
Cia menelfon Selenia di jam istirahat. Dia duduk di bangku taman sekolah sendirian. Dia sudah jengkel banget karena pesannya hanya dibaca oleh Selenia tanpa balasan. Padahal yang terjadi sebenarnya adalah, bukan Selenia tidak mau membalas pesan itu. Dia membuka pesan Cia pun karena nggak sengaja pas ngeklik pop up. Ditambah kondisinya yang limbung karena pusing juga, membuatnya tidak bisa berlama-lama menatap layar ponsel.
"Lo kemana sih Sel? Di WA gak bales, kenapa nggak masuk sekolah? Lo kenapa??" omel Cia di ujung telfon.
"Ciii... nanya satu-satu aja kenapa sih?" potong Selenia lirih. "Ya ma'af bukan niat gue gak mau balas WA elo. Gue aja dari semalem nggak pegang ponsel sama sekali," jelasnya.
"Bohong. Buktinya WA dari gue sempet lo baca," protes Cia ngotot.
"Itu gue nggak sengaja tadi pas mau...."
"Ya udah jadi kenapa lo nggak masuk? Lo baik-baik aja kan?" potong Cia nggak sabaran.
Selenia menghela nafas mendengar sahabatnya yang terus nyerocos. Akhirnya dia pun menceritakan pada Cia apa yang hari ini membuatnya tidak masuk sekolah. Baru setelah mendengar penjelasan Selenia, Cia mengerti. Dia paham betul soal Selenia yang phobia sama petir.
"Terus lo udah ke dokter kan?"
"Udah tadi."
"Dianter sama siapa?"
"Sama Adam."
"Jadi Adam juga nggak masuk kerja?"
"Tetep masuk kok. Setelah nganterin gue pulang, dia berangkat ngantor. Lo kenapa jadi nanyain suami gue masuk kerja apa nggak segala sih?"
"Ya udah deh, syukur kalo emang lo cuma demam biasa. Kalau gitu entar gue ke rumah ya. Sekarang lo istirahat aja," pesan Cia kemudian tak mempedulikan pertanyaan Selenia.
"Iya. Gue habis minum obat, trus mau tidur dulu. Puyeng banget kepala gue."
"Oke bye, see you."
Klik! Obrolan mereka terputus. Selenia meletakkan ponselnya di atas nakas dan kembali merebahkan diri di tempat tidur. Obat yang baru saja dia minum efeknya memang bikin ngantuk.
...🌺🌺🌺...
"Jadi Selenia sakit Ci?" Tony sudah berdiri di belakang Cia, entah sejak kapan.
Cia tersentak dan langsung menoleh. "Eh, Tony? Kamu denger pembicaraan aku ya?" Dia hanya nyengir kuda. "Iya, katanya demam gitu."
"Terus, dia di rumah apa di rumah sakit?"
"Dia di rumah kok. Pulang sekolah nanti aku juga mau ke rumah dia...." Ups! please, semoga Tony nggak ada niatan untuk ikut.
"Kalau begitu aku ikut ya," pinta Tony.
Tuh kan bener. Cia menyesali ucapannya. Bagaimana dia harus menjawab? Dia nggak mungkin bisa menolak. Bagaimana kalau Tony ikut ke rumah Selenia dan Adam melihat hal itu? Aduuuhhh.... bisa kacau nih!
"Ci? Kok malah diem?"
__ADS_1
"Ee... eh... i-iya nggak pa-pa.. boleh... boleh..." jawab Cia gugup.
"Ya udah kalau gitu ke kantin yuk. Kamu belum makan kan?"
Cia menggeleng. Lalu setelah itu dia mengekori Tony menuju kantin.
...🌺🌺🌺...
Selenia tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya melayang pada sosok Renata yang mendadak menghampiri benaknya. Entah kenapa tiba-tiba muncul perasaan tidak rela kalau Adam dekat dengan perempuan itu. Tapi dia juga benci dengan perasaannya itu. Dia tidak mau dikatai cemburu, tapi sebenarnya dia sadar akan hal itu. Perasaan yang hanya akan membuatnya mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting. Tidak penting? Jangan munafik kamu Sel. Kalau memang perasaan kamu itu tidak penting, kenapa kamu gelisah? Suara hatinya meledek.
Tapi memang benar. Dulu sebelum hubungannya dengan Adam seperti sekarang, dia tidak pernah peduli Adam mau dekat dengan siapapun. Mau Adam berangkat subuh dan pulang pagi pun dia bodo amat. Tapi sekarang...? Kenapa jadi begini? Kenapa aku mempunyai perasaan 'takut kehilangan'?
Selenia berguling di atas tempat tidurnya. Saat dia hendak mengambil ponselnya kembali, ponsel tersebut berdering. Ternyata panggilan Video Call dari Ibu Mertuanya. Selenia menggigit bibir. Pasti Adam ngomong ke Mamanya tentang kondisinya hari ini, pikirnya.
"Halo Sel?? Ya ampun sayang, Mama denger kamu sakit ya? Kenapa?" wajah Bu Lisa tampak cemas di layar.
Selenia tersenyum simpul. "Enggak pa-pa kok Ma. Cuma demam biasa. Mama apa kabar?"
"Mama baik. Tapi Mama kayaknya belum bisa pulang dalam waktu dekat ini. Kamu sudah minum obat sayang?"
"Syukurlah kalau Mama baik-baik aja. Mama jaga kesehatan ya di sana. Jangan telat makan," pesan Selenia. "Udah kok Ma, barusan aku minum obat."
"Kamu jangan capek-capek. Kalau ada apa-apa minta tolong sama Adam ya," pesan Bu Lisa.
Selenia mengangguk. Mereka ngobrol selama beberapa menit sebelum akhirnya Bu Lisa pamit untuk melanjutkan aktivitas. Baru saja Selenia ingin meletakkan ponselnya, kini giliran Ayahnya yang menelfon. Kenapa sih kabar menyebar begitu cepat? Hmmm.... Selenia menslide ikon warna hijau di layar.
"Halo Sel?" sapa Pak Fendi.
Pak Fendi terkekeh. "Kamu ini kenapa sih, kesannya nggak suka kalau Ayah nelfon? Kamu sakit apa nak?"
Selenia menghela nafas. "Aku sakit karena Ayah janjinya mau pulang tapi kutunggu-tunggu sampai sekarang nggak datang-datang juga," dia merajuk.
Pak Fendi kembali terkekeh. "Seeeel, jangan ngomong gitu lah. Tadinya Ayah juga pengen pulang cepet tapi ternyata pekerjaan Ayah nggak bisa ditinggal dan nggak bisa dihandle siapapun."
"Hmmm, jadi pekerjaan Ayah lebih penting ni daripada aku??"
"Aduh aduh aduh, Selenia sayang jangan bicara seperti itu dong. Jangan hadapkan Ayah pada pilihan yang sulit. Kalian itu penting buat Ayah," ujar Pak Fendi.
"Tapi Ayah janji pas acara kelulusan aku nanti, Ayah harus ada di sini ya," pinta Selenia.
"Insha Allah akan Ayah usahakan," Pak Fendi meyakinkan. "Jadi, kamu kenapa? Capek trus demam?"
Selenia menceritakan pada Ayahnya awal mula dia menjadi demam. Pak Fendi pun tentunya tahu tentang ketakutan Selenia pada petir. Jadi beliau menyarankan supaya kalau ada petir lagi di malam hari dan Selenia takut tidur sendiri, bisa meminta Bi Iyah untuk menemani.
"Ya udah kalau gitu sekarang kamu istirahat. Ayah mau lanjut kerja lagi. Jaga diri baik-baik ya sayang. love you."
"Love you too."
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
Adam sedang berada di ruangannya, memeriksa berkas tender pembangunan rukan lima lantai yang baru saja dimenangkan perusahaan tempatnya bekerja. Tanpa adanya Renata, dia cukup kerepotan juga harus mengurus semuanya sendiri. Apalagi Maya juga sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Terhitung sudah sebanyak empat kali dia mondar-mandir ke ruangan Maya untuk meminta beberapa bantuan.
"Anak Renata sakit apa Dam?" Pak Anton masuk ke ruangan Adam.
"Katanya demam Pak, dan harus diopname untuk beberapa hari di RS."
Pak Anton manggut-manggut. Dia kemudian duduk di sofa, mengamati Adam yang tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar komputer.
"Repot memang kalau jadi single parent. Apalagi anak Renata itu masih kecil," ucap Pak Anton. Tetiba terbersit satu pikiran untuk menjodohkan keduanya. Adam dan Renata kan sama-sama single. Bedanya Adam masih perjaka, sedangkan Renata sudah janda. Tapi tidak ada salahnya kan? Toh secara umur, Adam tetap lebih tua dari Renata.
Adam tidak bergeming. Dia masih fokus pada layar komputer di hadapannya. Tangannya mengoperasikan mouse dengan lincah.
"Dam," panggil Pak Anton.
"Ya Pak?" Adam menghentikan aktivitasnya. "Maaf Pak, iya ada apa?"
"Mmm... kamu itu, beneran masih single?" tanya Pak Anton.
Kening Adam mengernyit mendengar pertanyaan tersebut.
"Maksud Bapak apa ya?" Dia tersenyum heran.
"Soalnya selama saya kenal kamu, kayaknya saya belum pernah melihat kamu bersama perempuan atau memiliki pasangan gitu."
"Bapak bisa aja," Adam terkekeh. Ternyata hubungannya dengan Finna tidak pernah diketahui oleh Pak Anton. Padahal, hubungannya dengan Finna pernah terjalin saat dia sudah menjadi bagian dari perusahaan Pak Anton juga. Tapi itu bagus lah.
"Saya belum mikir ke situ Pak. Saya masih mau fokus sama karir dan masa depan saya," imbuh Adam. Bagaimanapun, Adam tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Pak Anton kalau pada kenyataannya dia sudah menikah.
"Oh ya?" Pak Anton mengangkat alisnya. "Kalau begitu kenapa kamu tidak membuat keputusan untuk mengambil tawaran study itu?"
Deg! Pertanyaan Pak Anton membuatnya tersentak. Dia sudah lama tidak memikirkan hal itu.
"Hhh... kalau untuk itu saya juga belum bisa memutuskannya sekarang Pak."
Pak Anton menghela nafas panjang. Dia heran kenapa sepertinya Adam tidak begitu tertarik dengan tawaran itu. Bukankah dia baru saja bilang mau fokus ke masa depan?
"Oya, kalau begitu bagaimana dengan Renata?" tanya Pak Anton kemudian.
"Bagaimana apanya Pak?" Adam bertanya balik.
"Ya maksudnya apa kamu suka sama.....kinerja dia...?" Pak Anton membelokkan pertanyaannya.
Adam mengangguk. "Ya tentu saja. Karena dia sudah memiliki pengalaman di bidangnya. Jadi kinerja dia bagus."
Pak Anton tersenyum. Ternyata anak buahnya itu tidak begitu peka dengan yang dia maksud. Padahal menurutnya Adam begitu cocok kalau bersanding dengan Renata. Entah kenapa dia jadi begitu ingin menjodohkan keduanya.
"Ya udah oke kalau begitu Dam. Saya tinggal dulu. Kamu lanjutkan dulu pekerjaan kamu," Pak Anton beranjak dan keluar dari ruangan Adam.
...🌹🌹🌹...
__ADS_1
...To be continued 👋🏻...