NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -107-


__ADS_3

"Assalamualaikum... selamat datang kembali di rumah kita sayang," Selenia membuka pintu dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan senyum. Di belakangnya, Adam dan ketiga orang tuanya mengikuti.


Setelah 4 hari di rawat di ruang rawat inap, hari ini akhirnya Adam sudah diperbolehkan pulang. Dan karena hari ini hari minggu, jadi Selenia bisa mendampingi.


Tidak hanya mereka berlima yang berbahagia. Saat mereka memasuki rumah, Bi Iyah juga langsung menyambut dengan antusias dan wajah berbinar-binar. Dia memeluk Selenia erat dan menciumi pipinya berkali-kali. Sampai-sampai Adam harus berpura-pura menarik Selenia dari dekapan Bi Iyah karena perempuan itu mendekap Selenia terlalu erat.


"Bibik, kasihan istri aku nggak bisa nafas," gurau Adam sembari merangkul pinggang Selenia.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa.


Oh iya, saking bahagianya saat mendengar kalau hari ini Adam sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Bi Iyah bahkan sampai membuat tumpeng dari nasi kuning. Katanya supaya Adam dan Selenia selalu dijauhkan dari hal-hal yang buruk dan keluarga mereka selalu dipenuhi kebahagiaan.


"Oh ya? Enak tuh bik kayaknya," seru Bu Lisa. "Kebetulan ini pas lagi laper banget," dia memegangi perutnya.


"Ya sudah, monggo semua makan," jawab Bi Iyah. "Pokoknya semua sudah siap di meja makan."


"Gimana? Kita makan sekarang?" tanya Bu Lisa pada yang lain.


Tentu saja Pak Edwin, Pak Fendi, Adam dan Selenia langsung setuju.


"Untung tadi kita nggak jadi mampir beli makanan ya ma," kata Pak Edwin.


"Ya udah ayo kita makan bareng-bareng," Bu Lisa menggandeng tangan Bi Iyah. "Bibik ikut makan juga ya," ajaknya.


Tak lama kemudian, Pak Tono masuk dengan langkah tergopoh-gopoh sambil membawa dua buah tas. Tas itu berisi pakaian Bu Lisa dan Pak Edwin, juga Adam dan Selenia selama mereka di rumah sakit.


"Nah, ini Pak Tono juga," Pak Fendi melambai ke arah Pak Tono. "Pak, itu tasnya taroh aja dulu, ayo kita makan dulu."


Pak Tono tolah-toleh bingung mau meletakkan tas itu di mana. Dan akhirnya dia meletakkannya di sofa ruang tengah.


Adam tidak melepaskan rangkulannya dari pinggang Selenia sampai mereka tiba di ruang makan. Hal itu membuat Bu Lisa dan Bi Iyah saling tatap, tersenyum jahil dan saling sikut. Selenia yang menyadari tengah menjadi pusat perhatian mama mertua dan bi Iyah, justru dengan berani membalas rangkulan Adam dengan merangkul balik tubuh suaminya itu erat dan mengaitkan jari jemarinya.


Mata Bu Lisa membulat melihat keduanya. Tak apa. Dia bahagia, karena hubungan keduanya jauh sekali dari apa yang sebelumnya pernah dia bayangkan. Mereka benar-benar seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya sekarang. Tapi, memang mereka suami istri kan?


...🌺🌺🌺...


Malamnya, Selenia sedang berada di kamar, memeriksa beberapa buku mata pelajaran yang akan dibawa ke sekolah besok. Dia baru saja selesai belajar. Ujian Nasional sebentar lagi, jadi dia tidak bisa santai-santai. Namun sampai saat ini dia sama sekali belum tahu mau lanjut kuliah di mana setelah lulus nanti. Karena di fikirannya, dia justru fokus dengan kehamilannya.


Ada setitik rencana yang sempat terlintas di benaknya setelah lulus nanti. Tapi dia belum menceritakan ke Adam. Dia takut suaminya itu tidak akan menyetujui.


Rencananya, setelah lulus SMA nanti, mungkin Selenia pengen berhenti dulu--nggak mikir kuliah dulu--sampai bayinya lahir. Jadi dia akan mendaftar kuliah tahun depannya lagi.


"Belum tidur sayang?" suara bariton Adam menyentakkan Selenia yang masih sibuk menata buku. Laki-laki itu sudah berdiri di ambang pintu.


Selenia menoleh dan melempar senyum. "Belum, masih nata buku nih buat besok."


Adam berjalan menghampiri Selenia. "Belajarnya udah?" dia membelai rambut Selenia lembut.


Selenia mengangguk. "Udah kok. Kamu kok belum tidur?" dia melirik jam dinding. "Udah jam 9 lho sayang. Mama sama Papa udah tidur? Kok kayaknya di bawah udah sepi?"


Pak Fendi sendiri setelah makan tumpeng rame-rame tadi, siangnya langsung pulang. Katanya ada rekan bisnis dari Kalimantan yang akan datang ke rumah.


Adam mengangguk. "Udah kok. Mereka pasti capek kan. Kayaknya sepulang dari New York, Papa sama Mama lebih sering di rumah sakit ya sayang?"


"Iya. Papa sama Mama cuma beberapa kali aja mampir rumah."


Adam manggut-manggut. Dengan mesra, dia memeluk Selenia dari belakang dan langsung menciumi tengkuknya tanpa ampun. Serangan mendadak itu membuat Selenia merinding. Buku di tangannya terlepas dan beberapa jatuh ke lantai. Tapi sepertinya Adam tidak mempedulikan hal itu dan terus menciumi leher Selenia.


"Aku kangen banget sama kamu," bisik Adam lembut.


Wushh..!! Hembusan nafas dari bisikan itu membuat Selenia merasa geli. Dia pun memejamkan mata demi menahan rasa itu. Nafsunya perlahan mulai naik. Adam melonggarkan pelukannya, menekan pinggul Selenia dan memutar tubuh mungil itu hingga menghadap ke arahnya.


Adam mengangkat dagu Selenia dan menatap wajah itu lekat-lekat. Selenia cuma bisa pasrah saat kedua tangan Adam menangkup pipi dan mendekatkan ke wajahnya. Lalu tanpa berpikir lama lagi, bibir mereka pun saling bersentuhan dengan mesra.


...🌺🌺🌺...


Cia keliling mall ditemani Marvin. FYI, semenjak mereka pacaran, ini adalah kali pertama mereka berdua nge-mall. Tau sendiri kan Marvin tipikal cowok yang seperti apa? Cowok yang lebih suka jalan-jalan di tempat yang menyatu dengan alam dan makan di warteg. Tapi malam ini, Cia berhasil membujuk pacarnya itu untuk menuruti kemauannya. Sebenarnya bukan berarti biasanya Marvin nggak mau menuruti kemauan Cia sih, cuman Cianya saja yang terlalu pasrah dibawa pergi kemanapun oleh Marvin. Dan.... Marvin memang tidak pernah dengan sengaja membawa Cia jalan-jalan ke mall.


Meski ini pertama kali, Marvin tetap sabar dan telaten menemani Cia keluar masuk dari satu toko ke toko lain di dalam mall sambil menenteng tas yang berisi hasil buruan Cia. Sampai akhirnya, perburuan itu berakhir saat keduanya sama-sama melangkah keluar dari toko alat musik. Marvin baru saja membeli ukulele.


"Akhirnya...." mata Cia berbinar mengamati tas-tas hasil belanjaannya. "... kemana lagi kita yang?" dia menoleh ke Marvin yang asyik mengetes dawai ukulelenya.


Marvin mengedarkan pandangan ke sekeliling mall. Ke bagian tempat makanan tapi kemudian menggeleng. Makanan di tempat seperti ini tidak ada yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Kamu lapar nggak yang?" tanya Marvin.


Cia mengangguk manja sembari memegangi perutnya. "Huhuhu... iya lah, capek juga habis berburu ini, hehehe..." dia mengangkat tas-tasnya. "Mau makan di mana kita?"


"Kamu mau makan di sini, atau di luar aja?" biarpun Marvin tidak begitu menyukai makanan di area mall, tapi dia tetap meminta pendapat dong ke Cia. Mana tahu pacarnya itu sudah nggak bisa nahan lapar buat cari makanan di luar.


"Terserah kamu aja deh yang," Cia mengangkat bahu.


"Hmmmm... jangan ngomong terserah deh. Jawaban semacam itu lagi booming loh," godanya. Dia ingat pernah nonton video tiktok bareng Cia yang membahas tentang sepasang kekasih, yang pas cowoknya nawarin makan apa dan di mana, tapi jawaban ceweknya justru kata 'terserah'. Dan ujung-ujungnya saat si cowok nawarin makanan A, B, C si cewek justru nggak mau.


Cia tertawa. "Iiih tapi aku nggak kaya gitu..." dia mencubit pinggang Marvin gemas. "...aku serius kali. Emang terserah kamu aja mau ngajak makannya di mana. Di sini ya ayoook... di luar ya oke lah..."


Marvin memandang Cia lama, menggodanya dengan mengedip-ngedipkan matanya.


"Iih apaan sih yang?" protes Cia. Tiba-tiba merasa salting ditatap begitu.


"Hmmmppfffhhhh..." Marvin menahan tawa. "Ya udah kalau gitu kita makan di sini aja, yang deket," dia menarik tangan Cia.


Tapi Cia justru menahan langkah. "Yang...." dia menggeleng.


Kening Marvin mengerut. "Tuh kan bener? Aku bilang juga apa barusan? Katanya terserah?" dia mencibir.


"Kamu... nggak pa-pa makan di sini?" tanya Cia hati-hati. "Soalnya kan dulu kamu pernah bilang ke aku, katanya makan di warteg tuh lebih nikmat. Jadi buat apa kamu maksain diri makan di sini kalau kamu nggak bisa menikmati?"


Marvin tersenyum geli. "Duh ya ampun bijaknya kata-kata pacarku ini..." tangannya menjawil pipi Cia lembut. "Oke, kalau gitu aku ralat kata-kataku yang dulu. Makan sih nikmat-nikmat aja rasanya asal perut lagi laper."


"Serius?"


Marvin mengangguk. "Udah deh ayo buruan cari makan. Masa cuma mau makan aja kita harus debat kaya gini sih? Nggak lucu banget."


"Ya udah ayok."


Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat makan yang ada di dalam mall.


Setelah menyusuri beberapa deret tempat makan, akhirnya pilihan Marvin jatuh pada satu tempat yang tidak terlalu ramai dikunjungi orang. Mereka duduk di satu bangku yang masih kosong. Setelah memilih menu, Marvin melambai memanggil seorang pelayan yang berdiri di belakang konter.


Sembari menunggu makanan datang, Marvin mencoba ukulele barunya. Bermain musik adalah salah satu hobbynya selain olahraga. Terutama alat musik yang cara mainnya dipetik seperti guitar, bass dan ukulele.


"Bagus ih..." komentar Cia saat mendengar petikan ukulele Marvin yang mengalunkan satu nada musik yang sangat dia kenal. "... lagu kesukaan aku kan itu?" kepalanya mulai bergoyang ke kiri dan kanan mengikuti irama.


"Cia?" ternyata dia Renata yang datang bersama anak dan pengasuhnya. Dia menyapa Cia ramah.


Mendengar namanya disebut, Cia celingukan mencari sumber suara. Dan seketika dia langsung kicep saat melihat siapa yang memanggil. Renata?


Cia tersenyum canggung. Bukan apa-apa sih, semenjak dia tahu bahwa orang yang mencelakai Adam ternyata buka Renata, Cia memang jadi nggak enak hati sendiri. Awalnya dia berpikir 'ah ya udahlah, nggak bakalan ketemu dia ini', tapi ternyata malam ini mereka malah tak sengaja bertemu.


Renata sendiri sebenarnya merasa kalau Cia memang tidak welcome dengannya. Dia sadar diri, itu semua karena Cia adalah sahabat Selenia, dan dia mungkin masih sebel sama peristiwa masa lalu saat Selenia dan Adam sering terlibat cek-cok karena Selenia mengira suaminya ada sesuatu dengan dirinya. Tapi dia tidak mau ambil pusing, dan memaklumi sikap Cia. Anak seusianya memang masih belum bisa mengendalikan emosinya kadang-kadang.


"Kamu di sini juga?" lanjut Renata. "Udah lama?"


Oh ya, begitu tahu bahwa orang yang mencelakai Adam adalah mantan suaminya--Devan--, dua hari setelah Devan ditangkap, Renata mendatangi kantor polisi. Dia meluapkan semua amarah dan kekecewaannya pada Devan atas semua yang telah Devan lakukan pada Adam. Dia tidak pernah menyangka kalau Devan akan berbuat sedemikian nekat hanya karena dendam.


"Eee... udah kok," jawab Cia sedikit gugup.


Renata memperkenalkan diri ke Marvin. "Pasti pacarnya Cia ya?"


Duh. Sok akrab banget sih. Batin Cia di tengah rasa canggung dan gugupnya. Tapi Marvin justru mengangguk sembari tersenyum bangga. Dia meraih tangan Cia dan meremasnya pelan. Mau tak mau Cia pun turut mengangguk dan tersenyum.


"Eh ya udah, itu makanannya udah dateng. Sorry lho jadi ganggu waktu kalian," ujar Renata kemudian sembari menunjuk makanan di atas meja Cia dan Marvin yang belum sempat disentuh.


"Maaah... aku mau pee..." teriak Nola dari gendongan Mbak Ami.


"Oohhh... adek mau pee? Ya udah kita ke toilet dulu yuk," Renata mengambil Nola dari gendongan Mbak Ami. "Mbak ini barang belanjaannya bawa ke bangku yang di sana aja. Aku mau ke toilet dulu anter Nola," dia menunjuk ke satu sudut.


Mbak Ami mengangguk membawa barang belanjaan ke bangku yang ditunjuk Renata sementara bosnya itu membawa Nola ke toilet.


Renata sengaja memilih untuk pindah ke bangku lain, karena dia merasa sepertinya Cia tidak nyaman dengan kedatangannya.


"Dia siapa yang?" bisik Marvin saat Renata dan Mbak Ami menjauh.


Cia menggeleng dan mengangkat bahu bingung.


"Dah lah, nggak penting kok."

__ADS_1


...🌺🌺🌺...


"Kenapa begitu?" kening Adam mengerut. Dia baru saja mendengar pernyataan Selenia tentang keinginannya untuk tidak langsung lanjut kuliah setelah lulus SMA nanti.


Mereka berdua duduk di atas karpet di lantai dengan posisi saling bersandar pada tempat tidur.


"Iya, soalnya aku mau fokus dulu sama ini sayang," Selenia mengelus perutnya. "Daripada nanti pas aku masuk kuliah terus harus cuti karena ngelahirin, mendingan sekalian aja. Kuliah kan bebas, nggak ada batas usia."


Adam sebenarnya agak keberatan dengan keinginan Selenia itu. Dia juga jadi merasa bersalah karena dulu tidak bisa menahan nafsu. Harusnya Selenia masih bisa menikmati masa remajanya dengan bebas tanpa harus dibebani dengan rutinitas ngurus bayi. Tapi ini...


"Sayang," panggil Selenia karena Adam tak kunjung merespon. "Kok malah diem sih?"


"Ee... iya sayang... kalau aku sih, sesuka kamu aja. Aku nggak mau maksain. Tapi..." Adam tidak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi... kenapa?"


"Aku pengen tahu. Kamu.... nyesel nggak sih?"


Tubuh Selenia menegak. "Maksudnya?"


"Karena gara-gara kamu hamil, kamu jadi harus nunda kuliah dan..."


"Adam stop deh!" wajah Selenia berubah masam. "Aku nggak suka ya kamu ngomong gitu."


Adam menelan ludah mendengar gertakan Selenia. "Sayang, maaf aku nggak bermaksud...."


"Ya terus maksud kamu apa ngomong begitu? Atau jangan-jangan kamu yang nggak suka aku hamil?"


"Ya nggak mungkin lah sayang," Adam menarik Selenia ke pelukannya. "Aku tentu seneng... itu artinya, sebentar lagi keluarga kita bakalan lengkap."


"Terus kenapa kamu ngomong gituuu?" gerutu Selenia lirih.


"Maaf sayang. Maaf kalau aku sudah salah ngomong."


"Aku nggak suka. Jangan ngomong gitu lagi," rengek Selenia lirih.


"Iya, aku nggak akan ngomong gitu lagi."


"Janji?"


"Iyaaaa sayang."


Selenia menarik tubuhnya lagi dari pelukan Adam. "Ya udah, ini kan udah malem. Aku mau tidur, ngantuk banget," dia berdiri dan naik ke tempat tidur.


Saat Selenia baru saja merebahkan diri dan menutup tubuhnya menggunakan selimut, dia kaget melihat Adam yang juga turut berbaring di sebelahnya.


"Lhoh... kamu kok tidur di sini sih sayang? Nanti kalau Papa atau Mama lihat gimana?" Selenia terbangun lagi, menyangga tubuh dengan kedua sikutnya.


"Kalau Papa sama Mama lihat ya nggak pa-pa lah, namanya juga suami istri, masa nggak boleh tidur bareng?" ucap Adam santai.


Selenia melongo. "Adaaaam...."


"Hmmmm..."


"Kamu tidur di kamar kamu gih. Besok deh atau kalau Papa sama Mama udah nggak di sini, kamu boleh tidur di kamarku lagi," Selenia kembali merengek. Dia masih merasa takut kalau mertuanya memergoki mereka tidur bareng.


"Sayang...." Adam tersenyum geli melihat kecemasan yang terpancar di wajah istrinya. "Mama bilang sama aku, kalau bumil nggak boleh tidur sendirian, bahaya katanya."


Selenia terdiam sejenak. Maksudnya, Mama Lisa udah nggak masalah gitu kalau Adam dan dia tidur sekamar? Seranjang?


"Kok malah bengong sih?" celetuk Adam. "Katanya ngantuk? Let's sleep honey..."


"Bener mama ngomong gitu?" tanya Selenia tak yakin.


"Ya ampun sayang, kamu kok nggak percaya sama aku sih? Besok deh tanya aja sendiri sama mama."


"Diiihh ya nggak mau lah."


Adam terkekeh. Tidak mau terus berdebat, dia memilih membaringkan diri dan turut menutupi tubuhnya dengan selimut. Dia tahu sebenarnya Selenia tidak keberatan kalau dia tidur di sini. Entahlah, setelah sekian lama menjalani biduk rumah tangga, Adam merasa kalau Selenia kadang masih memiliki perasaan canggung untuk menunjukkan kemesraan padanya. Maklum, mungkin karena usia mereka yang terpaut jauh kali ya?


"Sini," Adam menepuk-nepuk lengannya yang terulur, meminta supaya Selenia menyandarkan kepalanya di sana.


...🌹🌹🌹...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2