NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -57-


__ADS_3

Sekarang Adam tahu kenapa Renata menemui kakaknya di penjara. Perempuan itu ingin meminta bantuan soal biaya untuk membayar pengacara dengan meminjam sertifikat kafe milik kakaknya yang sekarang masih dia simpan. Bayu, kakak Renata tidak berpikir panjang untuk mengiyakan permintaan itu. Mendengar cerita adiknya yang tiba-tiba mendapat gugatan permintaan hak asuh Nola dari mantan suaminya, dia turut geram.


"Bisa-bisanya dia berbuat begitu sama kamu, Ren. Pake aja nggak pa-pa. Karena untuk saat ini kakak nggak bisa bantu banyak selain itu," ucap Bayu sungguh-sungguh. Dia mengalihkan pandangannya pada Adam yang sedari hanya diam di sebelah Renata. "Kamu mungkin sudah mendengar banyak cerita tentang keluarga kami. Jadi saya minta tolong sama kamu, bantu adik saya."


FYI, usia Bayu 35 tahun. Terpaut 5 tahun lebih tua dari Adam.


"Iya kak," Adam mengangguk. "Saya akan bantu sesuai kemampuan saya,"


Renata melirik Adam dan tersenyum lega. Atasannya itu sungguh baik hati.


Saat waktu besuk habis, Renata dan Adam segera meninggalkan rutan. Hari sudah hampir gelap ditambah lagi mendung yang bergelayut menyelimuti kota.


Semoga saja nggak ada petir. Pikir Adam sembari berlari menuju parkiran, diikuti Renata. Di otaknya terlintas bayangan Selenia di rumah yang phobia sama petir. Tapi dia juga tidak bisa pulang sekarang karena Renata ingin sekaligus menemui pengacaranya sore ini juga.


"Apa kita bisa mampir ke rumah dulu Pak?" tanya Renata dalam perjalanan.


"Untuk apa Ren?"


"Saya mau ambil sertifikatnya dulu, untuk... yah.... itu tadi," Renata tersenyum canggung.


"Nggak perlu sekarang kok. Kamu nggak usah khawatir, temen saya ini orangnya baik. Nanti kamu ngobrol aja dulu sama dia, gimana nanti dia nanganin masalah kamu. Dan untuk masalah biaya, dia bukan orang yang ribet. Kamu tenang aja."


"Oh ya sudah kalau begitu Pak. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih ya Pak."


Adam mengangguk. Dia terus fokus mengemudi dan sesekali melirik jam tangannya. Hujan yang mulai turun agak deras di luar, membuat fikirannya tidak tenang.


...🌺🌺🌺...


Selenia mondar-mandir di rumah sambil terus mengecek ponselnya. Dia pergi ke ruang tengah, ke dapur ambil minum, duduk selonjoran di sofa, dan kadang-kadang berjingkat saat mendengar deru mobil yang melintas di depan rumah. Dia kira itu Adam, tapi ternyata bukan. Hanya mobil lewat. Dia sudah beberapa kali menghubungi nomor Adam, tapi tidak ada jawaban.


Jadi beneran dia nggak pulang sore ini?


Selenia kembali ke dapur menemui Bi Iyah yang sedang memasak.


"Bik, kayaknya aku malam ini nggak usah makan malam deh."


Bi Iyah menoleh, menatap ke arah Selenia yang tampak lesu.


"Lhoh, kenapa Non? Kan Bibik udah masak. Bentar lagi juga Pak Adam pulang kan?"


Selenia menggeleng. "Pak Adam bilang katanya hari ini mau ketemu sama temennya, jadi pulangnya malam. Trus minta aku buat makan malam duluan sendiri. Tapi aku nggak laper."


"Tapi Non Selenia harus tetep makan dong, kan sejak sarapan pagi tadi Non belum makan," Bi Iyah berusaha membujuk.


"Aku udah makan siang di sekolah Bik," Selenia menuturkan. "Ya udah ya Bik, aku mau ke kamar aja. Kalau sekarang Bibik udah terlanjur masak, ya udah simpen aja di kulkas. Besok kan bisa dipanasin lagi."


Bi Iyah cuma manggut-manggut. Kalau Selenia sudah ngomong begitu dia tidak bisa memaksa lagi. Selenia berbalik dan menyeret langkahnya menuju ke kamar.


Di kamar, dia langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Pikirannya tidak bisa tenang dan terus bertanya-tanya 'kemana Adam? Bertemu dengan teman yang mana? Dan ngapain?' Berbagai macam pertanyaan menghampiri otak Selenia.


Sedang diliputi rasa cemas, tiba-tiba ponselnya tiba-tiba berdering. Selenia sudah memasang tampang sumringah karena dia mengira itu telfon dari Adam. Tapi ternyata bukan. Justru nama Tony yang terpampang jelas di layar.


"Halo Ton," sapa Selenia lesu.


"Lemes banget suaranya?" sahut Tony disusul suara cekikikan. Di belakang Tony juga terdengar suara banyak orang. "Kamu lagi di mana Sel?"


"Aku di rumah. Ada apa Ton?"


"Ohh, kirain lagi di luar. Kakak kamu di rumah nggak?"


"Kakak?" Selenia agak terkejut tapi kemudian buru-buru memperbaharui intonasi bicaranya. Barusan dia pikir Tony lagi salah ngomong atau gimana, tapi kemudian Selenia ingat tentang 'Kakak' yang dimaksud Tony. "Kak.... Adam maksud kamu?" rada canggung juga mulutnya menyebut kata 'Kak Adam'.


"Hahaha... memangnya siapa lagi sih kakak kamu?"


"Belum Ton, memangnya ada apa kamu nyariin dia?"


"Oh nggak pa-pa kok. Cuman nanya aja. Kamu lagi sibuk nggak?" bersamaan dengan itu terdengar sorakan membahana dari belakang Tony. "Astaga kupret! Kalian bisa diem nggak sih?" suara Tony terdengar menjauh. Dia sedang berbicara dengan teman-temannya. Terdengar sahutan Sorry.... dari beberap mulut.


"Kamu di mana sih Ton? Kok berisik banget?"


"Lagi ngumpul sama temen mabar. Eh ya udah ya, lanjut lagi nanti... aku ada perlu..."


Dan tut..tut..tut... telfon terputus. Selenia menatap ponsel dan keningnya mengerut. Aneh banget, telfon-telfon malah nanyain Adam. Kenapa sih?

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Tempat tongkrongan Tony bersama teman-teman mabarnya tidak jauh dari kantor pengacara dengan neon box bertuliskan Dr. Johan Budi Setiawan, S.H di bagian depannya. Itulah kenapa dia menelfon Selenia dan menanyakan apakah 'kakak' nya sudah pulang. Karena barusan dia melihat Adam keluar dari mobilnya bersama seorang perempuan yang dia lihat di pintu gerbang kantor Ayahnya tadi--saat tidak sengaja motornya hampir menabrak mobil Adam--dan mereka kemudian berjalan beriringan masuk ke kantor pengacara tersebut.


"Ngapain mereka ke sana?" gumam Tony.


Jadi setelah dari kantor Ayahnya, Tony tidak langsung pulang karena teman-teman mabarnya ngajakin nongkrong. Dia bahkan masih memakai seragam sekolah. Sejak mereka (Adam dan Renata) masuk ke kantor dengan model bangunan mininalis tersebut, Tony jadi sering memperhatikan tempat itu dibanding mendengarkan ocehan teman-temannya yang lagi membahas turnamen gamen online yang akan diadakan dua minggu lagi. Alhasil, sebuah botol air mineral kosong mampir dengan mulus ke pilipisnya.


"Eh anjing lu!" pekik Tony kaget. Dia memungut butiran kacang dan melemparnya ke Yoga, salah satu teman mabarnya.


"Makanya diajakin diskusi jangan bengong," Petra menimpali.


"Gue denger kok kalian semua ngomong apa," Tony mengusap-usap pilipisnya. "Sakit tau, gila lo."


"Jadi gimana? Lo ikut turnamen apa enggak?" tanya Gilang, mengangkat dagunya.


"Ikut lah! Ya kali gue nggak ikut," Tony menepuk-nepuk dadanya.


"Okey, ini kan kelompok. Kalau gitu kita mulai bikin formasi," Petra meminta posisi duduk mereka merapat.


Semua mengikuti perintah Petra dan serentak merapatkan duduknya satu sama lain. Petra sebagai ketua geng nonkrong mereka sekaligus yang paling senior di ajang turnamen, menjelaskan secara rinci bagaimana persiapan yang harus mereka lakukan. Semua mendengarkan dengan seksama, termasuk Tony yang kadah masih mencuri pandang ke arah kantor si pengacara.


Sampai sekitar 15 menit ketika Petra masih sibuk ngoceh, mata Tony melihat Adam dan Renata keluar dari kantor pengacara tersebut dengan wajah yang terlihat sama-sama sumringah. Mereka kemudian masuk mobil dan segera berlalu meninggalkan tempat itu.


"Eh, gue ada urusan. Gue cabut dulu guys," Tony bangkit dan langsung bergegas menuju motornya.


"Woey! Gue belum selesai ngomong Ton! Lo mau kemana??!!" teriak Petra saat Tony mulai memakain helmnya.


Tanpa mempedulikan Petra dan yang lain, Tony segera menstarter motornya dan tancap gas mengikuti mobil Adam.


Gerimis turun saat mereka mulai berbaur dengan kendaraan lain di jalan utama. Dalam hati, Tony mengumpat dirinya sendiri yang lupa membawa jas hujan. Kalau Papanya tahu dia hujan-hujanan kaya gini, beliau pasti bakalan langsung ceramahi Tony habis-habisan. Apalagi waktu itu Tony pernah punya riwayat masuk rumah sakit gara-gara kehujanan.


Eerrgghhh, semoga aja tubuh gue bisa diajak kompromi kali ini, batinnya.


Dengan tetap menjaga jarak, akhirnya Tony berhasil mengikuti Adam yang membawa mobilnya ke sebuah rumah makan bernama Greenosh. Tony pun turut berhenti dan memarkirkan motornya di antara motor-motor pengunjung lain. Letaknya agak berjauhan dari posisi Adam memarkirkan mobilnya. Tony terus memantau Adam dan Renata yang mulai memasuki Greenosh. Tapi sayang dia tidak diizinkan masuk oleh penjaga keamanan Greenosh, karena pakaiannya basah kuyup. Jadi terpaksa Tony hanya duduk di emperan dan mengambil posisi tepat supaya dia tetap bisa melihat ke dalam, tempat dimana Renata dan Adam saling duduk berhadapan.


"Mau pesen apa mas?" seorang pelayan menyodorkan buku menu pada Tony.


Pelayan itu pergi dan tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa pesanan milik Tony. Sambil menikmati kopinya, mata Tony terus memperhatikan gerak-gerik Adam dan Renata di dalam.


Kalau memang Adam benar suaminya Selenia, jahat sekali dengan apa yang dilakukannya sekarang? Berdua-duaan dengan sekretarisnya sementara Selenia di rumah.


Tony memang sudah tidak percaya lagi dengan kata 'kakak' yang digunakan Selenia untuk memanggil Adam di depannya. Mengulik dari cara Selenia dan Cia yang terkesan menyembunyikan sesuatu, dan rengekan Selenia di taman tempo hari yang mempersoalkan kedekatan Adam dan Renata dengan menyebut kata 'SUAMI GUE', Tony kini lebih yakin kalau mereka mungkin memang telah menikah. Tidak ada yang salah dengan pernikahan mereka--andai itu benar terjadi--hanya saja Tony ingin tahu lebih jelas alasan kenapa Selenia memutuskan untuk menikah di usia yang masih sangat muda. Bukan muda lagi, tapi Selenia masih sekolah. Apalagi dia menikah dengan seseorang yang jelas-jelas usianya jauh diatasnya. Apa Selenia dipaksa? Beberapa dugaan buruk merasuki isi kepala Tony. Dia tersenyum getir, menyadari dirinya yang rela basah kuyup hanya untuk mencari fakta tentang Selenia. Perempuan yang entah kenapa dia merasa tidak rela kalau ada orang yang menyakiti hatinya.


Renata dan Adam menikmati makanan sambil ngobrol. Sesekali terlihat mereka tertawa lepas, entah apa yang mereka tertawakan.


"Saya bener-bener terimakasih sekali sama Bapak karena...."


"Udah dong Ren, kamu jangan berterimakasih terus-terusan seperti itu. Saya kan cuma bantu kamu cari solusi aja. Selebihnya kamu sendiri yang bergerak," sahut Adam. Dia tidak terbiasa mendengar pujian yang diulang-ulang.


"Tapi kalau tidak ada Bapak, saya juga nggak tahu lagi jalan keluar seperti apa yang akan saya dapat."


Sidang masih ditunda dan akan dilaksanakan setelah Renata pulang dari luar kota minggu depan.


"Semua sudah ditentukan sama yang di Atas," Adam menyunggingkan senyum dan mengarahkan telunjuknya ke atas. "Kamu itu perempuan hebat, rasanya pengalaman hidup saya tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang kamu alami."


Renata tersipu tapi hatinya berbunga-bunga. Laki-laki yang sangat dia idam-idamkan, secara terang-terangan memuji dirinya?


"E, maaf Pak..." mata Renata tertuju pada sesuatu di sudut bibir adam. Dia lalu mencabut tisu di hadapannya dan mengusapkan tisu tersebut pada setitik bekas makanan yang menempel di sudut bibir indah itu.


Adam kaget menerima perlakuan itu. Dengan sigap dia menahan tisu di tangan Renata yang justru malah menghantarkan tangannya menggenggam tangan Renata.


Deg! Jantung Renata berdegup tak beraturan. Sedangkan Adam malah salah tingkah dan buru-buru melepaskan tangannya dari tangan Renata.


"Ma'af Ren... saya nggak bermaksud..." ucap Adam gugup.


"Iya nggak pa-pa kok Pak," balas Renata lembut. "Saya yang seharusnya minta ma'af," dia menarik tangannya dari dagu Adam dengan canggung.


Tony melihat itu semua. Tony melihat setiap gerak-gerik mereka. Dan Tony telah mengabadikan moment epic yang menurutnya tidak pantas dilakukan seorang Adam dengan perempuan lain karena dia telah menjadi suami Selenia.


Apa-apaan pake acara pegang-pegangan tangan sama perempuan lain?


Tony tersenyum kecut sembari menatap ponselnya. Sekarang itu mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi siapa tahu suatu saat nanti ada gunanya.

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


Adam tiba di rumah sekitar hampir pukul 9.00 malam, dan hanya menemui Bi Iyah yang sedang menyetrika baju di belakang. Saat mengantar Renata pulang tadi, dia menyempatkan diri sebentar untuk bermain dengan Nola. Suasana rumah begitu hening. Tidak ada sambutan apapun kecuali bunyi jam besar yang berdentang sebanyak sembilan kali.


Rasa bersalah seketika menyergap dirinya saat mengecek ponsel dan mendapati keterangan 20 missed calls dan beberapa pesan di sana. Semuanya dari Selenia.


Astaga! Dia lupa kembali mengaktifkan ponselnya ke mode dering, setelah selama di kantor Johan tadi ponselnya dia silent total. Adam melempar tasnya ke sofa dan berdiri mematung sambil menatap layar ponselnya dengan wajah tegang, bingung, cemas yang bercampur jadi satu.


Selenia: [kamu beneran pulang malem lagi?] (04.15 PM)


Selenia: [malah gak dibaca lagi pesanku] (04.30 PM)


Selenia: [Segitu sibuknya ya sampe nggak angkat telfon aku?] (04.50 PM)


Selenia: [Kok aku dicuekin ya 😢] (05.10 PM)


Selenia: [Kamu meeting sama alien atau siapa?] (05.30 PM)


Selenia: [Kamu lagi di planet mana sih?! ponsel kamu dibawa alien?!] (05.35 PM)


Selenia: [Ya udah deh kalau lagi sibuk... jangan lupa makan ya... 🤗] (06.05 PM)


Selenia: [Udah malem Dam, kamu kemana sih?] (06.47 PM)


Selenia: [Kamu jangan bikin aku khawatir deh, kamu udah makan apa belum?] (06.50 PM)


Selenia: [Dam angkat dong telfon aku... 😏... ] (07.02 PM)


Selenia: [Ya udah deh, nanti kalau pulang trus rumah sepi, ma'af ya aku udah tidur.... see you tomorrow... 😚] (08.10 PM)


Tubuh Adam melunglai. Ya Tuhan, dia nggak sadar sudah mengabaikan Selenia seharian ini. Dan hanya karena sibuk membantu Renata, sampai-sampai sama sekali nggak kepikiran untuk mengecek ponsel? How dare you, Dam?! Batinnya memaki dirinya sendiri.


"Pak..." suara Bi Iyah mengejutkan Adam yang masih berdiri di tempatnya. "Pak Adam mau saya siapkan makan malam sekarang?"


"Bik, Selenia udah tidur dari tadi?" Adam bertanya balik.


"Iya Pak," Bi Iyah mengangguk. "Malah udah dari sebelum jam makan malam, dan Non Selenia nggak makan malam juga."


Mata Adam membelalak. "Kenapa Bik?" padahal dia sudah berpesan--sebelum ponselnya di silent total--supaya Selenia makan malam tanpa menunggu dirinya.


"Katanya masih kenyang gitu."


Nggak mungkin. Selenia pasti berbohong sama Bi Iyah. Dia tahu istrinya itu sebenarnya menunggu dirinya untuk bisa makan malam bareng.


"Bapak mau saya siapkan makan malam sekarang?" Bi Iyah mengulangi pertanyaannya.


"Nggak usah Bik. Saya sudah kenyang," sahut Adam cepat dan segera bergegas ke lantai dua.


Adam menghentikan langkahnya di depan kamar Selenia. Tangannya sudah hampir mengetuk pintu sebelum akhirnya memilih untuk membukanya sendiri. Kamar itu sudah tidak pernah dikunci lagi sekarang. Adam melangkah perlahan masuk menghampiri Selenia yang telah tertidur pulas ditemani alunan musik dari ponselnya.


...Cause you'll be safe in these arms of mine...


...Just call my name on the edge of the night...


...And I'll run to you, I'll run to you........


Penggalan lirik lagu Run To You milik Lea Michele mengalun lembut di tengah keheningan suasana malam di kamar Selenia.


Pssssssstt!! terdengar bunyi pengharum ruangan yang kemudian menguarkan aroma lavender ke seluruh kamar.


Adam duduk di tepi tempat tidur dan membelai rambut Selenia.


"Maafin aku Sel, aku sama sekali nggak bermaksud untuk cuekin kamu seharian ini," ucapnya lirih yang tentu saja tidak di dengar oleh Selenia karena dia sudah tidur pulas. Aku juga nggak bermaksud untuk bohong sama kamu. Aku janji, setelah masalah Renata selesai, urusan kami hanya kembali pada soal pekerjaan. Tambahnya dalam hati.


Adam memejamkan mata. Kebersamaannya dengan Renata seharian ini, membuatnya kembali menatap sendu pada istrinya yang masih terlelap. Dia merasa sudah mengkhianati Selenia.


Ma'af... ma'af... ma'af... bisik Adam lirih disusul dengan mengecup kening Selenia lembut.


Setelah menatap wajah manis yang tengah dibuai mimpi itu beberapa saat, Adam kemudian segera berlalu menuju ke kamarnya dengan rasa bersalah yang masih menggelayuti perasaannya.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2