NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -106-


__ADS_3

DUA HARI KEMUDIAN


Kondisi Adam sudah jauh lebih baik pasca dipindah ke ruang perawatan. Tinggal menunggu izin dokter saja kapan bisa dibawa pulang. Selenia juga telah mendengar kabar tentang penangkapan Devan yang ternyata adalah dalang dari peristiwa penusukan Adam di Carlos. Pihak kepolisian mengatakan, kasus ini bisa cepat diungkap berkat bantuan Tony. Tapi... semenjak Devan tertangkap, Selenia malah sama sekali belum bertemu dengan Tony. Bahkan saat Selenia mencoba menemuinya di Sekolah, temannya bilang sudah dua hari Tony tidak masuk.


"Sayang, aku izin keluar sebentar ya," pamit Selenia siang itu selepas menyuapi Adam. Pulang sekolah tadi dia langsung ke rumah sakit--dia bahkan belum mengganti pakaiannya.


"Mau kemana sayang?" Adam meraih tangan Selenia.


Semalam, Selenia sudah memberitahu Adam tentang Tony yang telah banyak membantu mereka. Mulai dari donor darah hingga pembekukan Devan. Adam pun mengerti dan mulai membuang prasangkanya selama ini--mengkhawatirkan Tony memiliki hubungan khusus dengan Selenia. Lagipula dia juga yakin Selenia pasti tidak akan berbuat seperti itu.


"Aku mau temuin Tony. Aku mau ngucapin terimakasih sama dia sayang. Karena semenjak Devan ditangkap, aku sama sekali belum pernah bertemu dia lagi. Aku cari di sekolah, dia nggak ada. Mungkin dia sedang temenin mamanya."


Adam melepas tangan Selenia. Dia tersenyum dan mengangguk, mengizinkan.


"Sampaikan salamku buat dia ya," ucap Adam. "Terimakasih."


"Iya sayang, aku pasti sampein nanti."


Setelah mencium kening Adam, Selenia pun langsung keluar dari kamar rawat.


Di luar kamar rawat Adam, Selenia berpapasan dengan Bu Lisa yang baru datang bersama Pak Edwin.


"Lho, sayang... kamu mau kemana? Mau pulang? Mau ganti baju?" tanya Bu Lisa antusias.


"Ee... aku mau ketemu temen aku dulu ma."


Kening Bu Lisa mengerut. "Siapa? Cia? Kenapa dia nggak kesini aja?"


Selenia menggeleng. "Aku mau ketemu Tony, ma. Aku mau ngucapin makasih sama dia karena....."


"Ooohhh iya iya sayang mama ngerti," sahut Bu Lisa cepat. "Mama juga pengen banget sebenernya ketemu dia, tapi nggak bisa sekarang," dia merengkuh bahu Selenia.


"Beruntung sekali ya, Pak Anton memiliki anak seksatria Tony. Kamu juga beruntung memiliki teman seperti dia. Mmmmm... untuk sementara, sampein salam Mama sama Papa buat dia ya. Kami mengucapkan terimakasih banyak."


"Iya, ma. Nanti aku sampein. Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya," Selenia melangkah, tapi kemudian berbalik lagi. "Oh iya ma, Adam udah makan kok. Tadi aku suapin."


Bu Lisa tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya.


"Ya udah, ma. Kita ke kamar Adam yuk," Pak Edwin merangkul pundak Bu Lisa.


...🌺🌺🌺...


Selenia menyusuri lorong sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah sakit. Saat melintasi ruang UGD, dia berpapasan dengan segerombolan orang yang mengikuti dokter dan suster yang mendorong brankar berisi seorang pasien dengan banyak darah di beberapa bagian tubuhnya. Salah satu orang di gerombolan itu menangis tersedu-sedu. Sepertinya itu pasien korban kecelakaan. Selenia menyingkir dan bergidig. Kepanikan itu mengingatkan dirinya pada hari di saat dia membawa Adam ke sini saat peristiwa penusukan itu. Selenia masih trauma kalau mengingatnya.


Di ujung lorong, saat baru saja akan menaiki tangga menuju kamar rawat mamanya Tony, tak sengaja Selenia melihat seseorang yang tampak duduk membungkuk di taman.


"Tony?" gumam Selenia. "Ngapain dia di sana?" dia pun membelokkan langkah dan berjalan menghampiri Tony.


Nggak.... nggak bisa.... gue nggak mau di penjara.... iya.... gue emang pelakunya.... gue yang potong selang oksigen itu karena gue benci sama dia! Dia udah ngerusak semua rencana gue, dia udah bantu mantan istri gue sampai gue nggak bisa dapet hak asuh anak gue sendiri!


Selenia menahan langkah dan membekap mulutnya sendiri saat telinganya mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang berasal dari ponsel yang ada di genggaman Tony. Itu pasti suara Devan.

__ADS_1


That's why, anak lo nggak pantas di asuh sama Bapak bajingan kaya lo! Lo harusnya sadar itu!"


Cukup!


"Tony?" sapa Selenia pada akhirnya.


Tony yang tersentak, buru-buru mematikan rekaman itu dan menoleh. Dia tercengang menatap Selenia yang sudah berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca. Kenapa dia menangis?


"Selenia?" Tony menggeser duduknya, memberi ruang untuk Selenia. "Kamu... di sini?"


Selenia duduk di sebelah Tony. Dia megulurkan tangannya meminta ponsel yang ada di tangan Tony.


"Aku pengen denger lebih jelas, boleh?"


"Buat apa Sel?"


"Aku cuma pengen denger aja, dan.... kenapa kamu merekamnya?"


Tony tersenyum dan justru menyimpan ponselnya ke dalam waist bag. "Sudahlah, ini nggak penting kok. Yang penting sekarang orang itu udah ditangkap."


Selenia menarik tangannya kembali dan menatap Tony sayu. Air mata yang sedari ditahan, akhirnya jatuh juga. Tony hampir saja mengulurkan tangan untuk menghapus air mata itu, tapi seketika dia sadar, kalau dia tidak boleh melakukannya. Untung saja di dalam waist bagnya ada tisu. Dia menarik selembar tisu dari sana dan memberikannya pada Selenia.


"Makasih," Selenia menyeka air matanya. Dia menghela nafas panjang. "Ton.... makasih ya, untuk semua yang sudah kamu lakuin buat aku, Adam dan keluargaku. Aku nggak tahu lagi, kalau nggak ada kamu mungkin orang itu masih berkeliaran nggak jelas dan membahayakan Adam."


Tony tersenyum kecil. "Sama-sama Sel. Yang penting sekarang semua udah jelas siapa pelakunya dan udah diamankan juga. Dan yang lebih penting lagi......" dia menghela nafas berat. Masih terasa sulit untuk mengatakan bagian ini. "..... sekarang Adam sudah sadar dan semakin membaik. Kamu pasti bahagia kan?"


"Iya," Selenia menunduk. "Kamu tahu nggak sih, beberapa hari saat dia masih koma, aku bener-bener putus asa banget Ton. Aku bingung dan takut banget," dia kembali mengangkat wajahnya dan menatap Tony.


"Bukan hanya kamu yang bingung Sel, tapi Papaku juga," Tony menatap wajah Selenia nanar. "Buat Papa, Adam itu sudah seperti jantung perusahaan dia. Jadi pada saat Adam mengalami koma, perusahaan Papa pun pergerakannya juga nggak stabil. Beberapa tender terpaksa dihentikan. Itulah kenapa, kamu jangan terlalu berlebihan berterimakasih ke aku. Aku melakukan ini ke Adam, tidak sebanding dengan apa yang telah Adam lakukan untuk perusahaan Papaku."


Selenia menghela nafas dan tersenyum manis. Tony langsung melengos demi melihat senyuman itu. Jauh di dasar hatinya masih suka berdesir setiap menerima perlakuan manis dari Selenia.


"Oh iya, tadi Adam, Mama sama Papa mertuaku juga titip salam buat kamu. Mereka juga mengucapkan terima kasih."


Tony mengangguk. "Salamku juga untuk mereka. Maaf, semenjak Adam sadar, aku malah nggak pernah ke sana lagi. Bukan apa-apa sih, aku.... masih sibuk ngurus mamaku Sel," suaranya memelan.


"Oh iya, gimana keadaan mama kamu Ton? Aku juga sudah lama nggak tengokin beliau. Kemonya lancar kan?"


"Kemo yang pertama lancar. Tapi.... kemo yang kedua kemarin, kayaknya mama nggak kuat gitu."


Kening Selenia mengerut menaruh iba. Dia melihat sorot kesedihan dari mata Tony saat menceritakan kemo kedua mamanya. Kondisi fisik Bu Riska semakin lemah pasca kemo kedua dan sekarang untuk bernafas pun, harus dibantu menggunakan tabung oksigen. Dia juga kehilangan nafsu makan. Dan setiap kali minum obat, kadang belum sampai di telan sudah dimuntahkan.


"Terus.... masih mau ada kemo lagi?"


"Harusnya masih. Tapi masih belum tahu kapan. Soalnya mama kaya udah nggak mau gitu di kemo lagi."


"Jangan Ton," Selenia menyentuh bahu Tony. "Kamu harus terus bujuk Mama kamu buat tetep jalanin kemonya. Kita nggak pernah tahu, keajaiban Tuhan mana yang akan datang ke kita."


Tony tersenyum kecut. "Kamu bener. Saat ini, aku dan Papa hanya berharap sama keajaiban itu."


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Malamnya, Selenia dan keluarganya berkumpul di ruang rawat Adam. Pak Edwin dan Pak Fendi asyik ngobrolin bisnis di sofa di sudut ruangan sambil menikmati cemilan yang ada, sedangkan Bu Lisa dan Selenia duduk di tepi tempat tidur Adam. Mereka bertiga juga tak kalah asyik dengan obrolannya, karena sedang membicarakan bayi di dalam kandungan Selenia.


"Jadi udah berapa lama kamu nggak check up lagi sayang?" Bu Lisa mengelus perut Selenia lembut. "Kamu masih rutin minum susu sama vitamin kan?"


"Mama nggak usah khawatir," Selenia menatap Bu Lisa dan Adak bergantian. "Aku masih rutin kok konsumsi semuanya. Kan ada bibik yang super perhatian sama aku pas aku di rumah."


Adam perlahan bangkit dan menyandarkan punggungnya di bantal.


"Nanti kalau aku udah pulih, kita check up ya sayang. Aku pengen lihat perkembangan baby," sambung Adam.


"Mama juga ikut," sahut Bu Lisa cepat. "Sekalian USG yang 4 dimensi. Mama nggak sabar pengen lihat, dia mirip sama siapa."


Adam dan Selenia terkekeh bersamaan.


"Mama, ini kan belum genap 2 bulan. Pasti belum kelihatan lah," kata Selenia.


Bibir Bu Lisa mengerucut. "Aduh, iya ya... mama bener-bener nggak sabar banget pengen cepet-cepet gendong cucu."


"Berarti kalau sudah ada cucu, nggak boleh nolak dipanggil nenek lho ya," gurau Adam. Dia tahu, mamanya itu tipikal perempuan yang menolak tua. Makanya sampai sekarang di usianya yang sudah melebihi kepala empat itu penampilannya masih stylish banget.


Mata Bu Lisa mengerjap. "Ya.... ya nggak pa-pa. Nanti mama bakalan jadi nenek paling keren," ujarnya.


Adam mencibir lucu sementara Selenia langsung tertawa.


"Nanti manggilnya jangan nenek ya..." imbuh Bu Lisa lagi. "Tapi Oma... O - M - A.... OMA."


Adam dan Selenia saling pandang. Mereka tidak lagi bisa menahan tawa. Ya ampun, mama ini ada-ada saja.


"Apa aja boleh," Adam menyela. "Mau Oma, Grandma, Nini... tetep status Mama udah naik satu tingkat. Jadi nenek-nenek, iya nggak?" godanya tak mau kalah. Jelas banget kan mamanya itu nggak mau dipanggil nenek? hahaha.


Bu Lisa kembali memberengut. "Hmmmm.... ih Adam jangan gitu dong. Seneng banget kayaknya kalau mama tambah tua."


Adam tertawa lagi. "Lho kan bener Ma. Giliran dong, aku jadi papa, Selenia jadi mama. Jadi kalian..." dia memandang Bu Lisa, Pak Edwin dan Pak Fendi yang masih asyik ngobrol bergantian. "... Opa Opa dan Oma."


"Iya deh terserah deh...." sahut Bu Lisa. "Yang penting nanti mama tetep jadi nenek terkeren di kompleks kamu. Umur boleh tua, tapi penampilan jangan sampai kalah sama yang muda.... ya khaaaan?" dia mengedip-ngedipkan matanya pada Adam dan Selenia, sembari sedikit membusungkan dadanya.


Kalau soal debat, Bu Lisa memang orangnya tidak mau kalah. Jadi Adam dan Selenia cuma tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Mereka sama-sama membayangkan betapa ramenya rumah mereka nanti saat si baby lahir ke dunia.


Adam mengulurkan tangan ingin menyentuh perut Selenia. tapi karena tangannya tidak sampai--dia belum boleh terlalu banyak bergerak oleh dokter--, Selenia pun mendekat dan menempelkan tangan Adam pada perutnya. Tatapan mereka saling bertemu, memancarkan sorot kebahagiaan. Selenia bahagia karena akhirnya si baby kembali merasakan sentuhan daddynya.


Sementara itu, di luar, dari celah pintu yang sedikit terbuka Tony menyaksikan kehangatan obrolan keluarga itu dengan wajah kaget. Tadinya dia datang karena ingin menjenguk Adam dan mengabarkan keadaannya--yang sebenarnya dia tahu Adam sudah membaik. Namun saat mendengar kata check up, cucu, susu, vitamin dan melihat tangan Bu Lisa yang membelai perut Selenia lembut, dia pun menahan langkah dan mengurungkan niatnya untuk masuk.


Selenia hamil?!!


Tony menyandarkan tubuhnya pada dinding, menengadahkan wajah ke atas dan memejamkan mata. Dia tidak tahu lagi apa kata yang tepat untuk mendefinisikan perasaannya saat ini. Dia tahu dia tidak punya hak untuk marah atau kecewa. Tapi hati tetap tidak bisa bohong. Tony merasakan sakit di sana.


Selenia sudah bersama orang yang tepat, sangat tepat. Sebuah suara menggema dari relung hatinya yang lain.


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2