
"Ini lagi mau sarapan... iya dong, Yah.... hehehe... iya semalem nggak sempet nelfon... maaf," Selenia berbicara dengan Ayahnya melalui sambungan telefon di ruang makan, sembari menunggu Adam yang sedang bersiap di kamarnya.
"Ayah udah sarapan? Bagus deh," Selenia mengacungkan jempolnya. Bi Iyah menghampiri meja, menuangkan teh ke gelasnya dan Adam lalu kembali ke belakang.
Tak lama kemudian Adam muncul dengan penampilan yang sudah rapi. Dia berjalan mendekati Selenia dan cup! sebuah kecupan lembut mendarat di pipi kanan Selenia. Selenia terhenyak kaget mendapat kecupan mendadak tersebut dan mengerlingkan matanya ke Adam yang justru dibalas juluran lidah.
"Oke deh.... hati-hati Yah... wa'alaikumussalam," Selenia mengakhiri obrolannya dengan Pak Fendi kemudian melasakkan ponselnya ke dalam tas.
"Dih apaan sih melet-melet. Genit banget," Selenia mencibir. "Rapi bener. Mau ketemu siapa sih?" goda Selenia pada penampilan Adam, sembari mengoleskan selai ke roti tawar dan menghidangkan di piring Adam.
Pagi ini penampilan Adam cukup membuat Selenia terpesona. Suaminya itu terlihat sangat fresh karena kumis dan jenggotnya telah dicukur bersih.
Adam melirik sembari tersenyum dan menyeruput tehnya.
"Apa sih...??" dia mengacak-acak rambut Selenia pelan.
"Ehh udah stop," Selenia menahan tangan Adam. "Udah rapi jangan diacak-acak."
"Ya udah ayok buruan sarapan, trus berangkat sekolah."
Mereka menikmati sarapan pagi dalam suasana hening yang membahagiakan. Setelah sekian hari dirundung kegalauan, kini kehangatan dan keceriaan itu kembali menghiasi rumah mereka.
Selesai sarapan, Selenia langsung menyalami Adam dan berlari keluar. Tapi setibanya di luar, dia celingukan karena tidak menemukan Pak Tono yang biasa mengantarkannya ke sekolah. Mobilnya juga masih terparkir manis di garasi.
"Oh iya..." Selenia berputar saat mendengar langkah kaki Adam keluar rumah. "Kok dari semalam kayaknya aku gak liat Pak Tono ya?"
"Selama kamu nggak di rumah, Pak Tono memang aku suruh pulang dulu sementara sayang, soalnya...."
"Apa?!!" mata Selenia membelalak.
Adam kaget melihat reaksi itu.
"I-iya sayang soalnya kan selama kamu nggak di rumah, Pak Tono nggak ada kerjaan sama sekali..."
"Ya nggak bisa gitu dong Dam. Memangnya kamu nggak kasihan apa ngeberhentiin orang kerja seenaknya gitu. Kamu pikir aku nggak bakalan pulang? Kamu nggak mikir gimana nasib keluarganya? Kasian tau! Lagian kan kamu bisa pake jasa dia buat sopirin kamu sementara... iiih... kamu kok matiin rejeki orang sih??!" Selenia bersungut-sungut sembari menyilangkan tangannya ke dada.
Adam jadi bingung mendengar omelan tersebut.
Ya ampun, baru juga baikan semalam, masa iya mau berantem lagi? Mana dikatain matiin rejeki orang lagi. Memangnya aku sejahat itu?
"Bukan gitu maksudnya sayang. Kan aku bisa nyetir sendiri. Lagian kadang aku pulangnya juga gak tentu kan?"
"Ah pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus panggil Pak Tono lagi ke sini buat sopirin aku, titik!"
"Iya... iya... iya..." Adam merengkuh bahu Selenia. "Iya aku janji, nanti aku telfon Pak Tono dan bawa dia ke sini lagi."
Bibir Selenia masih cembetut. "Janji ya?!"
"Iya sayang, janji. Ya udah sekarang kamu ke sekolah aku yang anter," Adam menarik lengan Selenia perlahan menghampiri mobilnya.
Selenia berjalan di belakang Adam dengan bibir yang masih memberengut. Entah kenapa kok rasanya jengkel banget denger Adam yang terkesan seenaknya berhentiin Pak Tono. Padahal kalau dinalar, memang ada benarnya juga sih Adam melalukan itu. Secara dia sendiri kan memang nggak butuh sopir. Dulu Pak Tono dia rekrut kan memang secara khusus untuk menjadi sopir pribadinya karena Adam nggak bisa antar jemput ke sekolah.
"Jangan cemberut terus dong sayang," rayu Adam dalam perjalanan. Tangan kirinya terus menggenggam tangan kanan Selenia. "Iya lho, aku janji besok Pak Tono pasti udah balik lagi."
Bi Iyah yang mendengar perdebatan itu dari dapur cuma melongok sebentar dan geleng-geleng kepala. Ada-adaaaa aja.
"Lain kali jangan gitu lagi. Jangan asal berhentiin orang kerja. Kasian tahu kalau setelah Pak Tono berhenti jadi sopir terus belum dapat pekerjaan pengganti," omel Selenia tapi lebih pelan.
Adam menyunggingkan senyum. Istrinya itu tidak tahu kalau Pak Tono sudah diberikan pesangon lumayan selama berhenti sementara, untuk modal di kampungnya. Setahu Adam, istri Pak Tono punya usaha jualan makanan. Dan saat itu Adam juga sudah berjanji sama Pak Tono, kalau Selenia sudah kembali ke rumah, dia bakal dipanggil kembali untuk jadi sopir. Selenia aja yang nggak mau dengar penjelasan Adam sampai akhir. Hmmmm, memang kudu ekstra sabar punya istri masih ABG.
Sesampainya di sekolah, seperti biasa Cia sudah menunggu. Adam memberikan kecupan di kening Selenia sebelum istrinya itu keluar.
"Daaaghh..." Selenia melambaikan tangannya sebelum akhirnya Adam melanjutkan perjalanannya ke kantor.
Cia yang melihat romantisme itu cuma bisa terkikik dan mencibir.
"Eehmm.... panas nih," celetuknya sembari mengibas-ngibaskan tangan.
Selenia yang paham maksud celetukan Cia langsung menoyor kepala anak itu pelan.
"Lo sekarang udah nggak jomblo, jadi nggak usah cerewet," balasnya. "Emang gue pernah komentarin hubungan lo sama Marvin?"
"Ih ih ih..." langkah Cia terhenti. Dia menunjuk-nujuk Selenia sambil tertawa. "Ada yang marah, bercanda kali."
Selenia tidak merespon. Dia hanya memberengut sekejap lalu kembali melangkah menuju kelas.
"Eh Sel...!" Cia berlari membuntuti. "Tungguin dong. Masa gitu doang marah sih? Sensitive banget."
"Ck, apaan sih?" sahut Selenia ketus tanpa sedikitpun menoleh ke Cia. Sebenarnya dia masih dongkol sama Adam karena memberhentikan Pak Tono. Jadi rasanya masih kebawa sampai sekolah.
Cia hanya geleng-geleng kepala melihat sikap sahabatnya itu yang dirasa aneh. Masa iya cuma dibercandain gitu aja marah?
Tony yang sudah memperhatikan Selenia sedari awal dia datang, hanya mengikuti dan melihat mereka dari kejauhan. Entah kenapa rasanya sakit dan sulit sekali menerima kenyataan kalau Selenia telah kembali lagi ke rumah Adam.
...🌺🌺🌺...
Adam berpapasan dengan Renata di lobi kantor dan dia hanya melempar senyum simpul ke Renata kemudian berlalu begitu saja.
"Hmmmmmhh.... tenang Ren.... tenaaaaang..." ucap Renata dalam hati sembari mengelus dada. Dia bisa melihat aura Adam yang tampak lebih ceria daripada biasanya dan dia yakin itu semua pasti karena istrinya yang telah kembali ke rumah. Syukurlah. Ternyata memang Selenia lah sumber kebahagiaan dan semangat Adam. Seperti halnya Nola yang menjadi sumber kebahagiaan dan semangatnya untuk tetap menjalani hidup. Untuk sementara tidak masalah bagi Renata melihat sikap Adam yang masih terkesan menjaga jarak. Dia juga tidak perlu mengatakan padanya tentang pertemuannya dengan Selenia, karena memang itu adalah kemauannya sendiri untuk membalas budi baik yang telah Adam lakukan untuknya.
"Nglamun terus!" Maya tiba-tiba datang dan menepuk bahu Renata. "Ngelihatin apa sih? Ehm," dia turut melihat ke arah pandangan Renata--Adam sudah jauh melangkah di depan mereka--dan tersenyum jahil. "Ganteng ya?" godanya.
"Ck apaan sih jangan ngawur!" celetuk Renata. "Pak Adam udah punya istri," sejenak kemudian dia sadar telah keceplosan dan buru-buru menutup mulut dengan tumpukan berkas di tangannya.
__ADS_1
"Siapa bilang?" kening Maya mengerut. "Pak Adam masih single tahu."
"E... i-iya maksud gue, dia udah punya tunangan... iya... tunangan."
"Hahaha...!" Maya tertawa. "Ren, sebelum janur kuning melengkung, itu artinya orang tersebut masih bisa dimiliki siapa saja. Gue masih inget lho pas lo, anak lo sama dia dateng bareng ke acara ulang tahun anaknya Pak Anton. Kalian tuh serasiiiikk banget."
Renata memutar bola matanya. Dasar sableng nih anak. Tapi memang Maya nggak salah juga sih. Dia kan belum tahu status Adam yang sebenarnya. Meski waktu itu Adam tidak memperingatkan padanya tentang pernikahan rahasianya, Renata sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan mengungkap hal itu pada banyak orang. Biarlah semua berjalan seperti air mengalir.
"Lo ngomong apa sih? Gaje banget," sahut Renata kemudian berlalu.
...🌺🌺🌺...
"Pagi Dam," Pak Anton menyapa saat Adam baru tiba di depan ruangannya. "Gimana rencana proyek rukan?"
"Siap Pak," jawaban itu meluncur begitu saja dari mulut Adam. Tidak singkron dengan hatinya yang tiba-tiba bingung ditanya soal itu.
"Oke deh. Good luck for our team, Dam. Saya sepenuhnya percaya sama kamu," Pak Anton menepuk-nepuk pundak Adam kemudian berlalu.
"Pak..." panggil Adam kemudian dan Pak Anton menoleh. "Masih tetap tiga orang kan yang akan datang ke sana?"
Pak Anton mengangguk. "Iya. Kamu, Renata dan Irham. Memangnya kenapa?" tanyanya kemudian sambil menurunkan kacamatanya hingga ke pangkal hidung dan tersenyum sedikit jahil. "Atau kamu mau berdua saja sama Renata?"
Hah?! Apa-apaan Pak Anton ini? Dan Adam langsung menggeleng cepat. Pak Anton terkikik melihat ekspresi itu dan kemudian kembali melanjutkan langkah, berlalu meninggalkan Adam yang masih mematung di depan pintu.
Adam menghela nafas berat, dan kemudian masuk ruangan dengan pikiran yang kembali dibuat bingung. Setidaknya dari sekarang dia harus mempersiapkan mental untuk menghadapi respon Selenia saat dia mengatakan tentang rencananya untuk ke luar kota itu.
...🌺🌺🌺...
Selenia merasa tidak nyaman selama mengikuti pelajaran karena mendadak kepalanya terasa sangat pusing. Dia ingin izin pergi ke UKS tapi takut karena saat itu mapelnya Bu Ningsih--guru yang terkenal pelit dan nggak kenal toleransi sama murid yang absen di mapelnya. Bisa-bisa dia nggak dapat nilai hari ini. Akhirnya dia mencoba menahan sampai bel istirahat berbunyi. Dan saat bel istirahat berdering, saat itu juga pusing yang dia rasakan perlahan mulai menghilang.
"Lo pucet banget Sel?" komentar Cia sembari memperhatikan wajah Selenia. Kelas mulai sepi karena anak-anak langsung menghambur keluar begitu bel berbunyi.
"Masa sih?" Selenia mengambil cermin kecil dari dalam tas. Dan benar, wajahnya memang tampak pucat.
"Serius dah," Cia meraba kening Selenia. "Lo sakit? Tapi badan lo nggak panas."
"Gue yang butuh minuman panas. Ke kantin yuk."
Setelah memasukkan semua buku ke dalam tas, mereka berdua pergi ke kantin. Cia memesankan satu gelas teh panas tanpa gula, lemon tea dan seporsi gado-gado.
"Lo yakin nggak makan?" ujarnya sembari mengaduk-aduk gado-gadonya.
Selenia bergidig melihat makanan milik Cia yang tampak dinikmati dengan lahap--porsinya banyak banget dah Cia. Dia memang sengaja tidak memesan makanan karena tidak merasa lapar. Sementara meminum teh panas sudah cukup membuat tubuhnya terasa rileks.
Tony baru saja masuk ke kantin saat pandangannya bertemu dengan Selenia yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Tony membalas dengan senyum sambil menunjuk konter makanan, bermaksud memberi isyarat kalau dia akan menghampiri meja mereka sebentar lagi.
"Cie yang udah balik ke rumah," celetuk Tony saat kembali dari konter makanan. Dia membawa sebotol soft drink dan 1 cup besar pop mie.
Selenia cuma nyengir. Cia sudah menghabiskan setengah porsi gado-gadonya saat Tony datang. Saat Tony mengucapkan kalimat itu, Cia bisa menangkap ada nada yang dipaksakan dari sana. Tony sedang berpura-pura bahagia atas kembalinya Selenia ke rumah. Tapi Cia tidak mau ambil pusing soal itu.
"Nggak laper kok," jawab Selenia.
"Dia lagi diet," jawab Cia bersamaan.
Selenia melirik Cia dan menarik rambutnya sedikit. "Heh, siapa yang diet? Ngaco. Elo tuh... liat..." dia juga menunjuk perut Cia yang tampak gendut. "... yang harusnya diet."
Dikatain begitu Cia langsung menghentikan makannya. "Iiih... ini cuma kenyang... bukan gendut," rengeknya.
"Sama aja kali. Pertama larinya makanan lo emang ke situ, entar habis tidur siang berat badan langsung naek,wlekk."
"Dih amit-amit!" Cia mengetuk kepalanya lalu mengetuk-ngetuk meja. Gado-gado yang tinggal beberapa suap itu langsung dia singkirkan.
Tony dan Selenia tertawa melihatnya. Cia memang paling sensitif kalau sudah dikatain gendut. Meskipun lagi lapar tingkat dewa, dia bisa langsung menghentikan aktivitas makannya.
"Hahahahaha...! Ya ampun Cia, gue cuma bercanda kali. Lo tu udah seksi kok," ujar Selenia kemudian. Tidak tega melihat komuk Cia yang sepertinya masih ingin menyantap si gado-gado. "... udah habisin tuh gado-gadonya. Nanti nangis lho dia," dia kembali mendekatkan gado-gado ke Cia.
"Iya Cia. Nggak baik buang-buang makanan. Mubazir namanya," sambung Tony turut geli.
Cia cuma memberengut sembari menatap gado-gadonya penuh harap.
"Iiih kalian apaan sih? Aku beneran gendut enggak??" Cia meremas-remas pipinya. "Ini chubby nggak?"
"Enggak Ciaaaa... orang dibilangin aku cuma bercanda kok," balas Selenia.
"Udah udah udah... makan lagi nih," Tony semakin mendekatkan si gado-gado ke Cia.
"Hmmmpppfffhhh..." Selenia menahan tawa saat Cia mulai kembali memegang sendok dan garpu. "...buruuu... bentar lagi bel."
Cia memang masih merasakan perutnya lapar. Jadi begitu Selenia dan Tony berhenti ngomong, dia langsung menghabiskan gado-gado tersebut sampai tak tersisa.
"Ghheeeeeiiikkk...." Cia bersendawa setelah menghabiskan makanan dan minumannya.
Selenia dan Tony saling lirik dan menahan senyum melihat Cia menepuk-nepuk perutnya sendiri.
"Nanti sore jangan lupa cek berat badan ya," celetuk Selenia.
"Heeeeee.... Seleniaaaa...." Ekspresi bahagia Cia karena sudah kenyang berubah. Dia memberengut dan mencoba menjitak kepala Selenia yang terus menghindar.
"Ya nggak ada salahnya kan di cek, Ciaaa..." Selenia tak mau kalah.
"Ayok ikut group dance aku biar seimbang. Sekalian bakar lemak sambil dance kan nggak kerasa," Tony menambahkan.
"Ah bodo ah!" Cia berdiri dengan sewot. "Udah ah aku mau ke kelas lagi!" dia kemudian berlalu meninggalkan Selenia dan Tony yang masih tak bisa berhenti tertawa.
__ADS_1
Selenia tidak begitu mempedulikan Cia yang sedang merajuk, karena dia yakin, sebentar lagi sikapnya itu pasti luluh juga. Jadi sebelum bel masuk berbunyi, Selenia memilih menghabiskan waktunya di kantin sambil ngobrol sama Tony.
"Kamu baik-baik aja kan di rumah?" tanya Tony.
Selenia mengangguk. "Semuanya cuma salah paham. Hmm... kayaknya aku emang kurang dewasa ya Ton, buat ngadepin semuanya?"
"Mmmm... itu berarti kamu harus banyak belajar," Tony tersenyum setengah dipaksakan. Dia sudah mendengar sendiri semua penjelasan Renata pada Selenia di Greenosh tempo hari, dan itu tanpa sepengetahuan Selenia.
"But thanks ya Ton. Udah jadi teman baik aku selama aku ada masalah," Selenia mengelus lengan Tony yang memegang botol soft drink.
DEG! Jantung Tony berdegup kencang menerima perlakuan itu. Andai saja Selenia melakukan ini dengan maksud, suasana, dan ucapan lain. Aku nyaman banget berada di dekat kamu, Ton. Misalnya. Apa-apaan sih lo ton? Terima kenyataan aja kenapa? Lo harusnya seneng liat Selenia udah bahagia lagi! Sebuah suara membalas suara hati sebelumnya.
Tony tersenyum, dan perlahan menarik tangannya. "Sama-sama Sel. Kalau ada apa-apa, kamu jangan sungkan buat cerita sama aku. Oke?"
"Siap!" ucap Selenia dengan tangan memperagakan sikap hormat.
...🌺🌺🌺...
Benar kan? Cia kalau ngambek memang nggak lama. Buktinya pulang sekolah ini dia sudah berjajar dengan Selenia di depan gerbang sekolah menunggu jemputan.
"Lo dijemput Adam lagi?" tanya Cia.
Selenia mengangguk. "Sebel tahu, masa Pak Tono diberhentiin sama dia. Kan kasian."
"Sementara aja mungkin, cuma selama lo nggak di rumah waktu itu."
"Ya kan dia bisa nyuruh Pak Tono buat sopirin dia dulu. Kaya gue nggak bakalan pulang aja," Selenia menyilangkan kedua tangannya ke dada.
Cia merapatkan bibir dan menahan tawa. "Elo kan kalau ngambek nggak bisa ditebak luluhnya kapan. Lagian Adam juga bisa nyetir sendiri, ngapain pake sopir?"
Selenia melirik sinis ke arah Cia. Ni anak kenapa jawabannya sama banget sama alasan Adam ya?
Tak lama kemudian Marvin datang dan berhenti tepat di depan mereka.
"Hei Sel?" sapanya sembari membuka helm. "Apa kabar?
"Hei Vin. Baik. Kamu sendiri gimana?"
"Luar biasa dong pastinya," Cia menyahut sembari mendekati Marvin. Marvin terkekeh dan membelai rambut Cia penuh kasih.
Selenia mencibir. "Iya deh... bahagia ya kalian. Ini mau pada kemana nih?"
"Kita kemana yang?" tanya Cia pada Marvin. Selenia membelalak melihat Cia yang sudah berani terang-terangan memanggil Marvin dengan sebutan 'yang' di depannya. Wah!
"Makan dulu yuk."
"Oke!" Cia memakai helm dan kemudian naik ke boncengan. "Sel, kita duluan ya."
Selenia mengacungkan kedua jempolnya. "Daaaghhh...."
Sepeninggal Cia dan Marvin, Selenia hanya sendiri di depan gerbang. Merasa sinar matahari yang terik menyoroti kepalanya, dia pun berjalan ke halte untuk berteduh. Namun tiba-tiba seseorang menubruknya dari belakang dengan keras dan membuatnya tersungkur.
"Aduhh!!!" Selenia ambruk ke tanah. Dia mendongak untuk melihat siapa yang telah menubruknya.
Orang itu berpakaian serba hitam mulai dari celana, jaket, topi, masker, bahkan dia juga memakai kacamata hitam. Untuk beberapa saat orang itu hanya berdiri tak jauh dari posisi Selenia dan menatap Selenia yang masih bersimpuh di tanah, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Orang itu tidak sedikitpun mengucap maaf atau berusaha menolong Selenia.
Siapa dia? nyali Selenia seketika menciut. Kenapa dia terus ngeliatin aku?
"Sel? kamu nggak pa-pa?" Tony datang dari belakang dan membantunya berdiri. Bersamaan dengan itu, orang yang berpakaian serba hitam tadi langsung pergi.
Selenia menggeleng. Dia tampak ketakutan. "Ng-nggak pa-pa kok. Makasih ya Ton."
"Kamu kenal orang itu?" Tony memandang orang asing tadi yang sudah berjalan menjauh.
"Aku nggak tahu dia siapa."
"Ck, aneh banget. Ya udah yang penting kamu nggak pa-pa. Eh.. tapi itu lutut kamu lecet lho," Tony menunduk ke lutut Selenia.
Selenia yang awalnya tidak merasakan apapun, begitu melihat lututnya lecet langsung meringis.
"Kebetulan aku bawa band aid. Yuk," Tony memapah Selenia ke bangku halte.
Tony kemudian mengeluarkan band aid dari dalam tasnya. Setelah membersihkan luka lutut Selenia menggunakan tangannya--karena dia nggak mungkin kan kemana-mana bawa kotak p3k--Tony lalu menutup luka itu menggunakan band aid.
Tak lama kemudian Adam datang. Dia membuka kaca mobil dan menatap Tony dengan pandangan tidak suka. Setelah itu dia keluar dan menghampiri Selenia tanpa mempedulikan keberadaan Tony.
"Maaf sayang aku telat," ucapnya sembari melirik Tony, seolah ingin memamerkan kemesraannya dengan Selenia. "Kaki kamu kenapa?" tanyanya khawatir
Tony melengos. Hatinya terasa seperti diletakkan di atas kompor berapi.
"Eehh... itu tadi aku nggak sengaja jatuh."
"Lain kali hati-hati dong sayang. Ya udah kalau begitu pulang yuk," Adam merangkul Selenia dan membawanya ke mobil.
"Ton... makasih ya plesternya!" teriak Selenia sebelum masuk mobil. Tony hanya tersenyum simpul.
Tony memandang mobil Adam dengan tatapan penuh emosi sampai mobil itu menghilang di tikungan. Emosi yang sulit dijelaskan. Emosi yang bercampur antara rasa cemburu, kecewa, marah dan sejenisnya. Dia lalu berjalan menghampiri motornya yang masih terparkir di dekat pos satpam. Setelah menstarter dan membleyer gas motornya beberapa kali, Tony langsung tancap gas meninggalkan sekolah.
Pak Satpam yang kaget dengan suara mesin motornya cuma bisa mengelus dada sambil geleng-geleng kepala.
"Dasar anak muda," gumamnya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...