
Suasana begitu sepi saat Selenia tiba di rumah. Adam tentu belum pulang dan Bi Iyah sedang istirahat. Saat masuk kamar, Selenia menemukan sebuah bingkisan kecil dengan sepucuk surat di dalamnya. Keningnya mengernyit. Dari siapa ini? Sementara otaknya menerka barang ini dari Adam.
...Dear Selenia, Anak ayah yang paling manis ❤️...
...Anakku, tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain memilikimu. Dulu, tidak pernah bisa dilukiskan bagaimana bahagianya Ayah saat melihatmu lahir ke dunia. Penantian panjang dan semua perjuangan terobati sudah saat pertama kali kudengar suara tangismu. Tangisan yang membuat Ayah tersenyum bahagia karena Ayah telah memilikimu. Tangisan yang membuat semangat Ayah semakin terpacu untuk menjalani hidup dan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia....
...Senyummu, manjamu, rengekanmu, adalah melodi terindah di dunia. Dulu, Ayah selalu berharap agar kamu tidak lekas besar karena Ayah selalu ingin kamu menjadi putri kecil Ayah. Yang bisa Ayah gendong kesana kemari, bermain kejar-kejaran, memberi makan ikan kesayanganmu di kolam, bermain boneka Barbie, dan menceritakan dongeng padamu setiap malam sebelum tidur. Semoga kamu selalu ingat masa-masa itu ya Nak....
...Kini, semua telah berlalu. Kamu semakin beranjak dewasa, tapi, tetap izinkan Ayah untuk menganggapmu sebagai putri kecil Ayah yang manis. Maafkan Ayah kalau selama ini tidak selalu ada di sisihmu. Bukan karena Ayah tidak sayang, tapi memang inilah kehidupan yang harus kita jalani. Kita tidak bisa jalan di tempat dan berharap semua bisa berubah dengan sendirinya. Tapi percayalah anakku, Ayah melakukan ini semua hanya demi dirimu....
...Selenia, anakku......
...Tolong jangan pernah membenci Mamamu dengan apa yang terjadi sekarang. Selain Ayah, dia lah orang yang sangat sangat sangat mencintaimu dan selalu ingin melihatmu bahagia. Dan sekarang Ayah bisa melihat keinginan Mamamu itu. Ayah bahagia melihatmu bahagia. Ayah hanya berharap kamu bisa menjaga apa yang telah Tuhan berikan padamu. Jaga keluargamu, Nak. Apapun yang terjadi, kamu harus bisa menjaga keutuhan keluargamu. Karena bagaimanapun, rumah dan keluarga adalah tempat ternyamanmu untuk kembali....
...Dan kalung ini, Ayah berikan sebagai hadiah ulang tahunmu yang ke-17. Sekali lagi Ayah minta maaf karena Ayah baru bisa memberikannya sekarang....
...Selalu berbahagia dan tersenyumlah anakku....
...Penuh Cinta...
...AYAHMU ❤️...
Tak terasa air mata Selenia sudah membasahi pipinya saat dia membaca surat itu.
Kenapa hari ini harus banyak sekali air mata yang keluar? Selenia terisak sembari membuka kotak kecil dari Ayahnya. Seketika tangisnya kembali pecah saat melihat isi bingkisan tersebut. Sebuah kalung dengan liontin berbetuk cinta. Liontin itu bisa dibuka tutup dan di dalamnya terselip foto almarhumah Ibunya dalam ukuran kecil, tapi jelas.
Selenia berdiri di depan cermin. Dia memakai kalung itu dan membayangkan Mamanya sedang memakaikan kalung itu padanya.
Kalung yang indah. Bisik Selenia lirih. Selenia menciumi liontin itu berulang kali dan merebahkan diri di atas tempat tidur.
Mana mungkin aku akan melupakan masa kecil yang indah itu, Ayah..... batin Selenia. Bahagia? Aku memang bahagia dengan keluargaku, tapi tidak untuk hari ini, Ayah.
Selenia merasakan matanya panas karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Selenia mengeluarkan ponsel, menghubungkannya dengan sambungan earphone dan memutar musik. Saat suasana hatinya sedang tidak menentu seperti ini, dia lebih memilih untuk mendengarkan musik melow yang kemudian akan membuatnya tertidur.
...🌺🌺🌺...
"Nongkrong terooooosss...!" ledek Aldo saat melihat Cia yang sudah bersiap untuk pergi.
"Kamu juga game online teroooooos!!" balas Cia tak mau kalah.
"Lagian kak Cia ni, dikit-dikit nongkrong, bentar-bentar maen. Ngabis-ngabisin duit tau," Aldo masih membalas sembari tangannya mentowel-towel bunga kesayangan Mama di pot.
"Hmmh..." Cia mencibir. "Memang kamu pikir game online nggak ngabisin budget? WiFi di rumah ni yang paling sering makeeek siapa???? Ehhhh jangan dipijit-pijit itu bunganya..... Mama...!" teriak Cia spontan saat melihat tangan Aldo yang jahil memijit-mijit tangkai bunga kesayangan Bu Hilma.
Aldo berjingkat. Dia mengarahkan telunjuknya ke bibir, dan melirik ke dalam rumah. "Sssst... enggak pa-pa lho ini, orang bunganya masih bagus," dia mengelus-elus pot.
"Aldoooo.... kamu apain bunganya Mama???" terdengar suara Mama menyahut dari dalam.
Mendengar teriakan itu Cia langsung terkikik dan menjulurkan lidah meledek adiknya yang tampak cemas.
"Enggak Ma. Ini cuma Aldo elus-elus kok!" jawab Aldo asal. Dia mengacungkan tinjunya ke Cia.
"Ehhh... nggak kakak anterin les lagi kalau macem-macem," Cia balas mengancam.
"Jangan dong," Aldo merengek seperti anak kecil.
"Makanya jangan durhaka sama kakaknya."
"Durhaka apaan sih? Cuma gitu doang laporan sama Mama. Dasar tukang ngadu. Orang bunganya masih bagus juga."
"Jangan ngebantah deh Aldooo! Kakak nggak anter kamu les lagi kalau suka ngebantah," Cia senang menggoda Aldo yang tampak menyerah dengan ancaman itu.
Kelemahan Aldo memang hanya sebatas traktiran sepulang les. Dia lebih suka dianter dan dijemput kakaknya ketimbang Mama. Karena kalau Cia yang antar-jemput, Aldo pasti akan selalu mendapatkan amunisi sepulang les. Apalagi Cia membebaskan Aldo memilih tempat untuk mencari amunisinya. Dan memang Cia sesayang itu pada adiknya. Kalau sama Mama? Jarang-jarang deh. Paling pol dibeliin somay atau martabak doang. Sampe bosen.
Aldo mendengus dan melirik tajam ke Cia lalu menghempaskan bokongnya ke kursi di sebelah Cia. Tangannya kembali sibuk mengoperasikan gawai untuk memulai bermain game online. Cia terkikik geli melihatnya.
Tak lama kemudian terdengar bunyi klakson dari depan pagar. Cia langsung berjingkat dan memakai helm.
"Maaaa Cia berangkaaaat...!" teriaknya. Tak lupa dia juga mencium pipi Aldo yang membuat anak itu kaget dan hampir menjatuhkan ponselnya. "Nggak boleh diusap! Itu ciuman sayang dari kakak!" ancam Cia lembut saat tangan Aldo sudah bersiap untuk mengusap pipinya.
"Hati-hati sayaaaang!!" balas Mama dari dalam.
"Daaagh Aldo....!" kata Cia centil pada Aldi kemudian berlalu menghampiri Marvin yang sudah menunggu di atas motor. Sore ini mereka pengen menikmati sunset.
Aldo sedikit menggeram karena gara-gara ulah kakaknya, permainannya harus kalah. Dia juga secepat kilat mengusap pipi bekas ciuman Cia setelah kakaknya itu tidak terlihat lagi.
...🌺🌺🌺...
__ADS_1
"Selenia mana Bik? Kok sepi?" tanya Adam pada Bi Iyah yang sedang mencuci perkakas di kitchen sink.
Mendengar Adam datang, Bi Iyah buru-buru menghentikan aktivitasnya dan segera mencuci tangan. "Ma'af Pak, tadi pas Non Selenia pulang saya lagi istirahat, jadi saya nggak tahu."
"Non Selenia di kamarnya Pak," Pak Tono muncul dari ruang belakang. "Tadi sepulang sekolah langsung ke atas."
Bi Iyah melirik kikuk ke arah Pak Tono.
"Oh ya udah, makasih Pak Tono," Adam segera bergegas ke lantai atas. Dia juga mengecek ponsel untuk melihat kalau-kalau Selenia menghubungi dia hari ini, tapi tidak ada apapun. Mungkin pelajaran sekolahnya sedang padat, pikirnya.
Adam berdiri di depan pintu kamar Selenia yang tertutup rapat. Perlahan tangannya memutar gagang pintu, namun seketika keningnya mengerut.
"Kok dikunci?" gumamnya. Nggak biasanya Selenia mengunci kamar siang-siang begini.
Tok tok tok! Adam mengetuk pintu kamar lirih. Tapi tidak ada sahutan. Adam mengulangi lagi hingga ke sekian ketukan dan akhirnya...
Jeglek! Adam tersenyum lebar saat melihat wajah istrinya. Tapi dia juga heran melihat Selenia yang masih memakain seragam sekolah.
"Kok kamu masih pakek seragam sih sayang?" Adam baru saja akan mencolek pundak Selenia, tapi reflek Selenia mundur, bermaksud menghindari sentuhan Adam. "Dih... nggak mau di pegang. Kenapa sih?" Adam mencoba menyentuh kening Selenia, tapi hal yang sama kembali dilakukan Selenia.
"Udah pulang?" tanya Selenia datar. Tidak ada sedikitpun senyum yang terpancar dari wajahnya. Tadinya Selenia pikir dengan tidur dia akan melupakan masalah yang terjadi hari ini. Tapi ternyata saat melihat wajah Adam, sakit di hatinya belum juga hilang. Rekaman video yang diperlihatkan Cia tadi pagi selalu terbayang-bayang di pelupuk matanya.
"Iya. Hari ini pekerjaanku nggak begitu banyak," jawab Adam sembari melonggarkan dasi dan melepas jasnya.
Selenia menatap setiap gerakan itu dengan sinis.
"Kamu baru bangun tidur ya? Kenapa nggak ganti baju dulu sayang?" tanya Adam lembut.
Apa?! Sayang?! Kalimat itu membuat Selenia otomatis mengangkat sebelah bibirnya. Ternyata pandai sekali dia acting di depanku. Batin Selenia geram. Dia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Pesen gue, kalau lo mau ngomongin ini sama Adam, please jangan pake emosi ya... Kalimat Cia tadi pagi terngiang-ngiang di telinganya.
"Nggak pa-pa kok. Pengen aja," jawab Selenia mulai malas.
Adam memiringkan kepalanya. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Selenia sore ini. Selenia kenapa?
"Kamu kenapa sih Sel? Kok aneh?" Adam mencoba mengangkat dagu Selenia tapi tangannya justru ditampik. Meski tampikan yang lembut, tapi cukup mampu membuat Adam menyadari bahwa sedang ada yang tidak beres dengan Selenia. Tapi apa?
"Aneh?" Selenia balik bertanya. "Apanya yang aneh? Aku biasa aja kok."
"Kamu jangan bohong."
"Sel...?" mata Adam menyipit. "Kok kamu jadi ketus sama aku? Tadi pagi kita baik-baik aja lho," dia mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang dia buat hari ini.
"Siapa yang ketus sih Dam? Aku tuh cuman capek. Aku lagi tidur, tapi kamu gedor-gedor pintu kamar kaya apa aja," Selenia menyilangkan tangannya dan melengos dengan sinis.
Adam semakin nggak ngerti. Padahal dia juga mengetuk pintu kamar Selenia tidak sekeras yang dia bilang. Malah biasanya kalau Adam langsung menyelinap masuk, Selenia tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi hari ini? Ada apa sih sebenernya?
"Sel kamu kenapa sih kok..."
"Aku capek, aku pengen istirahat, kenapa sih nanya terus?" potong Selenia.
"Oh, oke-oke..." Adam manggut-manggut. Baiklah, mungkin Selenia memang sedang capek. "Ya udah kalau gitu kamu istirahat lagi aja. Sampai ketemu nanti pas makan malam ya."
Selenia cuma tersenyum sekilas, mengangguk dan langsung menutup pintu.
Adam masih berdiri di depan pintu kamar Selenia beberapa menit dan berharap Selenia cuma sedang nge-prank dia dengan sikap juteknya itu. Tapi sampai hampir 10 menit berlalu, pintu kamar itu tidak juga kembali terbuka. Adam memutar tubuh dan berjalan ke kamarnya dengan perasaan bingung. Bahkan sebelum menutup pintu kamar, dia masih sempat menunggu lagi dan berharap pintu kamar Selenia dibuka. Tapi harapannya tetap sia-sia.
"Kamu tuh nggak peka atau gimana sih Dam? Atau memang sepintar itu kamu sembunyiin semuanya dari aku? Aku salah apa sih sama kamu sampai kamu tega khianatin aku kaya gini?! Disaat aku mulai buka hati, mulai sayang, mulai cinta sama kamu tapi kamu malah giniin aku!" geram Selenia sembari menahan tangis di dalam kamar. Matanya terus menatap ke arah pintu.
Sebenarnya saat melihat tampang Adam yang terlihat kuyu sepulang ngantor tadi, Selenia juga nggak tega untuk ngejutekin dia. Tapi tetap saja, rasa marah, jengkel dan geram yang dirasakan Selenia lebih besar dari rasa nggak teganya itu. Selenia meremas bantalnya dengan geram.
...🌺🌺🌺...
Marvin dan Cia menikmati suasana sore diatas motor sambil bernyanyi-nyanyi. Kadang mereka juga tertawa saat salah satu dari mereka nggak hafal lirik. Keduanya memang semakin dekat dan akrab akhir-akhir ini. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dengan jalan-jalan, nonton atau sekedar nongkrong dan makan di warteg pinggir jalan. Marvin bukan tipikal cowok yang senang nongkrong di tempat-tempat mewah seperti restaurant, mall dan sejenisnya. Bukan karena tidak mampu, tapi dia memang anaknya lebih menyukai sesuatu yang berdampingan dengan alam.
Itulah kenapa spot nongkrong Cia pun jadi berubah 160° semenjak kenal Marvin. Cia yang biasanya hobby ngemall, sekarang lebih suka menikmati keindahan alam--outdoor. Cia yang biasanya lebih suka makan makanan di resto mahal atau food court di dalam mall, sekarang lebih suka makan di warteg atau angkringan. Katanya makanan di tempat seperti itu ternyata lebih enak. Apalagi kalau bareng sama doi, hehehe.
Perjalanan mereka berakhir di bukit cinta. Rencana untuk nonton sunset berjalan dengan mulus karena cuaca juga kebetulan lagi bagus.
"Ci coba kamu berdiri di sana," Marvin menunjuk ke satu tempat dan Cia menurut. Seperti biasa, Marvin selalu membawa kameranya setiap bepergian dengan Cia. "Oke stop di situ. Iya bener membelakangi cahaya, nah... kamu gaya ya, aku fotoin," dia mulai mengarahkan lensa kameranya ke Cia yang sudah bersiap dengan berbagai pose.
Beberapa bidikan berhasil di abadikan oleh Marvin, dan hasilnya jangan tanya lagi. Cia bertepuk tangan riang melihat foto-fotonya yang tampak indah di kamera marvin.
"Oke sekarang kita foto berdua ya," Marvin mengeluarkan tripod dari dalam tas dan memasangnya di tepi jalan. Dia juga mengatur kameranya di sana sekaligus mengatur timer.
Setelah itu dia lalu mendekati Cia dan mereka mulai berpose dengan berbagai gaya. Senyum, pura-pura marah, tertawa, jutek, dan beberapa gaya seru lain. Tidak nampak ada rasa canggung diantara keduanya. Baik Cia maupun Marvin terlihat sama-sama enjoy.
__ADS_1
"Cia..." ucap Marvin sedikit gugup setelah mereka selesai berfoto-foto. Dia sudah menyimpan kembali tripodnya ke dalam tas dan mengalungkan kamera DSLR di lehernya. Matahari sudah hampir habis terbenam dan suasana sekitar perlahan mulai menggelap.
"Ya, Vin?" sahut Cia dengan nada ceria. Cia memang selalu ceria di depan Marvin.
"Aduh... gimana ya ngomongnya?" Marvin beberapa kali menghela nafas dan tersenyum kikuk menahan rasa gugup yang semakin menguasai tubuhnya.
"Apa sih? Kamu mau ngomong apa?" tanya Cia tidak sabar.
"Mmm... aku... " Marvin kembali mengatur nafas. Jantungnua berdebar tidak karuan. "Akumaukamujadipasanganaku." ucapnya cepat tanpa jeda.
"Hah?" Cia menahan senyum mendengar kecepatan kalimat itu. "Apa Vin? Aku nggak denger... aku mau? Mau apa?"
Marvin memejamkan mata dan lagi-lagi menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Slow Marvin... slow.... hatinya bersuara. Dia mulai memberanikan diri menggenggam kedua tangan Cia dan menatap wajahnya dalam-dalan.
"Aku-mau-kamu- jadi pasangan aku." ulangnya lebih tegas dan jelas."
Cia terdiam. Dia hampir saja tidak percaya dengan apa yang barusan didengar.
Marvin nembak gue??!! Hati Cia memekik kegirangan. Tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak melonjak, berteriak atau berekspresi girang lainnya.
"Hei, kok bengong?" Marvin menepuk pipi Cia lembut.
"Ee.... a-apa Vin? Kamu... mau... a-aku..."
Marvin tertawa melihat kegugupan. Tadinya dia pikir Cia tidak akan segugup itu merespon pernyataannya. Hal itu pun otomatis membuat tingkat kepercayaan diri Marvin meningkat. Dalam artian, dia mulai bisa menguasai diri di depan Cia.
"Iya, aku mau kamu jadi pasangan aku," ucap Marvin lagi. "Aku merasa nyaman kalau jalan sama kamu. Gimana sama kamu? Apa kamu mau..."
Cia langsung mengangguk sebelum Marvin menyelesaikan kalimatnya. Mendengar jawaban itu, Marvin senang bukan main. Dia langsung memeluk tubuh Cia erat dan mengucapkan terimakasih berkali-kali.
"Uhhuukk uhhukkk!" Cia terbatuk-batuk di pelukan Marvin. "Iya... iya... jangan makasih terus... pelukan kamu juga kenceng banget... uhhukkk... lephaaaasin..."
Marvin melepas pelukannya dan menangkup wajah Cia. "Aku seneng banget... maaf... maaf... maaf..."
Sore ini, mereka berdua resmi jadian. Marvin dan Cia saling mengaitkan kelingking mereka masing-masing yang langsung diabadikan dengan kamera DSLR milik Marvin.
...🌺🌺🌺...
Sikap Selenia masih dingin terhadap Adam sampai waktu makan malam tiba. Ketimbang mempedulikan Adam yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya, Selenia lebih memilih untuk fokus ke makanan di depannya. Dia ingin segera menghabiskan makanannya itu dan kembali ke kamar.
"Kalung dari siapa?" tanya Adam berusaha menciptakan obrolan sekaligus juga tertarik dengan kalung yang dipakai Selenia. Dia baru melihatnya sore ini.
"Ayah," jawab Selenia singkat sambil tetap menikmati makanannya.
"Ohhhh," bibir Adam mengerucut. "Tadi ketemu sama Ayah?"
Selenia menggeleng. "Pulang sekolah aku lihat di kamar ada bingkisan, ternyata dari Ayah. Mungkin tadi Ayah ke sini," ucap Selenia begitu terpaksa. Males banget rasanya ngomong panjang-panjang sama Adam dalam situasi seperti ini.
"Iya bener. Tadi pagi Ayah memang ke sini," sahut Adam. "Pas aku baru mau berangkat ngantor."
Selenia melirik sekilas ke arah Adam dan kembali menikmati makanannya.
Selenia tidak lagi berbicara sampai menyelesaikan makan malamnya. Setelah selesai, dia lalu mendorong kursi dan bergegas meninggalkan ruang makan.
Adam tidak bisa tinggal diam. Ada apa sih sebenernya sama istrinya itu? Tidak menunggu sampai makanannya habis, dia memilih untuk menyudahi dan berjalan setengah berlari menyusul Selenia yang sudah sampai di depan kamarnya.
"Sel, tunggu!" Adam mencekal lengan Selenia yang sudah bersiap memegang gagang pintu.
Lalu tiba-tiba tanpa pernah Adam pikir sebelumnya, tangan itu justru dihentakkan sekeras mungkin oleh Selenia. Adam kaget, shock, membelalak dengan perlakuan yang tak dia sangka-sangka itu.
Selenia merasa jijik sekali tangannya dipegang oleh tangan yang pernah memegang tangan wanita lain dengan mesra di belakangnya. Tapi lagi-lagi Selenia harus ingat pesan Cia, kalau dia tidak boleh emosi.
"Seeel?? Kamu kenapa sih?" wajah Adam tampak memelas. "Aku salah ngomong? Kamu marah sama aku?"
Selenia menelan ludah. Sisi lain hatinya tidak sanggup rasanya melihat Adam memelas begitu. Tapi apa dia itu benar-benar tidak menyadari kesalahannya?! Bagaimana bisa dia diluar sana bermesraan dengan perempuan lain, sementara di rumah dia bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa?! suara hati Selenia berteriak.
"Sayang, tadi pagi kita baik-baik aja kan? Kita nggak ada masalah kan? Atau kamu masih marah soal kemarin? Aku kan sudah minta maaf, kamu maafin aku kan??" Adam terus mengoceh.
Tapi kamu minta maaf bukan untuk kesalahan kamu karena duain aku Dam, batin Selenia. Emosi Selenia sudah hampir naik ke ubun-ubun mendapati Adam yang tidak juga menyadari kesalahannya. Selenia menengadahkan wajah ke atas mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Dia terpaksa membuang muka saat air mata itu tak tertahan hanya supaya Adam tidak melihat dia menangis.
"Aku capek Dam," ucapnya kemudian tanpa melihat ke arah Adam. "Aku mau tidur," dia menyeka air matanya dengan cepat sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke Adam.
"Kamu tidur aja. Biar besok nggak telat ngantor," imbuhnya sekedar melepas sedikit ego karena dia sebenarnya tidak tega bersikap sedingin itu pada Adam.
Adam begitu putus asa. Dia benar-benar dibuat bingung dengan sikap Selenia yang seperti kembali pada saat awal-awal merena menikah. Bahkan menurutnya ini lebih parah. Ada apa sih sebenarnya?
Pintu kamar Selenia tertutup sebelum Adam mendapatkan penjelasan tentang apa yang terjadi. Nafas Adam memburu, dia juga marah dengan sikap Selenia. Tapi dia sadar, sikap Selenia itu tidak bisa dibalas dengan kemarahan. Adam mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang hari ini telah dia perbuat hingga membuat Selenia semarah itu? Tapi dia tidak menemukan apapun karena pikirannya sedang sangat kalut. Dengan langkah berat, akhirnya dia memilih untuk pergi ke kamarnya sendiri.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
...To be continued 👋🏻...