
Adam sedang berada di ruang kerjanya, membolak-balik formulir program study ke Frankfurt yang telah dia yakini tidak akan dia ambil. Hari ini juga dia akan menyerahkan formulir itu pada Pak Anton sekaligus mengatakan keputusannya. Tekad Adam sudah bulat. Kalau saja program itu masih bisa diambil empat atau lima bulan lagi, mungkin keputusannya akan lain, karena saat itu Selenia pasti sudah lulus dan dia bisa membawanya ke sana. Tapi program itu akan berakhir masa registrasinya bulan depan. So... that's it. Dia tidak akan kemana-mana tanpa Selenia.
Adam menarik laci untuk menyimpan formulir tersebut saat matanya menangkap sesuatu di dalam sana. Bingkisan? Keningnya mengerut dalam-dalam dan seketika ingat dari mana benda itu berasal.
Astaga! Adam menepuk jidatnya sendiri. Itu bingkisan dari Renata. Bingkisan yang diberikan padanya sebagai ucapan terimakasih karena telah membantu mengurus masalahnya. Sesibuk itu kah kamu Dam? Sampai-sampai sama sekali tidak ingat akan benda ini.
Adam membuka bingkisan tersebut. Senyumnya tersungging menatap Couple T-shirt berwarna mix orange dan biru dongker di dalamnya. Renata memberikan ini untuknya dan Selenia.
Adam: [Terimakasih banyak buat bingkisannya ya Ren. Maaf aku baru sempet buka.]
Dia mengirimkan pesan tersebut pada Renata.
Sementara itu di ruangannya, Renata sedang fokus menatap layar komputer saat ponselnya bergetar. Ekor matanya melirik sekilas ke layar ponsel yang menyala sembari tangannya mengoperasikan mouse. Pop up dengan nama Pak Adam GM terpampang di sana. Pesan apa ya? batin Renata sembari meraih ponselnya.
Bibirnya menyunggingkan senyum setelah membaca pesan tersebut.
Renata: [sama-sama Pak, semoga Bapak dan Selenia menyukainya 😊]
Balasnya kemudian. Setelahnya dia kembali fokus dengan layar komputer untuk menyelesaikan laporan.
...🌺🌺🌺...
Selenia mendadak merasakan mual di tengah-tengah jam pelajaran. Dia tahu ini pasti efek dari kehamilannya. Tapi dia takut untuk minta izin ke toilet karena... biasalah, kalau sedang diajar Bu Ningsih alias guru yang terkenal pelit toleransi soal nilai, dia kayaknya lebih memilih untuk menahan diri sebisa mungkin daripada harus kehilangan nilai matematika. Sekalipun harus pingsan di kelas, nggak pa-pa lah.
"Lo kenapa Sel?" Cia menatap Selenia cemas. Wajah sahabatnya itu tampak pucat dan mengeluarkan keringat dingin di kening.
Selenia tidak berani membuka mulut dan hanya menggeleng pelan.
"Lo sakit?" bisik Cia. Dia menggeser posisi duduknya dan menarik kursi yang menimbulkan bunyi bercerit berisik.
Bu Ningsih yang sedang menulis materi di tengah suasana kelas yang hening, seketika menoleh dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dia menunduk, menurunkan kacamatanya hingga ke hidung, dan menatap lurus ke bangku Cia.
"Cia!" panggilnya. "Kamu ada apa?"
"Eee... i-ini Sel... auuu!!"
Belum sempat Cia melanjutkan kalimatnya, Selenia sudah menginjak ujung sepatunya. Bu Ningsih mengangkat alis yang membuat wajah judesnya terlihat jelas. Dengan gerakan cepat dia mengayunkan langkah mendekati bangku Selenia dan Cia.
"Kalian tidak memperhatikan pelajaran saya?"
Pandangan seluruh murid di kelas itu otomatis langsung tertuju ke bangku Selenia dan Cia.
"Maaf Buk," Cia menunduk dan melipat kedua tangannya di atas meja.
"Selenia? Kamu kenapa?" tanya Bu Ningsih pada Selenia. "Muka kamu pucet banget?" nada ketusnya yang tadi dia tujukan pada Cia berubah lebih ramah.
Selenia cuma menggeleng dan tersenyum getir.
"Kalau kamu sakit ke UKS aja," saran Bu Ningsih.
Mendengar kalimat itu, Cia menoleh ke arah Selenia dan mengangguk-angguk agar Selenia mengiyakan saran Bu Ningsih.
"Tidak dengan kamu ya Cia," sahut Bu Ningsih cepat saat melihat gelagat Cia. "Kamu kan sehat, jadi tidak perlu ke UKS!"
Cia pun langsung beringsut dan kembali seperti posisinya semula--melipat kedua tangan di atas meja. Terdengar suara murid yang menahan tawa, terkekeh dan terkikik pelan melihat hal itu.
"Enggak b-buk..." jawab Selenia gugup. Dia menutup mulut dengan telapak tangannya dan menggeleng.
Bu Ningsih menghela nafas. "Kamu yakin nggak pa-pa? Masih bisa ikutin pelajaran saya sampai akhir?"
Selenia mengangguk. "Iya, Buk. Masih bisa kok," jawabnya meski terdengar lemah.
"Baiklah. Kalau begitu, kita lanjut lagi," Bu Ningsih kembali ke depan kelas. "Oke anak-anak, kita lanjutkan lagi materi kita. Perhatikan! Jangan ada yang ngobrol sendiri atau bermain ponsel! Atau nanti akan saya sita!" ucapnya tegas.
Jam pelajaran Bu Ningsih yang tinggal beberapa menit terasa begitu lama bagi Selenia yang masih merasa mual. Namun sebisa mungkin rasa itu dia tahan karena dia tahu waktu beberapa menit itu juga pasti akan segera berlalu. Jadi begitu bel istirahat berbunyi dan Bu Ningsih meninggalkan kelas, Selenia langsung berlari keluar untuk pergi ke toilet, meski dengan langkah yang masih terpincang-pincang. Dia sudah tidak tahan lagi manakala perutnya semakin berasa seperti dikocok. Cia yang panik berlari mengikuti di belakang.
__ADS_1
"Hooooeekkk!!" Selenia muntah-muntah di dalam toilet. "Hoeeeekkk!!"
"Seeel..." Cia mengetuk-ngetuk pintu toilet dari luar. "Lo kenapa?" dia begitu khawatir.
Di dalam toilet masih terdengar suara Selenia muntah-muntah. Untung saja suasana toilet sepi, jadi tidak begitu mengundang perhatian.
Beberapa saat kemudian, Selenia keluar dengan wajah basah karena selesai dibasuh. Dia menyandarkan tubuhnya di pinggiran pintu sembari memegangi perutnya.
"Rasanya gini banget ya Ci...." Selenia menengadahkan kepalanya ke atas dan memejamkan mata. Badannya terasa lemas banget.
"Ya udah kita ke kantin yuk. Beli minuman panas," Cia meraba kening Selenia. Tentu saja suhu tubuhnya tidak panas. Dia kan seperti itu karena bawaan kehamilan. Duh, bisa gawat nih kalau selama masa ngidam dia bakalan kaya gini di sekolah, batin Cia.
Selenia hanya mengangguk pasrah dan mengikuti Cia yang menggandengnya menuju ke kantin. Tanpa mereka sadari, seseorang yang sedari tadi mengintip, secepatnya menyelinap dari balik tembok masuk toilet saat mereka keluar. Dia Tony. Dia yang saat bel istirahat juga baru keluar dari kelas, menangkap pemandangan lari-larian Selenia yang kemudian disusul Cia di belakangnya. Merasa khawatir dengan apa yang terjadi, Tony pun mengikuti mereka sampai di depan tembok arah ke pintu masuk toilet. Selenia sakit? pikirnya.
Selenia mendaratkan tubuhnya di bangku kantin yang masih kosong dan membenamkan kepalanya di atas meja, sementara Cia membeli makanan. Perutnya sudah berangsur-angsur tidak merasakan mual lagi dan suhu tubuhnya dirasa mulai sedikit agak normal.
Tak lama kemudian Cia kembali dengan membawa dua cup pop mie, satu gelas teh panas dan satu gelas es teh manis. Dia menyodorkan satu cup pop mie dan teh panasnya untuk Selenia.
"Gue nggak makan deh Ci," Selenia mendorong pop mie dari hadapannya.
"Adduh!" Cia menepuk jidatnya. "Gue lupa, masa iya orang hamil gue suruh makan beginian," bisiknya lirih. "Sorry Sel... oke lo mau makan apa? Gue beliin lagi. Soto? Nasi sama ayam aja atau..."
Selenia tersenyum kecil melihat sikap protektif dan perhatian Cia. "Gue lagi nggak pengen makan. Ini aja cukup," dia menyeruput teh panasnya.
Cia melahap beberapa suap pop mie miliknya. Dia lalu celingukan ke sekeliling kantin sebelum berbicara pada Selenia.
"Sel," bisik Cia kemudian setelah dia lihat penghuni kantin pada sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. "Lo beneran belum ngomong juga sama Adam soal itu?" dia menunjuk perut Selenia yang terhalang meja.
Selenia menggeleng. Dia sudah menghabiskan setengah gelas teh panasnya dan wajahnya yang tadinya pucat mulai tampak kembali berbinar. Bibirnya pun sudah berwarna pink merona.
"Ya ampun, kenapa sih? Lo liat dong kondisi lo kadang bisa mendadak drop kaya gitu kalau lagi kumat telernya. Harusnya Adam dikasih tahu dong biar dia lebih siaga di rumah."
"Iya gue bakal kasih tahu Ci, tapi nggak sekarang," Selenia tetap kekeuh dengan pendiriannya. "Tenang aja."
Selenia terkikik pelan. "Gue yakin Ci. Nih buktinya sekarang gue udah oke lagi. Ini mungkin karena efek semalam aja gue..." seketika dia menghentikan kalimatnya saat menyadari omongannya mulai kelepasan. "....kurang tidur..." Selenia membelokkan ucapannya.
"Lo semalem ngapain?!" sahut Cia nggak percaya. Matanya menatap tajam bernada introgasi pada Selenia.
Selenia menggeleng. Dia tidak mungkin kan menceritakan pengalamannya kembali 'bermain' dengan Adam semalam. Itu bener-bener nggak sengaja dan di luar kendali mereka. Entah kenapa semalam suasana dan cuaca mendukung banget hingga mereka sama-sama tidak bisa menahan diri. Meski selama 'bermain' Selenia juga merasa was-was karena takut terjadi sesuatu dengan kandungannya, tapi ternyata apa yang dia takutkan tidak menjadi kenyataan. Dia pikir setelah melalukan 'itu' dia akan mengalami pendarahan atau sejenisnya--seperti yang pernah dia baca di sebuah artikel online, bahwa melakukan 'hubungan' pada saat usia kehamilan masih muda itu sangat berbahaya. Semoga saja Adam junior ini kuat, sekuat Daddynya yang strong man dan hardworker.
Cia yang sudah tidak sabar dan menebak-nebak apa yang sebenarnya akan dikatakan Selenia, terus menodong dengan pertanyaan-pertanyaan. Cia tidak yakin dengan yang dikatakan Selenia barusan kalau dia kurang tidur.
"Lo ngomong sama gue atau gue bakal teriak di sini sekarang juga?!" ancam Cia.
Selenia reflek menabok tangan Cia di atas meja. "Ck, lo apaan sih kebiasaan deh ngancem-ngancem."
"Iya makanya lo ngomong sama gue, semalem ngapain sampe hari ini teler kaya gitu?" tanya Cia pelan tapi bernada geram.
"Apaan sih lo Ci, kepo banget. Itu urusan gue sama Adam kali."
"Ih bener-bener ya ni anak!" Cia menunjuk-nunjuk ke arah Selenia. Pikirannya sudah travelling ke mana-mana saat Selenia menyebut kata 'urusan'.
"Lo jangan aneh-aneh deh Sel, usia itu lo masih muda banget. Lo jangan sembrono jadi orang. Makanya lo ngomong dong sama Adam biar dia mikir-mikir lagi kalau mau ngegempur elo!" mata Cia melotot-lotot dengan suara ditahan supaya tetap bisa berbicara lirih.
"Hmmmppfffhhhhh..." Selenia menahan tawanya. "Emang gue ngapain sih Ci? Orang gue nggak ngapa-ngapain juga."
"Lo pikir gue anak kecil yang nggak bakalan mudeng sama omongan lo itu maksudnya apa? Gila!" omel Cia.
Selenia masih tidak bisa menahan tawanya. "Ya udah biasa aja kali, nggak usah ngomel."
"Ya gimana gue nggak ngomel? Lo juga tu nggak ati-ati banget! Punya nafsu ditahan kek. Awas aja sampe terjadi apa-apa sama calon keponakan gue."
Kening Selenia mengerut mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Selenia. Mendadak terharu dengan Cia yang sudah menyebut calon anaknya sebagai calon keponakan dia. Selenia mengusap-usap lengan Cia dan tersenyum.
"Ya ampun Cia, gue terharu sama kata-kata lo. Iyaaaa.... gue janji bakal secepatnya ngomong sama Adam biar calon ponakan lo ini ada yang selalu siagain selama 24 jam!" bisiknya tegas.
__ADS_1
Cia mengerucutkan bibir dan menggembungkan pipinya lucu.
"Ini kenapa pop mie satu dianggurin?" tiba-tiba Tony muncul dan langsung duduk di bangku yang masih kosong di sebelah Selenia.
Cia dan Selenia saling tatap. Sementara Tony yang tanpa mempedulikan reaksi mereka langsung menyahut pop mie jatah Selenia yang masih utuh dan melahapnya. Cia nyengir kuda. Ni anak udah sumringah aja, batinnya.
"I-iya itu buat kamu," ucap Cia pasrah. Gimana lagi? Daripada mubazir nggak ada yang makan.
Dalam sekejap Tony sudah menghabiskan setengah porsi pop mie tersebut dan menenggak es teh manis Cia yang tinggal setengah gelas. Cia dan Selenia sama-sama melongo. Ni anak kenapa kaya kesambet gini sih?
"Ton... e-elo... nggak pa-pa kan?" tanya Cia.
"Well?" Tony mengangkat kedua bahunya. "Memangnya kenapa?" matanya melirik pop mie dan minuman milik Cia yang sudah habis.
"Oh sorry Ci. Entar gue ganti deh itu minuman sama makanan..."
"Nggak nggak nggak... bukan gitu maksud gue," sahut Cia.
"Terus?" Tony menatap Cia dan melirik Selenia bergantian.
Cia tersenyum simpul dan menggeleng. Dia sempat memainkan manik matanya pada Selenia yang dia rasa juga merasakan keanehan pada sikap Tony yang tiba-tiba rada bar-bar. Mean, ini kaya bukan Tony banget setelah beberapa hari kemarin dia terlihat murung.
"Nggak ada kok. Ya udah habisin tuh pop mie. Nanggung kan tinggal setengah," kata Cia.
Selenia pun hanya tersenyum dan menghabiskan minumannya. Sebentar lagi bel tanda istirahat berakhir akan berdering. Dia hanya berharap telernya tidak akan kumat sampai jam sekolah usai.
Sementara itu, Tony yang sebenarnya merasa bahwa mereka berdua menyadari sikapnya yang sedikit aneh, cenderung lebih sering mencuri pandang pada Selenia yang duduk di sebelahnya selama ngobrol di kantin untuk menghabiskan sisa waktu istirahat. Dia melakukan itu hanya untuk menutupi luka kekecewaan di hatinya karena sampai sekarang, sulit sekali untuk move on dari Selenia. Dia tidak bisa menghindar. Setidaknya, meski tidak bisa menjadi yang spesial di hati Selenia, dia ingin perempuan pujaannya itu melihatnya sebagai laki-laki yang periang dan tidak membosankan. Entahlah.
...🌺🌺🌺...
Pak Anton terkejut saat mendengar keputusan Adam. Dia tidak menyangka Adam akan menolak tawaran bagus yang dia berikan. Padahal tiga orang yang dia pilih, dua di antaranya sudah setuju dan sudah menyetorkan formulir mereka jauh-jauh hari kemarin.
"Kenapa Dam? Kamu nggak sedang bercanda kan?" tanya Pak Anton serius.
"Saya serius Pak. Itu sudah menjadi keputusan saya."
Pak Anton menggeleng-gelengkan kepalanya. "Coba kamu pikir lagi Dam. Kesempatan seperti ini belum tentu akan datang lagi."
"Saya sudah memikirkannya dan itu keputusan saya Pak. Maaf kalau pilihan saya tidak sesuai dengan harapan Bapak."
Pak Anton menghela nafas panjang. "Saya cuma ingin dengar alasan kamu Dam."
Adam tersenyum simpul. "Saya tidak punya alasan yang tepat. Hanya saja.... saya sudah yakin dengan keputusan ini," dia belum ingin memberitahukan juga keinginannya untuk resign karena dia lihat Pak Anton sepertinya sedang kecewa dengannya. Jadi lebih baik cari waktu yang tepat.
Pak Anton meletakkna formulir itu di tepi meja dan melipat kedua tangannya.
"Pertama kali saya memberitahukan tawaran itu ke kamu, saya selalu berharap kamu tidak salah mengambil keputusan. Dan sekarang saya tidak mengira kamu benar-benar telah mengambil keputusan dan itu diluar dugaan saya."
Adam menunduk, seketika merasa bersalah. Pak Anton adalah Bos yang baik, tapi bukankah ini sebuah pilihan? Dan dia sudah menentukan pilihannya.
"Saya minta maaf kalau keputusan saya di luar ekspektasi Bapak. Apa yang Bapak berikan untuk saya sudah lebih dari semua itu Pak. Berada di sini selama hampir 4 tahun, sudah cukup membuat saya belajar tentang banyak hal," ujar Adam kemudian. "Jadi kalau Bapak mau mencari pengganti saya untuk ikut tawaran tersebut, saya nggak masalah. Karena saya tahu, orang-orang yang ada di dalam perusahaan ini adalah orang hebat semua. Mereka layak mendapatkan kesempatan yang sama seperti saya," pungkasnya.
Pak Anton manggut-manggut. Dia sadar tidak mungkin memaksakan kehendak Adam.
"Baiklah Dam. Saya mengerti," Pak Anton memasukkan brosur milik Adam ke dalam laci meja kerjanya. "Saya tidak akan memaksa kamu. Dan saya juga berterimakasih banyak karena kamu juga turut andil dalam perkembangan perusahaan saya."
"Terimakasih Pak untuk apresiasinya," Adam menunduk hormat. "Kalau begitu saya permisi."
Pak Anton yang sedikit kecewa hanya memandangi punggung Adam yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
...Like, comment dan vote!! 🤗...
__ADS_1