
"Stop...! Stop...!" Selenia terpaksa berteriak untuk mengalahkan suara deru mesin motor Tony yang menggema. Mereka sudah sampai di depan rumah Selenia.
Tentu saja aba-aba mendadak itu membuat Tony spontan menginjak rem hingga membuat posisi tubuh Selenia merapat ke tubuhnya. Merasa aneh, Selenia langsung turun begitu motor berhenti.
...Erland Antonio Adigunawa (Tony)...
"Ini rumah kamu?" Tony melihat ke halaman rumah yang tampak sepi. Tapi pintu pagarnya masih terbuka.
Selenia mengangguk sekaligus mengernyit mendapati mobil Adam belum ada di rumah. Jadi kemana dia? Dan kenapa nomornya nggak aktif?
"Makasih ya Ton." Selenia tersenyum getir. "Tapi ma'af, kamu nggak mungkin bisa mampir. Ini udah malam." Dia melirik jam tangannya. Jam 12 kurang lima menit.
Tony tersenyum simpul. Wajahnya juga terlihat sayu karena mengantuk. "Santai aja. Aku kalo maen ke rumah orang juga liat-liat waktu kali." guraunya. "Ya udah kamu buruan masuk gih, trus istirahat. See you next time ya..."
"Daaaghh..." Selenia melambaikan tangannya.
BRUM..!! BRUM...!!
Tony memainkan gas motornya sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Selenia.
Selenia menghela nafas dan berbalik. Dia masih heran dan bertanya-tanya, kemana Adam sebenarnya. Sembari berjalan memasuki halaman rumah, tangannya merogoh ke dalam tas dan mengeluarkan ponsel. Dia ingin mencoba menelfon nomor Adam lagi. Namun baru saja dia akan menekan tombol hijau untuk memanggil, tiba-tiba terdengar suara klakson dari arah belakang. Selenia menoleh dan secara reflek langsung meloncat menepikan diri saat mobil Adam memasuki halaman.
"Adam..." gumam Selenia. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Adam keluar dari mobil dengan lesu dan berjalan gontai menghampiri Selenia. Sebenarnya dia sudah melihat dengan siapa istrinya itu pulang malam ini.
Jadi, tadi saat adam mulai memasuki komplek, dia melihat sebuah motor dengan penumpang berboncengan. Posisinya sekitar 200 meter di depannya. Dari pakaiannya, Adam langsung tahu kalau itu Selenia. Penasaran, dia memutuskan untuk berhenti jauh di belakang mereka saat Selenia dan Tony berhenti tepat di depan rumahnya. Dari jauh Adam memperhatikan mereka. Rasanya sakit sekali melihat Selenia begitu akrab dengan teman sekolahnya sendiri. Tapi bukan salah Selenia juga kalau dia harus pulang dengan orang lain. Andai saja ponselnya nggak pake acara kehabisan batrei segala.
"Syukurlah kamu udah di rumah." Adam bernafas lega. "Siapa tadi yang anter kamu?"
Mata Selenia mendelik mendengar pertanyaan Adam yang terkesan mengintrogasi. "Temen aku." jawabnya ketus. "Habisnya kamu dihubungin susah banget, nomor kamu juga nggak aktif." imbuhnya dengan memberikan tatapan jengkel.
Adam menghela nafas dan manggut-manggut. Lucu juga melihat ekspresi Selenia kalau lagi jengkel, pikirnya.
Okey, nggak ada gunanya mempeributkan dengan siapa Selenia malam ini pulang. Dia sekarang sudah ada di rumah dalam keadaan baik-baik saja itu sudah cukup. Tahan dirimu Adam, jangan bersikap berlebihan.
"Iya aku minta maaf, aku nggak tahu kalau ternyata pas kita keluar rumah tadi batre hapeku limit dan aku lupa nggak bawa charge." Adam menjelaskan. "Ya udah masuk yuk, udah malam. Besok kamu juga masuk sekolah kan?"
Selenia menggeleng dan menguap. "Besok libur satu hari."
"Oh... ya udah aku tutup pagar dulu." Adam berbalik dan mengunci pintu pagar. Setelahnya mereka berdua masuk ke rumah bersamaan.
__ADS_1
Tak banyak obrolan yang terjadi malam itu karena mata Selenia sudah benar-benar ngantuk berat. Jadi setelah mencuci muka dan sholat isya', dia langsung tidur.
...🌺🌺🌺...
Karena sekolah libur, Selenia menggunakan kesempatan ini untuk tidur sampai siang. Setelah sholat subuh tadi, dia menemui Bik Iyah di dapur dan mengatakan supaya jangan membangunkan dia seperti biasanya karena dia masih ngantuk banget. Bik Iyah pun mengiyakan permintaan majikan mudanya itu.
"Lho... Selenia mana bik?" tanya Adam saat mendapati meja makan yang masih kosong. Pagi itu seperti biasa dia sudah berdandan rapi untuk pergi ke kantor. Dia mengenakan setelan kemeja lengan panjang berwarna putih, celana jeans hitam dan Jas berwarna coklat tua. Hari ini Pak Anton memintanya untuk berangkat lebih awal.
...Adam Lucas Prawira 🌹...
"Non Selenianya masih tidur Pak. Tadi pagi dia sudah bilang sama Bibik, supaya nggak dibangunkan seperti biasanya. Katanya sekolahnya libur, jadi pengen istirahat." jawab Bik Iyah seraya menghidangkan teh hangat untuk Adam.
Oh, ya Adam ingat akan hal itu. Semalam Selenia sudah memberitahu padanya soal ini. Adam manggut-manggut dan langsung menikmati sarapan paginya sendirian.
Sebelum berangkat ke kantor, dia menyempatkan diri untuk menengok Selenia di kamarnya. Dia tersenyum manakala mendapati pintu kamar istrinya itu tidak dikunci. Tidak seperti biasanya, sekarang Selenia tidak pernah melakukan hal itu--mengunci pintu kamar. Adam membuka pintu kamar tersebut dengan hati-hati dan melihat Selenia masih terlelap dibalik selimutnya. Dia melangkah pelan-pelan mendekati tempat tidur dan berdiri di sana. Ditatapnya wajah manis Selenia yang masih terbuai mimpi itu lekat-lekat.
Cantik banget sih kamu, batinnya. Wajah natural, polos dan menggemaskan itu membuat Adam tiba-tiba mencondongkan wajahnya mendekati wajah tersebut. Istrinya itu masih tidak bergeming saking pulasnya. Lalu...CUP! Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Selenia.
Adam tersenyum. Benar-benar tidak ada reaksi. Selenia masih terlena di alam mimpinya. Setelah membelai rambut, Adam segera bergegas meninggalkan kamar. Sebelum menutup pintu, dia mengetikkan sesuatu dari ponselnya.
Adam : [Aku berangkat. Hati2 di rumah. Jaga diri baik2. ♡ you...]
CLAP!
Begitu pintu tertutup, Selenia membuka mata. Jantungnya berdegup kencang sekali sampai-sampai terdengar hingga ke telinganya sendiri.
Adam mencium keningku? Aku nggak mimpi kan? Sebuah senyum mengembang di bibirnya. Selenia merasakan bahagia yang membuncah karena perlakuan tersebut. Rasanya sulit dilukiskan. Laki-laki itu.... ternyata romantis sekali.
TRING!
Ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan muncul di layarnya. Lagi-lagi dia hanya bisa tersenyum saat membaca pesan itu. Pesan dari Adam.
Pasti, balasnya dalam hati.
...🌺🌺🌺...
Renata sedang sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya saat Adam melintas di depan ruangannya. Dengan buru-buru dia beranjak dari kursi dan berlari keluar ruangan.
"Pak Adam...!" panggilnya saat Adam hendak melangkah masuk ke ruangannya sendiri.
Adam menoleh dan kembali menutup pintu ruangannya. yang baru terbuka sedikit. "Ya?"
__ADS_1
"Mmm... cuma mau tanya, apa Bapak sudah sarapan?" tanya Renata basa-basi sekaligus takut-takut.
Adam mengangguk. "Sudah. Ada apa Ren?"
Renata menghela nafas. "Mmmhhh... nggak pa-pa... saya cuman.... itu..." Dia tampak gugup. "Hari ini... saya bawa sarapan dari rumah..." Dia tidak melanjutkan kalimatnya dan menunduk.
"Oh ya? Kenapa bawa dari rumah? Kan di kantor ada kantin..." Adam memiringkan kepalanya.
"Mmm.... sebelumnya saya minta maaf kalau terkesan lancang. Tapi hari ini saya bawa makanan kesukaan Bapak. Tadinya saya mau ajak Bapak sarapan bareng..." ucapnya hati-hati. "... itu pun kalau Bapak berkenan..." imbuhnya.
Kening Adam mengernyit. Makanan kesukaan? Renata tahu makanan kesukaanku dari mana?
"Memangnya kamu tahu makanan kesukaan saya?" tanya Adam dengan tatapan menyelidik.
"Rendang daging kan?" Renata tersenyum penuh percaya diri. Dia yakin dengan jawabannya kali ini.
Adam terperangah. Renata benar. Tapi...
"Kok kamu tahu?"
"Hhh... iya Pak." Renata nyengir. "Maaf, tapi saya tahu dari ini..." Dia memperlihatkan selembar kertas yang berisi catatan konyol beberapa karyawan kantor.
Adam tergelak. "Hhh... ya ampun, kamu nemuin itu di mana sih?" tanya Adam.
Itu memang hanya catatan konyol, tapi tentang makanan kesukaan itu adalah benar. Beberapa waktu yang lalu--sebelum Renata ada di sini--Adam pernah berkumpul dan ngobrol-ngobrol dengan beberapa karyawan kantor ini. Mereka iseng membuat identitas ala-ala yang dibumbui dengan makanan kesukaan, minuman kesukaan, film favorite, dan tempat liburan favorite. Ada sekitar 12 orang saat itu. Adam tidak menyangka kalau ternyata dokumen konyol itu masih di simpan.
"Saya nggak tahu siapa yang menyimpan Pak, saya nemuin ini di laci meja kerja saya." Renata mengangkat bahu. "Lucu juga bacanya. Tapi dari sini, saya jadi tahu beberapa hal tentang Bapak."
"Hhh... kamu bisa aja. Itu bukan hal yang penting untuk kamu pelajari..." Adam menepiskan tangannya.
"Jadi Bapak... nggak mau makan makanan buatan saya?" tanya Renata lesu. "Saya sudah bawa banyak lho Pak dari rumah. Karena niatnya memang ingin saya makan bareng Bapak."
"Aduh ma'af ya Ren. Kalau untuk pagi ini, saya beneran udah kenyang. Soalnya saya selalu sarapan pagi di rumah. Tidak pernah tidak."
"Ya udah deh, kalau begitu bagaimana kalau untuk makan siang nanti saja?" Renata pantang menyerah. Dia merasa semakin memiliki keberanian untuk berbicara hal lain selain pekerjaan pada Adam.
"Mmmm..." Adam menggumam beberapa saat. "Boleh deh. Ide bagus." katanya kemudian.
Renata tersenyum senang. "Terimakasih Pak... kalau gitu saya ke ruangan saya dulu, Permisi..." katanya dan langsung berlalu meninggalkan Adam yang masih berdiri di depan pintu. Dia sudah tidak tahan lagi untuk berlama-lama berada di depan Adam. Pagi ini atasannya benar-benar terlihat keren. Damagenya bukan main.
Tapi memang setiap hari dia selalu keren sih. Orang cakep mah, lagi bersin juga cakep. Ya Allah... mimpi apa gue bisa jadi sekretaris orang sekeren dia. Moga ajaaaa dia jodoh gue. Batin Renata sembari berjalan ke ruangannya.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...