
Adam baru saja keluar rumah, ingin berangkat ke kantor saat berpapasan dengan Pak Fendi yang baru saja keluar dari mobil.
"Ayah?" sapa Adam sembari menyalami dan mencium tangan mertuanya.
"Lhoh, kamu baru berangkat Dam?" Pak Fendi melirik jam tangannya. "Sudah hampir pukul 9 lho."
"Iya, Yah. Hari ini memang sengaja berangkat siang. Ayah ada perlu apa?"
"Tadi Ayah cuma kebetulan lewat terus mampir. Ya udah kamu kalau mau berangkat, berangkat aja. Ayah mau ke dalam sebentar."
Adam tersenyum canggung. "Oh iya, Ayah kalau ada perlu apa-apa di dalam ada Bi Iyah kok."
Pak Fendi mengangguk dan melangkah masuk rumah. Setelah itu Adam pun segera bergegas berangkat ke kantor.
...🌺🌺🌺...
SELENIA (POV)
Sepanjang pelajaran pagi ini aku hanya bisa terdiam memperhatikan Bu Martha, guru biologi kelas kami yang sedang menjelaskan materi di depan kelas. Otakku seolah sedang terbelah menjadi beberapa bagian. Setiap bagiannua diisi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak kuketahui jawabannya.
Sudah berapa lama Adam membohongiku? Sudah berapa lama dia dekat dengan Renata? Benarkah hubungan mereka tidak hanya sekedar bos dan sekretaris? Kenapa Adam tidak jujur saja padaku dan berpura-pura bersikap manis? Kenapa Adam begitu pandai menyembunyikan semuanya dariku?
Sulit rasanya mempercayai apa yang sedang terjadi. Tapi itulah kenyataannya.
I'm yours. Semuuua yang aku punya adalah milik kamu.
Aku cinta kamu... aku sayang kamu... aku nggak mau kehilangan kamu...
Kalimat yang pernah dia ucapkan dengan sangat yakin itu terus terngiang-ngiang di kepalaku. Kalimat yang sangat manis dan bisa membuat hatiku berbunga-bunga.
Tapi pagi ini, aku justru melihat sesuatu yang berbanding terbalik dengan semua sikap manisnya selama ini.
Apakah dia juga berkata demikian pada Renata? Atau mungkin lebih manis dari yang dia katakan padaku?
Aku memejamkan mata dan adegan di video yang ditunjukkan Cia padaku tergambar jelas di pelupuk mataku. Aku masih berharap apa yang kulihat itu hanya salah paham. Tapi hal itu kian terbantahkan begitu aku menyadari bahwa Adam sudah berbohong padaku. Ya, dia rela berbohong padaku hanya untuk pergi bersama Renata yang entah apa tujuannya.
Aku mengangkat tangan saat Bu Martha menatap ke arah para murid.
"Ya Selenia, ada yang ingin kamu tanyakan?" Bu Marta mempersilahkan.
Beberapa pasang mata serempak melihat ke arahku, tak terkecuali Cia.
"Maaf Buk, saya mau minta izin ke UKS. Kepala saya pusing," ucapku lirih.
Terdengar seruan "Oooooooowwwhhh....!!" dari para murid. Hal biasa yang kami lakukan sekedar untuk meledek ketika salah satu dari kami merasa bosan dengan mapel dan beralasan ingin ke toilet atau UKS.
Cia menyodok lenganku. Bu Martha meminta para murid untuk diam dengan isyarat kedua tangan yang membentuk payung.
"Lo kenapa Sel? Mau gue temenin?" tanya Cia yang langsung kembali mengundang ledekan dari anak-anak.
"Ssssttt diam... diam... diam...!" teriak Bu Marta memperingatkan. Dia kemudian menghampiri bangkuku. "Kamu sakit?"
"Tiba-tiba kepala saya pusing Buk,"
Bu Marta manggut-manggut. "Ya sudah, kamu boleh ke UKS sekarang. Dan Cia..." dia melihat ke arah Cia. "Kamu tetap di kelas sampai pelajaran saya selesai."
Aku berdiri dan memberi isyarat anggukan kepala pada Cia bahwa aku bisa sendiri.
SELENIA (POV END)
...🌺🌺🌺...
Adam baru saja tiba di kantor saat Pak Anton meminta untuk segera ke ruangannya yang ternyata di sana sudah ada Renata dan Irham. Wajah Pak Anton tampak serius saat mempersilahkan Adam duduk. Adam menatap Renata dan Irham bergantian dan mereka cuma mengangkat bahu.
Hari ini, dengan nada yang terdengar kecewa, Pak Anton menyampaikan kepada mereka bertiga, bahwa proyek pembangunan rukan untuk sementara ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Katanya masih ada permasalahan sengketa tanah yang belum diselesaikan. Adam, Renata dan Irham hanya saling pandang satu sama lain. Mereka bingung mengingat persiapannya yang sudah sangat matang. Bahkan dokumen dan segala macamnya sudah lengkap.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan berkas-berkas yang sudah jadi Pak?" tanya Renata.
"Kita tunggu saja informasi berikutnya ya. Semoga pembebasan lahannya tidak ribet," Pak Anton memijit-mijit keningnya sendiri. "Ahhh... saya juga kaget semalam denger kabar ini. Padahal alat berat yang kita sewa sudah dikirim ke sana. Rugi kita ini!" gerutunya.
Kabar ini mungkin terdengar tidak mengenakkan untuk perusahaan. Namun di balik itu semua ada sedikit perasaan lega yang terselip di dada Adam. Itu berarti dia tidak perlu berpikir lagi tentang alasan apa yang akan dia katakan pada Selenia. Terus terang, rencana ke luar kota itu beberapa hari ini cukup membuatnya bingung. Apalagi dia yang sedang merasa bersalah banget pada Selenia dan merasa belum bisa menebusnya.
Setelah keluar dari ruangan Pak Anton, Adam pun segera bergegas menuju ruangannya tanpa sedikitpun mempedulikan Renata yang berusaha mengejar langkahnya. Hari ini dia berencana ingin ke SMA Bhakti Nusa, meninjau renovasi aula yang katanya tinggal beberapa persen lagi.
"Pak Adam!" sebuah suara memanggil saat Adam baru tiba di depan ruang kerjanya, disusul ketukan sepatu yang kian mendekat. Adam menoleh dan melihat Renata yang terburu-buru menghampiri dirinya.
"Ada apa Ren?" tanya Adam. Dia hanya melihat wajah Renata sekilas. Rasa bersalah itu kian mendera manakala dia ingat kebohongannya pada Selenia hanya demi menemani Renata mengurus masalahnya.
"Karena ternyata proyek masih ditunda, saya pengen sidang itu bisa secepatnya dilaksanakan Pak."
"Oh ya nggak pa-pa, lebih cepat memang lebih baik."
Renata menelan ludah."Saya minta ma'af sebelumnya, tapi....Bapak bisa kan menemani saya ke acara sidang itu?" ucap Renata hati-hati. Dia sadar ini mungkin terlalu berlebihan mengingat Adam sudah membantu banyak dalam masalahnya kali ini.
Adam terdiam sejenak. Hatinya bimbang antara mengatakan iya atau tidak. Tapi akhirnya dia mengangguk karena merasa tidak tega. Renata tidak memiliki siapa-siapa di dekatnya. Terlebih hanya dia lah satu-satunya orang yang Renata percaya untuk menampung semua keluh kesahnya akhir-akhir ini. Dan hanya dia jugalah 'orang lain' yang tahu masalah hidup yang sedang dia alami saat ini.
"Terimakasih Pak. Terimakasih banyak," ucap Renata lega.
Adam tersenyum kecil. "Sama-sama Ren," dan ketika Renata berlalu menuju ruangannya, rasa sesal karena telah mengiyakan permintaan Renata seketika merasuki hati Adam.
Adam sadar tidak seharusnya dia melakukan ini di belakang Selenia. Entah kenapa rasanya sakit sekali kalau ingat dia telah berbohong. Senyum manisnya, rengekan manjanya, dan sikap lucu Selenia berkelebatan di benak Adam, menari-nari seolah sedang menertawakan sikapnya. Sikap yang tidak bisa tegas menetukan pilihan.
Tapi ini memang bukan pilihan untuk Adam. Dia tidak pernah memilih antara Selenia atau Renata. Selenia sudah menempati tempat terbesar di hatinya, sedangkan Renata? Kepeduliannya terhadap perempuan itu, dia melakukannya tidak lebih dari sekedar membantu seorang teman.
Arrghhh!!!! Adam meremas rambutnya sendiri. Andai saja dia punya nyali untuk mengatakan yang sebenarnya pada Selenia. Dia tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi dan merasa bersalah. Tapi itu mustahil. Selenia sangat sensitif mendengar nama Renata.
...🌺🌺🌺...
Tony baru saja kembali dari toilet saat melihat Selenia berjalan dengan malas menyusuri koridor menuju satu ruangan. Setelah melirik jam tangan dan merasa pelajaran di kelasnya begitu membosankan, dia memutuskan untuk membuntuti Selenia. Langkahnya terhenti saat melihat Selenia masuk ke ruang UKS.
Selenia sakit?
Selenia kenapa ya?
Sementar itu di dalam ruang UKS, Selenia duduk dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lupa dia menyingkap gorden yang memisahkan antara ranjang satu dan satunya lagi. Kepalanya benar-benar pusing banget. Mata Selenia menyipit mengamati kotak P3K yang tertempel di dinding, kalau-kalau ada minyak angin yang bisa membantu meredakan sakit kepalanya. Tapi kemudian dia memutuskan untuk lebih baik tidur saja walau hanya beberapa menit.
Selenia baru akan memejamkan mata saat mendengar pintu UKS dibuka. Dia melirik ke lantai melalui celah gorden bawah, dan melihat sepasang kaki berjalan mendekati ranjang di sebelahnya. Selenia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Dia hanya melihat sebuah siluet hitam yang memperlihatkan seseorang itu naik ke atas ranjang dan kemudian berbaring. Tapi Selenia sama sekali tidak punya niatan untuk mencari tahu dan memilih untuk kembali memejamkan mata.
Mungkin murid bangor yang lagi malas ikut mapel. Pikirnya. Selenia bisa menebak dia murid cowok karena dari siluetnya tampak anak itu memakai celana panjang.
Sreeeek...! Terdengar bunyi gorden di tarik. Selenia masih tidak bergeming dan matanya masih terpejam.
"Kenapa kamu nggak di kelas?" suara yang begitu Selenia kenal membuatnya seketika membuka mata.
Selenia menoleh dan pandangannya bertemu dengan Tony yang juga tengah berbaring di ranjang di sebelahnya. Ternyata yang barusan masuk ke UKS itu Tony?
"Kamu sendiri kenapa di sini?" Selenia bertanya balik.
"Jawab dulu dong pertanyaanku."
Selenia hanya tersenyum dan kembali meluruskan wajah. Dia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun dan kembali memejamkan mata.
Tony menghela nafas. Dia turut meluruskan wajah meski sesekali masih melirik Selenia. Selenia yang sedang 'pura-pura' tidur dan terlihat begitu manis. Tony memiringkan tubuh untuk bisa lebih leluasa melihat wajah itu. Dia membayangkan bagaimana Adam yang setiap bangun dari tidurnya dan menemukan wajah yang saat indah ini ada di hadapannya. Tapi benarkah mereka selalu tidur bersama?
Ah... kenapa pikiran gue malah ngelantur kemana-mana? Tony bergidig geli.
"Aku nggak nyangka lho, kalau ternyata kamu sudah menikah," celetuk Tony tiba-tiba.
Mendengar rentetan kalimat itu, mata Selenia seketika terbuka dan melebar. Kaget, tentu saja. Dia hanya mampu melirik Tony dengan ekor matanya. Jantungnya mulai berdebar.
"Nyonya Adam," Tony menambahkan.
__ADS_1
Selenia menoleh lalu bangkit dari tidur dan sedikit terhuyung. Melihat hal itu Tony pun turut bangkit dan reflek menahan tubuh Selenia yang hampir roboh, tapi dengan sigap ditolak oleh Selenia.
"Kamu.... tahu dari mana?" tanya Selenia.
Tony menyunggingkan senyum. "Aku dengar dengan telingaku sendiri."
Selenia masih belum mengerti. Bagaimana Tony bisa tahu rahasia besarnya? Seingatnya, dia tidak pernah sekalipun berbicara tentang pernikahan atau kehidupannya dengan Adam di depan Tony. Nggak, pasti Tony bohong. Pasti Tony tahu dari seseorang. Selenia mencurigai Cia.
"Biasa aja dong wajahnya," Tony memetikkan jarinya di depan wajah Selenia. "Jangan tegang gitu. Santai aja lagi."
"Aku bisa jelasin kok Ton. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh," ucap Selenia gugup. Dia takut, setelah Tony tahu, tidak menutup kemungkinan semua orang di sekolah ini pasti juga akan tahu.
Namun sepertinya Tony menyadari apa yang sedang dikhawatirkan Selenia. Dia hanya tergelak dan kemudian duduk sambil menyilangkan kaki.
"Berapa banyak orang yang tahu tentang rahasia ini?" tanya Tony bernada menyelidik.
Merasa sudah tertangkap basah, Selenia hanya bisa menjawab dengan harapan Tony tidak menyebar luaskan rahasianya.
Selenia menggeleng. "Tidak banyak. Di sini hanya ada Cia."
"Dan aku." Tony mengangkat telunjuknya sembari tersenyum jahil.
Selenia menghela nafas berat. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Entahlah... pikirannya masih belum bisa berpikir jernih setelah peristiwa yang terjadi hari ini. Apalagi yang harus dia katakan pada Tony? Mengancam atau memohon supaya dia tidak membuka rahasia? Hhhh... mustahil sekali.
"Makanya lain kali kalau ngomongin soal rahasia tuh jangan ditempat umum," celetuk Tony lagi. Kali ini nadanya sudah ringan. Tidak seperti detektif lagi.
"Tempat umum?" Selenia mendongakkan wajahnya.
Tony kemudian menceritakan awal mula bagaimana dia bisa tahu kalau Selenia telah bersuami.
Berawal dari jaman ada Bazaar di SMA, saat Selenia mengeluh pusing dan Cia keceplosan ngomong soal Adam si 'kakak' Selenia yang bakalan marah besar kalau tahu Selenia nggak sarapan sebelum berangkat sekolah. Lalu dia menghubungkan apakah Adam yang dimaksud Cia adalah pegawai Papanya, dan kemudian dia bertanya pada Papanya berapa jumlah saudara Adam dan jawaban Papanya cukup membuatnya terkejut karena ternyata Adam adalah anak tunggal. Kesimpulannya, Selenia berbohong tentang kakaknya pada Tony.
"Hahaha... aku keliatan kepo banget ya? Sorry," ucapnya di sela-sela dia sedang bercerita.
Lalu berlanjut ke jaman pesta ultah Tony yang ke-18, saat diam-diam Tony mengamati gerak-gerik mereka berdua dan dia melihat ekspresi cemburu Selenia saat melihat kebersamaan Adam dan Renata selama di pesta. Dan berlanjut saat dia tidak sengaja menguping pembicaraan Selenia dan Cia di taman sekolah, yang secara jelas Selenia menyebut kata SUAMI GUE saat menceritakan tentang Adam pada Cia. Tony seperti mengumpulkan potongan-potongan puzzle untuk membuat semuanya terlihat jelas di mata, hati dan benaknya.
Puncaknya adalah hari ini.
Tony menceritakan semuanya dengan jelas sesuai dengan apa yang dia lihat dan dengar dengan mata dan telinganya sendiri.
Selenia tersenyum getir. "Ternyata benar kata pepatah. Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai, suatu saat bakal kecium juga," ucapnya lirih. "Trus, kamu mau apa?"
"Menceritakan ke semua anak-anak kalau kamu sudah menikah," jawabnya enteng sembari membusungkan dada.
Selenia melotot dan reflek melempar Tony dengan bantal. Namun Tony begitu sigap menangkap bantal tersebut sebelum mendarat ke kepalanya.
"Oke kalau kamu nggak mau aku ngomong sama anak-anak, ada syaratnya," Tony pura-pura mengancam.
"Apaan sih Ton?" wajah Selenia terlihat cemas. Bayang-bayang dikeluarkan dari sekolah sudah menghiasi kepalanya.
"Aku pengen tahu alasan kamu memutuskan untuk menikah di usia sekolah seperti sekarang," ucap Tony datar.
Selenia tidak menjawab dan hanya menatap Tony gamang. Hanya itu syaratnya?
"Tapi aku lagi nggak pengen ngomongin itu sekarang," jawab Selenia lesu.
"Jadi kapan kita bisa jalan?" tanya Tony sembari memainkan manik matanya.
Bibir Selenia memberengut dan matanya menyipit menatap ke arah Tony. Jalan? Secara tidak langsung dia seperti memeras kalau begini caranya. Artinya kalau Selenia menolak, rahasia akan langsung BOOM!
Melihat gelagat Selenia yang tampak bingung, Tony langsung tertawa. Dia tahu Selenia takut rahasianya terbongkar. Nggak tega rasanya melihat wajahnya secemas itu. Tony kemudian turun dari ranjang dan berjalan agak mendekat.
"Kita ke bukit bintang yuk. Kamu bisa cerita ke aku semuanya di sana," ucap Tony lembut. "Kamu nggak usah cemas gitu dong. Aku nggak serius kali sama ancaman tadi. Memang apa untungnya sih buat aku ngebongkar rahasia kamu? Ada? Enggak kan?"
Selenia menggeleng. Dalam hati dia sedikit merasa lega mendengar kata-kata itu. Selenia tahu, kecil kemungkinan untuk Tony mengungkap rahasia besarnya. Karena memang tidak ada untungnya jika Tony melakukan itu. Dan untuk tawaran soal bukit bintang, itu tidak terlalu buruk, hanya saja Selenia belum bisa memberi keputusan.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...