NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -43-


__ADS_3

"Kamu sengaja couple-an kan sama dia? Mentang-mentang kalian nggak ada tema monokrom, trus kalian bisa janjian pake baju dengan warna yang sama gitu?!" teriak Selenia di depan kamar mereka, sepulang dari pesta ulang tahun.


Selenia pulang 20 menit lebih awal dari Adam karena Adam harus mengantar Renata pulang terlebih dahulu. Selenia sudah menahan emosi banget selama menunggu Adam sampai di rumah. Malam itu terjadi perdebatan sengit antara keduanya. Adam pun sebenarnya sudah mempunyai firasat nggak enak pas menjemput Renata dan melihatnya muncul bersama Nola dengan mengenakan pakaian yang warnanya mirip-mirip dengan pakaiannya. Tapi mereka memang benar-benar nggak janjian.


"Aku nggak ada janjian sama dia Sel, sumpah! Aku juga nggak tahu kenapa baju kita bisa warnanya senada," Adam berusaha menjelaskan sepelan mungkin.


"Bohong!" sahut Selenia galak. "Mana ada nggak janjian tapi bisa plek ketiplek gitu?! Senada sama anaknya sekalian! Tahu nggak sih, kalian itu udah kaya keluarga idaman banget! Itu kan yang sebenarnya kamu mau??? Jujur aja lah Dam! Aku juga nggak yakin kamu tu bisa cinta sama anak kecil kaya aku!!" teriaknya tak terkontrol. Selenia benar-benar meledakkan semua emosinya.


Adam celingukan. Dia takut teriakan Selenia yang tidak terkontrol akan membuat Bi Iyah bangun dan mendengar pertengkaran mereka.


"Seeeel... ssstt," Adam menempelkan telunjuknya ke bibir Selenia. "Jangan teriak-teriak dong, kalau Bibik denger kan nggak enak."


"Bodo amat!" Selenia menampik tangan Adam. Dia menggigit bibir bawahnya menahan diri supaya tidak menangis. Dadanya sudah sebak banget sejak pulang dari acara tadi. Meskipun dia sudah sempat bersenang-senang karena diajak dansa dan joget oleh Tony, tapi kedongkolan itu muncul lagi manakala dia melihat Renata yang masuk ke mobil Adam saat pulang dari acara.


"Kenapa kamu semarah itu sih Sel? Kamu sadar nggak sih kamu juga bersenang-senang di sana, dansa sama anak bos di latar utama!" ucap Adam akhirnya. Nadanya berubah ketus.


Tangis Selenia pecah juga pada akhirnya. Dia menyeka air matanya dengan kasar. "Itu bukan mau aku, Tony narik tangan aku ke depan!"


"Ya tapi sama aja, kamu juga buat aku cemburu Sel. Di depan suami kamu, kamu bisa berdansa sama cowok lain."


"Disana kamu sama sekali nggak peduliin aku!" sahut Selenia. "Cia sama Marvin juga sibuk sendiri, kamu lebih sibuk sama Renata dan anaknya, salah aku juga? Kamu sadar nggak sih, aku ke pesta bukannya seneng tapi malah nyesek!! Kamu..." dia menunjuk wajah Adam tajam. "Juga bisa-bisanya di depan aku, asyik-asyikan sama 'keluarga impian' kamu, kesana kemari sama Renata terus! Hah??!!"


Adam memejamkan matanya beberapa saat.


Tahan Adam... tahan emosi kamu, kata suara dari dalam hatinya. Bagaimanapun Selenia sedang emosi dan dia belum bisa mengontrol itu.


It's okay, untuk saat ini aku harus ngalah, batin Adam. Meskipun sebenarnya dia juga berhak marah atas kecemburuannya pada Tony, tapi cukup. Malam telah larut. Mungkin Selenia dan dia juga sama-sama capek. Jadi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini. Yang ada bukannya selesai, malah tambah runyam.


"Oke... Sel..." Adam membuka matanya.


BRAK!!


Bersamaan dengan itu pintu kamar Selenia terbanting dari dalam. Selenia meninggalkan Adam yang masih berdiri mematung di tempat. Lagi-lagi Adam harus mengurut dada mendapati Selenia yang telah mengabaikan dirinya.


"Sel... Seleniaaa," Adam berusaha memanggil Selenia dan mengetuk pintu kamar pelan-pelan. Tapi tetap tidak ada respon.


...🌺🌺🌺...


Paginya, mereka tetap sarapan bareng seperti biasa. Bahkan Adam sudah berpakaian rapi siap berangkat ke kantor. Tapi suasananya lain karena sama sekali tidak ada obrolan. Hening dan sepi banget. Hanya suara sendok, garpu dan piring yang terdengar beradu. Bi Iyah yang saat itu masih sibuk di dapur sampai bingung sendiri melihat keduanya. Semalam dia memang sempat mendengar ada ribut-ribut di lantai atas. Tapi karena saking ngantuk yang sudah tidak tertahankan, Bi Iyah tidak memiliki niatan untuk menguping.


Selesai sarapan Selenia langsung bergegas meninggalkan ruang makan. Dia berangkat sekolah tanpa sepatah kata pun meminta izin pada Adam. Tapi Adam tidak menyerah. Dia menyusul Selenia dan meminta supaya Pak Tono di rumah saja hari ini karena Adam yang akan membawa mobilnya sekaligus mengantar Selenia ke sekolah.


"Kamu?" ucap Selenia ketus saat Adam masuk ke mobil.


"Pindah ke depan," perintahnya.

__ADS_1


Selenia mendengus kesal. Dengan gaya urakan, dia melangkah ke jok depan tanpa keluar lebih dulu. Mata Adam membelalak melihat sikap Selenia. Sejak kapan istriku jadi bar-bar begini? Batinnya.


Setelah Selenia memasang sabuk pengaman, Adam pun segera menghidupkan mesin kemudian langsung melesat meninggalkan rumah.


Jalanan belum begitu ramai. Adam membawa mobilnya dengan kecepatan yang membuat Selenia ketar-ketir. Tapi Selenia berusaha tidak menunjukkan ketakutannya meski jantungnya sudah berdebar nggak karuan. Cara terakhir yang dia lakukan saat Adam terus menambah kecepatan laju mobilnya hanyalah memegang handle hand grip erat-erat. Adam melirik gerakan Selenia melalui ekor matanya. Dia tahu istrinya tidak nyaman dengan caranya mengemudi. Tapi Adam tak menyerah. Dia hanya ingin mendengar Selenia membuka suaranya pagi itu. Karena cara lembut dan sapaannya tidak cukup mampu membuat Selenia membuka suara sejak semalam.


"KAMU MAU BIKIN AKU MATI KONYOL?!!!" teriak Selenia pada akhirnya.


CIIIITTTTTTT!!!!! SREEEKKKKK!!


Teriakan Selenia membuat Adam spontan menginjakkan kakinya pada rem sekaligus membanting setir mobil ke sebelah kiri. Pijakan rem mendadak itu juga yang membuat kepala Selenia hampir membentur dashboard. Beruntung tangan kiri Adam dengan sigap menahan pundak Selenia, hingga membuat posisinya lumayan aman.


Adam menyandarkan punggungnya, mengatur nafas dan menatap lurus ke depan. Untuk beberapa menit mereka berdua terdiam dalam keheningan.


"Hiks... hiks..." terdengar isakan. Selenia menangis sembari memegang dadanya sebelah kanan.


"Sel??" Adam menoleh. "Kamu kenapa?"


"Kamu kalau mau bunuh aku, bunuh aja Dam! Lakuin aja di rumah, kasih aku racun atau sianida di makanan atau minuman aku! Jangan kaya gini!" Selenia masih terisak.


"Ya ampun," Adam melonggarkan seat beltnya dan mencondongkan tubuhnya ke dekat Selenia. "Kamu ngomong apa sih? Jangan ngawur."


"Kamu yang ngawur!" bentak Selenia. "Kenapa kamu larang Pak Tono anter aku ke sekolah?? Kenapa kamu bawa mobil kaya orang lagi balap F1? Kamu mau bunuh aku? Bikin aku mati konyol? Bikin aku kecelakaan dan tubuh aku hancur gitu???" cerocos Selenia.


Selenia menutup wajahnya menggunakan telapak tangan. Dia masih terus terisak. "Jantung aku sakiiit Dam," ucapnya lirih. Intonasi nada bicaranya mulai memelan.


Mata Adam membelalak. Spontan dia memegang dada Selenia sebelah kanan yang otomatis langsung ditampik kasar oleh Selenia. Bukan apa-apa, tapi Adam terlanjur menyentuh bagian sensitif tersebut.


"Aduh!" pekik Adam. "Kok ditampik sih? Kan katanya jantung kamu sakit."


"Ya tapi nggak usah dipegang juga kali," Selenia melotot sewot ke arah Adam. Nafasnya memburu menahan emosi.


Suasana jadi sedikit mencair karena peristiwa itu. Tawa Adam sudah hampir meledak melihat ekspresi Selenia. Tapi dia coba tahan, pasalnya Selenia masih menampilkan wajah yang siap menerkam.


"Ya udah, aku minta ma'af. Udah dong, masa ngambek dari semalam masih awet juga," Adam mencoba merayu.


Masih belum berhasil. Selenia masih nekat cemberut sembari memegang dada kanannya.


"Masih sakit?" tanya Adam.


Tidak ada jawaban.


"Masih sakit apa enggak?" tanya Adam lagi, lebih sabar.


Selenia justru beringsut dam memandang ke luar jendela.

__ADS_1


"Hmmmhhh," Adam menghela nafas. "Ya udah kalau nggak mau jawab. Kalau masih sakit, oke kita ke rumah sakit," dia mulai menstarter mobilnya.


Mendengar kata rumah sakit, tangan Selenia reflek menahan lengan Adam.


"NGGAK!!" teriak Selenia. "Aku mau ke sekolah, aku nggak mau ke rumah sakit!"


"Hmmmppfffhhhh....!" Adam terkikik. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Sayaaaaang kenapa sih sekarang harus diancem dulu baru mau ngomong?? Pake acara teriak lagi."


"Kamu tu bikin aku bete tau nggak sih Dam," rengek Selenia.


"Iyaaaa maaaaaaf soal semalem? Udah lah lupain pliiiiiiis, itu nggak ada arti apa-apa."


Bayangan kebersamaan Renata dan Adam semalam melintas secepat kilat namun jelas di benak Selenia. Lagi-lagi dia mendengus.


"Mau sampai kapan sih marahnya? Nggak capek??" sambung Adam lagi. "Semalam aku tu hampa banget gara-gara kamu ngamuk-ngamuk tau nggak?"


"Ya siapa yang nggak ngamuk coba, bayangin aja..."


"Sssshhhttttt!!" potong Adam. "Udah nggak usah dibayangin lagi. Percaya sama aku Sel," tangannya menggenggam tangan Selenia. Kali ini tidak mendapat tampikan.


Selenia menatap Adam pasrah. Sebenarnya dia juga capek karena terus emosi dari semalam. Tapi dia gengsi kalau mau baik-baikin Adam duluan. Makanya dia nekat mempertahankan emosinya sampai pagi ini yang ternyata malah membuatnya hampir mati konyol karena sikap Adam.


Adam membelai rambut Selenia lembut. "Nggak usah bahas itu lagi ya," pintanya.


Selenia menatap wajah Adam yang tampak memelas. Dia mengedipkan matanya perlahan pertanda mengiyakan.


"Nah gitu kan makin cantik," rayu Adam.


Selenia menunduk menahan senyum. Emosi yang dari semalam menggumpal di dadanya perlahan menguap.


"Stop!" tangan Selenia menahan Adam yang mulai mendekatkan tubuhnya. "Nggak mau sekarang."


"Cium kening aja sayang."


"Kalau aku bilang enggak ya enggak."


"Ya tapi kenapa??"


"Nanti aku jadi nggak fokus sama pelajaran di sekolah kan gara-gara inget kecupan kamu. Terus nilaiku jelek gimana??"


Adam tergelak mendengar alasan lucu Selenia. Meski dia tahu itu cuma sekedar alasan, tapi dia mencoba untuk menuruti larangan itu. Sebagai gantinya dia hanya memberikan kissbye sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2