
Brak brak brak!!!
Gedoran pintu yang keras membuat Bi Iyah yang sedang beberes di dapur terlonjak kaget. Dia melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul 9.30 pagi. Siapa jam segini gedor-gedor pintu?
Brak brak brak!!!
Pintu kembali digedor lebih keras.
"Buka pintunya biiik!!!" sebuah suara mengikuti di belakang gedoran pintu tersebut.
"Non Selenia?" gumam Bi Iyah kaget dan langsung buru-buru berlari ke ruang depan.
Saat pintu terbuka, tanpa mempedulikan Bi Iyah, Selenia langsung menerobos masuk ke dalam dan berlari ke kamarnya di lantai dua. Bi Iyah celingukan. Dia melongok keluar dan tidak mendapati siapa-siapa. Non Selenia kenapa pulang-pulang nangis???
Takut terjadi sesuatu dengan majikannya, Bi Iyah menyusul Selenia ke lantai dua.
"Non..." Bi Iyah mengetuk pintu kamar Selenia hati-hati. "Non Selenia kenapa? Buka pintunya Non...!"
Tak ada respon apapun. Bi Iyah semakin takut. Ada apa ini? Dia mencoba mengetuk pintu kamar itu lagi, tapi tetap tak ada sahutan.
Lalu dari bawah, kembali terdengar pintu ruang tamu di ketuk. Kali ini ketukannya lebih halus. Apa itu Pak Adam? Apa Non Selenia dan Pak Adam berantem? Setelah menunggu beberapa detik dan pintu kamar Selenia tak kunjung dibuka, Bi Iyah segera bergegas ke bawah.
"Selenia mana bik? Dia udah sampai rumah kan?" serbu Cia dengan wajah cemas begitu pintu terbuka.
"A... ada..." Bi Iyah gugup. "Ini ada apa to mbak? Kenapa Non Selenia jam segini udah pulang, terus tadi dia...."
Cia tak punya waku untuk mendengar pertanyaan Bi Iyah. Jadi dia langsung nyelonong masuk dengan tergesa-gesa menuju lantai dua. Sementara itu Bi Iyah yang masih bingung bercampur heran, cuma bisa bengong dan perlahan menutup pintu.
...🌺🌺🌺...
Di dalam kamarnya, Selenia menangis sesenggukan. Dia duduk bersimpuh di lantai dengan keadaan sekeliling yang berantakan. Buku, tas, selimut, bantal, guling semua berserak di lantai. Kenapa semua jadi begini? Kenapa Lala melakukan itu? Apa salah gue sama Lala?
Selenia memeluk lututnya erat. Dia tidak membayangkan apapun semalam untuk menerima kenyataan pahit di hari ini. Semua impiannya berakhir, dan ketakutannya telah menjadi kenyataan. Setelah peristiwa ini, dia yakin dia tidak akan mungkin diizinkan kembali menginjakkan kakinya di sekolah.
Tuk tuk tuk!
Selenia menoleh ke arah pintu.
"Sel, ini gue Cia... buka pintunya Sel...."
Tangisan Selenia semakin menjadi. Kebersamaannya dengan Cia di sekolah, juga telah berakhir hari ini.
"Sel..... please bukain pintunya..."
"Lo pulang aja Cia! Gue lagi pengen sendiri!!" teriak Selenia.
Cia memicingkan mata mendengar teriakan Selenia dari dalam kamar.
"Tapi Sel..."
BRAK!!
Cia melompat demi mendengar sesuatu yang sengaja dilempar ke pintu oleh Selenia.
"Gue bilang gue lagi pengen sendiri Cia!!" teriakan Selenia terdengar semakin keras.
Cia melangkah mundur. Dia tahu betul bagaimana Selenia kalau sedang emosi--ucapan apapun tidak akan pernah dia dengar. Tapi biasanya tidak pernah separah ini. Lala benar-benar brengsek!
Cia mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan untuk Selenia, sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kamar itu.
Cia: [gue harap lo nggak nekat Sel. Semua ini bisa diomongin dan pasti ada jalan keluarnya. Plis, tahan emosi lo.]
Cia menuruni tangga dan melihat Bi Iyah berbicara terbata-bata melalui sambungan telefon. Sepertinya dia sedang menelfon Adam.
"Gimana mbak? Non Selenia mau buka pintu? Sebenarnya ada apa mbak?" tanya Bi Iyah khawatir setelah selesai menelfon.
Cia menggeleng pelan. "Ceritanya panjang bik."
"Aduh... ada apa to ini... kok bibik jadi khawatir banget ya..." bi Iyah mondar-mandir kebingungan. "Ada apa to mbak Cia... bilang sama bibik... aduuuh..."
Cia menghela nafas berat. "Ada temen yang tahu kehamilan Selenia dan menyebarkannya ke anak-anak."
__ADS_1
Mulut Bik Iyah reflek menganga dan matanya melebar.
"Apa mbak?!! Aduh.... terus.... Ya Allah.... terus gimana?? Non Selenia dikeluarkan dari sekolah? Aduuuh ini gimana kalau Bapak sama Ibuk denger..." Bi Iyah semakin kebingungan.
"Ya itu dia makanya Selenia tadi langsung pulang buk," Cia menghempaskan tubuhnya di sofa dan memijat-mijat kepalanya sendiri. "Aku juga nggak ngerti kenapa jadi begini. Arrgghhh...!"
Tak lama kemudian terdengar suara deru mesin mobil memasuki pelataran yang langsung dimatikan. Lalu pintu mobil yang ditutup dengan keras dan langkah terburu-buru memasuki rumah.
"Gimana bik? Selenia mana?" Adam muncul di saat Cia dan Bi Iyah sedang sama-sama terdiam di sofa.
Bi Iyah berdiri dengan gugup.
Tadi di kantor Adam sedang tidak banyak pekerjaan. Jadi saat mendapat telfon dari Bi Iyah yang mengatakan kalau Selenia pulang sekolah sambil menangis, dia langsung cabut dari kantornya. Sepanjang perjalanan dia mencoba menelfon Selenia tapi tidak diangkat. Itulah kenapa dia begitu panik dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
"D-di kamarnya Pak. Kamarnya di kunci dan...."
Tanpa menunggu Bi Iyah menyelesaikan kalimatnya, Adam langsung berlari menaiki tangga. Bi Iyah dan Cia hanya saling tatap.
Adam memutar gagang pintu kamar Selenia, dan benar kamar itu di kunci dari dalam.
"Sayang.... ini aku, kamu kenapa? Buka pintunya," kata Adam pelan.
Selenia yang masih menangis di dalam kamarnya, mendongakkan wajah menatap ke arah pintu. Adam pulang? Dia baru saja beringsut hendak berdiri dan membuka pintu saat tiba-tiba pikiran buruk menghampiri otaknya. Pikiran yang mengiringi perjalanannya pulang dari sekolah hari ini. Pikiran yang membuatnya tak bisa berhenti menangis saat di taksi tadi.
Andai saja dia belum menikah.
Atau paling tidak... andai saja Adam tidak melakukan 'itu' padanya.
Andai saja Adam bisa berfikir sebelum melakukan 'itu' padanya.
Adam tahu aku masih sekolah.
Andai saja aku menuruti ucapan Papa. Ini semua nggak akan terjadi.
"Sayang, aku mohon bukain pintunya," pinta Adam.
Selenia menatap perutnya sekilas lalu bangkit dan bergerak cepat menghampiri pintu.
"Sel... au... ini ada apa? Kamu kenapa sayang?" Adam mencoba menghentikan gerakan Selenia yang tiba-tiba menyerang dirinya.
Tapi Selenia tidak menggubris dan terus memukuli tubuh Adam, mendorongnya hingga terpojok ke pintu kamarnya sendiri.
"Kamu jahat sama aku!! Kamu tega sama aku Dam!! Kamu jahaaat!!! Aku benci sama kamu!! Aku bencii!!!" Selenia terus berteriak.
Adam syok mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan Selenia. Ada apa dengan istrinya? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini?
"Sayang, aku kenapa? Kamu kenapa tiba-tiba kaya gini?" Adam berhasil mencekal kedua tangan Selenia supaya berhenti memukulinya. "Aku salah apa sama kamu? Kamu benci kenapa??"
Cia dan Bi Iyah yang mendengar keributan itu dari bawah langsung berlari ke atas. Sesampainya di atas, mereka melihat Selenia sudah menangis sesenggukan di pelukan Adam. Terlihat kedua tangan Adam melingkar mendekap tubuh mungil Selenia erat dan dia juga turut menangis.
Cia dan Bi Iyah kembali mundur. Oke, setidaknya Selenia sudah ditenangkan oleh suaminya sendiri.
Cia berbisik pada Bi Iyah untuk pamit pulang. "Aku pulang dulu bik."
...🌺🌺🌺...
Adam duduk terdiam di kamarnya, membaca pesan-pesan dari Cia. Sementara Selenia, setelah emosinya berhasil ditenangkan tadi, Adam langsung membimbingnya masuk ke kamar. Lalu istrinya itu mengunci pintu kamarnya dan belum mau keluar lagi sampai malam tiba. Bahkan saat Adam mengetuk pintu untuk mengajaknya makan malam, dia menolak. Sejujurnya Adam sangat khawatir, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mau memaksa Selenia karena takut akan membuatnya kembali emosi. Selenia hanya sedang butuh ketenangan setelah apa yang dia alami hari ini.
Cia: [Aku minta maaf ya Dam, kalau aku nggak bisa tepatin janji aku untuk jagain Selenia di sekolah. Ini semua benar2 diluar dugaan dan kendali aku. Aku benar2 minta maaf]
Cia menceritakan secara rinci apa yang terjadi pada Adam. Hal itu membuat Adam baru saja bisa mencerna apa maksud dari ucapan Selenia siang tadi. Saat dia mengatakan dirinya jahat, semua gara-gara dirinya dan dia membenci dirinya. Apakah Selenia benar-benar mengatakan demikian? Atau itu semua terucap karena dia sedang emosi. Karena dengan terbongkarnya kehamilannya di sekolah, membuat masa depannya hancur dan lenyap.
Seketika perasaan bersalah menyerang hati Adam. Memang benar, ini semua adalah kesalahannya--karena dia tidak bisa menahan nafsu. Tapi bagaimana dengan kebahagiaan mereka saat Selenia memberitahu kehamilannya di hari ulang tahunnya saat itu? Dan sekarang Selenia justru menyesali semuanya. Bagaimana kalau Cia benar-benar membencinya?
Adam: [Ini bukan salah kamu Cia. Kamu nggak perlu minta maaf]
Cia: [Yang sabar ya Dam. Saat ini Selenia pasti lagi sedih banget. Dari tadi aku coba telfon nggak diangkat, wa juga cuma di read doang. Aku harap, kamu bisa buat moodnya membaik]
Adam: [Oke Cia. Trims]
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Di dalam kamarnya, Selenia bergelung di dalam selimut dan memeluk guling. Beberapa kali terdengar ponselnya berdenting yang ternyata pesan-pesan dari Cia. Selenia membacanya sekilas kemudian menyurukkan ponselnya lagi ke bawah bantal. Dia berbaring dan merenung menatap langit-langit kamarnya.
Ternyata memang benar. Cepat atau lambat, sesuatu yang disembunyikan rapat-rapat pasti akan terbongkar. Namun Selenia tidak habis pikir, kenapa Lala bisa setega itu? Dia bahkan membohongi Dokter Lula dengan mengaku-ngaku sebagai teman dekatnya hanya untuk mengorek informasi. Semua itu sama sekali tidak pernah terlintas di benak Selenia.
Ponselnya berdenting lagi. Masih pesan dari Cia.
Cia: [Jangan di read doang dong! Gue tahu lo pasti masih belum keluar kamar kan? Lo boleh emosi, tapi lo jangan egois. Jangan sampai lo nggak makan dan ngebiarin anak di dalam perut lo kelaparan. Jangan jahat!]
Kali ini Selenia tersenyum membaca pesan itu. Jelas sekali betapa sangat perhatiannya Cia padanya meskipun cara penyampaiannya dengan nada marah-marah. Cia memang sahabat yang bisa membawa suasana hatinya yang buruk menjadi lebih baik. Tapi saat ini dia sedang tidak punya mood untuk ngobrol ataupun membalas pesan dari siapapun. Jadi dia kembali mengabaikan pesan itu.
Sebenarnya emosi dan kemarahan Selenia sudah tidak semembara tadi siang. Setelah bisa tidur, suasana hatinya sudah jauh lebih tenang.
Tring! Ponselnya berdenting lagi. Selenia sudah memutar bola matanya karena berpikir itu pesan dari Cia lagi, tapi ternyata bukan.
Adam mengirim pesan? Seketika Selenia terhenyak dan berpikir betapa dia telah mengabaikan suaminya sejak tadi siang.
Adam: [Sayang, aku bisa terima kalau kamu salahin aku atas semua ini. Ini memang salahku, aku udah merusak semua impian kamu. Tapi aku mohon jangan membenci aku.]
Selenia membekap mulutnya sendiri. Dia ingat apa yang telah dia lakukan pada Adam siang tadi. Dan itu benar-benar diluar kendalinya saat dia mengatakan semuanya. Kini dia sadar betapa ucapannya sudah menyakiti hati Adam. Selenia meraba perutnya dan memejamkan mata, menyesal karena telah mengizinkan pikiran kotor itu merasuki otaknya. Maafkan Mommy sayang.... bisiknya lirih. Dalam hati dia memaki dirinya sendiri karena telah mengabaikan bayinya, hanya karena seharian ini tidak memiliki nafsu makan.
Selenia meletakkan ponselnya di atas nakas dan perlahan turun dari tempat tidur. Dia melihat jam dinding. Sudah hampir pukul 10 malam.
Adam belum tidur. Mendingan aku samperin dia kali ya? Aku mau minta maaf udah ngomong kasar ke dia tadi siang.
...🌺🌺🌺...
Adam menunggu pesan balasan dari Selenia meski dia tidak yakin akan menerimanya. Tentu saja, karena bahkan sekarang wa istrinya itu tidak lagi menunjukkan aktivitas online. Dia menghela nafas berat saat melihat jam dinding.
Sudah malam, mungkin saja Selenia juga sudah tidur. Baiklah, lebih baik bicara dengan Selenia besok saja.
Adam beranjak dari kursi, menuju kamar pribadi mandi di kamarnya. Namun baru saja berjalan beberapa langkah, dia mendengar pintu kamarnya diketuk.
Tok tok tok!
Adam memicingkan mata dan menoleh. Dia menajamkan pendengarannya untuk memastikan apakah pintu kamarnya benar-benar diketuk, atau hanya perasaannya saja karena dia terlalu memikirkan Selenia.
Tok tok tok!
Ternyata Adam tidak salah dengar. Siapa? Apakah Selenia? keningnya mengernyit. Dia memutar tubuh dan menghampiri pintu.
"Adaaam!" Selenia langsung menghambur ke pelukan Adam saat pintu terbuka.
Tentu saja hal itu membuat Adam kaget sekaligus heran tapi juga bahagia. Perasaan kalut dan kacau yang sedari tadi menggelayuti hati dan pikirannya seolah rontok saat Selenia mendekap tubuhnya begitu erat. Adam merasakan dadanya basah karena air mata Selenia.
"Adam maafin aku karena udah ngomong kasar ke kamu... ini bukan salah kamu.... maafin aku..." Selenia terisak. "Aku lagi kacau tadi, aku lagi marah sama diri aku sendiri... aku minta maaf..."
Adam memeluk Selenia, dan menciumi kepala Selenia berkali-kali.
"Sssshhh... udah sayang. Iya aku ngerti kok... tapi please, jangan benci aku, aku nggak akan pernah sanggup," lirih Adam di atas kepala Selenia.
Selenia menggeleng, masih di pelukan Adam. "Enggak.... aku nggak benci kamu. Maafin aku karena kata itu keluar begitu saja dari mulutku, aku nggak bisa kontrol... maaf... maaf... Dam... maaf...." kini setelah emosinya mereda betapa dia sendiri tahu bahwa dia juga tidak akan sanggup membenci laki-laki ini.
"Ssshhh udah udah udah sayang... aku nggak mau denger kamu ngomong maaf terus-terusan begitu. Kamu nggak salah."
Selenia melepaskan pelukannya dan menengadahkan wajah menatap Adam. Tangisnya semakin tak terbendung saat melihat air mata mengalir di pipi Adam. Sekian lama hidup bersamanya, baru kali ini dia melihat Adam menangis, dan itu adalah air mata yang sangat tulus. Selenia mengangkat kedua tangannya menyeka air mata itu.
Adam menggenggam tangan Selenia yang masih menempel di wajahnya.
"Sayang, aku janji... aku nggak akan pernah menghancurkan mimpi dan masa depan kamu. Aku akan lakuin apapun supaya kamu tetap bisa menggapai mimpi kamu. Apapun! Kamu percaya kan sama aku?" ucap Adam sungguh-sungguh.
Selenia percaya Adam pasti akan melakukan yang terbaik untuknya. Tapi untuk satu hal ini, Selenia sendiri tidak yakin. Bagaimana caranya dia menggapai mimpi kalau sekolah saja harus berhenti di tengah jalan. Setelah peristiwa ini, sekolah pasti tidak akan mengizinkanya kembali lagi ke sana.
"Kenapa kamu diam sayang? Kamu nggak percaya sama aku? Aku akan menebus semuanya... aku janji..."
"Adam kenapa kamu bicara begitu? Menebus apa? Kamu nggak melakukan sesuatu yang harus ditebus," Selenia menempelkan telunjuknya ke bibir Adam.
"Oke, kita hadapi ini sama-sama sayang," Adam menurunkan tangan Selenia dari wajahnya dan menggenggamnya erat. "I'll be there for you," dia menunjuk dada Selenia.
Selenia kembali tenggelam dalam pelukan suaminya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...