NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -94-


__ADS_3

Selenia dan Cia terdiam menatap Tony yang terus menunduk di kursinya. Sore ini sepulang sekolah, mereka berdua mendatangi rumah sakit tempat Mama Tony di rawat. Selenia baru mendengar kabar soal Mama Tony dari Cia pagi tadi di sekolah. Cia menceritakan semua yang diceritakan Marvin padanya ke Selenia. Tentang kedatangan Tony ke kontrakan mamamya, hingga penyakit leukimia yang ternyata sudah dia derita cukup lama. Hal itu membuat Selenia merasa prihatin. Dia bisa merasakan apa yang Tony rasakan saat ini, karena dia pernah berada di posisi itu--menemani mamanya yang sedang kritis di rumah sakit di hari-hari terakhirnya. Apalagi selama ini Tony bisa dibilang tidak pernah bertemu dan bersama dengan mamanya.


Saat menatap wajah sendu itu, Selenia jadi ingat reaksi Tony saat seorang perempuan menghampiri mereka di kafe beberapa waktu yang lalu. Ekspresi marah dan benci sarat sekali nampak di wajahnya. Tapi sekarang, semua tidak ada di sana. Bahkan senyum riang yang selama ini selalu ditunjukkan, hilang ditelan kesedihan. Tony tampak sangat terpukul dengan keadaan mamanya.


Dia bilang, sejak pingsan kemarin, Bu Riska masih belum sadar sampai hari ini.


"Sabar ya Ton..." Selenia memegang bahu Tony dan meremasnya perlahan.


Tony yang sedari tadi menunduk dan membungkuk di kursinya, mendongak menatap wajah Selenia yang sedang tersenyum.


"Makasih Sel..." dia sedikit menarik senyum dari bibirnya tapi hanya sekejap. "Makasih Cia..." tatapannya beralih pada Cia yang duduk di samping Selenia.


Tidak banyak obrolan yang terjadi pada ketiganya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Beberapa saat kemudian, di saat yang hampir bersamaan, Selenia melihat Adam dan Renata muncul dari arah yang berlawanan dengan Pak Anton yang baru saja kembali dari ruang administrasi. Adam terkesiap melihat Selenia sudah duduk manis di sebelah Tony, begitu juga dengan Selenia. Dia kaget dan merasa bersalah karena sebelum pergi ke rumah sakit, dia lupa untuk minta izin dulu ke Adam.


Adam dan Renata mengabarkan kondisi Bu Riska pada Pak Anton dan meminta maaf karena baru bisa datang menjenguk. Mereka bertiga duduk di kursi lain yang letaknya berseberangan dengan kursi yang diduduki Selenia.


Selama mengobrol, Adam tidak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Selenia dengan tatapan yang seolah menyuarakan 'kamu kenapa nggak bilang kalau mau ke rumah sakit?'


Tapi Selenia berusaha mengirimkan kode dengan mengarahkan dua jarinya diam-diam tanpa sepengetahuan Pak Anton, sebagai ungkapan It's nothing, Dam. Jangan lihatin aku kaya gitu.... tapi Adam justru membalas dengan gelengan kesal.


Bakalan diintrogasi deh nanti di rumah. Batin Selenia.


Dan rupanya Renata diam-diam memperhatikan komunikasi unik tersebut. Jadi dia cuma menunduk menahan senyum.


Setelah hampir dua jam berada di rumah sakit, Selenia dan Cia berpamitan pulang.


"Terimakasih ya nak, sudah sudi datang ke sini untuk...." Pak Anton melirik ke arah Tony. "...menguatkan Tony."


Sebenarnya ada dua sisi yang dirasakan oleh Pak Anton dalam situasi ini. Pertama, dia tentu sedih karena mantan istrinya itu menderita penyakit parah. Kedua, karena peristiwa ini, dia bisa kembali melihat sikap peduli Tony ke mamanya. Dia bahkan memilih untuk membolos hanya untuk menunggu mamanya di rumah sakit. Dia berharap, semoga saja Tony bisa menerima kehadiran mamanya kembali. Ada secuil harapan di hati Pak Anton, mereka bisa kembali utuh dalam satu keluarga.


Tony menyunggingkan senyum kecil, lalu kembali duduk.


"Iya Oom. Itulah gunanya teman," ucap Selenia dengan penuh penekanan pada setiap kalimat sembari melirik Adam.


Setelah Selenia dan Cia berlalu, Adam pun segera beranjak dan turut berpamitan.


"Lho, kamu mau pulang juga Dam?" tanya Pak Anton.


"Iya Pak, saya masih ada beberapa tugas yang saya bawa pulang."


"Baiklah kalau begitu," Pak Anton menepuk-nepuk pundak Adam. "Pokoknya selama saya belum bisa aktif di kantor, saya harap kamu bisa menghandle semuanya."


"Akan saya usahakan, Pak. Kalau begitu saya permisi. Selamat sore," Adam berbalik setelah melempar senyum pada Tony tapi tidak dibalas oleh anak itu.


Setibanya di luar lorong ruang ICU, Adam mempercepat langkah karena tidak lagi melihat Selenia. Renata pun turut dibuat terburu-buru karenanya. Dia tahu, atasannya itu pasti buru-buru pulang karena ingin mengejar Selenia.


"Tunggu!" teriak Adam saat melihat Selenia dan Cia yang baru saja membuka pintu mobil di depan teras rumah sakit.

__ADS_1


Selenia dan Cia sama-sama menoleh.


"Kamu pulang sama aku ya," Adam mencekal lengan Selenia lembut, tapi terlihat penuh penekanan buat Selenia. "Cia dan Renata biar dianter sama Pak Tono."


Cia melongo mendengar kalimat itu. Dia melirik Renata dengan tatapan ilfil. Jujur, semenjak peristiwa Selenia kabur ke rumah Ayahnya gara-gara melihat Adam berantem dengan mantan suami Renata waktu itu, dia masih full of negative thinking pada Renata. Ditambah lagi peristiwa penguntit yang ternyata pelakunya adalah mantan suami Renata. Jadi Cia beranggapan, Renata adalah orang yang membuat Selenia celaka. Andai saja Renata tidak bekerja di tempat yang sama dengan Adam, mereka nggak akan mungkin saling mengenal. Yang akhirnya mungkin membuat mantan suami renata merasa cemburu dan....... mencelakai Selenia. Entahlah, itu mungkin terdengar random kalau dijelaskan, tapi Cia memang belum bisa secara legowo menerima keberadaan Renata, seperti yang dilakukan Selenia.


"Kalau gitu aku naik taxi aja deh," sahut Cia cepat. Males banget semobil sama Renata.


"Eeehh nggak usah, biar aku aja yang naik taxi," sahut Renata balik. Dari tatapan Cia, dia merasa anak itu tidak menyukai keberadaannya.


"Ck, Adam!" Selenia menghentakkan tangan Adam. "Udahlah, aku pulang bareng Cia aja. Orang tadi aku ke sini juga sama Cia kok."


"Nggak bisa!" Adam kembali mencekal lengan Selenia. "Kamu tetep pulang bareng aku. Cia, tolong ya kamu biar diantar Pak Tono. Nggak usah cari taksi," dia mengalihkan tatapannya pada Cia


"Tapi kak..."


"Udah nggak usah dibuat ribut, okay? aku aja yang cari taksi. Lagian aku juga masih mau mampir minimarket dulu buat cari kebutuhannya Nola," ujar Renata sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tas.


Namun tak lama kemudian, di tengah suasana debat tersebut, Marvin muncul dari arah pintu masuk dan langsung berhenti di depan mobil Selenia.


"Cia?" Marvin membuka helmnya. Dia memang sudah tahu Cia ada di sini. "Kok udah mau pulang aja?"


Oh, my king penyelamatku! Pekik Cia dalam hati.


"Nah, tuh aku udah dijemput," Cia buru-buru menghampiri Marvin dan langsung mengenakan helm satunya. "Jadi... dia aja yang diantar Pak Tono," dia menunjuk Renata dengan dagunya.


"Udah, sekarang mending anterin aku pulang dulu aja. Okey??" rayu Cia setengah memaksa. "Yuk putar balik yuk..."


Digiring seperti itu oleh Cia, Marvin cuma bisa pasrah.


"Daaaa semuaaaa....!" Cia melambaikan tangannya pada Selenia yang wajahnya terlihat masam. "Gue pulang dulu ya Sel."


"Berarti kamu yang pulang sama Pak Tono, Ren," tunjuk Adam setelah Cia dan Marvin pergi.


"Tapi Pak..." Renata merasa tidak enak hati.


"Udah nggak pa-pa kok," Adam mengangguk. "Pak Tono, tolong antar Renata sampai rumah ya. Biar Selenia pulang sama saya. Ayok..." dia menarik tangan Selenia membawanya ke parkiran.


Selenia mendengus lirih tapi tidak bisa memberontak. Dia cuma melangkah pasrah mengikuti Adam di belakangnya.


...🌺🌺🌺...


"Kamu kalau mau kemana-mana, izin dulu dong sama aku..." ujar Adam malam itu setelah selesai makan malam.


Adam masih melihat kedongkolan di wajah Selenia sejak dia memaksa pulang bersamanya sore tadi. Namun untung saja hal itu tidak membuat Selenia mogok makan, jadi dia tidak perlu menggedor pintu kamarnya--karena sepulang dari rumah sakit tadi Selenia langsung mengunci diri di kamar. Yah... meskipun selama makan malam sikap Selenia cuek dan dingin minta ampun.


Mereka ngobrol di ruang tengah sambil nonton tv. Tadinya Selenia sudah mau berlari ke kamarnya, tapi dihadang oleh Adam yang kemudian justru membawanya ke sini.


"Iyaaaa... aku tahu aku salah, tapi kan aku lupa. Ya maaf!" jawab Selenia tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari televisi. "Cuman kan kamu nggak perlu maksa-maksa aku buat semobil sama kamu kaya tadi. Nggak enak tau sama Cia. Untung aja pacar Cia keburu dateng," sungutnya.

__ADS_1


"Yaaa... gimana ya..." Adam menggaruk-garuk kepalanya. "Habisnya aku kebawa emosi sih gara-gara liat kamu deket-deketan gitu sama Tony. Belum lagi harus berakting kita pura-pura nggak saling kenal kaya tadi... uncomfortable banget buat aku. Tapi sepertinya kamu selow banget ya?"


"Adam..." Selenia menoleh. "Kamu ni ngomong apa sih? Makin nggak jelas aja. Bisa nggak kamu tuh berhenti curigain aku sama Tony? Berapa kali aku harus ngomong sama kamu kalau....."


"Iya iya iya iya.... udah udah," potong Adam cepat sembari merangkul pinggang Selenia. "Iya aku minta maaf soal itu. Maaf nggak bisa kontrol perasaan aku buat nggak cemburu."


Selenia melipat kedua tangannya ke dada. Bibirnya mengerucut. Tapi sekejap saja bibir itu tampak mulai mengurai senyum saat hidungnya mengendus aroma yang menenangkan dari tubuh Adam.


"Dam..." Selenia mengerling. "Kamu masih pakai parfum itu? Ya ampun makasiiih...." dia mendekap tubuh Adam dan menciumi dadanya gemas.


Of course lah aku harus memakai parfum itu lagi. Daripada nggak dibolehin duduk berdekatan sama kamu begini kan? Batinnya.


Dan tentu saja Adam tidak menolak mendapat perlakuan seperti itu--karena dia juga menikmati. Tapi kemudian dia sadar kalau sikap Selenia itu aneh. Obrolannya di kantin dengan Renata siang tadi sekilas menggema di benaknya. Apa dugaan Renata itu benar?


"Sayang stop!" Adam merenggangkan rangkulannya. "Aku mau nanya sesuatu sama kamu boleh?"


Selenia menghentikan aksinya dan mendongak, menatap lurus ke Adam yang juga sedang menunduk menatapnya.


"Apa?"


"Kamu.... lagi.... hamil ya sayang?" tanya Adam hati-hati.


Mata Selenia membulat. "Kok kamu nanya gitu?" dia menarik diri dari tubuh Adam karena jantungnya mendadak berdebar-debar. Kenapa Adam bisa berpikir sampai ke situ?


"Ee... anu... soalnya aku ngerasa sikap kamu akhir-akhir ini tu aneh sayang.... nggak kaya biasanya gitu lho..."


Kening Selenia mengerut. Bagaimana Adam bisa tahu kalau dia sedang hamil? Atau dia hanya menebak-nebak saja? Atau mungkin 'insting seorang suami'nya mulai peka dengan perbedaan yang sedang terjadi pada istrinya? Bagaimana ini? Rencana ngasih surprise bakalan gagal dong kalau dia sudah tahu itu semua.


"Sikapku aneh gimana sih Dam?" tanya Selenia sok polos. Padahal sebenarnya dia juga sadar kalau akhir-akhir banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Terutama soal morning sickness dan parfum. Tapi Selenia tidak mau menyerah, mungkin saja Adam cuma sedang menebak-nebak kan? Karena merasa mereka berdua sudah 'melakukannya' dan dia membuangnya di dalam. Ohhh... apakah dia sepercaya diri itu kalau tendangannya oke? Hihihi 🤭. Tidak, pokoknya Adam tidak boleh tahu sebelum hari ulang tahunnya tiba.


"Banyak sih. Tapi satu aja yang aku sebut ya, just for example.... kamu nyuruh aku pake parfum bayi itu alasannya apa?"


"Suka aja. Memangnya kenapa?"


"Ya tapi ini awkward banget buat aku sayang. Seharian di kantor aku jadi pusat perhatian orang-orang kantor dan itu nggak enak banget. Bayangin deh sayang...."


Selenia menunduk menahan senyum. Tanpa diminta untuk membayangkan, gambarannya pun seolah sudah begitu jelas di mata Selenia. Seorang General Manager memakai parfum bayi. Memanglah sangat awkward. Tapi mau gimana lagi? Keinginannya itu tidak bisa ditahan. Itung-itung berkorban dong buat anak sendiri, daripada entar ileran kan? Eh, tapi kan masalahnya dia belum tahu kalau aku hamil. Ya udah deh, nikmatin aja dulu momen ke-awkward-an itu ya sayangkuuuh... hahaha...


"Masa sih cuma gara-gara aku nyuruh kamu pake parfum bayi, kamu malah mikirnya kejauhan gitu. Aku aja lagi dapet. Masa iya hamil," jawab Selenia asal. Semoga saja Adam percaya.


"Ooohpps.... sorry..." Adam tersenyum getir. "Oh... kamu lagi dapet ya?" ingatannya melayang pada coretan di angka di kalender milik Selenia. Dia kemudian mengambil kesimpulan kalau pertanyaan yang dia lontarkan memang terdengar konyol. Lagipula mana mungkin baru 'melakukan' dua kali langsung goal. Jadi fix sikap aneh Selenia pasti karena dia sedang datang bulan.


Fyuuuuuh.... dalam hati Selenia bernafas lega karena jawabannya bisa membuat Adam percaya. Meski dalam hati pula dia berkali-kali minta maaf ke jabang bayi di dalam perutnya, karena sudah berbohong ke Adam dan seolah menganggap tidak ada apa-apa di sana--di dalam perutnya.


Maafkan Mommy ya sayaaaang.... Mommy nggak bermaksud buat nggak anggap kamu. Please.... bantu Mommy buat lancarin rencana kasih surprise ke Daddy yah..... Mommy love you so much!!


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2