
Rasa kantuk itu telah sirna. Kecupan lembut pertama yang dia terima dari suaminya pagi ini seolah menjadi mood booster tersendiri untuk Selenia. Dan karena itu dia tidak mau berlama-lama berkutat diatas tempat tidur. Setelah meregangkan otot-otot tubuhnya dengan menggeliat, Selenia langsung bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh.
Sekitar 15 menit kemudian, dengan tubuh yang hanya dibalut kimono handuk, Selenia keluar dari kamar mandi. Jarang-jarang dia bisa berendam pagi-pagi begini. Biasanya mandi 5 menit saja sudah paling lama.
Selenia duduk di depan cermin, mengeringkan rambut menggunakan hair dryer, lalu memoleskan day cream tipis-tipis ke wajahnya. Sembari mengusap-usap wajah, dia memperhatikan dirinya sendiri di pantulan cermin. Selenia tersenyum saat menyadari bahwa statusnya adalah sudah menjadi Istri orang, sementara saat menoleh ke arah kapstok yang tertempel di dinding, seragam SMA-nya menggantung manis di sana.
...Selenia Effendi...
"Pagi Bik." Selenia menyapa Bik Iyah dengan ceria. Pembantunya itu sedang jongkok di depan kulkas menata sayuran segar yang pagi-pagi sekali tadi baru dia beli dari pasar.
"Eh...Non Selenia?" Bik Iyah memutar tubuhnya dan berdiri. "Katanya... Non mau tidur sampe siang... aduh... Bibik belum siapin sarapan buat..."
"Udah Bik santai aja..." Selenia terkekeh melihat sikap Bik Iyah yang menurutnya lucu. "Aku juga belum pengen makan kok."
"Kalau begitu sekarang Non Selenia mau ngapain? Mau bibik bikinin teh?" Bi Iyah menawarkan.
Selenia menggeleng.
"Coklat panas?"
Selenia menggeleng lagi.
__ADS_1
"Atau mau sarapan pakek roti selai? Roti bakar? Tadi pagi Pak Adam juga sarapan pakek itu Non."
Selenia geli sendiri. Lagi-lagi dia harus menggeleng beberapa kali, kemudian berjalan mendekati kitchen sink. Di sana ada beberapa piring dan gelas kotor yang belum dicuci. Dia kan seorang istri di rumah ini. Jadi tidak ada salahnya jika dia mulai belajar melakukan pekerjaan itu. Selenia ingin mencuci beberapa perkakas kotor tersebut.
"Lhoh... lhoh... lhoh... jangan Non. Itu nanti biar Bibik aja yang nyuci." Bik Iyah berlari mendekati Selenia dan menahan tangan Selenia yang tengah memegang gelas kotor. "Tadi bibik memang belum sempat nyuci Non, maaf..."
"Ya ampun Bik nggak pa-pa... cuma nyuci gelas sama piring segini aja aku bisa lho...." terangnya. "Dulu waktu aku belum nikah sama Pak Adam, aku udah biasa kerjain ini di rumah."
"Tapi Non..." Bik Iyah masih terlihat khawatir. Takut Adam tiba-tiba muncul dan melihat Selenia mencuci perkakas, entar malah dikira dia tidak tanggung jawab dengan pekerjaannya.
"Udaaah, ini biar aku yang kerjain." tegas Selenia. "Bibik bersih-bersih perabot aja atau yang lainnya. Bibik udah sarapan?" tanyanya kemudian.
Bik Iyah mengangguk. "Sudah Non tadi sama Pak Tono."
"Tadi di suruh Pak Adam servis mobil ke bengkel. Katanya mumpung Non Selenia libur."
"Oh..." Selenia manggut-manggut. "Ya udah kalau gitu." Dia mulai menyibukkan diri membersihkan perkakas kotor di kitchen sink.
Dengan gelagat yang masih bingung, Bik Iyah berlalu meninggalkan Selenia di dapur sendirian.
...🌺🌺🌺...
Tony masih bersembunyi di dalam selimutnya. Dia benar-benar ngantuk berat karena tadi baru bisa memejamkan mata sekitar jam 3 pagi. Semalam sesampainya di rumah, sebenernya dia mau langsung tidur. Tapi ternyata beberapa teman mabarnya nantangin buat push rank. Dia tidak bisa menolak karena tidak mau dikatain pecundang--karena dianggap menyerah sebelum bertanding. Alhasil dia pun mengikuti ajakan itu sampai lupa waktu. Bahkan dia juga tidak tahu bagaimana akhir pertandingan semalam karena dia memutuskan untuk keluar begitu saja setelah merasakan matanya yang sudah seperti dibubuhi lem. Jadi saat alarm yang memang biasa dia setting jam 5.30 pagi itu berdering, diabangun sebentar hanya untuk mematikan alarm tersebut. Setelahnya dia kembali menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut dan kembali tidur.
__ADS_1
...🌺🌺🌺...
Adam sedang duduk bersandar di kursinya, menopang dagu dengan kedua tangan sembari tersenyum menatap ke arah layar komputer. Layar itu sedang tidak menampilkan acara Stand Up Comedy atau acara lucu sejenisnya. Yang membuat Adam tampak sebahagia itu adalah ingatannya tentang peristiwa manis pagi ini. Dia tidak pernah menyangka akan melakukan hal seberani itu pada Istrinya. Semoga saja saat itu Selenia benar-benar tertidur pulas dan tidak tahu kalau dia sudah mengecup keningnya, batin Adam.
Sejujurnya Adam benar-benar bahagia dengan perubahan sikap Selenia akhir-akhir ini. Selenia yang biasanya tak acuh, cuek, dan dingin kini perlahan mulai menunjukkan sikap ramah dan hangat padanya. Hal itulah yang membuat Adam merasa bahwa dia seolah sedang jatuh cinta lagi pada Selenia. Lagi. Perasaan yang semula gamang karena sikap Selenia, sekarang begitu yakin dia rasakan. Kini, setiap kali berhadapan dengan Selenia, dia harus pintar-pintar menahan diri supaya tidak melewati batas. Pasalnya di mata Adam, Selenia itu sekarang terlihat begitu menggemaskan.
"Permisi Pak..." suara lembut Renata mengagetkan Adam yang sedang berimajinasi dengan pikirannya.
Buru-buru Adam menegakkan tubuh, dan melenyapkan senyuman bahagianya.
"Ya, Ren?"
"Bapak sudah ditunggu yang lain di ruang meeting."
"Oh, baiklah. 5 menit lagi saya ke sana." Adam beranjak dari kursi dan menyiapkan beberapa dokumen.
"Kalau begitu saya permisi." Renata menunduk kemudian keluar dari ruangan Adam.
Setelah melengkapi beberapa dokumen, Adam pun segera bergegas menuju ruang meeting.
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...
__ADS_1