NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -114-


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Semenjak pengunduran dirinya dari perusahaan Pak Anton, kini Adam resmi tidak lagi menjadi staff di sana. Kabar terakhir yang dia terima dari Renata, posisi GM masih kosong. Tapi menurut Adam, Irham adalah orang yang tepat untuk menggantikan posisinya.


Sementara itu Selenia sendiri juga semakin sibuk dengan berbagai macam persiapan ujian yang tinggal dua bulan lagi. Beberapa hari ini dia selalu pulang lebih lambat dari biasanya karena harus mengikuti pelajaran tambahan. Semua murid kelas 3 wajib mengikutinya. Alhasil, dia pun jadi sering kelelahan setibanya di rumah. Karena usia kandungannya yang semakin bertambah tentu berpengaruh dengan energi fisiknya juga. Namun beruntung ada Adam yang selalu siaga di dekatnya. Saat ini, Selenia mulai merasakan pegal-pegal di kaki dan punggungnya setiap malam. Dan itu terkadang membuatnya jadi susah tidur. Tapi Adam dengan sabar dan telaten selalu berusaha membuatnya nyaman. Setiap kali Selenia akan tidur, dia selalu menjadi kang urut spesial untuknya. Hahaha...


...🌺🌺🌺...


Bentuk perut Selenia semakin menonjol seiring bertambahnya usia si kandungan. Terpaksa dia harus mulai menggunakan korset setiap kali pergi ke sekolah dan itu sangat membuatnya tidak nyaman. Tapi bagaimanapun, dia tidak punya pilihan lain. Kadang saat jam istirahat dia langsung melipir ke toilet hanya sekedar untuk melepas korsetnya sebentar sebelum kembali memakainya lagi.


"Nggak nyaman banget Ci, sumpah deh," keluh Selenia saat mereka berjalan menuju kantin setelah dari toilet.


"Kelihatan sih kalau lo ngerasa nggak nyaman," sahut Cia. "Tapi gimana lagi, perut lo udah nggak bisa dikondisikan," bisiknya menahan geli.


"Ih asem lo!" Selenia menoyor kepala Cia pelan.


Sesampainya di kantin mereka melihat Tony sedang duduk berduaan bersama Lala. Tampak Lala yang begitu sibuk berbicara sementara Tony hanya menikmati makanannya. Cia mendengus kesal dan langsung menarik tangan Selenia mencari tempat kosong.


Entahlah, mereka tidak tahu apa misi Lala dan kenapa makin ke sini anak itu seolah seperti semakin mencari tahu tentang kondisi Selenia yang sebenarnya.


Tony menoleh ke arah Selenia setelah Lala mengatakan sesuatu dan saat itu pandangan mereka bertemu. Tapi Selenia buru-buru mengalihkan tatapannya pada makanan yang baru datang. Apa Tony juga mulai mencurigainya? Bahkan saat mereka bertemu di halte waktu itu, Selenia tahu banget kalau Tony juga sempat memperhatikan perutnya.


"Udah buruan di makan Sel, lo kenapa sih?" Cia celingukan melihat sekeliling kantin.


"Ci, kok gue ngerasa makin nggak nyaman ya sama sikap Lala."


"Ya ampun, mikir itu lagi. Biarin aja kenapa? Siapa sih di sini yang nggak tahu kalau Lala itu julid?"


"Iya tapi dia tu kesannya kaya over banget ke gue. Dia pengen tahu yang sebenarnya, trus di sebarin ke seluruh anak-anak di sekolah ini... ya nggak sih?"


"Sel, udah. Lo nggak usah mikir kejauhan. Pokoknya nanti kalau dia berulah, urusannya sama gue," Cia menepuk dadanya sok jago. Dia ingat bagaimana pesan Adam tempo hari yang meminta supaya dia menjaga Selenia selama di sekolah.


Selenia tersenyum. "Uuuuuwww... lo kenapa so sweet banget siiiiih????" dia mencubit pipi Cia gemas. "Makachiiii ya udah jadi sahabat terbaik gueee."


"Auh!" Cia reflek menampik tangan Selenia. "Sakit Sel! Udah gih buruan makan. Bentar lagi bel lho."


...🌺🌺🌺...


Beberapa hari kemudian...


Hari ini adalah hari yang sibuk bagi keluarga Adam. Malam nanti akan ada acara penyerahan jabatan dari orang yang selama ini menjadi kepercayaan Pak Edwin untuk mengelola perusahaannya ke Adam.


Hall di kantor Pak Edwin sebenarnya sangat luas kalau hanya untuk acara yang hanya dihadiri orang-orang kantornya. Namun karena ini merupakan momentum yang sangat ditunggu-tunggu oleh Pak Edwin, dia memilih menyewa gedung untuk acara tersebut.


Dan untuk persiapan malam nanti, sebagai kaum perempuan yang selalu ingin tampil menawan, Bu Lisa dan Selenia menghabiskan waktu sorenya untuk mempercantik diri di salon langganan Bu Lisa. Bahkan khusus hari ini, Bu Lisa sendiri yang menjemput Selenia ke sekolah. Untung saja hari ini tidak ada kelas tambahan, jadi Selenia bisa pulang lebih cepat.


Selenia tetap harus ikut ke acara dan akan dikenalkan kepada para staff Adam sebagai tunangannya. Bagaimanapun, pernikahan mereka belum bisa diumumkan kepada publik--terutama orang kantor Pak Edwin--sebelum Selenia lulus sekolah. Dan Selenia tidak keberatan dengan rencana itu. Belum apa-apa dia sudah membayangkan bergandengan tangan dengan Adam, melewati para staff kantor Papa yang pasti akan memandang takjub ke suaminya. Ingat ya, suaminya. Bukan ke dirinya. Kalau dia sih yakin, beberapa orang pasti akan memandang aneh ke dia karena masih terlalu kecil untuk menjadi tunangan Adam.


Drrrrrrt!!! Ponsel Selenia bergetar di atas meja rias.


"Bentar mbak," ucap Selenia menghentikan aktivitas pegawai salon yang sedang memijit kepalanya. Dia menegakkan tubuh dan mengambil ponselnya. Ternyata sebuah panggilan video dari Adam. "Halo sayang... ups! Hei, Dam..." sapa Selenia kemudian sambil kembali merebahkan tubuhnya untuk kembali di pijit.


Terlihat raut wajah kaget dari Adam karena Selenia mengoreksi panggilan sayangnya ke dia.


"Kenapa berubah?" Adam memprotes.


Selenia cuma nyengir dan sedikit melotot. Dari pantulan cermin, dia bisa melihat pegawai salon itu tersenyum di balik masker yang menutupi mulutnya.


"Gimana sayang? Udah berapa persen persiapan kamu sama mama?" tanya Adam, tak menggubris pelototan tajam Selenia karena dia terus memanggilnya dengan sebutan sayang. Maksudnya, ini aku lagi diservis sama mbak salon Dam, please deh tahan dikit. Selenia memang sedikit risih kalah Adam memanggilnya begitu kecuali di depan orang yang sudah benar-benar tahu bagaimana hubungan mereka.


"Bentar lagi kok, ehehe... iya kan mbak?"


Pegawai salon itu mengangguk.


"Kamu sama mama kan? Tadi mama jemput kamu kan?"


"Iya.... Daaam...." ucap Selenia tertahan. Dia melirik Bu Lisa melalui ekor matanya. Mertuanya itu tampak sedang memejamkan mata menikmati pijatan di kepalanya.


"Ya udah okey... dandan yang cantik... mbak... servis istri...." Adam yang berbicara pada pegawai salon hampir keceplosan dan langsung mendapat pelototan super tajam dari Selenia. "... maksud saya, calon istri saya. Buat dia secantik mungkin."

__ADS_1


Pegawai salon itu lagi-lagi hanya mengangguk. Dia mengacungkan kedua jempolnya sebelum akhirnya Adam melempar kiss bye ke Selenia dan mengakhiri sambungan video call tersebut.


"Lulus SMA mau langsung nikah mbak?" celetuk pegawai salon itu.


Selenia tidak menjawab dan hanya tersenyum tersipu. "Eheheeh... dia memang gitu mbak kalau bercanda," Duh, gara-gara Adam nih!


"Adam ya Sel?" sahut Bu Lisa dari tempatnya.


Selenia melirik lagi, dan mertuanya itu masih memejamkan mata keenakan.


"Iya ma."


"Hmmmh... anak itu. Tadi mau mama ajak ke sini sekalian nggak mau. Alesannya adaaa aja."


...🌺🌺🌺...


Setelah selesai memanjakan diri, tiba saatnya untuk memilih pakaian. Salon kecantikan ini merangkap dengan butik dan MUA. Bu Lisa menyampirkan beberapa helai dress di lengan Selenia, meminta untuk mencobanya di ruang pas. Sementara dia sendiri sudah mendapatkan satu gaun yang sangat cocok berada di tubuhnya. Dress model cocktail berwarna abu gelap yang dipadukan dengan clutch berwarna abu muda.


Dari sekian dress yang dipilihkan oleh mertuanya, pilihan Selenia jatuh pada model wrap yang sedikit longgar di bagian pinggang dan perut. Pilihannya itu ditujukan untuk sedikit menutupi bentuk perutnya yang sudah sedikit menonjol. Padahal baru 3 bulan. Entahlah, mungkin karena sekarang Selenia jadi doyan makan, jadi berat badannya pun perlahan mulai mengalami kenaikan dan itu jelas berpengaruh pada bayinya juga kan?


"Sayang, kamu yakin mau pakai high heels setinggi itu?" mata Bu Lisa membelalak saat melihat Selenia keluar dari ruang pas dengan high heels setinggi 7 cm yang begitu elegant di kakinya.


"Ya habis gimana dong ma? Masa iya pake dress gini mau pake sepatu yang flat, kan nggak lucu. Ini juga acara penting buat Adam, aku nggak mau buat dia merasa insecure cuma gara-gara berdampingan sama aku."


"Tapi sayang, orang hamil nggak boleh pake begituan," bisik Bu Lisa hati-hati.


Selenia tahu akan hal itu. Tapi dia pikir, acara itu kan tidak akan lama. Lagipula di sana nanti pasti lebih banyak duduk kan. Jadi dia tidak perlu khawatir.


"Mama tenang aja," Selenia tersenyum. "Kan aku makeknya juga nggak lama, nggak sampe berjam-jam dan nggak buat jalan jauh juga."


Bu Lisa manggut-manggut. Mau tidak mau dia mengizinkan menantunya memakai high heels. Karena memang yang dibilang Selenia barusan bener sih, masa iya pakaiannya dress sepatunya flat. Apalagi mereka akan pergi ke acara yang super formal. Dalam hati, Bu Lisa bahagia melihat cara Selenia menghargai Adam sebagai suaminya. Meski di sana nanti, dia hanya akan dikenalkan sebagai tunangan.


Waktu menunjukkan pukul 7 malam saat sebuah mobil Lexus LM berwarna hitam mengkilap menjemput mereka di salon. Di dalam mobil tersebut sudah ada Pak Edwin dan Adam bersama dua orang sopir yang salah satunya akan membawa mobil Bu Lisa pulang. Baik Selenia dan Adam sama-sama takjub melihat penampilan masing-masing. Dengan gantleman, Adam mempersilahkan Selenia masuk dan duduk di kursi penumpang berdampingan dengannya. Sementara Pak Edwin dan Bu Lisa yang melihat adegan itu dari kursi paling belakang hanya saling melempar senyum.


Pak Fendi tidak bisa turut hadir ke acara karena dia sudah terlanjur memiliki janji dengan client barunya sejak tiga hari yang lalu. Tapi katanya, kalau masih ada waktu dia akan datang menyusul walau terlambat.


"Kamu nggak pa-pa kan sayang kalau malam ini hanya akan diperkenalkan sebagai tunanganku?" tanya Adam. Jemari tangannya dikaitkan ke jemari tangan Selenia.


Adam tidak mendengar nada keberatan dari jawaban Selenia. Dia membalas senyuman itu dan menciumi tangan Selenia beberapa kali. Tampaknya dia semakin berani menunjukkan kemesraannya pada Selenia di depan kedua orang tuanya.


Perjalanan menuju gedung hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari 20 menit. Sesampainya di sana, mereka di sambut hangat oleh staff-staff Pak Edwin yang sudah berjajar memenuhi ruangan.


Apa yang sempat dibayangkan Selenia kini benar-benar menjadi kenyataan. Saat dia dan Adam berjalan berdampingan dengan tangan yang saling menggenggam melewati para tamu, semua mata para tamu itu tertuju pada mereka. Dan sepanjang mereka berjalan dari pintu utama menuju kursi khusus yang terletak di depan, Selenia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Dia benar-benar merasa menjadi seseorang yang paling beruntung karena menjadi milik Adam.


Tamu undangan perempuan yang tak lain adalah staff kantor Pak Edwin, semuanya berpenampilan menarik, cantik dan mempesona. Tapi sedikitpun Selenia tidak melihat bahwa Adam tertarik dengan salah satu dari mereka. Laki-laki itu justru menggenggam tangannya lebih erat seolah menegaskan bahwa 'you are the one and only'.


...🌺🌺🌺...


"Dengan ini, saya Ridwan Ganindra, orang yang telah dipercaya oleh Bapak Edwin Prawira sebagai Direktur Utama PT. SALOKA WIDYA UTAMA, secara resmi menyerahkan jabatan saya kepada putra tunggal Bapak Edwin Prawira, Adam Lucas Prawira sebagai Direktur Utama dan CEO PT. SALOKA WIDYA UTAMA."


Tepuk tangan bergema meriah di sekitar ruangan gedung. Selenia melepas kaitan jari jemarinya dari tangan Adam saat suaminya itu berdiri hendak berjalan menuju podium, menerima serah terima jabatannya. Selenia menatap suaminya bangga, kagum dan berbagai macam perasaan bahagia yang tidak bisa dilukiskan. Untuk ke sekian kalinya, dia merasa begitu beruntung menjadi seseorang yang menempati tempat paling spesial di hatinya.


Apalagi saat momen dimana Adam memperkenalkan diri kepada para tamu undangan, sekaligus memperkenalkan Selenia sebagai tunangannya di depan mereka semua. Momen yang membuat Selenia begitu terharu, sampai-sampai dia harus bersusah payah menahan diri untuk tidak menangis--tangisan bahagia. Selenia menoleh ke belakang, menyembunyikan wajahnya sebentar di belakang punggung Adam untuk menghapus air mata itu. Dia tidak ingin ada orang yang melihatinya menangis di acara penting ini. Sekalipun itu adalah tangisan bahagia.


Semakin malam suasana semakin hangat. Tapi Selenia merasa mulai tidak nyaman. Kakinya terasa pegal dan punggungnya mulai sakit. Maklum, seharian ini dia sama sekali tidak istirahat.


"Dam, aku capek," bisik Adam di sela-sela suasana meriah para tamu yang sedang menikmati makanan diiringi alunan musik dari grup musik yang disewa Papanya.


Adam melirik jam tangannya. Ini memang sudah lewat dari jam tidurnya Selenia sih.


"Mau pulang sekarang?" Adam menawarkan.


"Nggak pa-pa kan?" Selenia balik bertanya. Tidak enak hati harus mengajak Adam pulang sementara acaranya belum selesai. Apalagi ini kan acara penting untuknya.


"Nggak pa-pa sayang. Lagian kan acara serah terimanya udah selesai. Ini tinggal pestanya orang-orang kantor Papa saja."


"Nggak ngomong Mama atau Papa dulu?" Selenia melirik ke arah Bu Lisa dan Pak Edwin yang sedang ngobrol asyik dengan beberapa tamu di dekat meja prasmanan sambil menikmati makanan.

__ADS_1


"Udah nggak usah. Nanti biar aku nelfon Papa atau Mama aja. Mereka pasti ngerti kok. Yuk," Adam mengulurkan tangannya.


Beberapa tamu perempuan, memandang ke arah mereka dan saling berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi tatapan mereka tak bisa berhenti melihat takjub ke arah Adam yang begitu perhatian pada Selenia.


Adam dan Selenia baru saja berjalan beberapa langkah melewati para tamu saat sebuah suara menggema di podium.


"Selamat malam semua...."


Adam dan Selenia sama-sama menoleh. Suara itu begitu familiar di telinga Adam.


"Papa ngundang Pak Anton?" tanya Selenia yang juga mengenali suara itu.


Adam menggeleng dan mengangkat bahu. Papanya tidak bilang soal ini.


"Perkenalkan, saya Anton Adigunawa. CEO PT. Perkasa Adigunawa," Pak Anton memperkenalkan diri kepada para tamu dan di sambut dengan tepuk tangan meriah. Begitu juga Pak Edwin dan Bu Lisa yang tadinya sibuk ngobrol, kini mulai antusias menghadap podium, mendengarkan apa yang akan diucapkan mantan bos anaknya itu di sana.


"Sayang, bentar ya... kita dengerin dulu," pinta Adam.


Mau tak mau, Selenia mengangguk. Padahal tumitnya yang disangga high heels sudah mulai terasa nyeri. Adam mengajak Selenia menepi dan duduk di dua bangku yang kebetulan kosong.


"Kedatangan saya kemari, karena memenuhi undangan dari Bapak Edwin Prawira. Terimakasih, ini adalah suatu kehormatan untuk saya," Pak Anton menunduk sebentar ke arah Pak Edwin dan Bu Lisa.


"Namun sebenarnya saya tidak memiliki bagian untuk berbicara di sini. Ini adalah kemauan saya sendiri. Di sini, di acara ini, secara pribadi saya akan mengatakan bahwa sebagai seorang atasan yang memiliki seorang karyawan yang hebat, cukup berat bagi saya untuk melepaskan dia. Tapi saya tahu, bahwa saya tidak memiliki hak untuk melarang keinginannya."


Beberapa tamu saling tatap karena belum paham dengan apa yang disampaikan Pak Anton.


"Adam Lucas Prawira. Adalah satu dari sekian karyawan hebat yang saya miliki yang tentunya sangat berpengaruh pada kemajuan dan kinerja perusahaan saya. Perusahaan saya jika diibaratkan sebuah tubuh, dia adalah jantungnya. Itulah kenapa saat saya menerima surat resign dari jantung itu, saya cukup kaget, berat dan..... ah.... rasanya sulit sekali untuk diungkapkan. Intinya, saya sedih, karena sampai hari ini, saya belum menemukan pengganti seperti dia."


Ungkapan itu terdengar semakin menyedihkan saat pemusik mengiringi dengan lagu melow. Beberapa tamu yang mulai sadar siapa yang dibicarakan menoleh ke arah Adam.


"Ehmmm..." Pak Anton mulai melanjutkan pidatonya. "Aduh... kenapa musiknya melow mas?" dia mencoba bergurau ke para pemusik yang langsung di sambut tawa para tamu.


"Saya tahu saya tidak boleh bersedih karena dia bahkan tidak mau menyebut kata perpisahan. Dia hanya mengundurkan diri dan mengatakan kalau 'kita tetap akan bertemu lagi Pak', tapi ternyata dia bohong... hahaha..."


Adam mengatupkan mulut mendengar kalimat bernada gurauan itu. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk berbohong, tapi semenjak hari dimana dia terakhir kali meninggalkan perusahaan Pak Anton, dia langsung disibukkan dengan berbagai macam persiapan di perusahaan Ayahnya.


Pak Anton melanjutkan. "Semenjak meninggalkan kantor saya sore itu... saya dan dia tidak pernah lagi bertemu, hingga malam ini, saya mendapatkan undangan dari Pak Edwin. Tentu saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk datang, karena saya tahu saya pasti akan bertemu dengan jantung itu. Hei, Dam...."


Pak Anton menatap lurus ke arah Adam dan tersenyum. Adam berdiri dan menunduk sopan sama seperti saat dia masih menjadi karyawan Pak Anton.


"Nah... itulah yang membuat saya tidak bisa dengan mudah melepaskan dia..." tangan Pak Anton mengacungkan jempol atas kesopanan itu. "...bagaimana kabar kamu malam ini nak?"


Seorang kru memberikan sebuah speaker pada Adam.


"Selamat malam Pak Anton. Saya baik dan semoga bapak juga selalu diberkati," jawab Adam.


Seluruh tamu bertepuk tangan dan tertawa. Obrolan itu terlihat biasa, namun sangat mengesankan. Attitude Adam adalah bukti keberhasilan Pak Edwin dan Bu Lisa mendidik anaknya.


Saat Pak Anton melambaikan tangannya, Adam kembali duduk sementara dia melanjutkan pidato.


"Oke baiklah, saya tidak mau berbicara panjang lebar lagi, karena rasa kangen saya akhirnya sedikit terobati..." Pak Anton terkekeh. "Kalian semua, para staff PT. SALOKA, saya yakin, kalian akan bekerja dengan aman dan nyaman dibawah kepemimpinan seorang Adam. Untuk itu, izinkan saya di sini untuk turut menyambut serah terima jabatan ini dengan penuh sukacita. Adam Lucas Prawira, selamat atas pencapaian kamu, dan terimakasih atas semua kerja keras yang telah kamu berikan kepada perusahaan saya. Semoga ke depan, kita bisa menjalin kerjasama yang baik. Selamat malam."


Tepuk tangan kembali bergemuruh saat Pak Anton berjalan menuruni podium. Dia lalu mendekati Adam dan memeluknya, layaknya pelukan seorang bapak ke anak.


"Selamat ya Dam. Saya yakin, perusahaan Ayah kamu akan semakin sukses dibawah kepemimpinan kamu," ucap Pak Anton memberi semangat.


"Terimakasih Pak, terimakasih karena sudah datang di acara ini."


Pak Anton tersenyum dan mengalihkan pandangannya pada Selenia yang tetap duduk di samping Adam. Dia sudah tidak kuat lagi kalau harus berdiri lama-lama.


"Selenia, kamu beruntung memiliki seseorang seperti Adam."


Selenia berdiri dan menunduk tersipu. Karena tragedi penusukan itu, akhirnya Pak Anton jadi tahu status hubungannya dengan Adam. Dia menjabat tangan Pak Anton dengan sopan. Memang benar, aku sangat beruntung. Selenia melirik Adam penuh arti.


Setelah itu, Pak Anton pamit dan pergi meninggalkan gedung.


Saat para tamu kembali menikmati meriahnya acara, Selenia merengek mengajak Adam pulang, karena dia sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2