NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)

NO DIGAS ADIÓS (Jangan Katakan Selamat Tinggal)
NDA -101-


__ADS_3

Bu Lisa dan Pak Edwin tiba di Indonesia tepat pada pukul 1 dinihari dan mereka langsung menuju ke rumah sakit, dimana langsung disambut dengan tangis oleh Selenia. Cia tidak ada lagi di sana karena sore tadi setelah Renata meninggalkan rumah sakit, dia pun juga diminta Selenia untuk pulang. Dia kasian melihat Cia yang bahkan sama sekali tidak tidur selama menemaninya di sini.


Bu Lisa mendapat kabar ini dari Bi Iyah dan saat itu juga langsung memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Bu Lisa terpaksa membatalkan kontrak yang telah dia tandatangani, bahkan harus membayar denda karena pembatalan tersebut. Tapi dia tidak peduli, karena Adam lebih penting dari apapun.


Bu Lisa terduduk lemah di kursi di luar ruang ICU. Dia tidak percaya ada seseorang yang melakukan perbuatan jahat itu kepada anaknya.


"Kamu sama sekali belum pulang sayang?" tanya Bu Lisa pada Selenia.


Selenia menggeleng. "Aku mau di sini aja. Aku mau nunggu sampai Adam sadar...."


Bu Lisa kembali memeluk Selenia. Setelahnya dia kemudian beranjak dan perlahan masuk ke dalam ruang ICU. Dengan langkah gemetar, dia mendekati brankar dimana Adam tengah terbaring lemah di sana. Dia meraba wajah dan tangan Adam yang sama sekali tidak memberikan respon. Hancur rasanya hati Bu Lisa melihat keadaan anak semata wayangnya itu. Relung hatinya bergemuruh. Dia ingin orang yang melakukan hal ini pada anaknya mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.


Paginya, pada saat Bu Lisa selesai beberes dan ingin membeli sarapan di kantin, dua orang polisi datang dan meminta waktu mereka untuk menjelaskan kronologi penusukan yang terjadi pada Adam. Mereka mendapat laporan dari pihak Carlos kafe tentang peristiwa penusukan yang terjadi di sana. Bukan Selenia tidak mau membuat laporan, dia hanya masih syok saja dan belum bisa kemana-mana sejak kemarin malam.


Bu Lisa dan Pak Edwin, juga Pak Fendi yang baru saja datang, mendampingi Selenia memberikan penjelasan pada polisi. Polisi itu juga menunjukkan hasil rekaman cctv di lapangan parkir Carlos yang memperlihatkan saat peristiwa penusukan itu terjadi. Mereka sedang memulai menyelidiki kasus ini, namun belum bisa menentukan ciri-ciri pelaku karena wajahnya tidak begitu jelas di kamera cctv tersebut.


"Maaf, saya bukan tidak mau membuat laporan. Saya cuma belum bisa kemana-mana. Saya masih trauma Pak," terang Selenia.


"Kami mengerti Bu. Ibu tidak perlu khawatir, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menemukan pelakunya," jawab salah seorang Polisi.


"Usut tuntas Pak. Beri dia hukuman seberat-beratnya!" sambung Bu Lisa menggebu-gebu.


Kedua Polisi itu mengangguk. Setelah mendapatkan keterangan yang cukup gamblang, mereka pun segera meninggalkan rumah sakit.


...🌺🌺🌺...


Tony kembali menyambangi kantor Polisi untuk membuat laporan terkait kasus pemukulan yang pernah dia lakukan pada Devan dahulu. Ini adalah kali ketiganya membuat laporan, dan lagi-lagi dia harus bertemu Devan. Namun kali ini anak itu datang sendirian. Devan baru saja melangkahkan kakinya keluar dari ruangan saat Tony baru saja hendak masuk. Mereka saling tatap dengan pandangan tak bersahabat. Dan entah kenapa, tiba-tiba terlintas di pikiran Tony kalau mungkin saja peristiwa yang di alami Adam saat ini ada hubungannya dengan Devan. Tapi Tony tidak ingin gegabah, lagipula ini hanya sekedar asumsi konyolnya.


...🌺🌺🌺...


"Jadi..... kamu hamil sayang?" Bu Lisa bertanya pada Selenia pelan.


Mereka berempat berkumpul di luar ruang ICU, mendengarkan penjelasan dari Pak Fendi. Laki-laki paruh baya itu tidak lagi merasa kecewa atau keberatan semenjak mendengar protes dari Cia. Bahkan lebih legowo. Memang benar adanya, tidak ada yang bisa di salahkan di sini. Mereka berdua--Adam dan Selenia--sekarang adalah sepasang suami istri yang saling mencintai.


Selenia mengangguk. Dia baru saja tahu kalau ternyata Ayahnya telah mengetahui kehamilannya dari dokter yang memeriksa dirinya saat pingsan kemarin. Jujur, dia memiliki rasa takut untuk melihat bagaimana ekspresi Ayahnya, jadi saat Ayahnya mulai menyinggung soal kehamilan itu, dia terus menunduk. Separuh jiwanya terasa hilang. Tadinya dia berpikir, dia pasti akan kuat jika menjelaskan ini dengan Adam yang berada di sisihnya. Peringatan Ayahnya tentang larangan itu, dan komentar Cia yang kontra dengan aturan Ayahnya terngiang-ngiang dan saling bersahutan di telinganya.

__ADS_1


"Maaf Yah...." ucap Selenia lirih.


Pak Fendi, Pak Edwin dan Bu Lisa saling tatap. Dulu mereka memang memiliki kesepakatan yang sama--tidak boleh ada 'hubungan' sampai Selenia lulus sekolah. Tapi, sebagai sesama perempuan, Bu Lisa merasa tidak tega jika harus terus mengedepankan aturan itu dan melupakan bagaimana perasaan anak-anaknya. Melihat perubahan sikap Adam dan Selenia yang kian hari kian menghangat saja sudah membuatnya sangat bahagaia.


"Kamu nggak perlu minta maaf, nak," sahut Pak Fendi mantap.


Baru saat mendengar kalimat itu, Selenia berani mengangkat wajah dan menatap Ayahnya. Apa dia tidak salah dengar? Ayahnya kini justru tersenyum manis padanya.


"Kamu kenapa minta maaf sayang?" Bu Lisa merangkul Selenia dari samping. "Ini bukan suatu kesalahan. Kehamilan adalah sebuah anugrah yang selalu diharapkan sepasang suami istri," dia menengadahkan wajahnya ke atas. "Terimakasih Tuhan...." bisiknya.


Selenia menatap ketiga orang tuanya satu persatu. Dan rasanya dia seperti bisa melihat Mamanya tersenyum di sebelah Ayahnya. Tangisnya kembali tak terbendung. Dia tidak menyangka mereka akan menerima kehamilannya secepat itu, tanpa membawa embel-embel kalau dia masih sekolah. Terselip perasaan lega dan bahagia di sela-sela hatinya yang rapuh. Dia tidak lagi merasa sendirian. Ya, dia harus lebih kuat demi bayinya. Juga demi Adam yang sedang berjuang melewati semuanya.


Support dari keluarga membuat Selenia merasa memiliki kekuatan baru untuk menghadapi semuanya.


...🌺🌺🌺...


".... jadi gitu ceritanya....." Cia mengakhiri penjelasannya kepada Marvin yang menanyakan soal hubungan Selenia dan Adam.


Mereka berdua nongkrong di sebuah kafe, dengan laptop terbuka di hadapannya. Sore itu Cia meminta maaf pada Selenia kalau tidak bisa datang ke rumah sakit karena harus menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan esok hari. Cia sendiri terpaksa membuat surat izin palsu kepada guru yang berisi pernyataan kalau Selenia tidak bisa masuk selama beberapa hari karena ada kepentingan keluarga. Cuma itu yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan Selenia dari absen bolos sekolah.



"Ck..." Cia berdecak. "Jangan mikir macem-macem deh yang. Selenia tu nggak pernah aneh-aneh. Dia itu orangnya apa adanya banget."


"Yaaa aku kan awalnya nggak tahu yang. Makanya aku kaget pas malam itu dia nyebut kata suami. Tadinya kupikir itu sebutan sayang aja buat Adam. Nggak tahunya malah udah nikah beneran."


"Ya udah ya, sekarang kan kamu udah tahu, jadi nggak usah terlalu kepo lagi sama urusan orang. Jangan kaya Lala deh, temen sekelas aku yang keeeeeponya selangit!" Cia bergidig membayangkan kecentilan Lala.


Marvin terbahak. "Enggak sayaaaang... aku tuh cuman nanya aja. Ya.... aku juga berharap hubungan kita nanti bisa berakhir juga di pelaminan," dia mengedip-ngedipkan matanya.


Mata Cia membulat. Apakah dia serius dengan ucapannya?


"Kenapa? Kok kaget gitu?" Marvin mengibaskan tangannya di depan wajah Cia. "Kamu bggak pengen hubungan kita ke jenjang yang lebih serius??"


"Bukan gitu yang. Ya pasti aku mau lah kalau suatu saat nanti kita jodoh terus nikah," ucap Cia tersipu. Sementara dalam hatinya sudah berteriak kegirangan dengan kata-kata Marvin barusan. "Tapi untuk saat ini kita jangan bahas itu dulu ya... Aku kan masih pengen lulus, kuliah, kerja...."

__ADS_1


Marvin merangkul Cia mesra. "Iya lhoooo sayaaaang.... aku tahu. Aku juga maunya kita nikah kalau sudah bener-bener siap satu sama lain."


Cia terkekeh. Kenapa mereka malah jadi ngomongin pernikahan sih?


"Iiih udah lah yang, aku mau lanjutin tugas dulu nih tinggal dikit. Keburu sore," Cia kembali fokus menatap layar laptopnya.


...🌺🌺🌺...


Dada Selenia bergemuruh saat kakinya baru saja melangkah keluar dari mobil. Mau tidak mau, sore ini dia menuruti permintaan Bu Lisa untuk pulang ke rumah dan istirahat. Lagipula dia juga merasa sangat lelah setelah sehari semalam di rumah sakit, kurang istirahat dan diselimuti rasa panik. Setidaknya kini dia merasa sedikit lega hati, karena Adam sudah dijaga oleh kedua orang tuanya di sana.


Keheningan menyambutnya manakala dia mulai memasuki ruang demi ruang di dalam rumahnya. Tempat dimana dia sering menghabiskan waktunya dengan Adam. Tangan Selenia memegang gagang pintu kamar Adam dan matanya terpejam.


"Kamu sudah siap sayang?"


Ngilu sekali hatinya mengingat kata-kata Adam malam itu saat menyambutnya keluar dari kamar. Saat mereka begitu semangat untuk berangkat ke Carlos.


Seketik ada perasaan takut yang menyerang hatinya untuk membuka pintu kamar itu. Jangan nangis Sel.... stop... jangan nangis... kamu kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini. Sebuah suara dari dalam hatinya menggema memberinya kekuatan. Tidak, aku belum siap. Perlahan dia melepaskan tangannya dari gagang pintu dan berbalik.


"Non...." Bi Iyah memanggil. Dia sudah berdiri di ujung tangga dengan nampan berisi segelas susu dan makan malam untuknya. "Non makan dulu ya, sama minum susu," dia berjalan menghampiri Selenia.


"Terimakasih bik," mata Selenia menatap cairan putih di dalam gelas. "Bi... itu susu...."


"Ini susu khusus Ibu hamil, Non," Bi Iyah tersenyum. "Non Selenia nggak perlu khawatir, sepulang dari rumah sakit, bibik kepikiran untuk mampir apotek dan beli susu untuk Non. Karena bibi tahu, selama ini Non tidak pernah minum susu bumil kan?"


Selenia memaksakan senyum di tengah kesedihan hatinya. Asisten rumah tangganya ini tidak hanya telaten, tapi juga memiliki kepedulian yang tinggi. Hal ini kembali mengingatkan Selenia pada almarhumah Mamanya. Ternyata memang benar, kalau Mamanya adalah orang yang selalu ingin membuatnya bahagia. Dulu, saat Mamanya mengungkapkan permintaan terakhirnya dengan memintanya menikah dengan Adam, dia selalu berpikir kalau ini konyol dan tidak masuk akal. Dia kan masih sekolah, aneh kan tiba-tiba harus menikah?


Tapi ternyata semua semakin terlihat sekarang. Selenia tidak hanya mendapatkan suami yang menyayangi, mencintai dan peduli padanya sepenuh hati. Walau hanya sebagai asisten rumah tangga, Bi Iyah dan Pak Tono sudah seperti keluarga sendiri. Mereka semua orang baik.


"Biiik..." Selenia menerima nampan dari tangan Bi Iyah. "Bibi salah, karena sebenarnya selama ini aku juga minum susu bumil kok. Tapi diem-diem karena aku buatnya di kamar. Bibik inget nggak pas pagi-pagi bibik pernah heboh nyariin termos kecil?" dia terkikik lirih.


"Biar bibi sama Pak Adam nggak tahu, karena......" wajahnya kembali menunduk dalam-dalam. "....aku memang sengaja ingin memberitahu ini pada Pak Adam di hari ulang tahunnya, bik. Tapi...."


"Ssshhhh..." Bi Iyah mengusap-usap lengan Selenia. "Ya udah Non, sekarang lebih baik Non mandi, terus makan, terus istirahat. Non Selenia kelihatan capek banget. Nanti kalau ada apa-apa, Non panggil bibik aja, ya... bibik ada di bawah."


"Iya bik. Makasih ya untuk semuanya."

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


...To be continued 👋🏻...


__ADS_2