NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -126-


__ADS_3

"Dam! kamu kenapa?! heh bangun...!" Bu Lisa terlonjak kaget mendengar suara Adam yang menyebut-nyebut nama Selenia dalam tidurnya.


Karena terlalu lelah menangisi nasib istrinya, tidak sadar Adam telah tertidur dengan bersandar pada bahu Mamanya. Bu Lisa menepuk-nepuk pipi Adam yang matanya masih terpejam. Begitu pula Pak Fendi dan Pak Edwin yang berada tidak jauh dari posisi mereka, juga turut terlonjak kaget mendengar Adam yang mengigau.


Adam membuka mata dan menegakkan tubuh dengan seketika. Nafasnya memburu.


"Selenia...." desis Adam lirih. Dia menutupi wajahnya beberapa saat dan menghela nafas. Ternyata dia cuma mimpi.


"Kamu kenapa Dam? Kamu mimpi ya?" lirih Bu Lisa sembari mengelus-elus punggung anaknya itu.


"Aku mimpi buruk ma. Aku takut terjadi sesuatu sama Selenia... Aku takuuuut banget ma..."


Bu Lisa kembali menarik tubuh Adam membawa ke pelukannya.


"Udah kamu tenang ya. Jangan mikir yang aneh-aneh. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk istri kamu," ucap Bu Lisa menenangkan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dinihari, dan semua orang yang ada di tempat itu masih terjaga. Mungkin hanya Adam lah yang sempat tertidur selama beberapa menit tadi. Berharap saat tertidur kecemasannya bisa sedikit berkurang, namun nyatanya mimpi buruk itu kembali menambah kekhawatirannya.


"Ma, aku masuk ke ruangan Selenia dulu ya," Adam menarik diri dari dekapan Bu Lisa.


Bu Lisa mengangguk pelan.


Dengan langkah berat, Adam memasuki ruang ICU. Nafasnya tertahan manakala melihat Selenia yang masih tidak sadarkan diri. Monitor bedside terus menunjukkan pergerakan aktif dari detak jantung, nadi dan tekanan darah Selenia. Adam menatap wajah istrinya yang tampak tenang dengan mata terpejam itu dalam-dalam. Tangannya terulur meraih tangan Selenia yang terkulai lemas dengan selang infus terhubung di sana.


"Sayang, apa yang sudah terjadi sama kamu?" bisik Adam lirih. "Maafin aku karena nggak bisa jaga kamu, maafin aku sayang...." entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan malam ini. Hatinya terasa sakit sekali melihat kondisi Selenia.


...🌺🌺🌺...


Keesokan harinya, Bi Iyah sedang beres-beres di kamar Selenia, membersihkan pecahan gelas susu yang semalam belum sempat dia bersihkan karena terlanjur panik, saat mendengar dering nyaring yang berasal dari ponsel Selenia.


Bi Iyah celingukan mencari dimana letak ponsel itu berada.


Di laci, tidak ada. Di atas tempat tidur, tidak ada. Di meja belajar, juga tidak ada. Bi Iyah semakin bingung. Dimana Non Selenia menaruh ponselnya?


Setelah menyusuri tempat yang dia rasa normal untuk meletakkan ponsel, akhirnya Bi Iyah justru menemukan ponsel itu berada di bawah kolong tempat tidur.


"Aduh, kok bisa ada di sini sih?" Bi Iyah tengkurap dan mengulurkan tangan meraih ponsel yang masih berdering tersebut.


Cia calling....


Nama itu terpampang di layar. Dengan segera Bi Iyah menggesek tombol berwarna hijau ke atas.


"Halo Mbak Cia," sapa Bi Iyah.


"Lhoh, kok Bi Iyah yang angkat? Selenianya kemana Bi?" terdengar nada heran dari suara Cia di seberang.


"E... anu mbak... sebenernya... e... non Selenia.... itu.." Bi Iyah gugup.


"Apa sih Bik? Bibik kenapa gugup gitu? Selenia masih tidur? Ampun deh tuh anak. Bangunin bik, ini udah jam delapan lho. Kita udah janji mau keluar..."


Bi Iyah menghela nafas panjang. "Mbak, tapi Non Selenia lagi... nggak di rumah. Dia..."


"Hah??? Dia udah keluar? Terus ponselnya ditinggal? Dih.. gimana sih ni bocah?!" sahut Cia keburu menggerutu sebelum Bi Iyah selesai ngomong.


"Bukan mbak, non Selenia di rumah sakit. Semalam dia pingsan..."


"APA BIK???!!!" teriak Cia kaget.


Teriakan itu membuat Bi Iyah reflek menjauhkan ponsel dari telinganya.

__ADS_1


"Haloooo?? Rumah sakit mana Bik??? Haloooo??!!" teriak Cia lagi karena Bi Iyah tidak merespon.


Bi Iyah kembali mendekatkan ponsel ke telinganya dengan hati-hati. Setelah dia menyebutkan nama rumah sakitnya, Cia langsung menutup obrolan.


Sementara itu, Bi Iyah kembali membereskan kamar Selenia dengan perasaan tak menentu. Sebenarnya dia sendiri juga sangat cemas memikirkan keadaan Selenia.


...🌺🌺🌺...


Setelah mendapat informasi letak ruangan ICU dari seorang suster jaga, Cia langsung berlari menyusuri lorong menuju ruang ICU berada. Saking paniknya setelah mendengar kabar dari Bi Iyah pagi ini, dia langsung bergegas berangkat sendiri ke rumah sakit tanpa mengajak Marvin. Padahal pagi ini rencananya dia dan Selenia pengen jalan-jalan keluar--bareng Marvin juga. Semalam mereka berdua sudah saling kirim chatt untuk rencana hari ini. Dan saat Selenia tak kunjung membalas pesannya, Cia sama sekali tidak pernah berpikir kalau telah terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Dia kira Selenia sedang sibuk dengan Adam, itu saja.


Cia tiba di depan ruang ICU dan mendapati ketiga orang tua Adam dan Selenia sedang duduk membisu di sana. Tampak raut wajah lelah dari mereka bertiga. Pasti karena tidak tidur dari semalam. Tapi, dimana Adam?


Bu Lisa menyambut kedatangan Cia dengan senyum kecil. Dia berdiri dan melambai pada anak itu supaya duduk di dekatnya. Saat melewati Pak Edwin dan Pak Fendi, Cia menunduk dengan sopan.


"Apa yang terjadi tante?" tanya Cia lirih.


Dengan suara serak, Bu Lisa pun menceritakan pada Cia apa yang menimpa Selenia dan kondisinya saat ini. Cia menggeleng lemah. Nafasnya tertahan dan dia membekap mulutnya sendiri. Kenapa Selenia harus mengalami kejadian seperti ini?


Cia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada sahabatnya. Sekitar setahun yang lalu, Bibinya yang tinggal di Bogor, juga mengalami hal yang sama seperti Selenia saat hamil dan akhirnya tidak bisa diselamatkan.


"Ya Allah tante...." Cia terisak. "Kenapa ini bisa terjadi sama Selenia???"


Melihat Cia menangis, Bu Lisa pun turut menangis. Dia menengadahkan wajah ke atas dan menyeka air matanya.


"Dokter bilang, kehamilan di usia dini memang rentan mengalami kondisi seperti ini. Tante nggak tahu lagi harus bagaimana. Yang bisa tante lakukan cuma berdoa dan berdoa saja."


"Memang hanya itu yang saat ini bisa kita lakukan tante," Cia meremas lengan Bu Lisa lembut.


Pintu ruang ICU terbuka dari dalam. Adam keluar dengan wajah tidak sabar. Dia celingukan ke kiri dan kanan. Tak lama kemudian seorang Dokter dan dua orang suster datang setengah berlari dari ujung lorong menghampiri ruang ICU. Bu Lisa dan Cia berdiri bersamaan. Begitu juga dengan Pak Fendi dan Pak Edwin.


"Ada apa Dam? Kenapa kamu manggil Dokter?" tanya Bu Lisa cemas. "Selenia kenapa lagi nak??"


"Tadi aku lihat tangan Selenia gerak-gerak ma, dan matanya kebuka sedikit. Makanya aku panggil dokter," jawab Adam.


"Benarkah? Alhamdulillah kalau begitu," Bu Lisa mengelus dadanya lega.


Cia tersenyum dalam isakannya. Setidaknya itu merupakan respon positif dari orang yang awalnya tidak sadarkan diri bukan?


Selama hampir sepuluh menit Adam berdiri di depan ruang ICU, tidak sabar menunggu Dokter keluar. Dia yakin dan sangat percaya kalau Selenia akan baik-baik saja.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" serbu Adam saat sang Dokter baru muncul dari ruang ICU.


"Alhamdulillah Pak, Ibu Selenia sudah berhasil melewati masa kritisnya," ucap sang Dokter sembari melemparkan seulas senyum. "Maka dari itu, kita akan segera atur jadwal persalinannya. Kita tunggu sampai kondisinya benar-benar stabil ya pak."


Secara reflek, kabar itu membuat Adam langsung bersujud ke lantai. Dia merasa sangat lega, seolah beban ribuan kilo yang menghimpitnya sejak semalam terangkat dengan sangat ringan dan hilang begitu saja.


"Alhamdulillah...." terdengar sahutan dari Bu Lisa, Pak Fendi, Pak Edwin dan Cia bersamaan.


Sebagai seorang Dokter, menyampaikan kabar bahagia kepada anggota keluarga pasien adalah satu hal yang membuat dirinya secara pribadi juga turut ikut bahagia. Dokter itu kemudian jongkok dan mengelus punggung Adam yang masih bersujud.


"Ibu Selenia terus memanggil nama bapak, saya mohon bapak untuk segera ke dalam dan menemuinya," bisiknya tegas.


Kalimat itu membuat Adam langsung bangkit. Setelah mengucapkan terimakasih, dia pun langsung masuk kembali ke ruang ICU dengan perasaan bahagia. Yang lain sebenarnya juga ingin ikut masuk, tapi tidak diizinkan. Karena sesuai prosedur rumah sakit, pasien yang berada di ruang ICU hanya boleh ditemani satu orang saja.


"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar sayang," Adam mengecup kening dan pipi Selenia bergantian. Dia juga menggenggam tangannya erat.


"D-Dam... k-kenapa aku.. a-ada di sini??" tanya Selenia lirih dan terbata.


"Kamu semalam pingsan sayang. Kamu nggak sadarkan diri, makanya aku bawa kamu ke sini..." jawab Adam dengan berurai air mata. "Aku takuuuut banget sayang."

__ADS_1


Selenia mengedipkan matanya perlahan. Air mata mengalir di sisi matanya melihat Adam yang begitu takut kehilangan dirinya.


Selenia tidak bisa mengingat keseluruhan apa yang terjadi padanya semalam. Yang dia ingat, saat itu dia ingin keluar kamar untuk menemui Adam tapi tiba-tiba saja dia merasa jantungnya sakit dan kepalanya seperti berputar. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


"Terus... a... anak kita gi.... gimana?" Selenia meraba perutnya pelan. Ada sedikit perasaan lega melihat bentuk perutnya yang masih membuncit.


Adam menatap sayu ke mata Selenia. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang Dokter sarankan--tentang persalinan yang harus dipercepat dari usia normal.


"Sayang...." Adam membelai kepala Selenia lembut. "Dokter bilang, baby harus dikeluarkan sekarang karena..."


Selenia menggeleng-gelengkan kepala cepat. "Nggak Dam.... a... aku nggak mau... a.. aku maunya..."


"Tapi sayang..."


"Aku nggak mau Daaam..... aku mau melahirkan... sam... sampai usia normal..." isaknya lemah.


Adam menggeleng. "Itu nggak mungkin sayang. Kondisi kamu ngga memungkinkan untuk menunggu sampai usia itu."


Selenia terisak. Adam tidak tega melihat tangisan itu. Dia membenamkan wajahnya di samping lengan istrinya sebentar lalu kembali mendongak. Sembari menghela nafas panjang, dia berusaha menyusun kata untuk membujuk Selenia supaya dia bisa lebih mengerti dan tidak memaksakan diri.


"Tolong kita turutin apa yang disaranin dokter ya sayang.... please... aku mohon. Demi semuanya, demi kamu dan demi anak kita. Ya...." tatap Adam memohon.


Selenia semakin terisak. "Ini se... semua gara-gara.... a.. aku. Aku nggak... bisa jagain anak kita...."


"Ssssshhhhh...." Adam membelai pipi Selenia menggunakan jempolnya. "Kamu nggak boleh berbicara seperti itu. Ini bukan kesalahan kamu. Ini sudah takdir. Mau ya sayang kita turuti saran dokter. Aku janji, aku bakalan nemenin kamu di ruang operasi. Kita berjuang sama-sama," ucapnya mantap.


Adam tidak ingin mimpi buruknya menjadi kenyataan. Dia ingin berada di sisi Selenia saat istrinya itu sedang berjuang melahirkan anaknya.


Selenia pun mengangguk lemah. Ada setitik kekuatan yang menepis ketakutannya. Sikap Adam yang begitu siaga dan menenangkan.


...🌺🌺🌺...


Di luar ruang ICU, Cia berjalan menjauh ke sudut lorong karena ponselnya terus berdering. Ternyata telfon dari Marvin.


"Halo... Marvin maaf ya tadi aku nggak ngabarin kamu dulu. Soalnya aku buru-buru banget."


"Kamu buru-buru kenapa sih? Pantes tadi aku cari ke rumah, Mama kamu bilang kamu udah keluar, pas aku tanya, mama kamu bilang katanya juga enggak tahu. Kan aku jadi bingung. Aku udah siap lho ini kalau mau jalan. Kamu pergi kemana sih yang?!" omel Marvin beruntun.


"Maaf banget yang. Maaaaaaf banget. Aku buru-burunya ke rumah sakit, soalnya..."


"Hah?? Rumah sakit? Kenapa yang? Kamu sakit?" potong Marvin. Nada bicara yang tadinya terdengar ngomel berubah cemas.


"Bukaaaan. Bukan aku yang, aku fine. Tapi aku ke rumah sakit karena jenguk Selenia. Semalem katanya dia pingsan gitu..."


"Hah??? Terus sekarang gimana keadaan dia?"


Cia menceritakan semua yang dia tahu kepada Marvin. Beruntung cowoknya itu bisa memaklumi dan tidak mempeributkan rencana jalan-jalan mereka yang harus tertunda.


"Ya udah nanti aku kabarin kamu lagi ya kalau aku sudah di rumah. Kamu nggak usah ke sini. Di sini banyak orang--keluarga Selenia dan Adam," Cia mencuri pandang ke arah Bu Lisa dan yang lain.


"Ya udah iya deh yang, oke. Kalau gitu aku ketemu temen nggak pa-pa ya."


"Iya nggak pa-pa kok."


"Ya udah bye sayang. See you. Mmuach..."


"Oke sayang. kiss you too."


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2