NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -115-


__ADS_3

"Cieee, nyonya CEO," goda Cia pada Selenia di sekolah.


"Ck, asem lo."


Seperti biasa, pagi itu mereka berjalan bersamaan menyusuri koridor menuju ke kelas. Perasaan Selenia masih berbunga-bunga mengingat peristiwa semalam. Dia memang capek, tapi sesampainya di rumah, malah sama sekali nggak bisa tidur. Dia dan Adam ngobrol sampai hampir lewat tengah malam, hingga akhirnya terbawa suasana dan...... mereka "bermain" lagi. (ups!)


"Gue jadi inget sama cerita-cerita di novel online itu, yang temanya CEO-CEO gitu. Eh, taunya malah sahabat gue sendiri jadi istrinya CEO tampan uwuwww....!" Selenia mencubit pipi Selenia gemas. Dia lalu menurunkan tangan ke perut Selenia dan berbisik. "Dan ini calon Baby CEO.... aaaaa... kenapa gue jadi gemes bangeeeett...!"


Selenia reflek membekap mulut Cia. Suasana koridor memang sepi. Tapi sekolah tetap bukan menjadi tempat yang tepat untuk merayakan euforia semacam ini kan?


"Iih Cia... bisa diem nggak sih??" gerutu Selenia.


"Hmmmpppfffhhh..." Cia menahan tawa di dalam bekapan Selenia, membuat air ludah yang hampir muncrat jadi menempel di telapak tangan Selenia.


"Cia jorok ih!" Selenia langsung melepaskan bekapan tersebut dan mengibas-ngibaskan tangannya. "Cia jorooook....!" dia mengusapkan telapak tangannya di lengan Cia.


Cia menjulurkan lidah. "Wlekk! Siapa suruh asal bekap-bekap. Gak tahu orang lagi gemes apa?"


"Iya tapi lo nggak perlu ngomong istri, hamil dan baby CEO di tempat kaya gini Cia..." Selenia menggertakkan gigi. "Asal banget sih kalau njeplak!"


"Iya iya maaf. Lagian lagi sepi ini," Cia celingukan. "Udah ah, buruan yuk ke kelas. Praktek fisika jam pertama lho," dia menarik tangan Selenia untuk segera bergegas menuju kelas.


Di ujung koridor mereka berpapasan dengan Tony. Anak itu membawa sekumpulan alat elektronik yang dimasukkan ke dalam kantong plastik.


"Hei, bahan ujian praktek?" Cia menunjuk kantong plastik di tangan Tony.


"Yups. Kalian baru datang?"


Selenia dan Cia mengangguk bersamaan. Mereka bertiga kemudian berjalan beriringan.


"Hari ini ujian praktek fisika juga?" tanya Tony.


"He'em. Jam pertama malah," jawab Cia.


"Alat-alat kalian mana?"


Selenia dan Cia menunjuk tas masing-masing.


"Ehm, oh iya Selenia...." Tony mengulurkan tangannya pada Selenia sembari berjalan. "Selamat ya... untuk pencapaian.... suami kamu," bisiknya pada kata suami. Dia sudah mendengar tentang Adam dari Ayahnya.


Selenia membalas uluran tangan Tony dengan canggung. Saat menikmati momen ini di gedung malam itu, dia merasa begitu istimewa. Tapi saat mendapat ucapan semacam ini di sekolah, kok rasanya aneh ya. Sekalipun Tony dan Cia sudah tahu tentang dirinya.


"Makasih ya Ton."


"Ini kenapa sih pada jabat-jabatan tangan?" Lala tiba-tiba muncul entah dari mana. "Ada apaan? Kayaknya ada momen penting?"


Cia mendesah kesal. "Kayaknya bukan urusan lo deh, ngapain lo nimbrung-nimbrung?" tanyanya tidak suka.


"Ampun deh Cia, lo kenapa sewot banget sih?" balas Lala tak kalah jutek. "Gue kan nanya, salah?"


Cia tidak menjawab dan hanya menyilangkan kedua tangannya dengan mimik sebal. Tapi Lala tidak menggubris. Dia justru mengalihkan pandangannya pada Selenia dan tersenyum sok manis. Lalu tanpa Selenia duga, tiba-tiba tangan Lala terulur lurus ke arah perutnya yang telah dilapisi korset sembari menyeletuk...


"Apa cuma gue yang ngerasa kalau Selenia tambah berisi?" Lala melirik ke arah Tony, meminta dukungan. Tapi ternyata anak itu malah tidak merespon apa-apa.


Mata Selenia membulat kaget dan reflek bergerak mundur. Menghindari sentuhan tangan Lala ke perutnya.


"Ups, maksud gue... Selenia agak gemuk. Lho, kenapa Sel?"


Tony mengernyitkan kening melihat tingkah Lala. Feelingnya mengatakan kalau Lala mengetahui kehamilan itu, tapi dari mana?


Sementara Cia yang dasarnya nggak pernah seserver sama Lala, menampik tangan Lala dengan kasar, membuat Lala menatap emosi ke arahnya.


"Lo apa-apaan sih Cia?! kasar banget jadi cewek?!" Lala mendorong pundah Cia kasar.


Cia tak mau kalah. Dia balas mendorong Lala hingga anak itu terpepet ke tembok.


"Lo yang apa-apaan! Asal nimbrung dan ngomong nggak jelas! Apa maksud lo ngomong kaya gitu?!"


"Gue cuman ngomong Selenia tambah berisi emang salah?! Kenapa sih kaya pada takut gitu? Emang ada yang kalian sembunyiin?"


Selenia semakin merasa tidak nyaman. Dia berusaha menarik tangan Cia mengajaknya segera pergi dari sini. Tapi Cia masih menahan langkah.


"Sembunyiin apa? Lo mau bikin gosip apa? Emang dasar lo ya biang gosip!"


"Haha..." Lala tergelak memaksa. "Gosip?" dia melirik Selenia dan memperhatikan wajahnya. "Gimana kalau ternyata yang gue omongin bukan gosip, tapi.... fakta?" tandasnya dengan tatapan masih mengarah pada Selenia. "Iya, fakta. Maksudnya berisi... berisi sesuatu gitu..."


Alis Selenia terangkat dan dia menggeleng-gelengkan kepala. Jantung Selenia berdebar. Dia khawatir Lala jadi nekat kalau Cia terus memojokkannya.


"Cia, udah!" tukas Selenia.

__ADS_1


"Fakta apa?!! Hah?!!" Cia masih emosi.


"Cia... udah... ayo kita ke kelas," Selenia menarik paksa tangan Cia. "Kita harus persiapkan materi buat praktek, oke?" ucapnya setenang mungkin.


Dengan langkah terseret, Cia berjalan sambil terus melihat ke belakang di mana Lala mulai merapikan rambut dan bajunya di depan Tony yang masih mematung di tempat.


"Maksud lo apa sih La? Lo kenapa sih pagi-pagi udah bikin ribut?" tanya Tony lirih tapi bernada penuh emosi.


Lala tersenyum licik.


"Hhh... gue nggak yakin lo nggak tahu apa-apa tentang Selenia. Lo bahkan deket banget sama dia. Atau... lo cuma pura-pura nggak tahu.... tentang.....ah udahlah, yang namanya bangkai lama-lama pasti juga bakal kecium," dia menggeleng-gelengkan kepala dan langsung pergi.


...🌺🌺🌺...


Ditemani seorang laki-laki yang berstatus sebagai supervisor di perusahaan Papanya, Adam berkeliling melihat-lihat area kantor yang sudah lama tidak dia jamah. Tempat ini sudah mengalami banyak sekali perubahan semenjak terakhir kali dia datang ke sini. Kalau tidak salah 2 tahun yang lalu. Kesibukannya di perusahaan orang lain, membuatnya lupa kalau dia memiliki tanggung jawab yang lebih besar sebagai penerus tunggal orang tuanya.


Setelah puas berkeliling, bertemu beberapa karyawan dan berbincang dengan mereka, Adam meminta supervisornya itu untuk kembali bekerja, sementara dia mulai memasuki lift. Telunjuknya menekan tombol angka 20, dan lift mulai bergerak membawanya ke lantai paling atas.


Lantai paling atas ini masih kosong. Namun ada beberapa ruangan yang telah siap dengan isi di dalamnya. Adam juga belum bertanya pada Papanya untuk apa nantinya ruangan ini. Tapi dia punya planning ingin mengubah lantai paling atas ini menjadi rumah kedua untuknya dan Selenia. Semacam apartemen yang merangkap kantor begitu kan? Ruangan ini cukup luas kalau hanya akan dibagi menjadi beberapa ruangan seperti kamar tidur, ruang keluarga, ruang tamu, dan dapur. Tapi dia akan membicarakan ini terlebih dahulu dengan Selenia. Seandainya istrinya itu setuju, secepatnya Adam akan segera memproses renovasinya.


Adam berdiri di tepi jendela besar, menatap keluar. Dari sini suasana kota tampak terlihat sangat jelas. Dan dari sini juga saat senja menjelang dia akan bisa melihat sunset. Benar-benar perfect.


Adam melasakkan tangannya ke saku celana dan terdiam. Untuk sampai pada titik ini bukanlah sesuatu yang mudah. Masa-masa sulit tentang awal pernikahannya dengan Selenia, jelas tidak bisa dia lupakan begitu saja.


Otaknya memflashback ke masa itu. Saat dimana dia tiba-tiba diminta untuk menikah dengan Selenia oleh Mamanya. Sebuah permintaan yang sangat mendadak dan sama sekali tidak bisa dia tolak. Menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia kenal kepribadiannya, dan di saat dia masih merasa sangat patah hati karena baru saja putus dari cinta pertamanya Finna. Perempuan yang memutuskannya lewat email hanya karena tidak sanggup menjalani LDR. Ah, Finna... apa kabarnya dia sekarang? Mungkin dia juga telah menemukan belahan hatinya di negara paman Sam itu. Sejak hubungan mereka berakhir, Finna tidak pernah lagi menghubungi Adam. Mungkin dia marah karena Adam tidak mau menuruti permintaannya untuk menyusul ke LA. Tapi itu sudah masa lalu yang sudah Adam kubur dalam-dalam. Dan masa kininya Adam adalah Selenia dan calon anak mereka.


Adam mengingat saat dia dan Selenia disandingkan di sebuah ruangan rumah sakit, di depan tubuh seorang perempuan yang terbaring lemah--tante Kalila--mamanya Selenia. Orang yang ternyata telah membuat kesepakatan dengan Mamanya untuk menikahkan anak-anak mereka. Selenia yang saat itu tampak canggung dan sama sekali tidak mau menatap wajahnya. Sampai saat semua orang yang ada di ruangan itu mengatakan SAH setelah dia selesai mengucapkan ijab qobul di depan penghulu, baru anak ABG imut nan lucu itu menjabat dan mencium tangannya dengan hati-hati. Entah karena malu atau marah, Adam juga tidak tahu.


Lalu setelah pernikahan itu, dan Adam memboyong Selenia ke rumahnya, sikap dingin dan cueknya Selenia benar-benar membuat Adam tidak tahu harus berbuat apa.


Tapi kini semuanya telah berubah. Pernikahan yang dia pikir akan berakhir karena tidak pernah ada cinta diantara keduanya, semakin menghangat dan penuh cinta. Bagi Adam, Selenia tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Dia berjanji akan selalu mencintai gadis itu sampai kapanpun.


Adam tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya jika ingat sebentar lagi statusnya akan naik satu tingkat menjadi seorang Ayah. Ah, lengkap sudah kebahagiaan keluargaku. Semoga Tuhan selalu menjaga kami.


Ponsel di dalam sakunya berdering menyentakkan lamunannya. Ternyata dari Papa.


"Halo, iya Pa."


...🌺🌺🌺...


Anak-anak di kelas Selenia baru saja menyelesaikan ujian praktek. Praktek yang seharusnya diadakan di laboratorium, terpaksa dilaksanakan di kelas masing-masing karena jadwalnya sedang bersamaan.


Ini adalah ujian praktek kedua setelah beberapa hari sebelumnya mereka melaksanakan ujian praktek seni dan budaya.


Suara berisik terdengar di ruangan kelas tersebut. Ada yang ngerumpi, maen game dan nonton video di ponsel. Cia dan Selenia... entahlah, dari tadi Lala memperhatikan mereka, sepertinya kedua sahabat itu sedang membahas sesuatu yang seru. Sesekali terlihat Cia tergelak, begitu juga dengan Selenia.


Lala berdiri tanpa seorang pun yang memperhatikan gerakannya. Dengan santai dia berjalan ke depan kelas dan berhenti di podium, mengedarkan pandangan ke ruangan kelas dan kemudian bertepuk tangan dengan keras sebanyak tiga kali tepukan.


Suasana yang tadinya riuh dan berisik mendadak hening. Semua mata tertuju pada Lala.


"Hei guys, sorry banget gue ganggu waktu kalian semua. Gue janji nggak akan ngomong banyak, cuma izinkan gue buat mengungkap sesuatu," ucapnya lantang.


Selenia dan Cia saling tatap. Perasaan Selenia mulai tidak menentu saat pandangannya beradu dengan Lala dan anak itu justru tersenyum licik.


"Apaan sih La? Bentar lagi istirahat weh, jangan minta kita buat nyatet atau ngerangkum dari buku ya. Mentang-mentang jabatan lo sekretaris!" celetuk salah seorang anak yang langsung disusul tawa temannya.


"No....no.... no...!" Lala terbahak sembari mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Ini diluar konteks, nggak ada hubungannya sama jabatan gue di kelas ini sebagai sekretaris."


"Huuuuu...." beberapa anak mencibir.


"Oke, jadi gini. Sebelum gue mengungkapkan sesuatu, gue mau nanya sama kalian," lagi-lagi Lala menatap ke arah Selenia dan Cia. "Seandainya... seandainya nih ya, di kelas kita ada satu siswi yang...... pregnant....dan dia masih tetap maksain diri buat masuk sekolah, gimana tanggapan kalian. Apa kalian masih mau nerima dia jadi temen kelas kalian?"


DEG! Jantung Selenia berdebar semakin kencangm Lala benar-benar berulah.


"Apaan sih lo La? Pertanyaan nggak mutu banget!" sahut seorang anak.


"Lagian lo tu ngomongin siapa sih? Diri lo sendiri? Hahahaha..." sahut yang lainnya lagi.


"No guys! Ini gue nanya serius!" Lala terus berbicara. "Karena kalau menurut gue pribadi, ya gue sih nggak mau ya di dalam kelas kita ada siswi yang kaya gitu. Itu kan sudah... apa ya namanya, ya kalian pikir aja deh, masih sekolah dan hamil... oh my god..." lanjutnya dengan gaya centil. "Is she...???"


Cia sudah hampir berdiri tapi ditahan oleh Selenia.


"Sel, dia lagi ngomongin lo, jangan sampai dia bicara lebih jauh!" ucap Cia geram.


Selenia menggeleng tapi dia sudah hampir menangis. Saat ini anak-anak masih sibuk memperhatikan Lala di depan kelas yang masih mengoceh. Lala juga mengeluarkan ponsel dari dalam saku bajunya dan memutar sebuah rekaman audio dengan volume paling keras.


"Oke mungkin omongan gue kalian anggap nggak guna, tapi gue pengen kalian semua denger ini," Lala menekan tombol di ponselnya.


"Jadi Ibu kenal sama temen saya yang namanya Selenia Effendi?"

__ADS_1


Jantung Lala semakin berdebar saat namanya di sebut dalam rekaman itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa di kursinya. Anak-anak bahkan mulai menoleh menatapnya.


"Oh kenal dong. Jadi dia teman kamu?"


Itu suara Dokter Lula. Selenia kenal banget dengan suara itu.


"Iya dok. Jadi gini, akhir-akhir ini saya sering melihat dia tu kaya murung banget gitu, nggak kaya biasanya. Tiap kali saya nanya apa yang bikin dia murung, dia selalu menghindar untuk menjawab. Dan tempo hari saya pernah nggak sengaja ketemu dia di sini, sama laki-laki dan seorang perempuan, apa itu.... ada hubungannya dengan Selenia? Mereka datang ke sini untuk apa? Selenia masih seusia saya lho Bu, dan dia menyambangi SPOG. Kan aneh..."


"Iya, mereka datang ke sini untuk memeriksakan..... eh tapi maaf, kamu beneran temannya Selenia?"


"Kok Ibuk nggak percaya sih? Saya sekelas sama dia, di SMA Bhakti Nusa. Makanya itu, saya nanya sama ibuk, karena saya khawatir terjadi sesuatu sama temen saya itu. Mereka datang ke sini memeriksakan apa? Apa teman saya itu sedang sakit serius?"


"Eheheh..."


Terdengar suara Dokter Lula terkekeh yang khas dia banget.


"Dia tidak sedang sakit kok, dia hanya.... sedang hamil dan saat itu dia datang ke sini dengan pacar dan calon mertuanya."


"What?? Apa? Serius?!" terdengar suara anak-anak saling menyahut dam kembali menatap ke arah Selenia yang sama sekali tidak bereaksi.


Tapi dari sorot matanya, Selenia merasa sangat terluka dengan apa yang telah dilakukan Lala. Cia berdiri dan langsung menghampiri Lala.


"Lo apa-apaan sih La?!!" Cia mendorong Lala hingga anak itu terjengkang. Ponsel di tangannya jatuh.


"Auuh!!! sakitt!!"


"Lo tuh emang bener-bener ya!!" emosi Cia semakin tak terkendali. Dia berusaha menjambak rambut Lala tapi beberapa anak bergerak cepat melerai pertengkaran itu.


"Cia... Lala... udah..." teriak salah seroang anak.


Ponsel Lala yang tergeletak di lantai sayup-sayup masih memutar rekaman suaranya dan Dokter Lula.


"Jalan 4 bulan..... jaga teman kamu..... jangan buat dia stress.... jangan bongkar apapun..... kasihan.... sebentar lagi ujian kan..... saya pastikan perutnya masih bisa dikondisikan sampai tanggal ujian tiba.. suruh dia memakai seragam yang agak longgar... sejujurnya saya kaget tapi sepertinya dia malah bahagia dengan kehamilannya ini...." Ponsel itu diambil salah seorang anak lalu didengarkan dengan beberapa anak lain.


Selenia tidak tahan lagi. Dia marah, malu dan terluka. Dengan cepat, dia meraih tasnya dan berlari keluar kelas.


BRUK!! Selenia bertubrukan dengan Tony dan membuatnya terjatuh. Tapi dia segera berdiri dan terus berlari.


"Sel!!!" Cia keluar dan berteriak.


"Cia? Ada apa ini? Selenia kenapa?"


Cia tidak menggubris pertanyaan Tony. Dia balik ke kelas mengambil tas dan langsung berlari menyusul Selenia yang telah jauh.


Saat mendengar celetukan-celetukan dari mulut anak-anak di kelas Selenia tentang hamil, hamil di luar nikah... bla... bla... bla... dan melihat Lala yang berdiri di podium kelas dengan tampang puas, Tony yakin Lala pasti telah berulah. Jadi dia membongkar rahasia itu?


Tony menatap Lala tajam.


...🌺🌺🌺...


"Buka gerbangnya pak!!" teriak Selenia pada satpam sambil menangis.


"Lho, nggak bisa to mbak. Ini kan masih jam sekolah, memangnya mbak Selenia mau bolos?!"


"Kalau saya bilang bukain, BUKAIN!!" teriak Selenia penuh emosi. "Oke saya akan naik kalau...."


"Iya... iya... mbak... saya bukain... iya..." Pak Sauhari nyerah. Sambil celingak-celinguk dia membukakan pintu gerbang dan Selenia langsung keluar.


Tepat saat itu juga, sebuah taksi meluncur dari ujung jalan dan langsung diberhentikan oleh Selenia.


"Seeeel!!!" teriak Cia saat Pak Sauhari kembali menutup pintu gerbang. Saat itu juga dia melihat Selenia masuk ke dalam taksi yang dengan cepat segera meninggalkan sekolah.


"Ada apa mbak Cia? Mbak Cia mau bolos juga? Nggak boleh... soalnya..."


"Hah... hah... hah... Pak... hah..." Cia ngos-ngosan. "Tolong bukain lagi Pak... hah... teman saya... dalam bahaya..."


"Apa?!" Pak Sauhari membelalak. "Mbak Selenia to? Kenapa dia?"


"Makanya bukain!" bentak Cia. "Kalau saya ngejelasin ke bapak sekarang, bisa telat!!"


Ikutan panik, Pak Sauhari buru-buru membuka pintu gerbang itu kembali dan Cia langsung keluar.


Cia berlari ke halte, celingukan mencari taksi tapi tak kunjung muncul. Akhirnya dia memutuskan untuk memesan taksi online.


"Bener-bener brengsek si Lala!"


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2