NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -129-


__ADS_3

3 hari kemudian...


Selenia masih berada di rumah sakit, namun kondisinya sudah jauh lebih baik. Selama berada di rumah sakit itu pula Adam selalu ada di sisinya. Untuk urusan pekerjaan di kantor, sementara telah dia serahkan pada orang kepercayaannya. Intinya dia masih ingin fokus dengan Selenia dan bayi mereka. Selenia sedih, karena sampai saat ini dia belum bisa menyusui secara langsung karena bayinya masih belum bisa berlama-lama keluar dari inkubator. Jadi dia harus telaten memompa ASI-nya yang kemudian dimasukkan ke dalam botol susu.


Dan hari ini, adalah hari pengumuman kelulusan di SMA Bhakti Nusa. Menurut kabar yang didapat dari Cia, semuanya lulus. Tapi Selenia masih belum yakin karena dia belum menerima surat tanda kelulusan yang katanya akan diantar oleh Bu Fani ke rumah.


"Kamu mikirin apa sih sayang? Gelisah banget?" Adam menghampiri Selenia yang sedari tadi tampak beberapa kali mengecek ponsel. Dia baru saja mengecek baby yang baru saja diberi susu oleh suster. Setiap dua jam sekali suster akan datang ke kamar ini dan membantu Selenia merawat bayinya.


Sore tadi Pak Tono datang ke sini untuk mengantarkan ponsel Selenia yang sudah hampir seminggu lebih dia tinggalkan di rumah pasca pingsan waktu itu. Ada banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab yang berasal dari teman-teman sekelas Selenia yang masih baik hati menganggapnya sebagai teman. Kebanyakan dari mereka menanyakan kabar Selenia. Sebenarnya Selenia sudah tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia bisa terima kalau memang teman-teman sekelasnya ada yang tidak menyukai dirinya sejak kejadian itu. Namun demi menjaga perasaan sekaligus menghargai mereka, Selenia membalas satu per satu pesan tersebut.


"Ini lho, katanya hari ini kan pengumuman kelulusan. Dan kata Cia, semuanya lulus... tapi kok... aku nggak yakin ya..."


"Nggak yakin gimana?" Adam membelai pipi Selenia lembut.


"Aku nggak yakin kalau aku lulus," Selenia mendongakkan wajah menatap suaminya. "Karena kan..."


"Sssshhhh, sayang. Kamu jangan pesimis dong. Aku percaya kamu pasti lulus. Udah, kamu jangan mikir yang macem-macem. Ingat, sekarang ada baby yang sensitive banget sama apa yang Ibunya rasain. Dia peka lho, kalau mommynya sedih."


Selenia terdiam. Dia berusaha bersikap tenang dari keyakinan Adam akan kemampuannya. Memang, suaminya itu selalu bisa memberikan energi positif. Selenia memeluk pinggang Adam dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang tersebut.


Tok tok tok


Ketukan lirih pada pintu kamar rawat Selenia menyentakkan keduanya.


"Assalamualaikum..," Bu Fani dengan raut wajah sumringah muncul dari balik pintu, membuat Selenia buru-buru menarik diri dari Adam. "Aduh, sepertinya Ibu ganggu ni?"


"Waalaikumsalam," jawab Selenia dan Adam bersamaan.


"Oh, Bu Fani. Enggak kok buk, nggak ganggu," kata Selenia. "Silahkan masuk buk."


Bu Fani tersenyum lalu berjalan mendekati mereka.


"Sudah, kamu jangan kemana-mana, di situ saja," tahan Bu Fani saat melihat Selenia hampir beranjak dari tempat tidurnya. "Bagaimana kabar kamu Sel?"


Adam menyingkir sebentar ke dekat inkubator bayi sementara Selenia berbincang dengan Bu Fani.


"Baik buk," Selenia menyalami Bu Fani.


"Bagaimana dengan bayi kamu?"


"Masih harus berada di dalam inkubator buk. Karena kan, lahirnya prematur."


Bu Fani mendekati inkubator dan melihat bayi Selenia beberapa saat. Dia lalu menepuk-nepuk bahu Adam yang masih berdiri di sana.


"Lucu ya, imut banget. Ini cowok kan? Ganteng," celetuk Bu Fani sembari tersenyum, dan Adam mengangguk.


"Kalian semua nggak usah takut dan berpikir macam-macam hanya karena bayi kalian lahir prematur. Tidak semua bayi yang lahir prematur itu lemah dan beresiko. Selama kita mengikuti anjuran dokter dalam merawatnya, Insha Allah, dia akan tumbuh selayaknya bayi-bayi yang lahir di usia normal. Kalau kalian mau tahu, saya ini dulu juga bayi yang lahir prematur lho.... saya lahir saat usia kandungan Ibu saya tepat tujuh bulan," ujar Bu Fani kemudian memberi semangat pada Selenia dan Adam.


"Beneran buk?" tanya Selenia. "Berarti sama dong kaya si baby."


Adam manggut-manggut.


"Ibu benar. Itulah kenapa saya memutuskan untuk tidak buru-buru pulang sebelum kondisi Selenia dan terutama kondisi bayi kita siap berbaur dengan dunia luar."


"Iya, yang penting kalian harus saling support dan menjaga satu sama lain. Terutama Ibu yang baru saja melahirkan, emosinya pasti labil dong?" Bu Fani melirik Selenia sembari tersenyum jahil.


Adam terbahak. Dia membenarkan kembali ucapan Bu Fani. "Itu tidak masalah kok, saya malah gemes kalau Selenia seperti itu."


Bu Fani dan Selenia turut tertawa mendengar penuturan Adam.


"Ini namanya siapa?" tanya Bu Fani kemudian.


Adam dan Selenia saling tatap. Mereka memang belum membicarakan soal nama bayi mereka karena masih ingin fokus dengan perkembangan si baby.


"Kita belum memberi nama, bu. Masih mau fokus sama kesehatannya dulu," jawab Adam.


Bu Fani manggut-manggut. "Ooooooh, ya baik. Memberi nama juga nggak boleh asal. Nama itu kan doa, jadi harus bener-bener pilihan."


Kedatangan Bu Fani siang ini selain untuk menjenguk Selenia, tak lain juga untuk menyerahkan surat tanda kelulusan pada Selenia. Dia bangga, karena meskipun home schooling, Selenia mampu mengerjakan soal-soal ujian dengan baik dan lulus dengan nilai bagus. Setelah membaca isi surat itu, Selenia begitu terharu. Dia menangis dan tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Bu Fani.

__ADS_1


"Terimakasih banyak ibuk, Ini semua tidak terlepas dari jasa Bu Fani, yang sudah telaten dan sabar bimbing aku selama home schooling."


"Tapi ini semua juga karena kerja keras kamu. Kamu hebat. Kalau saja anak lain yang mengalami kejadian seperti kamu, belum tentu dia akan memiliki mental sekuat kamu," ujar Bu Fani.


Bu Fani berada di rumah sakit tidak lama, karena dia tahu jam besuk Selenia dibatasi. Setelah hampir 20 menit ngobrol, beliau akhirnya pamit.


...🌺🌺🌺...


Malamnya, giliran Cia yang datang. Dia membesuk Selenia sendirian tanpa ditemani Marvin. Pacar kesayangannya itu lagi ada acara di kampus.


"Oke, kayaknya aku harus keluar dulu nih supaya kalian ngobrolnya lebih leluasa. Aku ke kantin dulu ya sayang, kamu mau dibeliin apa?" kata Adam begitu melihat Selenia yang tampak begitu riang menyambut kedatangan sahabatnya.


"Enggak, aku nggak pengen apa-apa kok?" Selenia menggeleng. "Jangan lama-lama ya sayang," pesannya sebelum Adam keluar. Dan Adam mengacungkan kedua jempolnya.


Cia mengedip jahil melihat sikap manja Selenia pada suaminya. Cieeee...


"Gue kangen bangeeeeeeet sama elo....!" geram Cia gemas sembari memeluk Selenia erat. "Eh, gimana si baby? Sehat kan?"


"Sama oneng, gue juga miss you so much!" Selenia melepaskan pelukan Cia dan mengangguk pelan. "Sehat kok, cuman dia belum bisa kalau lama-lama di luar inkubator."


Cia yang penasaran ingin melihat wajah si bayi, langsung beranjak dan berjingkat pelan mendekati inkubator.



"Ya ampuuuun... cute banget siiiihh... pengen banget gue bisa gendong diaaa.... hallo keponakan tante yang kiyuuut dan lutcuuuukkk....!" desisnya gemas sembari menutup mulut. "Pengen nguyel-nguyel deh gue rasanya... eeerrggghhh!" geramnya gemas sembari meremas-remas kedua tangannya di atas kotak inkubator. Si baby tampak menggeliat pelan.


"Eeh.. eh.. enggak sayang, tante bercanda... enggak pengen nguyel-nguyel sekarang kok. Nanti ya kalau udah di rumah ya," rajuk Cia kemudian seolah-olah si bayi mendengar dan melihat ekspresinya.


Selenia terkikik mendengar celotehan Cia yang begitu lebay. Setelah si baby tenang, Cia kembali menghampiri Selenia.


"Dia udah minum ASI kan?" tanya Cia.


"Udah sih, tapi musti dipompa. Soalnya kan gue belum memungkinkan untuk nyusuin langsung."


"Sabar aja. Yang penting kan si baby tetep dapet ASI."


Kedua sahabat itu akhirnya ngobrol asyik sekali. Maklum, lama nggak ketemu.


"Udah lo nggak usah sedih. Lo sadar nggak sih, kesedihan lo itu udah dituker sama itu..." hibur Cia menunjuk kotak inkubator. "Dia itu lebih dari apapun buat lo sekarang."


"Lo bener Ci," Selenia segera menepis perasaan sedih itu jauh-jauh.


"Ya ampun sumpah deh, anak lo masih bayi aja udah keliatan ganteng banget. Udah lo kasih nama belum?"


Selenia menggeleng. Sejak dilahirkan, mereka masih memanggilnya dengan sebutan baby saja.


"Kok belum sih? Emang belum ada gambaran?"


"Udah dong. Cuma aku belum diskusi aja sama Adam. Ya lo tahu kan, sementara ini kita masih fokus sama pemulihan si baby."


"Namanya siapa? Kasih bocoran dooong..." Cia merajuk.


"Hmmmm.... No no no...!" Selenia menggoyang-goyangkan telunjuknya. "Nanti ya kalau gue udah diskusi sama suami gue."


Cia mencibir. "Cieeee.... sekarang nyebutnya udah sayang-sayang aja... suami... uhh romantis banget sih kaliaaan."


"Ih Cia apaan sih lo, suka-suka wlekkk!" Selenia menjulurkan lidahnya.


"Eh Sel," wajah Cia yang tadinya sumringah seketika berubah serius. Dia celingukan sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kapan terakhir lo ketemu sama Tony?"


Kening Selenia seketika mengerut. "Kok lo tiba-tiba nanyain Tony? Memangnya kenapa?"


"Soalnya dia udah nggak pernah masuk ke sekolah lagi setelah jadwal perlengkapan berkas selesai.... sekitar dua minggu yang lalu," Cia mengingat-ingat.


"Masa sih? Pas acara pengumuman kelulusan?"


Cia menggeleng. "Sama. Dia nggak masuk juga. Dan suratnya dianter sama guru ke rumah."


"Kok aneh? Beneran sama sekali nggak pernah muncul di sekolah?"

__ADS_1


"Iya Sel. Pas gue tanya sama Marvin, dia juga katanya terakhir ketemu Tony sekitar.... semingguan yang lalu kali ya. Dia lagi nongkrong di kafe sendirian."


Selenia terdiam sebentar.


"Trus waktu itu Marvin sempet ngasih tahu dia kalau lo lagi di rumah sakit. Dia ada datang buat jenguk lo nggak selama lo di sini?"


Selenia menatap Cia dan menggeleng. "Enggak tuh, sama sekali enggak."


"Bener?" tanya Cia tak yakin. Dia tahu seberapa antusiasnya Tony jika mendengar sesuatu yang buruk yang terjadi pada Selenia.


Sebenarnya Cia waktu itu sempet ngomel-ngomel juga sama Marvin gara-gara pacarnya itu keceplosan ngomong sama Tony. Karena Cia sebenarnya tidak ingin Tony tahu tentang keadaan Selenia saat itu. Entahlah, dari dulu Cia selalu merasa kalau Tony menyimpan perasaan atas Selenia. Dan pada saat Tony meminta padanya untuk menyampaikan ucapan pamit pada Selenia saat itu, Cia jadi semakin paham kalau cara itu Tony lakukan supaya dia tidak perlu menemui Selenia lagi. Anak itu ingin melepaskan sesuatu yang tidak pernah berhasil dia genggam. Tapi sayangnya, rencananya justru tidak berjalan mulus karena Selenia justru mengajaknya bertemu--sesuatu yang tidak mungkin Tony tolak.


"Serius," jawab Selenia mantap. "Kalau dia datang juga pasti temuin gue lah."


Cia tersenyum getir. Masa sih lo tu dari dulu sama sekali nggak peka sama perasaan Tony, Sel?


"Gue terakhir ketemu ya waktu itu pas gue bikin janji sama dia," imbuh Selenia sembari mengangkat kedua bahunya. "Habis itu gue juga nggak tahu. Dia juga nggak pernah hubungin gue," dia menyambar ponselnya dari atas nakas dan mulai membuka-buka.


"Kalau begitu sama. Dia juga nggak pernah chatt gue lagi," sahut Cia.


Mereka berdua sama-sama membisu untuk beberapa saat. Sampai tiba-tiba Selenia sedikit terlonjak dengan tatapan yang masih fokus pada layar ponsel.


"Eh Ci, lihat deh..." Selenia mengarahkan layar ponselnya pada Cia. "Ini tandanya nomor gue diblokir sama Tony nggak sih? Profilnya nggak ada, bio-nya juga lenyap."


"Ha?" Cia melongo. "Masa sih?" dia lalu buru-buru mengecek ponselnya sendiri, dan... "Ada lho di hp gue foto profilnya," Cia memperlihatkan layar ponselnya balik ke Selenia.


"Dia blokir gue.... Ci, gue salah apa ya sama dia?" ucap Selenia sedih.


Apakah gue harus ngomong apa alasannya ke elo Sel? Meskipun Tony juga nggak pernah bilang apa-apa soal lo ke gue, tapi gue yakin. Tony itu suka sama lo, dan sekarang dia ngelakuin itu ke elo, karena dia pengen move on dari elo.


"Cia, kok lo malah bengong sih?" Selenia mengibaskan tangannya di depan wajah Cia.


"Dia punya perasaan sama lo dan begitu dia tahu dia sudah tidak punya peluang lagi, dia memilih untuk mundur," jawab Cia datar tapi ada nada ketegasan dari setiap kata-katanya.


"Hmmmpfffhhh... ngaco lo Ci," Selenia terkikik.


"Serius Sel. Apa yang selama ini dia lakuin ke elo aja, itu udah membuktikan kalau dia itu sayang sama lo. Tapi.... elonya aja nggak peka," Cia nyengir kuda. "Tapi... dia nggak salah juga sih kalau nggak mengutarakan langsung ke elo. Secara dia tahu status lo, itu berarti dia hargai lo."


Senyuman di bibir Selenia menyusut. Apa yang dikatakan Cia itu benar adanya? Apa iya Tony pernah memiliki perasaan padanya?


...🌺🌺🌺...


Perihal nomornya yang diblokir oleh Tony dan kata-kata yang diucapkan Cia tadi terus mengganggu pikiran Selenia sampai menjelang larut malam, dan itu membuatnya tidak bisa tidur. Selenia membaca pesan terakhir Tony yang menanyakan dia sedang ada di mana--yang pada saat itu dia sedang sibuk belanja kebutuhan baby bersama Adam.


Kalau memang benar Tony pernah memiliki perasaan padanya, kenapa dia nggak ngomong aja, setidaknya supaya dia tahu jawabannya apa dan tidak terus menerus menyiksa diri.


Ah, jangan GR deh Sel. Itu tadi cuma dugaan Cia saja mungkin.


Tapi kenapa dia memblokir nomorku?


Dia bete gara-gara lo kalau dikirimi pesan balasnya lama.


Nggak mungkin Tony seperti itu. Dia nggak pernah bersikap kekanak-kanakan. Dia itu dewasa!


Nah, sekarang lo bisa ambil kesimpulan sendiri kan kenapa Tony memilih untuk menghilang dari kehidupan lo? Karena dia dewasa. Dia tahu apa yang dia inginkan tidak akan pernah menjadi miliknya karena sudah dimiliki oleh orang lain. Jadi, sekarang lo tahu kan kenapa dia memblokir nomor lo?


Deg!!


Perdebatan dalam hatinya membuat jantung Selenia berdebar. Jadi..... Tony benar-benar sudah memilih untuk pergi? Dan pertemuan mereka di kafe waktu itu adalah yang terakhir?


"Sayang, kok kamu nggak tidur?" tanya Adam dari tempat tidur khusus untuk penunggu pasien yang terletak tidak jauh dari tempat Selenia. "Ini udah malem lho.."


Selenia tersentak. Dia buru-buru meletakkan ponselnya ke atas nakas dan mulai berbaring.


"Kamu istirahat, nanti kalau baby bangun biar aku yang jagain."


Melihat ketulusan yang terpancar dari sorot mata suaminya, berdosa sekali rasanya Selenia kalau dia malah memikirkan laki-laki lain. Ah udahlah.... itu mungkin memang sudah menjadi keputusannya. Selenia tidak mau lagi memikirkan hal yang menurutnya tidak begitu penting. Lagipula apa yang dia pikir itu kan belum tentu benar. Tapi apapun itu, semoga pilihan Tony adalah yang terbaik. Biar bagaimanapun, Tony adalah orang yang dikenal sangat baik oleh Selenia.


"Makasih ya sayang," ucap Selenia sendu. Lebih karena dia tengah merasa bersalah.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2