NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -41-


__ADS_3

BEBERAPA HARI KEMUDIAN


Renata baru saja menyelesaikan berkas-berkas pekerjaan yang sempat ditinggalkan selama dia tidak masuk. Dia menyusun berkas tersebut dan berencana membawanya ke ruangan Adam. Tapi sebelum ke sana, dia terlebih dahulu memastikan penampilannya tidak acak-acakan. Berkutat dengan komputer selama berjam-jam membuatnya merasa kusam dan tidak percaya diri untuk bertemu dengan laki-laki idamannya itu. Renata memoleskan lipstick tipis pada bibirnya kemudian bercermin sebentar. Setelah dirasa cukup, dia bergegas menuju ruangan Adam.


"Masuk!" suara bariton Adam terdengar tegas setelah Renata mengetuk pintu.


Renata membuka pintu dengan hati-hati. Ternyata Adam juga masih sibuk dengan banyak berkas di mejanya.


"Siang Pak," Renata menunduk hormat.


"Ya, Ren?" Adam menghentikan aktivitasnya sejenak dan mempersilahkan Renata duduk di kursi di hadapannya. "Bagaimana? Sudah selesai?"


"Sebelumnya saya minta maaf karena baru bisa menyelesaikannya sekarang, Pak," Renata menyodorkan setumpuk berkas yang dia bawa ke meja Adam. "Silahkan bapak periksa dulu, kalau masih ada yang kurang bapak bisa hubungi saya lagi."


Adam menyingkirkan berkas miliknya dan mulai memeriksa berkas dari Renata. Dibukanya berkas itu selembar demi selembar dan dibaca dengan seksama. Renata tidak bisa tenang di tempat duduknya. Beberapa kali dia beringsut hanya untuk sekedar mencari notice dari Adam. Sejak dia masuk ke ruangan ini, laki-laki itu hanya melihatnya sekilas. Padahal Renata berharap, Adam memperhatikan penampilannya. Tapi sayangnya hal itu tidak pernah terjadi. Setelah memeriksa berkas sampai selesai dan menandatangani beberapa lembar, Adam mengembalikan berkas itu pada Renata supaya diserahkan pada Pak Anton.


"Sudah cukup kok. Terimakasih ya Ren untuk kerja keras kamu. Sekarang kamu bisa kembali ke ruangan kamu," begitu kata Adam. Penuh formalitas.


Renata menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Sabaaaaar Ren, ucapnya pada dirinya sendiri sembari mengelus dada setelah keluar dari ruangan Adam.


...🌺🌺🌺...


Bel istirahat berbunyi di SMA Bhakti Nusa. Semua murid yang sudah merasa jenuh dengan materi di kelas langsung berhamburan keluar. Kecuali Selenia dan Cia. Mereka males banget kalau harus berdesak-desakan dengan yang lain. Baru setelah semua murid keluar, mereka menyusul dan seperti biasa, kantin adalah tempat utama yang mereka datangi saat jam istirahat.


"Buat kalian," Tony meletakkan dua lembar kertas seukuran pod cast ke meja di depan Selenia dan Cia.


Kedua anak itu mendongak, lalu mengambil satu per satu kertas tersebut. Ternyata itu merupakan undangan ulang tahun Tony yang ke-18.


"Wah, udah lama gak ada party. Kapan nih Ton?" mata Cia berbinar. Tangannya membolak-balik kertas tersebut. "Besok malem?"


Tony mengangguk. "Bentar ya," Dia berlalu dan membagikan sisa undangan ke beberapa anak di kantin.


Lala, teman sekelas Selenia yang menjadi salah satu dari sekian cewek penggemar Tony, dia juga mendapat undangan. Sikapnya sangat heboh saat menerima undangan ulang tahun tersebut. Selenia dan Cia yang kebetulan duduk tidak jauh dari posisinya cuma bisa geleng-geleng kepala.


"Wauuw ya ampun ternyata besok itu ulang tahun kamu?" tanya Lala rame. "Bentar-bentar," dia membuka undangan tersebut dan membacanya dengan seksama. "Temanya monokrom? Di gedung?!!"


Tony mengangguk santai. "Iya. Datang ya kalian," dia menunjuk Lala dan temannya yang lain.


Teman-teman yang berada di satu meja dengan Lala sama-sama mengangguk.


"Oh pasti dong, kita pasti datang. Kamu nggak usah khawatir," Lala menepuk-nepuk bahu Tony sok akrab. "Eh Ton, aku denger-denger kabar dari teman sekelas kamu, beberapa hari yang lalu kamu dirawat di rumah sakit ya? Kamu sakit apa??"


Selenia dan Cia yang mendengar itu cuma saling pandang dan geleng-geleng kepala. Cia bahkan mencibir dan berpura-pura ingin muntah. Drama banget tu anak!


Tony tersenyum simpul. "Cuma kecapekan aja kok. Nggak terlalu serius."


Lalu tak mau berlama-lama dengan sikap Lala yang heboh, dia melanjutkan langkah menuju konter pemesanan makanan.


Sementara itu kembali ke meja Selenia dan Cia, kedua anak itu santai saja menanggapi undangan ulang tahun Tony.

__ADS_1


"Ohhh temanya monokrom," Selenia menggumam membaca tulisan paling bawah.


"Wah, keren tuh. Sederhana tapi elegant," Cia menyahut.


Jadi nanti semua undangan diwajibkan menggunakan dress code dengan bentuk bebas, asal bernuansa hitam dan putih.


Tak lama kemudian Tony kembali lagi dengan membawa semangkuk mie ayam dan es jeruk di atas nampan.


"Jangan sampai nggak dateng kalian," kata Tony menegaskan sembari melahap mie ayamnya. "Dandan yang kece," dia melirik sekilas pada Selenia yang masih sibuk membaca undangan.


"Kita pasti datang lah," sahut Cia antusias. "Udah lama nggak ada party."


Dan tanpa mereka sadari, dari tempat duduknya Lala memperhatikan kebersamaan ketiganya dengan tatapan tidak suka.


...🌺🌺🌺...


"Apa??!!" Selenia membelalak saat malam itu Adam menunjukkan sesuatu padanya. Ternyata dia juga mendapatkan undangan untuk menghadiri acara ulang tahun Tony besok malam. Memang bukan sesuatu yang aneh sih. Adam kan anak buahnya Pak Anton, so wajar kalau dia dapat undangan juga. Tapi Selenia tidak pernah berpikir sebelumnya, kalau ternyata ulang tahun Tony akan melibatkan tamu undangan dari luar kalangan mereka. Selenia kira yang diundang cuma temen-temen sekolah aja.


Alhasil malam itu terjadi sedikit perdebatan perihal bagaimana mereka besok malam berangkat ke sana, karena Renata juga diundang ke acara itu--pasti lah.


Selenia sudah mulai bersungut-sungut mendengar penjelasan Adam. Sekarang dia sudah tidak canggung lagi untuk menunjukkan ketidak sukaanya pada Renata di depan suaminya. Mungkin saat ini Selenia tidak punya alasan pasti kenapa dia seperti itu, tapi kan siapa yang tahu? Hubungan sekretaris dan atasan itu kan dekat banget. Dan biasanya mereka selalu punya hubungan spesial. Kaya yang di sinetron-sinetron itu kan?


"Tapi kan kamu nggak harus berangkat bareng sama Renata juga Daaaam," rengek Selenia sembari menyilangkan tangannya dengan kasar. Bibirnya mengerucut manyun. Dia melirik sinis ke arah Adam. "Pake acara satu mobil lagi!"


Saat itu mereka berdua duduk berjajar di sofa ruang tengah.


Adam menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Antara lucu dan bingung melihat ekspresi Selenia. Tapi dia berusaha menahan tawa karena kelihatannya istrinya itu sedang emosi banget.


Selenia menoleh dan menatap Adam tajam. Selain rasa khawatir, sebenarnya dia juga cemburu berat. Belum apa-apa dia sudah membayangkan yang aneh-aneh.


"Ya udah kan sekarang udah nggak ada Pak Anton. Jadi kamu batalin aja niat kamu buat berangkat bareng Renata," Selenia mencoba memberi saran.


"Nggak mungkin Sel. Pantang buat laki-laki ingkar sama janji sendiri," jawab Adam.


"Tuuuh kaaan...!!" Selenia kembali merengek. "Berarti emang dasar kamu aja. Kamu emang seneng kan berangkat sama dia? Emang maunya kamu juga kan?? Pakek beralibi segala!"


"Bukan gitu sayang. Ya Allah, hmmmm...," Adam mencoba menarik tangan Selenia tapi ditampik.


"Kita berangkat bareng aja!" sahut Selenia ketus.


"Itu malah nggak mungkin lagi," sahut Adam cepat. "Orang-orang akan curiga dan mereka pasti mikir yang nggak-nggak. Kamu mau pernikahan kita diketahui banyak orang sekarang??? Jangan gitu dong Sel. Aku nggak mau kamu dikeluarin dari sekolah. Please.... ini juga di luar keinginan aku."


"Ya makanya kamu jangan berangkat bareng Renataaaa," ucap Selenia lirih tapi terdengar geram. Mimik wajahnya seperti mau menangis.


Adam menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Malam ini gejolak hatinya benar-benar dibuat naik turun karena sikap Selenia. Sejak mendengar kalau dia mendapat undangan ultah ditambah harus berangkat ke acara itu bareng Renata, senyum istrinya yang biasanya tampak manis dan menggemaskan itu lenyap. Perlahan Adam menggeser duduknya mendekati Selenia yang sedari tadi berusaha menjauh.


"Sel coba liat aku," Adam menyentuh dagu Selenia lembut. Anak itu menoleh, mengikuti tarikan tangannya. "Kamu percaya kan sama aku?"


Selenia hanya diam. Tapi sorot matanya masih menunjukkan kekecewaan.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, khawatir banget kalau aku berangkat ke acara itu bareng Renata?"


Alis Selenia terangkat mendengar pertanyaan tersebut. "Kamu nanya?" tanya Selenia sewot. "Harus banget aku jelasin alasannya?"


Adam terkikik.


"Nggak usah ketawa. Nggak ada yang lucu!" sahut Selenia lebih sewot lagi.


Adam segera mengatupkan bibirnya. Dia merasa payah banget dengan sikap Selenia malam ini.


"Okeeeey," ucap Adam setengah menahan tawa. "Kalau alasannya cemburu, kamu nggak perlu kaya gitu sayang. Kamu nggak perlu cemburu sama Renata, karena aku sama dia itu cuma sebatas sekretaris sama GM aja."


"Itu kan menurut kamu, lain lagi menurut dia."


"Aduh ya udah dong jangan berdebat kaya gini," Adam berusaha meraih tangan Selenia yang sedari tadi berusaha menghindar. "Kamu sadar nggak sih kita tu malah jadi berantem."


"Ya kamu pikir," sahut Selenia. Tangannya sudah digenggam erat oleh Adam, tak bisa dilepaskan. "Emangnya salah kalau aku khawatir sama masalah itu?"


"Salah sih enggak, tapi kan nggak jelaaaaas sayaaaang. Eeerrgghhhhh," Adam mengerang gemas. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk istrinya itu supaya berhenti membahas hal ini. "Udah dong, kita di sini berantem, Renata malah lagi asyik maen sama Nola di rumah. Kan aneh,"


"Tuh kan, kamu malah jadi tahu kebiasaan dia tiap malem," Selenia menyeloroh.


"Seel... sayang.... astaga...!" Adam menepuk jidatnya sendiri. Dia kehabisan kata-kata.


"Buktinya kamu tahu kalau malam gini dia lagi maenan sama anaknya."


Kali ini giliran Adam yang memasang ekspresi wajah hampir menangis. Bukannya merasa kalau tuduhan Selenia itu benar, tapi karena Selenia berpikir terlalu jauh.


"Ampun deh Sel, dia punya anak sayang, ya nggak salah kan kalau dia malem-malem gini maenan sama anaknya. Sedangkan kalau siang dia kerja," ucap Adam dengan mimik muka memelas.


"Kalau siang dia maen sama kamu," sahut Selenia menahan senyum. Emosinya perlahan menurun melihat wajah Adam yang hampir putus asa menghadapi tingkahnya malam ini.


Mendengar jawaban konyol tersebut ditambah melihat gelagat Selenia yang mulai berubah, Adam langsung memeluk paksa tubuh mungil itu--gemas--, mendekapnya erat penuh rasa nyaman. Tak ada penolakan dari Selenia. Dia justru membalas pelukan tersebut, membenamkam kepalanya di dada Adam yang bidang.


"Kamu nggak perlu mikir yang aneh-aneh. Khawatir nggak jelas," kata Adam lirih di balik punggung Selenia. "Aku percaya, Tuhan sudah menakdirkan kita bersama dengan cara seperti ini. Aku cinta banget sama kamu Sel."


"Tapi aku belum bisa jadi istri yang seutuhnya untuk kamu," bisik Selenia.


"Hhhh... suatu saat nanti, kamu pasti bisa. Aku akan nunggu sampai saatnya itu tiba."


"Maafin aku ya Dam."


"Sshhhhh..., untuk apa minta maaf?"


Adam melepaskan dekapannya perlahan. Dia membimbing tangan kanan Selenia dan menempelkan di dadanya. "Please jangan mikir aneh-aneh. I'm yours. Semuuuua yang aku punya adalah milik kamu," bibir Adam bergetar saat mengatakan itu semua. Penuh nada keyakinan.


Tatapan mereka beradu. Adam menempelkan keningnya pada kening Selenia. "You are mine, and I'm yours," bisiknya lagi, kemudian disusul kecupan lembut di bibir Selenia.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2