
Adam tiba di hotel menjelang sore hari. Tidak mau mengulur waktu yang dikhawatirkan akan membuat Devan tidak sabar menunggu dan akhirnya berbuat nekat, dia pun segera bersiap. Setelah meletakkan kopernya di sudut ruangan, dia segera pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.
Sebelum keluar, dia menghubungi Devan untuk memastikan tempat di mana mereka akan bertemu. Namun sayang, beberapa kali dia menelfon nomor Devan, panggilannya justru tidak dijawab.
Adam: [Gue akan segara datang. Dimana kita bisa bertemu.]
Adam mengirim pesan itu pada Devan. Pesan terkirim tapi tak kunjung di baca. Dia terus mencoba menghubungi Devan, tapi sama saja. Hal itu membuatnya semakin gusar.
Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak mengangkat telfon dan membaca pesanku?
Adam melirik jam tangannya. Sudah pukul 4.23 menit. Kemana orang itu? Jangan-jangan dia tidak sabar menunggu kedatangannya, dan berbuat sesuatu pada Selenia. Pikiran buruk itu terus menghantui otaknya. Jadi untuk memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi pada Selenia, Adam pun mengalihkan panggilan dari Devan dan menelfon Selenia.
"Halo Dam...." sahut Selenia dengan nada ceria di ujung telfon.
Kening Adam mengerut. Kok tidak ada lagi kata sayang seperti di pesan? Pikirnya. Sekaligus merasa lega karena ternyata istrinya baik-baik saja.
"Halo sayang. Kamu lagi apa?"
"Aku baru aja selesai mandi nih. Kamu udah kelar? VC yuk... aku kangen lho..." rengek Selenia yang membuat Adam auto senyum. Rengekan itu terdengar manis banget di telinga Adam.
"Iya deh," Adam mengalihkan panggilannya ke panggilan video di ponselnya dan seketika terlihat wajah Selenia di layar.
"Haaaaiiii..." Selenia melambaikan tangannya dengan senyum merekah.
"Hei. Lagi apa sayang?"
"Lagi duduk-duduk aja. Bosen tau Dam di kamar terus."
"Memangnya kamu mau kemana sih? Kan lagi sakit. Ya di rumah aja dong. Nanti kalau udah sembuh, aku antar deh kemanapun kamu pengen," Adam juga kangen bermanja-manja pada istrinya itu. Baru beberapa hari berpisah, rasanya sudah seperti berbulan-bulan.
Terlihat Selenia mengerucutkan bibirnya dan tampak lucu.
"Dam, kamu masih lama ya di luar kotanya?"
"Enggak kok sayang. Kalau urusan udah kelar, aku pasti langsung pulang. Kamu mau dibawain apa?"
Selenia menggeleng. "Nggak pengen dibawain apa-apa. Cuma pengen cepet-cepet ketemu kamu."
Adam menyunggingkan senyum. "Oh ya? Terus mau apa?" godanya.
"Ya pengen ketemu aja emangnya nggak boleh. Kan aku kangen. Memangnya kamu nggak kangen sama aku?"
"Boleh banget dong sayang. Eh, kata siapa nggak kangen, aku juga kangen lah."
"Makanya cepet pulang dong..." rengek Selenia sengaja dibuat-buat dengan bentuk wajah lucu dan menggemaskan.
Adam terkekeh. "Iya sayang. Nanti kalau urusan udah kelar, aku pasti langsung pulang."
"Oh iya..." wajah Selenia berubah sedikit serius. "Kamu nggak macem-macem kan di sana?"
"Macem-macem apa lagi sih?"
"Kamu di luar kota nggak diem-diem nikah kan sama Renata?"
Pertanyaan itu spontan membuat Adam terbahak.
"Kamu ni ngomong apa sih sayang? Ada-ada aja deh. Ya nggak mungkin lah aku kaya gitu," dia masih tertawa. "Kamu kebanyakan nonton drama tu pasti. Yang di channel ikan terbang, yang istrinya selalu nangis karena dijahatin suaminya. Iya kan??"
Giliran Selenia yang terkekeh. Dia merasa lucu karena sama sekali nggak pernah nonton apa yang dimaksud Adam. "Yaaaa kan aku waspada aja. Siapa tahu kan??"
"Hmmmm... kamu ini ngomong apa sih sayang. Jangan mikir yang aneh-aneh deh. Nggak ada sama sekali di otak aku kepikiran buat nikah lagi. Malah yang ada aku pengen secepatnya kamu tuh luluuuuusss..... terus kita nikah yang ada buku nikahnya sama kamuuuuu...." jawab Adam gemas sembari melirik jam tangannya lagi. Sudah hampir jam 5, dan kabar dari Devan tak kunjung ada.
Selenia tersipu mendengar kata-kata itu dan menutup wajahnya malu-malu. Itu adalah kalimat paling indah yang ingin selalu dia dengar dan secepatnya menjadi kenyataan.
"Sabaaar.... tinggal beberapa bulan lagi kan?" Selenia terkikik menahan geli.
"Lhoh kok malah ketawa? Aku serius lho. Aku tu capek dikira single terus."
"Iiih aku tu lagi ketawa seneng Adam, emang nggak boleh?"
"Sayang, udah dulu ya ngobrolnya. Aku mau persiapan buat makan malam sama orang-orang," Adam terpaksa berbohong karena ingin kembali memastikan keberadaan Devan.
Selenia memberengut sekilas. "Iya deh. Jaga diri baik-baik ya sayang..."
"Apa sayang?" mata Adam berbinar. "Coba ngomong lagi."
"Ihhh apa sih? Jaga diri baik-baik.... Adam..."
"Hmmm, kenapa sih gengsi banget kayaknya ngomong sayang sama aku?"
__ADS_1
"Gengsi apaan? Enggak lah."
"Kalau gitu ngomong dong. Aku pengen denger soalnya."
Selenia hanya tersenyum dan kemudian menutup lensa kameranya.
"Jaga diri baik-baik sayang...." ucapnya kemudian dengan kamera tertutup.
Adam terkekeh melihat tingkah Selenia. "Makasih sayang.... ya udah sampai nanti ya. See ya..."
Obrolan mereka terputus. Setelahnya Adam kembali mencoba menghubungi Devan lagi. Tapi nomor itu malah tidak aktif.
DEG! Perasaan khawatir kembali menghampirinya. Apalagi yang akan dia lakukan?
Sepertinya kali ini Adam harus lebih waspada.
...🌺🌺🌺...
Pak Anton sedang berada di ruang tamu rumahnya, saat menerima kabar dari Irham kalau hari ini Adam sudah kembali dari luar kota. Dia bingung kenapa anak itu tidak memberitahunya terlebih dulu. Jadi dia segera menghubungi Adam untuk memastikan apa yang terjadi.
Saat itu Adam sedang duduk di kursi yang ada di lobby hotel, menunggu kepastian dari Devan saat ponselnya berbunyi. Dia hampir saja melompat karena mengira itu panggilan dari Devan. Dan seketika matanya menyipit saat melihat yang menelfon ternyata adalah Pak Anton.
"Halo Pak," jawab Adam ragu. Perasaannya mulai tidak enak.
"Dam, saya dengar dari Irham, kamu pulang ya?"
"Iya Pak. Maaf saya tidak memberitahu Bapak terlebih dahulu karena.... ini sangat mendadak dan saya tidak bisa menundanya sampai besok atau lusa."
"Lalu bagaimana? Apa urusan kamu sudah beres?"
"Urusan di luar kota sudah saya serahkan pada Irham dan Renata untuk menghandle semuanya. Sekali lagi saya minta maaf," Adam merasa sudah siap jika selanjutnya Pak Anton akan mengatakan bahwa dia kecewa dan akan memecatnya. Dia sama sekali tidak punya alasan yang tepat untuk dikatakan pada atasannya tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Nggak pa-pa Dam..."
Adam heran mendengar jawaban Pak Anton yang tidak menjadikan kepulangannya sebagai masalah besar.
"Lalu bagaimana dengan urusan kamu sendiri? Sebenarnya saya mau minta tolong sama kamu."
"Apa itu Pak?"
"Tolong bantu saya Dam. Saya benar-benar bingung mau minta tolong sama siapa," suara Pak Anton terdengar memelas dan putus asa. "Karena kebetulan kamu sudah pulang, tolong temani saya menghadapi mediasi kasusnya Tony. Dia sekarang ada di penjara Dam..."
"Kasus? Kasus apa Pak?" Adam kaget mendengar penuturan Pak Anton. Tony di penjara? Memang bikin ulah apa lagi anak itu?
Adam tidak heran mendengar hal itu, mengingat sikap Tony yang kadang memang sedikit arogan. Dia ingat betul bagaimana sikap Tony padanya di sekolah dulu saat dia menemuinya untuk meminta kejelasan soal video hoaxnya dengan Renata. Kalau saja saat itu Adam tidak pandai mengontrol emosi, dia mungkin sudah baku hantam juga di sekolah dengan Tony.
Tidak ada kata lain selain mengiyakan permintaan Pak Anton. Karena menunggu kabar Devan pun sepertinya mustahil. Nomornya masih tetap tidak aktif.
Mereka kemudian sepakat untuk datang ke kantor polisi setelah Pak Anton mendapat kabar bahwa lawan duel Tony sudah bisa di mintai keterangan. Pasalnya, sampai sekarang katanya lawan Tony itu masih terbaring di klinik kantor polisi. Kemungkinan besok kasus Tony dan orang itu baru bisa di proses.
Pun begitu Adam masih terus siaga meskipun sampai malam tiba, dia sama sekali tidak mendapatkan kabar dari Devan. Dia tidak habis pikir dan merasa telah buang-buang waktu karena menuruti gertakannya kemarin. Apa dia tiba-tiba berubah pikiran dan takut untuk menemuinya? Tapi mana mungkin? Devan tidak mungkin punya pikiran seperti itu. Tapi kemana dia sekarang?
...🌺🌺🌺...
Paginya, saat Adam baru membuka mata, Pak Anton menelfon dan mengatakan supaya dia datang ke kantor polisi yang telah dia sebutkan alamatnya sekitar pukul 8. Dia bilang, lawan duel Tony sudah bisa diajak bicara dan pihak mereka berdua siap melakukan mediasi.
Jadi setelah mandi dan sarapan di hotel, Adam segera memesan taksi online dan bergegas menuju kantor polisi.
"Lho? Kok kamu pakai taksi? Mobil kamu mana Dam?" tanya Pak Anton heran. Mereka bertemu di pelataran kantor polisi.
"Ee... mobil saya di bengkel Pak," jawab Adam sekenanya. Dia tidak mungkin mengatakan pada Bosnya itu kalau sepulang dari luar kota dia menginap di hotel.
"Oh, ya sudah ayo masuk. Katanya sudah di tunggu."
Pak Anton dan Adam berjalan beriringan memasuki ruang mediasi yang ada di kantor polisi tersebut. Di sana Tony dan lawan duelnya sudah duduk berjejer--dengan posisi membelakangi pintu masuk--menghadap ke salah seorang pria berseragam polisi. Di sana juga ada dua orang perempuan yang merupakan Ibu dan Kakak dari Devan. Mata Ibu Devan terlihat sembab karena habis menangis.
"Selamat pagi Pak," Pak Anton menyapa beberapa orang di dalam ruangan.
Tony dan lawan duelnya itu sama-sama menoleh ke pintu masuk. Dan saat itulah mata Adam dan Devan bertemu. Adam kaget, begitu juga dengan Devan. Jadi ini alasan Devan tidak jadi menemuinya kemarin sore? Dia orang yang dipukuli oleh Tony? Ada masalah apa mereka berdua? Kenapa Devan melibatkan banyak orang? Adam tidak habis pikir.
Sepanjang Adam memasuki ruangan dan duduk di salah satu kursi, Devan terus menatapnya dengan tatapan benci. Dia menganggap Adam telah mengabaikan peringatannya.
Mediasi berlangsung cukup ricuh manakala pihak Devan terus membela diri atas tuduhan yang dilontarkan oleh Tony. Mereka tidak terima Devan difitnah telah menerror teman Tony. Pak Anton yang tidak tahan melihat anaknya diberondong pihak Devan, berusaha untuk bersuara, namun dengan sigap ditahan oleh Adam. Tidak ada gunanya menyela omongan orang yang hanya mengandalkan teriakan. Kakak dan Ibu Devan terus berteriak, merasa tidak terima atas perbuatan Tony yang telah membuat Devan babak belur.
Sampai akhirnya, seorang polisi yang duduk di depan Devan dan Tony menggebrak meja dengan keras dan seketika membuat suasana di ruangan menjadi hening. Dia kemudian memberikan kesempatan pada Tony untuk menjelaskan alasannya menyerang Devan, dan meminta pihak Devan untuk diam selama Tony berbicara.
"Dia memang meneror teman saya Pak," Tony melirik sinis ke arah Devan. "Dia sengaja menguntit teman saya dan dia juga mengirimkan paket berisi burung mati dengan sayatan di leher ke teman saya dan membuat teman saya ketakutan."
__ADS_1
"Itu tidak mungkin. Kamu pasti salah orang, itu pasti bukan Devan, memangnya kamu bisa membuktikan?!" Kakak perempuan Devan terus menyahut.
"Saya minta saudari diam!" sang polisi menunjuk Kakak Devan dan seketika membuatnya menutup mulut. "Apa benar begitu saudara Devan?" dia mengalihkan pandangannya pada Devan yang terus menunduk.
"Memangnya dia punya bukti saya melakukan itu Pak?" Devan bersuara.
"Saya masih ingat bagaimana postur orang itu," Tony tak mau kalah. "Lagipula untuk apa kamu sebut-sebut nama Selenia dengan orang yang kamu ajak bicara di telfon kemarin di taman dengan nada ancaman seperti itu? Saya dengar semua pembicaraan kamu! Kamu jangan ngeles!"
Adam kaget mendengar pengakuan Tony. Berarti itu terjadi kemarin saat Devan menelfon dirinya. Dia memang menyebut-nyebut nama Selenia.
"Banyak yang namanya Selenia. Orang yang postur tubuhnya seperti saya juga ribuan. Dan kamu mungkin salah orang," Devan terus membela diri.
Adam berusaha menahan geram mendengar pernyataan Devan yang terus menyangkal. Ingin rasanya dia membuka suara, tapi seketika dia sadar kapasitasnya berada di sini. Dia juga ingat peringatan Devan padanya tentang larangan melibatkan polisi dalam masalah mereka. Jadi sebisa mungkin, dia terus berusaha untuk diam.
"Saya bisa menelfon teman saya untuk membuktikan bahwa peneror itu adalah dia Pak," ucap Tony.
"Bagaimana kalau dia kita panggil saja ke sini. Mungkin bisa memberikan kesaksian lebih detil."
Adam terkejut dengan usulan itu. Bagaimana mungkin Selenia akan dibawa kemari, sedangkan kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk datang.
"Tidak bisa, Pak." jawab Tony seraya melirik ke arah Adam yang tampak gelisah. Dia tahu Adam pasti tidak setuju jika Selenia diundang kemari. "Dia baru saja mengalami kecelakaan dan belum bisa jalan sampai sekarang."
Polisi yang memimpin mediasi menanyakan apakah perlu menelfon Selenia dan mereka setuju. Hanya Ibu dan Kakak Devan yang tampak keberatan. Mereka mungkin mulai merasa ada yang tidak beres dengan anaknya. Tidak ingin mengulur waktu, Selenia pun akhirnya dihubungi melalui nomor kantor polisi tersebut.
"Ha...halo..." terdengar suara lirih dan ragu-ragu di ujung telfon. Panggilan itu sengaja di loudspeaker supaya bisa didengar oleh orang di ruangan tersebut.
Suara Selenia itu seketika membuat jantung Adam berdegup kencang. Tidak tega rasanya melihat istrinya terlibat dalam masalah yang tidak pernah dia buat. Adam masih menahan diri untuk tidak emosi, padahal hatinya sudah meronta ingin menghajar Devan saat itu juga.
"Benar ini dengan saudari Selenia?"
"Iya benar, saya sendiri. Ini dengan siapa ya?"
"Kami dari kepolisian...."
"Ha? Ada... ada masalah apa ya Pak?" suara Selenia terdengar ketakutan. Membuat Adam semakin tidak tega mendengarnya. Adam memejamkan matanya.
Selanjutnya Polisi itu menjelaskan pada Selenia tentang apa yang terjadi dan tujuannya menghubungi dirinya. Selenia diberikan beberapa pertanyaan terkait teror yang dia alami beberapa hari ini. Tentang orang yang diam-diam menguntit, dan paket misterius yang dia terima di sekolah.
Selenia menjawab dengan jujur semua pertanyaan yang diberikan. Dia juga mengatakan bahwa orang yang mengirim paket misterius itu adalah orang yang sama dengan orang yang menabraknya menggunakan motor. Tony sangat kaget mendengar pernyataan terakhir Selenia. Dan seketika dia merasa menang telak dari sangkalan Devan.
"Bagaimana anda bisa tahu kalau orang itu adalah orang yang sama?" tanya seorang penyidik.
"P-pacar saya yang memberitahu. Karena kemungkinan dia juga meneror pacar saya.... tapi saya yakin, dia adalah orang yang sama..."
Adam dan Tony saling tatap saat mendengar Selenia menyebut kata 'pacar' dalam keterangannya.
"Ya tapi buktinya mana Pak? Nggak ada kan bukti yang valid untuk menyatakan bahwa itu saya?" Devan masih terus bersikukuh. "Itu kan baru perkiraan saja."
"Saya ada buktinya!" Adam mengangkat tangan kanannya dan berdiri. Dia sudah tidak tahan lagi melihat sikap Devan yang sama sekali tidak kooperatif. Kenapa dia tidak mengakui perbuatannya saja?
Devan menoleh dan menatap tajam ke arah Adam. Seketika dia merasa mati kutu sekaligus jengah karena ternyata Adam berani menerjang peringatannya. Semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Adam yang masih berdiri di tempatnya. Adam sudah tidak peduli lagi dengan peringatan Devan. Dia hanya ingin orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang telah diperbuat. Bukan kemauan dia kan kalau hari ini berurusan dengan polisi? Tuhan sudah menetukan jalannya melalui Tony.
Adam melangkah dengan tegas menghampiri meja mediasi, dan menunjukkan beberapa video, foto dan pesan bernada ancaman yang dikirim Devan ke ponselnya.
Dalam beberapa menit, hal itu di pelajari oleh penyidik, yang akhirnya menetapkan Devan bersalah dalam kasus ini. Dia tidak bisa mengelak karena bukti yang ditunjukkan Adam cukup kuat. Ibu dan Kakak Devan masih merasa tidak terima. Mereka berharap supaya kasus ini di selesaikan secara kekeluargaan saja.
Akhirnya, setelah melakukan pembicaraan antar keluarga, ditemukan hasil akhir yang menetapkan Devan sebagai tahanan kota selama dua bulan. Sementara Tony satu bulan. Selama masa itu keduanya akan mendapat pantauan khusus dan harus membuat laporan setiap tiga kali seminggu ke kantor polisi. Dan jika mereka diketahui melakukan tindak kejahatan selama masa tahanan, maka statusnya akan dinaikkan menjadi tahanan rutan.
Adam cukup bisa bernafas lega. Dia berharap hal itu akan menjadi efek jera bagi Devan. Dalam hati dia sangat bersyukur dengan rencana Tuhan yang tidak pernah dia sangka.
"Thanks Ton," Adam menepuk bahu Tony saat mereka semua keluar dari ruangan. Pak Anton sengaja menjauh untuk memberi mereka ruang untuk berbicara. "Masalah ini sudah cukup membuat saya tidak bisa tidur. Thanks untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk Selenia."
Tony menatap Adam tanpa ekspresi. Dia lalu menepis tangan Adam dari bahunya pelan. "Jaga Selenia baik-baik. Lo kalau punya masalah, jangan pernah libatin dia," ucapnya dan kemudian berlalu.
Di lapangan parkir, teman mabar Tony yang entah mendapat kabar darimana, telah menunggu dan menyambut kebebasannya. Mereka merangkul Tony dengan hangat dan saling melontarkan pertanyaan tentang apa yang baru saja dialami oleh teman sagu gengnya itu.
"Gue nggak bisa jelasin sekarang. Mending kita ke basecamp aja," Tony mengedarkan pandangannya ke lapangan parkir yang luas dan mendapati motornya berada di antara mobil Patroli dan Shabara. "Gue ambil motor dulu," dia berjalan menghampiri tempat itu.
"Kamu nggak pulang Ton?" tanya Pak Anton, menghadang langkah Tony.
"Aku pengen tenangin diri dulu sama teman-teman Pa," jawabnya datar.
Pak Anton menghela nafas. " Ya sudah. Papa minta, kamu jangan pulang malam-malam ya."
Tony tidak menjawab dan hanya berlalu melewati Pak Anton. Sementara itu jauh di luar area kantor polisi, seorang perempuan memperhatikan langkah Tony dengan wajah sayu dan sedih. Dia menangis sembari memegangi dadanya sendiri. Dia Riska. Dia masih berharap anaknya bisa menerimanya kembali.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1
...Jangan pelit like, komen n vote yak shuyunk 😘...