
Tony terbaring di atas tempat tidur rumah sakit, menunggu proses pengambilan darahnya selesai, ditemani Marvin yang duduk di sebelahnya. Sementara di tempat lain, Pak Fendi, Bi Iyah dan Cia berada di depan ruang pemeriksaan. Mereka bertiga juga was-was menanti dokter yang tengah menangani Selenia di dalam.
"Bagaimana keadaan anak saya Dok??" sambut Pak Fendi cemas saat seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.
"Kondisi anak bapak sangat lemah karena dia terlalu syok dan.......tensi darahnya juga sangat rendah," terang si dokter. "Namun beruntung itu tidak berpengaruh pada janin yang ada di dalam kandungannya...."
"Apa dok?!" sahut Pak Fendi kaget. "Janin? Anak saya hamil?"
Begitu juga dengan Bi Iyah yang cuma bisa melongo.
Dokter itu mengangguk dan tersenyum. "Iya, Pak. Usia kandungannya baru memasuki 8 minggu. Tentunya masih sangat rawan. Jadi saya harap, Bapak dan keluarga yang lain bisa selalu mendampingi dia untuk melewati semua masalah ini ya."
Pak Fendi mengangguk lemah. Setelah dokter itu berlalu, dia mendekati Cia yang tampak menunduk takut. Tentu saja, karena Cia ingat betul bahwa Ayah Selenia memberi larangan khusus kepada Adam dan Selenia meski mereka telah berstatus sebagai suami istri.
"Cia, apa kamu sudah mengetahui tentang ini dari jauh-jauh hari?"
Cia mengangguk, membuat Pak Fendi mendesah kecewa. Bagaimana ini bisa terjadi? Selenia kan masih sekolah. Kenapa mereka tidak menghiraukan pesan itu?
"Bagaimana bisa mereka melakukan ini?" gumam Pak Fendi dengan tatapan tajam ke arah pintu kamar perawatan Selenia.
Cia sontak mendongak. Maksudnya, Ayahnya Selenia menyalahkan perbuatan itu?
"Tunggu Om!" Cia menahan langkah Pak Fendi yang sudah hendak bergegas masuk ke kamar perawatan. "Om mau apa? Om mau nanyain ke Selenia soal kehamilan itu?" dia seolah tahu apa yang akan dilakukan Pak Fendi, dari raut wajahnya.
Pak Fendi menoleh dan menatap Cia dengan tatapan kecewa. Bi Iyah yang berada tak jauh dari mereka masih terbengong-bengong karena belum bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar kalau Selenia ternyata hamil.
"Cia, kamu tahu kan Selenia masih sekolah? Masa depan dia masih panjang."
"Kalau begitu kenapa dia harus menikah sekarang Om?!" balas Cia dengan pertanyaan yang sarat akan penekanan. "Jadi bukan salah dia kalau sekarang dia hamil, karena dia memang mempunyai suami. Om tidak bisa melarang mereka untuk tidak melakukannya sementara Om dan orang tua Adam mengizinkan mereka tinggal satu atap," mata Cia berkaca-kaca. Sakit sekali rasanya melihat reaksi Pak Fendi yang tampak tidak senang mendengar berita kehamilan Selenia, padahal Selenia justru merasa sebaliknya.
Pak Fendi terdiam. Bi Iyah yang tadinya berada di pihak Pak Fendi--karena memang belum saatnya Selenia hamil di usianya sekarang--berubah pikiran begitu mendengar kalimat yang diucapkan Cia.
"Cia.... tapi bagaimanapun mereka itu...."
"Mereka suami istri Om," potong Cia tegas. "Mereka nggak salah, nggak ada yang salah di sini. Adam? Selenia? Nggak Om..... maaf kalau saya lancang..." air mata Cia sudah mengalir di pipinya. "Tapi seharusnya Om bisa merubah pola pikir itu. Perlu Om tahu, saat ini Selenia seharusnya sudah berbahagia karena akhirnya dia bisa memberitahukan tentang kehamilannya ke Adam. Om nggak tahu kan gimana excitednya dia mempersiapkan birthday dinner malam ini untuk Adam, hanya untuk memberitahukan pada Adam bahwa dia sedang hamil. Dia bahagia Om... dia bisa menerima kehamilannya.... dan bahkan dulu.... dia bisa menerima pernikahan itu meski dia merasa berat...." Cia terisak.
__ADS_1
"Sekarang gantian dong..... Om dan orang tua Adam untuk bisa menerima kenyataan ini. Jangan malah menyalahkan Selenia ataupun Adam. Jangan buat Selenia tambah sedih Om. Saat ini perasaan Selenia sedang hancur..... dia sedang rapuh!"
Suasana hening. Pak Fendi tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang diucapkan Cia benar. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Bukankah seharusnya dia bersyukur karena pernikahan itu ternyata membuat hidup anaknya bahagia?
Laki-laki paruh baya itu memejamkan mata, menyesali apa yang baru saja terlintas di pikirannya. Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Dia menatap Cia yang sudah berdiri di depan pintu ruang perawatan sambil menangis. Anak semata wayangnya tidak hanya memiliki suami yang bisa membuatnya bahagia, tapi juga sahabat yang bisa mengerti dan ada untuknya dalam keadaan apapun, melebihi dirinya.
Pak Fendi berjalan mendekati Cia, dan merengkuh bahu anak itu.
"Maafkan Om ya Cia." ucap Pak Fendi pelan. "Om sadar, ternyata Om terlalu egois kepada mereka."
Air mata Cia mengalir semakin deras. Dia mengangguk. Setelahnya, dia langsung membalikkan tubuh dan masuk ke dalam ruang perawatan Selenia, disusul oleh Bi Iyah.
Selenia terbaring lemah di atas tempat tidur dengan tatapan sayu.
"Sel...." Cia langsung memeluk Selenia dan menangis tersedu-sedu. "Lo harus kuat... lo jangan kaya gini.... kasihan anak lo...."
"Mbak Cia benar, Non. Non Selenia nggak boleh mikir yang aneh-aneh," sambung Bi Iyah sambil mengelus-elus kaki Selenia. "Pak Adam pasti baik-baik saja... Pak Adam itu orang baik... kita berdoa sama-sama ya Non....."
"Tapi darimana kita bisa dapetin darah itu Cia? Lo denger kan apa yang dibilang dokter tadi?" Selenia terisak. "Kalau sampai terlambat.... mereka bilang...."
"Siapa Ci?"
"Nanti lo juga bakal tahu. Yang penting sekarang lo jangan mikir macem-macem," Cia memaksa tersenyum di tengah isakannya. Tangannya meraba perut Selenia yang masih rata. "Kasian dia....... lo harus yakin kalau Adam pasti bisa melewati semua ini."
...🌺🌺🌺...
"Gue ke kamar nyokap gue dulu ya Vin," kata Tony saat mereka baru saja keluar dari ruang pengambilan darah.
"Lo yakin nggak pa-pa? Muka lo kaya pucet gitu," Marvin khawatir.
Tony menggeleng. "Namanya juga baru aja diambil darahnya. Wajar lah," dia tersenyum singkat.
"Ya udah, gue juga mau nyamperin Cia. Salam buat Tante Riska ya."
Mereka kemudian berpisah di ujung lorong. Setibanya di kamar rawat Mamanya, Tony melihat Mamanya tertidur pulas sementara Papanya sedang membolak-balik majalah di sofa.
__ADS_1
"Kamu dari mana Ton? Kok lama banget?" Pak Anton menutup majalahnya saat Tony mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Kantin Pa," jawab Tony.
"Apa yang kamu makan? Ke kantin kok sampe berjam-jam," Pak Anton terkekeh. Dia melirik jam tangannya dan mendesis. Sudah hampir tengah malam, dan dia tidak bisa tidur sementara besok ada meeting pagi.
Pak Anton mengeluarkan ponselnya, mencari nomor Adam dan menekan icon call.
"Papa mau ngapain?" tanya Tony saat dia sempat mencuri pandang ke layar ponsel Pak Anton.
"Mau nelfon Adam ni, nanyain besok materinya buat meeting udah kelar apa belum," dia menempelkan ponselnya ke telinga.
"Biasanya kalau ada meeting pagi, dia jam segini belum tidur," seketika kening Pak Anton mengerut. "Kok nomernya nggak aktif ya...?"
Deg! Jantung Tony berdebar. Papanya kan belum tahu kalau staff kesayangannya itu sedang mendapat musibah. Dia ingin memberitahu, tapi keburu takut karena membayangkan bagaimana ekspresi Pak Anton setelah mendengar kabar itu. Tapi..... Papanya kan tetap harus tahu.
"Pa..." Tony menegakkan tubuhnya.
"Ya?" Pak Anton masih mencoba menghubungi nomor Adam lagi.
"Papa pasti belum tahu ya, kalau malam ini Adam kena musibah?"
Pak Anton reflek langsung menjauhkan ponsel dari telinganya dan menoleh ke arah Tony.
"Musibah?"
"Dia ditusuk orang Pa, dan sekarang dia ada di rumah sakit ini, di ruang ICU."
"APA?!!" mata Pak Anton melebar. Ponsel dalam genggamannya pun langsung jatuh ke lantai. "Yang bener kamu Ton?? Kamu tahu dari mana?"
"Aku tahu Pa, karena aku baru saja mendonorkan darahku untuk dia."
Nafas Pak Anton tertahan antara bangga dengan apa yang dilakukan anaknya, sekaligus cemas dan kaget dengan apa yang terjadi pada Adam. Setelah memungut ponselnya kembali, diapun segera bergegas keluar dari kamar rawat mantan istrinya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...