NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -56-


__ADS_3

Beberapa hari selama mobil Renata masih di bengkel, Adam berbaik hati menawarkan tumpangan untuknya. Dan pastinya itu Adam lakukan tanpa sepengetahuan Selenia. Bukan bermaksud untuk sembunyi-sembunyi, dia hanya tidak ingin hal sepele itu membuat mereka ribut-ribut. Niat Adam murni hanya ingin membantu Renata.


Dari situ, Mereka berdua jadi sering ngobrol dan Renata banyak bercerita tentang kehidupan yang dia jalani selama ini. Menurut Adam, tidak ada kata lain yang pantas disematkan pada perempuan itu selain wonder woman setelah dia tahu sedikit tentang kisab hidupnya. Renata, seorang perempuan muda yang sudah banyak memakan asam garam kehidupan melebihi dirinya. Single parent, sudah tidak memiliki orang tua, dan satu-satunya saudara yang dia miliki sedang menjalani hukuman di balik jeruji besi. Belum lagi masalah tuntutan hak asuh anak dari mantan suaminya yang pasti membuatnya sangat terluka. Adam juga sudah mendengar tentang Renata yang meminta jadwal sidang hak asuh anaknya ditunda karena dia harus pergi ke luar kota bersama dirinya dan Irham.


"Bukankah lebih cepat lebih baik Ren?" tanya Adam saat mereka makan siang.


"Saya tidak bisa terburu-buru dalam hal ini Pak," jawab Renata lesu. "Terlebih saya juga ingin mencari tahu, apa alasan Devan tiba-tiba meminta hak asuh atas Nola. Padahal dia sudah mengabaikan kami selama hampir 2 tahun."


"Kalau begitu, itu bisa di jadikan alasan terkuat kamu dong Ren. Saya yakin, kamu pasti akan memenangkan hak asuh itu."


"Semoga saja ya Pak."


Dan karena hal ini, hari ini Adam jadi kepikiran untuk menawarkan seorang pengacara untuk membantu Renata. Adam melirik jam tangannya. Masih ada waktu 10 menit sebelum meeting dimulai. Ya, proyek pembangunan rukan dan finishing renovasi aula SMA Bhakti Nusa cukup membuat waktu Adam di kantor hanya dihabiskan untuk meeting meeting dan meeting. Belum lagi ditambah proposal-proposal baru yang masuk, yang isinya juga pengajuan proyek setelah tahun baru. Segera dia bergegas ke ruangan Renata sebelum apa yang ada diotaknya ini terlupakan. Siapa tahu ini bisa meringankan beban pikiran sekretarisnya itu.


Renata tersenyum mendengar tawaran yang diberikan Adam.


"Saya sebenarnya pernah punya pengacara, tapi semenjak dia tidak bisa memenangkan kasus kakak saya, saya tidak mau memakai jasa beliau lagi."


"Kenapa begitu?" kening Adam mengerut.


"Hukuman untuk kakak saya itu terlalu berat, Pak. Kakak saya itu bukan pengedar, bukan penjual. Dia hanya pemakai, yang saat kejadian dia baru dua kali makek, dia mengakui itu pada saya," mata Renata berkaca-kaca. "Seharusnya dia bisa hanya direhabilitasi, bukan dijadikan narapidana seolah-olah sudah seperti pecandu berat seperti itu."


"Sekali lagi, saya turut prihatin ya Ren atas apa yang terjadi dalam hidup kamu," Adam tidak pernah membayangkan andai dia berada di posisi Renata. Pasti berat sekali.


Renata mencabut tisu dan menyeka air matanya. "Nggak pa-pa, Pak. Saya justru berterimakasih sama Bapak karena... sudah sudi menjadi tempat saya mengeluarkan keluh kesah saya."


Adam manggut-manggut dan menghela nafas panjang.


"Itulah kenapa saya ke sini, saya pengen menawarkan pengacara sama kamu. Dia teman saya. Kalau kamu mau, saya bisa memperkenalkannya ke kamu. Saya tidak bisa menjamin apapun, tapi dia mempunyai reputasi yang bagus selama menangani kasus."


Renata terdiam sejenak. Itu memang tawaran bagus, mengingat dia yang saat ini sama sekali tidak punya kenalan seorang pengacara--setelah melepaskan pengacara yang tidak bisa memenangkan kasus kakaknya. Tapi biar bagaimanapun dia harus memikirkan biayanya juga. Dan dia tahu dia sedang tidak memiliki banyak tabungan untuk hal itu--membayar pengacara. Kalau dulu saat kasus kakaknya masih bergulir, dia membayar pengacara dengan uang tabungan kakaknya. Dulu kakak Renata adalah seorang pengusaha kafe. Tapi semenjak dia tersandung kasus dan akhirnya ditahan, usahanya itu tidak terurus lagi dan mengalami penurunan pemasukan. Renata sendiri tidak punya kemampuan untuk melanjutkan usaha tersebut karena dia harus mengurus Nola, sekaligus pekerjaannya sendiri sampai akhirnya kafe itu terpaksa ditutup karena benar-benar pailit.


Apa iya dia harus menggunakan sertifikat kafe milik kakaknya untuk membayar pengacara? Renata berpikir keras. Itu adalah satu-satunya barang berharga milik kakaknya yang tersisa. Tapi bagaimana kalau suatu waktu kakaknya membutuhkan itu?


"Bagaimana Ren?" Adam mengulangi pertanyaannya.


"Eee... sepertinya saya harus bicara dulu sama kakak saya."


"Kamu mau besuk dia?"


Renata mengangguk. "Iya, saya pikir kakak saya harus tahu masalah ini."


"Oke, semoga tawaran saya bisa membantu kamu ya."


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Bi Iyah sudah kembali ke rumah Adam dan membawa banyak sekali oleh-oleh. Cemilan khas pedesaan yang ternyata sangat disukai Selenia. Rengginang manis. Kata Selenia, makanan itu bikin nagih.


"Ih sumpah ini tuh enak banget loh bik," Selenia tidak berhenti mengunyah. Siang itu sepulang sekolah dia langsung ganti pakaian dan menghambur ke ruang belakang menemani Bi Iyah yang sedang menjemur pakaian.


"Non Selenia suka to ternyata? Baru kali ini ya Non makan rengginang?"


"Udah pernah sih Bik sebelumnya, tapi nggak seenak ini."


"Kalau rengginang yang Bibik bawa itu memang terkenal yang paling enak Non di tempat Bibik," Bik Iyah telah selesai menjemur. "Pabriknya juga nggak jauh dari rumah Bibik."


"Lain kali kalau Bibik pulang, bawain beginian lagi ya."


Bi Iyah mengacungkan kedua jempolnya. "Beres Non."


Ponsel Selenia bergetar. Dia meletakkan kaleng rengginang dari pangkuannya dan berdiri untuk mengambil ponsel dari saku celana. Ternyata pesan dari Adam.


Adam: [Sayang aku hari ini pulang agak malem. Soalnya aku ada perlu sama temenku. Makan malam aja dulu, jangan nungguin aku. ♥️]


Meskipun pesan itu dibumbui emotikon cinta, tapi tidak membuat hati Selenia senang. Pasalnya beberapa hari ini Adam selalu pulang lewat jauh dari jam normal. Alasannya kalau nggak meeting ya mau ketemu temen. Bukannya Selenia nggak percaya, dia hanya merasa khawatir dengan kesehatan suaminya.


Selenia: [Kamu juga. Jangan lupa makan ya...]


Adam: [Siap bos!]


Selenia meletakkan ponselnya di atas meja dan melanjutkan menikmati rengginang.


...🌺🌺🌺...


Adam akan menemani Renata membesuk kakaknya di rutan. Tadinya Adam sudah ingin menolak, tapi mendengar ajakan Renata yang seperti memohon, rasa tidak teganya muncul. Siapa lagi yang akan membantu dia kalau bukan saya? Pikirnya. Karena setahu Adam, dia mungkin satu-satunya orang yang tahu permasalahannya. Ah sudahlah, semoga saja tidak menjadi hal yang rumit, harapnya.


"Mari Pak," Renata muncul dari dalam gedung, menemui Adam yang sudah menunggu di depan.


"Ya," Adam mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju halaman parkir.


Adam membawa mobilnya perlahan keluar dari halaman kantor. Saat tiba di pintu gerbang, seorang laki-laki dengan memakai helm full face mengendarai motor KLX hitam merah masuk dan hampir menyenggol bemper mobilnya. Beruntung Adam dengan sigap bisa mengendalikan mobilnya. Mereka sama-sama berhenti. Adam menurunkan kaca mobil, tapi si pengendara motor tidak membuka helm. Dia hanya melihat ke Adam dan Renata beberapa saat, mengangguk, kemudian terus menerobos masuk ke dalam.


"Orang itu siapa Pak?" tanya Renata.


Adam hanya mengangkat bahu. "Mungkin tamunya Pak Anton, saya juga nggak tahu. Helmnya kan nggak dibuka," dia kembali menjalankan mobilnya.


Pengendara KLX itu Tony. Dia memarkir motornya dengan asal lalu melepas helm. Otaknya berpikir dengan apa yang baru saja dia lihat. Kalau memang Adam adalah suaminya Selenia, kenapa dia kayaknya akrab banget sama perempuan itu? Satu mobil lagi... batinnya.


"Mas anaknya Pak Anton ya?" seorang satpam menghampiri.


"Bener," Tony mengangguk. "Kenapa Pak?"

__ADS_1


"Mohon maaf Mas, markir motornya jangan di sini ya. Soalnya menghalangi mobil yang mau keluar dari parkiran nanti."


"Oh, begitu? Oke deh," Tony menuntun motornya dan memarkirkan di ujung parkiran.


...🌺🌺🌺...


"Tony?" Pak Anton masih di ruangannya. Dia menurunkan kacamatanya saat melihat anak semata wayangnya itu sudah berdiri di ambang pintu.


"Papa lagi sibuk?" Tony berjalan gontai lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Pak Anton menutup laptop. Dia berdiri dan berjalan menghampiri Tony.


"Enggak kok," dia duduk di samping Tony. "Kamu tumben ke sini nggak ngasih tahu Papa dulu?"


"Hmmm... dulu Papa bilang aku boleh kesini kapanpun aku mau," Tony mencibir.


"Hahaha..." Pak Anton tertawa. Tangannya menepuk-nepuk bahu Tony. "Iya... iya... Papa kan cuma nanya. Kamu sendirian aja?"


Maksud kedatangan Tony ke kantor Ayahnya sore itu, sebenarnya dia ingin melihat-lihat seluruh isi kantor dan ruangan-ruangannya. Entah kenapa tiba-tiba dia memiliki keinginan itu hari ini. Padahal biasanya dia paling masa bodoh dengan urusan pekerjaan Ayahnya. Tapi sayang Pak Anton tidak bisa menuruti permintaan Tony karena waktunya mepet, alias nggak ada. Kantor itu terlalu besar dan luas untuk di survay hanya dengan waktu yang kurang dari dua jam. Apalagi Tony telah dipilih Ayahnya sebagai penerus perusahaannya kelak. Pak Anton harus memilih waktu yang tepat dan longgar untuk mengajaknnya berkeliling sekaligus menjelaskan tentang kantor dan isinya. Untungnya Tony tidak mempermasalahkan hal itu. Akhirnya, sore itu kedua Bapak-Anak tersebut hanya menggunakan sisa waktu untuk bercengkerama sambil menikmati secangkir espresso.


Walau sebenarnya Tony juga memiliki keinginan untuk bertanya lebih jauh soal Adam pada Ayahnya, tapi dia batalkan. Rasanya nggak etis kalau dia terlalu mengkepoin laki-laki itu lewat Ayahnya. Tony masih sangat penasaran dengan status Adam yang sebenarnya.


Apa mungkin dia juga berbohong pada Ayah tentang statusnya saat ini? Bisa saja kan Ayahnya nggak tahu? Apalagi di CV tertulis dengan jelas kalau status Adam memang single.


"Dia sekretarisnya Adam Ci.... bayangin.... bayangin Ci..."


"Suami gue punya sekretaris pribadi yang dimana dia pasti bakalan sering menghabiskan waktu bersama di kantor."


"Suami gue."


"SUAMI GUE!"


Kalimat itu kembali terngiang di telinga Tony. Kata-kata SUAMI GUE yang pernah diucapkan Selenia tempo hari bahkan menggema paling keras. Dan perempuan itu, yang tadi dia lihat satu mobil dengan Adam, apa dia yang dicemburui Selenia?


Ah!! Setelah bukit bintang, Ibunya, kini isi kepala Tony kembali dijejali oleh fakta yang masih gamang. Benarkah Selenia sudah menikah? MENIKAH!


"Jangan bengong!" celetuk Pak Anton. "Ayo habisin kopinya terus kita pulang."


...🌹🌹🌹...


...Makasih untuk yang selalu ninggalin jejak (like, komen n vote)....


...Selalu kasi kritik dan saran biar aku bisa berkembang 🙏🏻🌺...


...Los amo!...

__ADS_1


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2