺🌺...


"Ayah beneran mau pulang? Nggak nginep sini aja?" tanya Selenia saat Pak Fendi pamit pulang.


Mereka sudah ngobrol selama hampir dua jam. Membicarakan tentang sekolah Selenia dan juga rencana kuliah yang akan diambil Selenia setelah lulus. Selain itu mereka juga membicarakan rencana Adam yang katanya ingin resign untuk kemudian mengurusi perusahaan Papanya sendiri.


Selenia dan Adam mengantarkan Pak Fendi sampai di depan pintu.


"Enggak nak. Besok pagi-pagi sekali kan Ayah harus ke Bogor juga. Kapan-kapan aja ya Ayah nginep sini?"


Selenia dan Adam mengangguk bersamaan.


"Kalau ke bogor Ayah hati-hati nyetirnya. Kalau capek istirahat," pesan Selenia.


"Pasti. Ya udah kalah gitu Ayah pulang sekarang ya."


Selenia dan Adam menjabat tangan Pak Fendi bergantian. Sebelum beranjak, Pak Fendi menanyakan satu pertanyaan untuk mereka.


"Tunggu....kalian... nggak pernah macam-macam kan?" tanya Pak Fendi dengan tatapan menyelidik.


Selenia dan Adam saling tatap sebentar kemudian menggeleng bersamaan. Mereka berdua tahu kemana arah pertanyaan itu. Terpaksa bohong deh.


"Syukurlah kalau begitu," Pak Fendi menepuk bahu Adam pelan dan meremasnya. "Tunggu sampai Selenia lulus ya, Dam. Tinggal beberapa bulan lagi kok."


"I-iya, Ayah..." jawab Adam gugup, mengingat apa yang sudah mereka lakukan jauh dari hanya sekedar tidur bersama.


Begitu juga dengan Selenia yang hanya mampu menunduk, menahan geli sekaligus bingung mengingat kenyataan sebenarnya seperti apa. Dia yakin, saat lulus nanti, pasti perutnya udah kelihatan menonjol kan? Duh.... peringatan Ayahnya itu membuat perasaannya tidak enak.


Pak Fendi manggut-manggut. Setelahnya dia bergegas meninggalkan rumah mereka.


"Sini HP aku!" bentak Selenia lirih begitu Pak Fendi tidak terlihat lagi. "Aku mau tidur Dam... ngantuk..."


"Ya udah kalau ngantuk tidur dong sayang, apa hubungannya sama HP?" Adam masih menyimpan ponsel Selenia di saku celananya.


"Ih Adam, kamu jangan gitu dong! Itu HP aku, kamu nggak berhak sita-sita gitu."


"Siapa yang bilang nggak berhak? Aku suami kamu dan aku nggak suka lihat kamu mantengin cowok lain sampe kaya gitu," omel Adam.


Selenia mendengus kesal. Kenapa Adam jadi over possesif gini sih? "Daaaam... aku tuh cuman liat foto doang... enggak ada perasaan apa-apa!" ucapnya tertahan.


"Bener?" Adam mengeluarkan ponsel Selenia.


"Terserah deh!" Selenia menghentakkan tangannya dan berbalik masuk rumah. "Capek!" dia berjalan cepat ke kamarnya.


Melihat hal itu, Adam buru-buru mengejar langkah Selenia dan menghadangnya tepat di depan kamar. Selenia beneran marah? Wajahnya masam banget.


"Ya ampun sayang, kamu marah sama aku?" Adam menyerahkan ponsel itu pada Selenia. "Nih aku kembaliin HP kamu, tapi kamu janji dooong sama aku.... jangan gitu... wajar kan aku cemburu?" kini gantian Adam yang merengek.


Selenia menerima ponsel tersebut dan seketika wajah masamnya berubah. Dia merasa lucu melihat Adam yang merengek memintanya supaya tidak pantengin akun Instagram Tony lagi. Geliat cemburunya kentara banget.


"Iya aku nggak gitu lagi," ucap Selenia datar menahan senyum. "Ya udah, aku mau tidur. Udah malem... ngantuk banget," dia membuka pintu kamarnya dan segera masuk.


Tak disangka, ternyata Adam justru mengikuti dari belakang dan membuat Selenia terpaksa putar balik dan mendorong tubuhnya keluar.


"Iiiih Adam, kan aku udah bilang, kamu nggak boleh tidur di kamar aku...."


"Lho, kan katanya ancamannya udah dicabut. Kok ingkar sih?"


Selenia terdiam sejenak. Oh iya, kok aku lupa udah cabut ancaman itu. batinnya.


"Aduuuuh, iya maaf tapi malam ini kamu nggak boleh tidur di kamar aku."


"Kenapa nggak boleh?"


"Nggak inget tadi Ayah bilang apa?" Selenia memainkan manik matanya karena merasa sudah menemukan jawaban tepat. "Dah ya, good night my huuuuussssbaaaanddd!" godanya dan langsung menutup pintu.


Adam mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala. Fyuhhhhhh.... sabaaaar... Adam....!


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2