
Selenia terbangun tepat pukul enam pagi dan Adam masih terlelap di sampingnya. Dia memandang wajah yang tampak damai tersebut dan tersenyum. Wajah yang untuk pertama kalinya dia lihat saat membuka mata. Manis banget.
Selenia lalu bangkit dan turun dari ranjang dengan hati-hati. Dia tidak ingin membuat Adam bangun sekarang karena kasihan, kelihatannya suaminya itu capek banget. Setelah mencuci muka dan subuhan yang udah telat, Selenia lalu bergegas keluar dan menemui Bi Iyah yang sudah stay di dapur.
"Non," sapa Bi Iyah.
Selenia tersenyum kecil. "Pagi bik," dia berjalan mendekati meja dimana Bi Iyah sedang menyiapkan bahan makanan untuk membuat sarapan.
"Gimana? Udah mendingan badannya?" Bi Iyah memang peduli banget.
Selenia mengangguk. "Bibik mau masak apa buat sarapan pagi ini?" tanyanya kemudian.
Bi Iyah mencuci beberapa sayur yang sudah dipotong di kitchen sink. "Pagi ini Bibi mau masak omelette sama nasi goreng. Non Selenia memangnya mau sarapan pake apa?"
"Mmmm...." Selenia menggumam. Dia sebenarnya ingin pagi ini dia yang memasak untuk suaminya. Tapi kan selama ini dia sama sekali tidak paham soal dapur.
Bi Iyah tersenyum melihat ekspresi Selenia. "Apa Non mau bantuin Bibi masak?" tawarnya, bermaksud membercandai.
Mata Selenia berbinar. Tadinya dia mau ngomong begitu sama Bi Iyah, tapi malu. "Boleh deh. Kita masak yang gampang-gampang aja ya Bik. Aku juga pengen bisa masak soalnya."
"Omelette sama nasi goreng itu paling gampang Non."
"Tapi kan aku belum bisa Bik," ucap Selenia lirih.
Bi Iyah tersenyum. "Tenang. Non Selenia nggak usah khawatir. Bibik akan selalu siap bantuin Non," ucapnya.
Selenia mengangguk. Dia senang sekali karena ternyata Bi Iyah tidak merasa keberatan ketika dirinya ikut nimbrung di dapur. Meskipun sesekali dia harus berteriak saat memasukkan bumbu ke minyak panas dan membuat minyak tersebut meletup-letup. Suasana di dapur pun jadi sedikit heboh.
Apalagi Selenia masih mengenakan baju tidur dan lupa memakai apron, membuat bajunya jadi kotor karena terciprat minyak. Melihat hal itu, Bi Iyah pun langsung mengambilkan apron baru yang ada di kabinet dan memberikan padanya. Namun Selenia menolak memakainya karena tanggung. Toh bajunya sudah kotor kena minyak.
...🌺🌺🌺...
Adam terbangun karena mendengar suara berisik dari bawah. Dia mengucek-ucek matanya karena masih ngantuk banget. Namun begitu menyadari Selenia tidak lagi ada di sampingnya, Adam langsung bangkit. Ternyata Selenia sudah berada di dapur bersama Bi Iyah. Dari jauh Adam cuma bisa tersenyum mengamati ekspresi lucu istrinya yang sedang memasak.
"Pagi-pagi udah ribut aja. Pada ngapain sih??" celetuk Adam membuat kedua perempuan beda usia yang tengah sibuk itu tersentak. Dengan langkah gontai dia mendekati meja makan. Adam bahkan masih terlihat khas bangun tidur banget. Asli belum cuci muka. Masih muka bantal.
"Ini lho Pak, Non Selenia minta diajarin masak."
Reflek Selenia menarik daster Bi Iyah. "Enggak kok Dam. Tadi aku kasian aja liat Bi Iyah sibuk sendiri di dapur. Jadi aku bantuin," Selenia menyela ucapan Bi Iyah.
Bi Iyah yang tahu Selenia sedang berbohong cuma bisa menahan senyum. Dia lalu meminta Selenia untuk segera membersihkan diri saja, dan Bi Iyah menjamin saat dia dan Adam kembali ke ruang makan, sarapan sudah siap.
Selenia nurut apa kata Bi Iyah. Dia pergi ke kamar dan kemudian di susul oleh Adam di belakangnya.
"Sayang," panggil Adam saat Selenia hendak masuk kamar.
__ADS_1
Selenia menoleh. "Hmmm...?"
"Gimana tidurnya? Nyenyak? Nggak takut petir lagi kan?" tanya Adam dengan tatapan yang sedikit menggoda.
Bibir Selenia mengerucut mendengar pertanyaan itu. Dia menunduk tersipu. "Apaan sih Dam..." gumamnya sambil terus menatap ke bawah.
Melihat gelagat lucu istrinya, Adam merasa gemas. Dia membelai lembut pipi Selenia. "Ya udah mandi gih, terus kita sarapan."
Selenia mengangguk dan secepatnya masuk kamar lalu menutup pintunya rapat. Ada perasaan malu dan juga bahagia di hatinya.
...🌺🌺🌺...
Kabar tentang Tony yang dirawat di rumah sakit sampai ke telinga Selenia siang itu. Cia yang memberitahukan padanya melalui pesan singkat. Hal itu membuat Selenia jadi menghubung-hubungkan tentang Adam yang semalam tiba-tiba ditelfon Bosnya karena anaknya sakit. Lalu tentang pertemuannya dengan seorang laki-laki yang katanya ada hubungan dengan renovasi aula di sekolahnya. Dan..... Adam yang pernah dia lihat bersama perempuan itu di sana. Jangan-jangan....
"Dam, jadi siapa yang sakit semalam?" Selenia menghampiri Adam di ruang tengah. Suaminya itu sedang membaca beberapa brosur mobil keluaran terbaru.
Adam mendongak. "Maksud kamu?"
"Barusan aku dapet kabar dari Cia, kalau temen aku semalem masuk rumah sakit. Katanya pingsan gitu. Ada hubungannya nggak sih sama orang yang kamu datangi semalam?" tanya Selenia mendetail.
Adam menutup brosurnya dan menghela nafas. Sebenarnya dia tidak mau membahas ini sama Selenia sekarang. Dia mengangguk. "Kenapa memangnya?" tanyanya lirih.
"Jadi, Tony itu anaknya Bos kamu?" Selenia menghempaskan tubuhnya di samping Adam.
"Dia juga yang anter kamu pulang malam itu kan?"
"Pulang dari malam puncak ulang tahun SMA. Yang aku telat jemput kamu," lanjut Adam.
"Oh... iya," jawab Selenia datar. Dia tidak menyangka kalau ternyata hubungan Adam dan bosnya sedekat itu. Sampai-sampai saat anaknya sakit pun dia yang dihubungi.
"Kenapa sih?" Adam menggeser duduknya. "Kok malah diem?"
"Dam...." ucap Selenia lirih.
"Hmm?"
"Perempuan itu siapa sih?" tanya Selenia pada akhirnya. Keluar dari topik pembicaraan. Bukan mau dia juga sebenarnya untuk ngomong soal itu. Tapi beberapa kali sosok itu seperti mengganggu pikirannya. Sudah lebih dari sekali juga Selenia bertemu perempuan itu kan? Apalagi waktu di rumah sakit, Adam juga terlihat care banget padanya.
Alis Adam terangkat. "Perempuan.... yang mana?"
Selenia mendengus pelan. "Jangan pura-pura nggak tahu deh. Memangnya kamu pernah ketemu siapa pas sama aku?"
"Oohh...." Adam terkekeh. "Yang ketemu kita di rumah sakit?"
Selenia mengangguk. "By the way, sebelum itu aku juga pernah lihat kamu sama dia di sekolah."
__ADS_1
"Oh ya? Kalau gitu kenapa kamu nggak panggil aku?" Tanya Adam ringan. Ungkapan Selenia soal kunjungannya bersama Renata ke sekolah waktu itu tidak membuatnya kaget di dengar hari ini.
"Hmmmh...." Selenia menyilangkan kedua tangannya. "Buat apa? Kamu juga kayaknya akrab banget sama dia."
Tanpa sadar ekspresi Selenia itu menegaskan sebuah bahasa tubuh yang lain di mata Adam. Istrinya itu sedang cemburu pada Renata. Jadi untuk membantah dugaan tersebut, Adam merangkul bahu Selenia pelan.
"Namanya Renata. Dia sekretaris aku di kantor," jawab Adam.
"Oh. Jadi kamu punya sekretaris pribadi?"
Adam mencoba menahan tawanya. Nada bicara Selenia menegaskan maksud lain. "Cemburu ya?" bisiknya tepat di telinga kiri Selenia.
Selenia yang merasa geli reflek menjauhkan wajahnya. "Bukan gitu maksud aku...."
"Terus?"
Selenia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia merasa pipinya sudah seperti kepiting rebus karena malu. Malu karena suaminya itu menyadari kalau dia tengah merasakan cemburu. Aduuuuh... kenapa kamu jadi semakin nggak bisa menahan diri sih Sel?? gerutunya dalam hati.
Tapi beruntung, sebelum Adam terus mencerca dengan pertanyaan yang akan semakin membuat dia terpojok, ponsel di genggamannya berdering. Ternyata Cia yang menelfon.
"Halo Ci," sapa Selenia. Dia belum beranjak dari posisi duduknya.
Adam melepas rangkulannya. Perasaannya mulai nggak enak mendengar Selenia membahas soal Tony dengan sahabatnya.
"Gue udah oke sih," kata Selenia pada Cia sembari melirik Adam. "..... malam ini?" gantian Adam melirik Selenia. "... oke, lo jemput gue aja ke rumah.... okeeeey... daaagh..."
Obrolan mereka berakhir.
"Kamu sama Cia mau ke mana?" tanya Adam setelah Selenia selesai menerima telfon.
"Entar malem Cia mau jemput aku. Kita mau jenguk Tony ke rumah sakit," jawab Selenia ringan.
"Tapi kan kamu sendiri masih sakit Sel," ujar Adam.
Selenia menahan senyum. "Aku udah mendingan kok. Lagian nggak enak juga. Kemarin waktu aku sakit Tony juga jenguk aku."
"Apa??" Adam membelalak. "Tony?? Datang ke rumah ini??"
Selenia mengangguk mantap. Sementara tubuh Adam justru melunglai. Dia menyesalkan istrinya yang terlalu bebas mengizinkan orang asing masuk ke rumah mereka. Bukan apa-apa, kalau Cia mungkin Adam masih bisa memaklumi. Setidaknya dia tidak akan membahayakan posisi mereka. Tapi Tony seolah seperti menjadi rivalnya. Kalau sampai anak itu tahu tentang pernikahan rahasia ini, bagaimana?
"Sel, kamu tahu kan pernikahan kita itu..."
"Kamu nggak usah khawatir soal itu Dam," potong Selenia seolah tahu apa yang sedang dicemaskan Adam. "Kamu percaya sama aku kan?"
Adam hanya tertegun. Dia tidak bisa mengiyakan pertanyaan Selenia pun juga tidak bisa membantah. Dia hanya mengangguk. Setidaknya untuk mencegah perdebatan.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...