NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -134-


__ADS_3

"Jadi kamu maunya pernikahan kita nanti, konsepnya seperti apa sayang?" tanya Adam pada Selenia suatu malam. Mereka berdua ngobrol di balkon kamar saat Ray sudah tidur. Desiran angin malam yang sejuk membuat suasana semakin syadu.


"Kok pertanyaan kamu kedengeran lucu ya Dam? Kita kan udah nikah," Selenia terkikik. Dia sedang membuka-buka majalah wedding planer.


Adam berdecak. "Sayang, jangan gitu dong. Ini aku ngajakin kamu ngobrol serius lho."


Selenia tersenyum sambil membuka-buka katalog. "Aku nggak minta yang muluk-muluk, nggak yang aneh-aneh, dan nggak yang rumit juga," jawabnya datar.


"Terus?"


"Yang penting aku nikahnya sama kamu, itu udah lebih dari cukup," Selenia melirik Adam dengan tatapan sedikit nakal.


Sontak jawaban itu membuat Adam memutar bola matanya.


"Aku seriuuussss sayaaaanggg.... eerrgghhh..." erangnya gemas sembari mendekap tubuh Selenia erat. "Udah berani ya flirting kaya gitu sekarang? Udah mulai nantang nih? Udah ada rencana buat ngasih Ray adek?"


Selenia terbahak dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Adam tapi Adam justru mempererat pelukannya.


"Diiih kenapa pikiran kamu larinya ke situ coba?" Selenia terbahak.


"Gimana gak mikir ke situ, orang kamu ngelihat aku kaya gitu?" Adam pura-pura melirik jam tangannya--padahal dia sedang tidak memakai jam tangan. "Sabar sayang, bentar lagi ya, biar agak maleman dikit."


"Ihhhh... nggak... nggak... nggak...!" Selenia memberontak, tapi dekapan Adam justru semakin erat. "Jangan dong, Adaaaam... kasian Ray, masih keciiiil," rengeknya.


Kini giliran Adam yang terbahak.


"Makanya kalau diajak ngobrol serius jangan mancing-mancing dong. Nggak kuat ini," goda Adam. Dia menciumi dahi Selenia gemas.


"Iya... iya... iya... aku juga serius, ampuuuun...!" Selenia menyeloroh. "Oke, kalah gitu aku jawab serius juga. Aku maunya yang sakral dan khidmat."


"Temanya?"


"Kalau urusan itu kayaknya mama lebih tahu. Kita minta pendapat mama aja."


"Setuju," Adam melonggarkan dekapannya. "Kalau begitu kita harus mulai mempersiapkan semuanya dari sekarang, karena kita akan menikah lagi secara resmi tiga bulan yang akan datang."


Mata Selenia membulat. "Tiga bulan lagi?"


Adam mengangguk. "Iya, sayang. Aku sudah memikirkannya matang-matang."


...🌺🌺🌺...


Semenjak Adam mengutarakan rencananya itu, Selenia mulai turut andil mempersiapkan semuanya--tentu saja, dia kan yang akan menikah. Adam mempercayakan soal booking gedung, pakaian, dan katering pada Selenia dan Mamanya. Pokoknya Adam ingin, selain sakral dan khidmat, pernikahan mereka kali ini juga harus mewah. Adam tahu, setiap perempuan pasti menginginkan sesuatu yang berkesan di hari istimewa itu. Apalagi itu adalah peristiwa sekali seumur hidup. Adam ingin memiliki banyak dokumen foto dan video tentang pernikahan seperti para pasangan pengantin pada umumnya.


Selain dibantu Bu Lisa, Cia ternyata juga dengan senang hati langsung mau saat Selenia mengajaknya mempersiapkan acara itu. Hari ini, selama seharian penuh mereka bertiga keliling Jakarta untuk mencari gedung dan akhirnya menemukan yang cocok setelah memasuki gedung ke empat. Letak gedung itu tidak begitu jauh dari rumah mereka. Dan untuk urusan WO (Wedding Organizer), Bu Lisa telah mempercayakan tugas itu pada temannya yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia pernikahan.


"Huuuh... akhirnya, kelar juga urusan gedung sama WO," ucap Cia begitu mereka bertiga sampai di rumah. Dia capek banget karena harus menjadi sopir selama berkeliling mencari gedung. Pak Tono tidak bisa mengantar mereka karena pagi tadi tiba-tiba merasa nggak enak badan. Jadi Selenia tidak tega kalau nekat menyuruh laki-laki itu untuk tetap bekerja.


"Aduuh, tante juga capek, tapi happy juga. Terimakasih ya Cia, sudah mau nemenin Selenia sama Tante seharian ini," ujar Bu Lisa. "Sel, Mama turun dulu ya, mau ke toilet. Nggak tahan."


Cia nyengir kuda. "Sama-sama tante, aku juga happy. Nggak sabar pengen temenin fitting gaun juga."


"Janji ya kamu temenin fitting," Bu Lisa mengacungkan kedua jempolnya lalu keluar.


Cia mengangguk mantap. Dia memang sudah mulai akrab dengan Bu Lisa. Menurutnya mertua Selenia itu orangnya baik hati dan tidak sombong. Dan juga sangat welcome pada Cia.


"Thanks udah mau jadi sopir gue," Selenia mencubit pipi Cia gemas. "Lo mau di sini dulu apa langsung pulang?"


Cia melepas sabuk pengaman. "Gue mau langsung pulang, mau mandi. Udah lepek banget ini rasanya sebadan-badan."


"Terus lo itu mau ngapain?"

__ADS_1


"Ya keluar lah," Cia merogoh ponselnya dari dalam waistbag. "Mo nelfon pacar gue dulu tapi, biar dijemput."


"Gak usah Ci, lo bawa aja mobil gue. Biar nanti atau besok Pak Tono yang ambil ke rumah."


Cia menoleh dan mengernyit. "Serius?"


"Iya, bawa aja."


Cia kembali memasang sabuk pengamannya. "Oke deh, kalau gitu gue balik dulu. Thanks ya buat traktiran-traktirannya hari ini."


Selenia tersenyum dan kemudian keluar dari mobil.


"Hati-hati. Jangan urakan bawa mobil gue," pesannya sebelum Cia meluncur pergi.


...🌺🌺🌺...


Selenia yang selama berada di luar pikirannya justru berada di rumah--memikirkan Ray--, sesampainya di rumah dia langsung mandi karena tidak sabar pengen gendong Ray. Padahal selama dia pergi dengan Bu Lisa dan Cia, Ray jelas-jelas telah dijaga oleh Adam. Tapi tetap saja pikirannya tidak tenang. Insting seorang Ibu. Biasa.


"Sayang, tadi dia nangis nggak? Dia udah mimik susu kan? Stok ASI-nya masih kan? Kamu nggak kasih susu formula kan?" tanya Selenia beruntun. Khawatir banget kalau stok ASI habis, terus Ray nangis karena kehausan dan Adam ngasih susu formula untuk Ray.


"Ya ampun sayang kamu kok nggak percaya banget gimana aku jagain Ray," Adam geleng-geleng kepala.


"Dia enggak nangis, dia udah mimik susu dan udah mandi juga dan aku nggak kasih susu formula. Kamu tenang aja. Aku nggak akan seceroboh itu sama anak sendiri," jawabnya sama-sama beruntun.


"Uwwwwhhh.... ternyata begini rasanya punya bayi. Seharian keluar nggak tenang bangeeeet... sini sayang aku mau gendong Ray," Selenia mengulurkan tangan. "Uuuuuhh...Raaaay mommy kangen banget sama kamuuu..."


Adam mencium Ray sebelum menyerahkannya pada Cia.


"Ray sama mommy yaaaa. Daddy mau cek kerjaan dulu di kamar," Adam mencium kening Selenia sebelum keluar kamar.


...🌺🌺🌺...


Hari berikutnya adalah fitting gaun pengantin. Tidak seperti yang diharapkan, ternyata Cia tidak bisa ikut dalam sesi ini karena dia harus mengantar Mamanya berbelanja. It's okay lah, jadi Selenia hanya pergi bersama Adam dan Bu Lisa.


"Ini bagus, cocok banget untuk kamu," Mrs. Lolita, si pemilik butik menyampirkan satu gaun pilihannya di lengan Selenia. Dia lalu mengajak Selenia berkeliling untuk mencari yang lain.


Sementara Adam memilih baju pengantinnya ditemani Bu Lisa dan salah satu karyawan Mrs. Lolita.


"Atau kamu mau coba yang ini? Nah... ini juga bagus. Tapi..." Mrs. Lolita menarik tangan Selenia dan membawanya ke sudut ruangan.


"Ini adalah karya terbaru saya. Tinggal sekitar 40% lagi selesai di kerjakan. Kalau untuk waktu tiga bulan yang akan datang, saya jamin ini sudah bisa digunakan. Bagaimana? Apa kamu tertarik juga sama yang ini?" dia menunjuk satu gaun yang terpasang pada mannequin.


Selenia dilanda bingung. Sudah ada empat helai gaun yang tersampir di lengannya, tapi gaun yang ditunjukkan Mrs. Lolita yang terakhir ini juga keren.


"Uuhhmmm, bagaimana kalau saya mencoba satu per satu dulu gaun-gaun yang ini Mrs.? Sekalian saya mau minta pendapat ke suami saya, mana yang paling cocok?"


Mrs. Lolita mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya. "Oke, ayo saya antar kamu ke ruang pas."


...🌺🌺🌺...


Pilihan Adam jatuh pada setelan jas blazer berwarna grey dengan dasi kupu-kupu sebagai pelengkap. Dia berdiri dengan gagah di depan cermin panjang sembari mematut diri. Bu Lisa dengan bangga memantau anak semata wayangnya itu dari belakang. Akhirnya, aku akan melihat anakku melangsungkan pesta pernikahan. Batin Bu Lisa haru.


Adam tersenyum lebar melihat pantulan dirinya di cermin. Dia lalu menata rambut dengan tangannya dan kemudian berbalik, merentangkan kedua tangan bermaksud meminta pendapat pada Bu Lisa yang sejak tadi terus memperhatikan dirinya.


Bu Lisa mengacungkan kedua jempolnya, mantap. Dia lalu menghampiri Adam dan memeluk putra semata wayangnya itu dengan erat.


"Jadi kamu memilih yang ini?" tanya Bu Lisa.


"Ya," jawab Adam. "Tapi kita lihat gimana Selenia dulu ya ma. Kalau Selenia nggak cocok sama pilihan aku yang ini, aku masih ada pilihan lain di sana," dia menunjuk satu rangkaian setelan jas lain di samping cermin besar.


"Ya sudah, ayo kita temui Selenia," ajak Bu Lisa.

__ADS_1


Mrs. Lolita memandang takjub ke arah Adam dan Bu Lisa yang baru muncul. Mrs. Lolita sedang berada di depan ruang pas, sedang menunggu Selenia yang tengah mengganti pakaiannya di dalam. Mata Adam membelalak menatap beberapa macam gaun yang ada di tangan Mrs. Lolita. Sebanyak itu kah pilihan istrinya?


"Wow, anakmu keren banget jeng?" seru Mrs. Lolita pada Bu Lisa.


"Oh iya jelas dong, siapa dulu mamanya?" jawab Bu Lisa bangga. "Menantu saya mana jeng? Masih di dalam?" Bu Lisa menunjuk ruang pas.


FYI, Bu Lisa sudah menceritakan tentang pernikahan Adam dan Selenia yang sebenarnya telah terlaksana setahun yang lalu pada Mrs. Lolita. Dia menceritakan pada teman arisannya itu jauh sebelum mereka merencanakan untuk mencari baju dan gaun pernikahan di butik ini.


Beberapa menit menunggu, akhirnya Selenia keluar dari ruang pas bersama salah seorang karyawan Mrs. Lolita yang membantunya mengenakan pakaian tersebut.


Mata Adam melebar melihat penampilan istrinya yang begitu mempesona. Padahal Selenia belum dipoles make up sama sekali. Selenia tersenyum manis pada semua orang di hadapannya. Dia mengenakan gaun panjang dengan model A-line berwarna grey yang dihiasi dengan butiran-butiran payet yang membuat penampilannya lebih elegant.


Mrs. Lolita menatap Selenia dan Adam bergantian.


"Kamu memilih gaun ini, sayang?" tanya Mrs. Lolita pada Selenia.


Selenia mengangguk. "Dari dulu saya suka banget sama gaun dengan model A-line. Dan pas saya memakai yang ini, saya langsung merasa cocok," tuturnya.


Mrs. Lolita bertepuk tangan kecil. "Sepertinya kalian ini memang benar-benar berjodoh ya? The real soulmate, cari pakaian berpencar, tapi pilihan bisa sama. Sama-sama pencinta warna grey ya?" dia menarik tangan Adam dan Selenia, kemudian menjajarkan keduanya.


Selenia dan Adam saling tatap lalu tersenyum. Mereka berdua juga sepakat untuk menyerahkan sepasang pakaian lain yang akan digunakan untuk acara ijab qobul.


"Gimana ma pilihan kita?" Selenia menggamit lengan Adam.


"Bagus sayang. Bagus banget!" mata Bu Lisa berkaca-kaca.


"Mama....." Selenia melepaskan gamitan tangannya dari lengan Adam dan mendekati Bu Lisa. "Mama kenapa nangis?"


"Mama..." Bu Lisa menyeka air matanya yang menitik. "Mama bahagia banget, sebentar lagi kalian akan mencapai titik sempurna ini."


"Ini semua berkat doa mama," Adam menimpali. "Akhirnya aku memiliki keluarga kecil yang bahagia, yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan."


Mereka bertiga berpelukan. Mrs. Lolita yang melihat pemandangan itu turut haru dan bahagia. Dia yang orangnya emosional, memilih untuk pergi ke toilet dan menangis di sana sendirian.


"Fel, kamu clearin dulu pilihan client saya ini. Saya mau ke belakang sebentar," ucap Mrs. Lolita sembari menyerahkan gaun-gaun yang ada di tangannya ke Felisha, karyawan yang membantu Selenia mengenakan pakaian di ruang pas tadi. "Dan ini tolong kembalikan ke tempatnya semula."


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


Denganmu,


Aku sempurna.


Denganmu,


Ku ingin habiskan


Sisa umurku Tuhan


Jadikanlah dia, Jodohku


Hanya dia yang membuat


Aku terpukau


Astrid : (Terpukau)


Buat Ost. NDA keren gak?


Ah... andai tulisanku dilirik produser dan dijadiin film 🤭

__ADS_1


Mimpi dulu boleh lah ya 🤗


__ADS_2