
Gosip yang beredar di sekolah pagi itu membuat Cia mendadak diberondong berbagai macam pertanyaan oleh beberapa anak, terutama para murid perempuan. Jadi gara-gara semalam Tony dan Selenia dansa di acara pesta ultah, banyak yang berpikir kalau mereka sudah jadian. Cia yang biasanya selalu nunggu Selenia datang, pagi itu terpaksa masuk dulu karena kebelet pengen ke toilet. Alhasil, dia harus menahan greget karena dia pun sama sekali nggak ngerti sama yang mereka bicarakan.
"Gue nggak tahu! Beneran deh gue berani sumpah," ucap Cia sembari mengibas-ngibaskan tangan untuk memperjelas kalau dia memang nggak ngerti apa-apa. Dia merasa bak seorang artis yang lagi dikerubuti wartawan.
"Serius lo nggak tahu?" tanya Lala sembari mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah video pada Cia. Dia yang semalam terpaksa meninggalkan tempat sebelum acara selesai karena tak kuat melihat kebersamaan Tony dan Selenia, harus kembali menelan pil pahit saat melihat kiriman video dari grup biang gosip di sekolah itu. "Atau lo juga nggak punya video ini?" pengennya sih dia nggak melihat video itu, tapi karena terlanjur penasaran jadi ya gitu deh.
Mata Cia membelalak. Bukan apa-apa, masalahnya di video itu dia melihat Selenia yang terlihat begitu menikmati alunan musik syahdu pengiring dansa dengan kedua tangan yang melingkar mesra di leher Tony. They look very romantic. Cia menggeleng. Karena yang ada di otaknya saat melihat video itu justru Adam. Semalam dia melihat pria itu tampak memandang sebal ke arah arena dansa, khususnya pada Tony dan Selenia.
"Ya ampun Cia," Lala menghentikan video tersebut dan mengembalikan ponselnya ke dalam saku. "Lo tuh sahabatnya Selenia, tapi disaat hampir seluruh makhluk di sekolah ini punya video ini, lo malah nggak punya dan nggak tahu apa-apa? Jangan-jangan lo juga nggak tahu kalau mereka udah jadian?"
Lala memang pandai berbicara. Apalagi bergosip. Dari cara Lala menyampaikan cerita dan dugaan-dugaan itu, otomatis membuat anak-anak penasaran dan juga bertanya-tanya.
"Nah, bener tuh apa yang lala bilang," sahut salah seorang anak lain.
"Nggak... nggak... nggak... kalian salah. Itu semua nggak bener. Mereka nggak jadian kok. Lagian Selenia juga udah punya su...." ups! hampir saja. Reflek Cia menepuk-nepuk mulutnya sendiri.
"Apa Ci? Su... apa???" Lala mengangkat alisnya. Rasa ingin tahunya kentara sekali dari ekspresi wajahnya.
"Suami?" celetuk salah satu anak yang lain.
"Sugar daddy?" sahut Lala asal.
"Lala lo ngomong apa sih? Selenia bukan cewek kaya gitu ya!" sahut Cia emosi. "Sinting lo!"
"Hahaha sorry... gue keceplosan," dia menutup mulutnya. "Ya terus maksud lo dia udah punya apa? Su... apa?"
"Dia itu udah punya.... gebetan sih.... e...," jawab Cia asal. Meski dalam hati dia ketar-ketir juga. "Jadi nggak mungkin lah dia jadian sama Tony. Mereka tu cuma temenan aja. Lagian kalian juga tahu kan kalau gue, Selenia sama Tony emang sering kongkow bertiga."
"Hmmm..." Lala mencibir. Dia sebenarnya tidak suka dengan kedekatan mereka dan berharap dia bisa menjadi bagian dari orang yang bisa duduk bersama dengan Tony.
"Tapi tetep aja sih, video yang udah beredar ini nggak bisa mengindikasikan kalau mereka itu cuma temenan. Ya nggak guys?" imbuh Lala bak kompor meleduk dan membuat beberapa anak mengangguk setuju.
"Aaaaah udah udah udah!!" bantah Cia karena semakin tidak tahan. "Kalian jangan bikin gosip yang enggak-enggak deh. Gue tekankan sekali lagi ya, mereka itu enggak jadian. Titik!" tandasnya dan langsung berlalu meninggalkan mereka yang masih penasaran.
Cia pergi meninggalkan kerumunan penggosip dan kerumunan itu langsung bubar, kecuali Lala. Dia masih berdiri di tempatnya mengamati punggung Cia yang semakin menjauh. Dia masih penasaran dengan kata yang hampir saja diucapkan Cia tadi. 'Su' apa? Suami atau Sugar Daddy? Dia sendiri memang berusaha menepis apa yang merasuki pikirannya. Tapi, kecurigaan itu tidak bisa hilang begitu saja. Apa sih yang Cia dan Selenia sembunyikan? Kalau Suami sepertinya nggak mungkin. Ya kali Selenia masih sekolah udah nikah? Kan nggak bisa. Tapi kalau Sugar Daddy?
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Cia berjalan menyusuri koridor sambil celingukan, seandainya tiba-tiba Selenia muncul. Dia melirik jam tangannya dengan gelisah. Sudah hampir pukul 7 tapi Selenia belum nongol juga. Nggak biasanya. Jangan-jangan Adam marah terus ngelarang Selenia buat berangkat ke sekolah. Ah tapi nggak mungkin. Adam nggak mungkin sampe berbuat kaya gitu. Pikiran Cia sibuk berdebat. Setelah sepanjang koridor sama sekali tidak berpapasan dengan Selenia, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke gerbang sekolah dan menunggu di tempat dia biasa menunggu Selenia.
Sekitar sepuluh langkah lagi mendekati gerbang, mata Cia membelalak melihat mobil Kia Seltos merah yang meluncur dari ujung jalan dan berhenti tepat di depan pintu gerbang.
Selenia keluar dari pintu depan dan tampak melambaikan tangan ke dalam mobil dengan wajah sumringah. Tak lama kemudian mobil itu pun berlalu meninggalkan Selenia yang masih berdiri di sana, senyum-senyum memandang si mobil yang semakin menjauh.
"Jangan bilang lo dadah-dadah sama Pak Tono," celetuk Cia.
Selenia terkejut mendengar suara itu. Dia menoleh dan mendapati Cia sudah berdiri di belakangnya. Kalau ingat bagaimana Cia yang mengabaikannya semalam di pesta karena terlanjur asyik sama Marvin, dia sebenarnya sudah pengen balas dendam hari ini ke Cia. Dia pengen cuekin Cia. Tapi sayang, kedongkolan itu sudah tertutup dengan perasaan bahagianya pagi ini.
"Enak aja lo!" Selenia menoyor kepala Cia pelan. "Ya jelas sama suami gue lah," bisiknya lirih tapi terdengar greget sembari berjalan melewati Cia.
"What?" Cia kaget mendengar jawaban itu. Dia menyusul Selenia dan menjajari langkahnya. "Cieeee... yang udah mau ngaku kalau punya suamiii," balas Cia dengan berbisik dan lebih greget.
Selenia tidak menggubris godaan yang dilontarkan Cia. Dia terus melangkah menuju koridor utama dengan ringan. Tapi begitu sampai di koridor dan berpapasan dengan beberapa anak yang satu tingkatan dengannya, Selenia merasa kalau mereka menatapnya aneh. Seperti tatapan menilai dan mengintrogasi.
"Ci, mereka pada kenapa sih?" bisik Selenia sambil terus berjalan. "GR nggak sih gue kalau ngerasa mereka memperhatikan gue banget pagi ini? Penampilan gue ada yang salah kah?"
Cia celingukan. Dia memperhatikan sekeliling dan memang benar. Beberapa anak memang sedang menatap ke arah mereka. Nah, itulah yang pengen dia omongin ke Selenia pagi ini. Makanya tanpa pikir panjang Cia langsung menarik tangan Selenia dan membawanya ke taman.
...🌺🌺🌺...
"Hei Dam," Pak Anton memanggil dari sudut ruangan. Sebuah pigura berukuran setinggi dada orang dewasa bersandar di tubuhnya.
"Ya Pak," Adam berjalan menghampiri Pak Anton.
Pigura itu tampak dari samping saat Adam mendekat. Namun dia cukup dibuat kaget saat Pak Anton membalikkan pigura tersebut saat dia berhenti tepat di depan Pak Anton.
"Bagaimana menurut kamu? Bagus nggak?" Pak Anton memperlihatkan foto yang terbingkai di dalam pigura di tangannya. Adalah Pak Anton dan Tony--anak semata wayangnya--terlihat sama-sama gagah dengan setelan jas hitam lengkap dengan dasi. "Kalau menurut kamu ini enaknya dipasang di sini..." Pak Anton menunjuk dinding kosong di dekat meja resepsionis. "...atau di sana?" dia menunjuk sudut lain. Ujung lorong yang dekat dengan tangga yang menghubungkan ke lantai dua.
Adam tersenyum kecil. Melihat sosok Tony dalam foto berukuran besar itu mengingatkan dia pada peristiwa dansa semalam. Dia tidak pernah menyangka kalau ternyata dia memiliki rival tersembunyi. Bagaimana tidak? Dari caranya memperlakukan Selenia semalam jelas kalau anak Pak Anton ini menaruh hati pada istrinya.
"Dimanapun di kantor ini tentu bagus Pak," jawab Adam kemudian. "Karena, kalau menurut saya foto Bapak sama anak bapak itu seperti semacam identitas untuk kantor ini."
Pak Anton manggut-manggut. "Kamu benar," dia tersenyum bangga melihat foto besar di depannya. "Oke, kalau begitu saya mau minta bantuan sama Burhan buat pasang ini di sana saja," ujarnya sembari menunjuk ke ujung lorong.
__ADS_1
Adam melirik ujung lorong dan tersenyum kecil. Kalau foto itu di pasang di sana, itu berarti dia akan setiap saat melihat sosok Tony.
"Kalau begitu saya permisi ke ruangan saya dulu Pak," ucap Adam kemudian berlalu.
"Eeh eh Dam," Panggil Pak Anton saat Adam baru berjalan beberapa langkah.
Adam kembali menoleh. Laki-laki itu menyandarkan pigura ke dinding sebelum kemudian berjalan menghampirinya.
"Semalam saya lihat kamu datang ke pesta ulang tahun anak saya sama Renata ya?" tanya Pak Anton penuh arti.
Maksud Pak Anton apa ya? Kenapa dia menanyakan ini? batin Adam. "Mmmm iya benar Pak."
"Dam..." Pak Anton menepuk pundak Adam. "Apa sih yang sebenarnya kamu tunggu?"
Pertanyaan itu membuat Adam mengerutkan kening. "Mmm... maksudnya bagaimana Pak?"
"Hmmmhh, ck. Masa iya kamu nggak tahu maksud saya sih?" Pak Anton terkekeh. "Kamu cocok sama Renata," katanya to the point.
Glek! Adam menelan ludah. Dia bingung bercampur heran dengan penilaian Pak Anton tentang dirinya dan Renata. Mau jawab apa? Dia cuma bisa diam.
"Nggak usah bingung gitu kali Dam," Pak Anton kembali menepuk pundak Adam, membuatnya tersentak. "Kamu bukan anak kecil lagi," katanya kemudian sambil berbalik dan kembali menghampiri piguranya.
Adam tertegun. Dia diam di tempat, menatap punggung Bosnya yang semakin menjauh dan menghilang dibalik pintu. Pak Anton benar, dia memang bukan anak kecil lagi. Dia seharusnya sudah menikah, itu kan maksudnya? Itulah sebabnya dia terkesan menjodoh-jodohkannya dengan Renata. Andai saja Pak Anton tahu yang sebenarnya. Arrggghh.... kenapa rasanya waktu berjalan begitu lama? pengen rasanya Selenia bisa cepat lulus dan dia berencana untuk segera menikahi istrinya itu secara hukum. Lama-lama dia tidak tahan lagi dengan pernikahan rahasia ini. Bukan karena Selenianya, tapi karena keadaan yang sepertinya membuatnya semakin sulit untuk menyimpan rahasia besar ini.
Adam menarik nafas. Sabar.... Adam... kamu nggak boleh gegabah.
"Bapak kenapa disini?" suara ramah nan lembut mengejutkan Adam.
"Iya Sel..." Dia menoleh dan ups! ternyata Renata. Ya ampun kenapa dia bisa hampir keceplosan.
Renata mendengar itu. "Sel..." ucapnya lirih. "Bapak kenapa sih pagi-pagi udah ngelamun?"
"Nggak... nggak pa-pa. Ya udah saya mau ke ruangan saya," ucapnya sembari berlalu.
Pak Adam kenapa sih? Perasaan semalem sikapnya manis banget deh, kenapa sekarang jadi mendadak jutek gitu ya? Renata membatin. Dan Sel... siapa Sel?
"Hhhfffhhhff..." Renata mendengus lesu. Dia melangkah dengan malas menuju ruangannya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...